Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Rahasia Kelam


__ADS_3

Tangan Yura gemetaran. Dia seperti mati rasa saat tidak sengaja mendengar pengakuan ayah mertuanya yang mengatakan kalau anak dari istri pertama suaminya ternyata masih hidup. Karena getaran di tubuhnya semakin kencang, tanpa sadar teh panas yang di bawa Yura tumpah dan mengenai tangannya. Sontak saja hal itu membuat Yura terkejut kemudian melepaskan gelas tersebut hingga akhirnya jatuh ke lantai.


Prrraaaannggggg


"Ba,bagaimana mungkin Ayah tega melakukan hal sekejam itu?" gumam Yura dalam keterkejutannya.


Awalnya Yura sama sekali tidak berniat menguping pembicaraan ayah dan suaminya. Dia datang ke kamar hanya ingin mengantarkan minuman untuk mereka saja. Tapi saat membuka pintu kamar, dia mendengar sesuatu yang langsung membuatnya syok. Orang yang selama ini begitu dia hargai ternyata menyimpan sebuah rahasia kelam yang sangat mengerikan. Ayah mertuanya dengan begitu tega menelantarkan cucunya sendiri hanya karena terlahir dari wanita yang asal-usulnya tidak jelas.


Bryan tak mengindahkan keberadaan Yura yang ikut mendengar kebusukan yang di sembunyikan oleh ayahnya. Dia bahkan tidak peduli meski seluruh orang di negara ini mengetahuinya.


"Ayah, cepat beritahu aku dimana lokasi panti asuhan tempat Ayah membuang Eleanor dulu. Aku akan menjemputnya sekarang juga. Cepat katakan padaku Ayah, cepat beritahu aku!" teriak Bryan menggila.


Yura yang masih berada di dekat pintu terperanjat kaget mendengar suara teriakan suaminya. Dia lalu ingat kalau jantung ayah mertuanya sedang tidak baik. Tak mau ada hal buruk terjadi, dengan cepat Yura berlari masuk ke dalam. Dia menutup mulut kaget melihat betapa kacaunya keadaan suami dan juga ayah mertuanya.


"Cepat beritahu aku dimana panti asuhan itu, sekarang Ayah!" teriak Bryan kemudian mencengkeram kerah baju ayahnya.


"Ya Tuhan Bryan, jangan kasar begitu pada Ayah. Ayah masih sakit, tolong sadarlah!" teriak Yura panik.


Bryan tak peduli. Yang dia inginkan sekarang hanyalah bertemu dengan putrinya untuk memastikan bagaimana keadaannya setelah sambilan belas tahun di telantarkan. Mengingat hal itu membuat kemarahan Bryan semakin memuncak.


Karim hanya bisa pasrah di perlakukan dengan begitu kasar oleh putranya. Dia terus menatapnya sendu dengan airmata yang tidak berhenti mengalir.


"Bryan, tolong lepaskan Ayah. Kita bisa bicarakan hal ini baik-baik, oke!" lerai Yura berusaha melepaskan cengkeraman tangan suaminya.


"Jangan ikut campur kau!" sentak Bryan kemudian mendorong tubuh Yura hingga jatuh terjengkang ke belakang. "Kau, jangan bilang kau ikut terlibat dengan semua ini Yura. Aku akan langsung menceraikanmu jika terbukti ada campur tanganmu saat Eleanor di buang!."


"Tidak Bryan, aku,aku sama sekali tidak tahu masalah ini. Yang aku tahu Eleanor sudah meninggal di hari yang sama dengan kematian Sandara. Sungguh, aku tidak terlibat Bryan, percaya padaku. Tolong!" sahut Yura ketakutan.


Bryan mendengus. Dia lalu menatap benci kearah ayahnya yang terus menangis. "Berhenti berpura-pura Ayah. Aku tanya sekali lagi, dimana alamat panti asuhan tempat Ayah membuang anakku dulu. Aku harus menjemputnya sekarang juga Ayah!."

__ADS_1


Karim terhenyak. Dia meringis kemudian menekan dadanya yang kembali terasa sakit.


"Eleanor, dia,dia ada di tempat ini Bryan. Saat di taman kemarin, Ayah,,Ayah tidak sengaja bertabrakan dengannya" jawab Karim terbata. "To,tolong bawa dia kembali ke rumah ini. A,Ayah ingin meminta maaf padanya..."


Setelah berkata seperti itu, Karim jatuh tak sadarkan diri. Namun hal itu tak membuat Bryan merasa kasihan. Dia malah pergi dengan sangat terburu-buru menuju taman dimana ayahnya bertemu dengan putrinya.


Melihat ayah mertuanya jatuh pingsan, Yura menjerit sejadi-jadinya. Dia yang masih terduduk di lantai segera merangkak menuju kearah ayah mertuanya yang sudah terkapar dengan wajah bersimbah airmata.


"Ayah, tolong bangun Ayah. Toloooongggg!" teriak Yura sambil mengguncang lengan ayah mertuanya.


Tak lama kemudian para pelayan berdatangan. Mereka dengan cepat mengangkat tubuh lemas Karim keatas ranjang kemudian menghubungi dokter. Sedangkan Yura, dia terlihat kebingungan. Dia tidak tahu apakah harus mengejar suaminya atau tetap berada di rumah menjaga ayah mertuanya.


Sementara itu, Bryan yang sedang menyetir mobil memacu dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dia sudah tidak peduli akan keselamatannya sendiri saat menerobos lampu merah. Satu yang dia pikirkan, bertemu dengan Eleanor secepatnya. Bryan juga berharap kalau putrinya itu masih berada di taman seperti yang di katakan oleh ayahnya tadi.


"Tunggu Ayah ya Nak, Ayah akan membawamu pulang ke rumah. Eleanor-ku, putri Ayah" ucap Bryan sambil terisak sedih.


Tak lama kemudian, Bryan akhirnya sampai di taman. Dia memarkirkan mobilnya asal, bahkan meninggalkan mobilnya begitu saja dalam keadaan pintu terbuka. Seperti orang gila, Bryan berteriak memanggil nama putrinya. Dia berlari memutari seisi taman sambil sesekali bertanya pada orang yang berpapasan dengannya.


"Maaf Tuan, kami tidak tahu" jawab orang itu sambil menatap heran kearah Bryan.


Tak putus asa, Bryan kembali mengelilingi taman. Saat sedang berlari, kakinya tidak sengaja menginjak batu dan membuatnya jatuh tersungkur. Setelah itu Bryan menangis, bukan menangis karena rasa sakit ataupun malu, tapi dia menangis karena masih belum berhasil menemukan putrinya di taman ini. Suara tangisnya yang cukup besar akhirnya mengundang rasa iba dari beberapa orang yang berada di sana. Mereka kemudian mendatangi Bryan lalu membantunya berdiri. Memberinya air minum sambil memberikan sedikit penghiburan untuknya.


Tak jauh dari lokasi Bryan terjatuh tadi, ada sebuah mobil yang sedang mengawasinya. Di dalam mobil tersebut, sepasang mata tengah menatapnya dengan penuh kemarahan.


"Sial sial sial! Rupanya kakek tua itu sudah memberitahu Ayah kalau Eleanor masih hidup. Arrrggghhh brengsek, kalau begini caranya bagaimana caranya aku bisa membunuh Eleanor. Aku yakin Ayah tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan mengerahkan banyak orang untuk mencari keberadaan parasit itu. Brengsek!" umpat Patricia sambil memukuli stir mobil.


Saat ingin pulang, Patricia tidak sengaja berpapasan dengan mobil ayahnya yang baru saja keluar dari pekarangan rumah. Dia heran melihat mobil ayahnya yang melaju dengan kecepatan tinggi lalu memutuskan untuk mengikutinya. Dan ternyata ayahnya datang ke taman ini kemudian berteriak seperti orang gila sambil menyebut nama Eleanor. Seketika emosi Patricia meledak melihat ayahnya yang ternyata sudah tahu kalau Eleanor masih hidup.


"Tidak tidak, apapun yang terjadi Eleanor harus mati sebelum Ayah menemukannya. Apa yang harus aku lakukan sekarang, kemana aku harus mencari parasit itu" geram Patricia sambil terus mengawasi pergerakan ayahnya.

__ADS_1


Saat dirinya sedang kebingungan, tiba-tiba muncul satu nama di kepala Patricia. Dia segera mengambil ponsel di dalam tasnya lalu menghubungi nomor preman yang tidak sengaja dia kenal di sebuah club.


"Halo Nona cantik, tumben sekali menghubungiku. Ada apa?."


"Aku ingin kau dan teman-temanmu melakukan sesuatu untukku. Tenang saja, semua itu tidak cuma-cuma. Jika kalian bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik, maka aku akan memberikan hadiah yang sangat besar untuk kalian semua. Cash!" jawab Patricia dengan tidak sabaran.


"Tawaran yang cukup menarik. Apa yang Nona ingin kami lakukan? Dan siapa targetnya?."


Patricia menyeringai.


"Aku ingin kalian menyingkirkan seorang gadis bau kencur yang ingin mengusik ketenanganku. Bunuh dia dengan cara yang kalian mau. Jika perlu, puaskan saja hasrat kalian sebelum menghabisinya. Dan ingat, jangan lupa membuang mayatnya untuk menghilangkan jejak. Apa kalian mengerti?."


"Tenang saja Nona. Urusan bunuh-membunuh itu sudah menjadi keahlian kami, jadi Nona tidak perlu khawatir. Tapi ngomong-ngomong, kami tidak tahu seperti apa wajah gadis bau kencur itu. Bisa tolong kirimkan gambar supaya kami tidak salah menargetkan orang Nona?."


"Aku akan mengirimkan gambarnya pada kalian setelah ini. Dan tolong, jangan kecewakan aku. Kelangsungan hidupku tergantung pada usaha kalian. Jika kalian gagal, maka jangan harap kalian akan mendapat bayaran. Tapi jika kalian berhasil menyelesaikan tugas ini, maka bersiaplah hidup dalam surga dunia!" janji Patricia dengan sangat yakin.


"Hahahhaha, aku suka gayamu Nona. Ya sudah, segera kirim foto gadis itu lalu kami akan mulai mengejarnya!."


Patricia mengangguk senang. Dia lalu memutus panggilan tersebut kemudian mengirim pesan pada orang suruhannya agar mengirimkan foto Eleanor padanya. Setelah fotonya dia dapat, tanpa membuang waktu lagi Patricia segera mengirim foto tersebut pada preman yang tadi di hubunginya.


"Maafkan aku Ayah, sepertinya kau dan putrimu selamanya tidak akan pernah bertemu karena aku sudah menciptakan jurang di antara kalian berdua" ucap Patricia sambil menatap sinis kearah taman.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2