Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Kebanggaan


__ADS_3

"Nyonya Liona, terima kasih sudah mau membagi cerita tentang cucuku. Aku janji setelah ini aku tidak akan mempedulikan yang lain lagi selain kebahagiaan Elea. Cukup sekali aku melakukan kesalahan dengan meninggalkan Sandara di negara ini, aku tidak kau mengulangi kesalahan yang sama" ucap Clarissa sambil menyeka airmata yang membasahi wajahnya.


"Sama-sama, Nyonya Clarissa. Aku tahu kau sebenarnya juga berada dalam posisi yang sulit waktu itu. Tapi jika itu terjadi padaku, maka aku akan memilih untuk mati bersama Sandara. Darah daging yang ku besarkan dengan kedua tanganku sendiri tidak akan pernah aku berikan pada orang lain. Termasuk pada ayah kandungnya sendiri, apalagi saat itu Tuan Karim tidak tahu kalau Sandara adalah putrinya. Kau mengambil keputusan tanpa memikirkan akibat buruk yang bisa saja terjadi pada putrimu. Padahal kau sudah tahu kalau saat itu Tuan Karim sudah menikah dan mempunyai anak. Wajar saja jika Elea merasa sangat kecewa padamu. Dia pasti beranggapan kalau kau lebih memilih harta dan status kebangsawananmu karena kau tetap meninggalkan ibunya di tangan orang yang kejam" tandas Liona dengan begitu tegas.


Clarissa tersentak.


"Jadi kau tahu kalau aku sebelumnya sudah pernah bertemu dengan istri dan anaknya Karim?.


"Ya, aku tahu semua yang berhubungan dengan Elea. Meskipun dia hanya menantuku, tapi aku sudah menganggapnya seperti putri kandungku sendiri. Aku bahkan bisa mengetahui apa yang sedang dia rasakan tanpa harus dia mengadu terlebih dahulu."


Greg diam menyimak pembicaraan kedua wanita ini. Sesekali dia melirik kearah belakang ketika mendengar suara jeritan. Sudut bibirnya tertarik keatas saat suara jeritan itu di barengi dengan suara gedoran kaca.


"Em maaf, itu suara siapa ya?" tanya Clarissa yang terusik dengan suara-suara bising di rumah ini.


"Mereka adalah tahanan kami. Kedua manusia itu adalah orang-orang yang ingin merusak rumah tangga Gabrielle dan Elea. Sebagai orangtua yang baik kami tentu saja tidak akan membiarkan para lalat itu membuat onar, jadi kami dengan sengaja menyekapnya di rumah ini" jelas Greg dengan senyuman penuh maksud.


Mungkin jika dari luar rumah suara teriakan Fulgi dan Kimmy tidak terdengar, lain halnya jika dari dalam. Suara mereka terdengar dengan sangat jelas meskipun tidak terlalu besar.


"Apa itu tidak melanggar hukum, Tuan Greg? Tidakkah keluarga mereka mencari keberadaannya?.


Clarissa cukup kaget mendengar hal tersebut. Dia tidak menduga kalau pasangan suami istri ini lumayan kejam pada orang-orang yang ingin mengusik rumah tangga cucunya. Tapi biarpun begitu Clarissa tetaplah bersyukur. Setidaknya dengan begini kebahagiaan cucunya bisa lebih terjamin.


"Nyonya Clarissa, apakah menurutmu akan ada orang yang mencari makhluk jahat seperti mereka? Aku rasa tidak" jawab Greg dengan entengnya. "Ada beberapa jenis orang yang memang pantas untuk di lenyapkan dari muka bumi, termasuk mereka. Kalaupun kami berdosa, kami tidak merasa keberatan karena apa yang kami lakukan adalah demi kebahagiaan anak-anak kami."


Liona melirik kearah Hansen saat mendengar kode dari putranya. Hansen yang menyadari hal itu segera datang mendekat.


"Ada tugas apa, Nyonya?.


"Masukkan asap bius ke ruangan kaca itu. Gabrielle dan Elea akan segera datang, aku tidak mau menantuku mendengar suara jeritan mereka" jawab Liona.


"Baik, Nyonya. Permisi" sahut Hansen lalu bergegas menjalankan tugas dari nyonya-nya.

__ADS_1


Tak lama setelah kepergian Hansen, Gabrielle datang bersama Elea. Wajah keduanya terlihat cerah, seakan baru saja menemukan sesuatu yang membahagiakan.


"Grandma, kau menangis ya?" tanya Elea sambil menelisik mata neneknya yang masih sembab.


"Iya sayang, Grandma baru saja menangis setelah mendengar cerita dari ibu mertuamu. Maaf ya, Grandma tidak bisa menjadi nenek yang baik untukmu" jawab Clarissa jujur.


Elea terdiam. Dia kemudian melihat kearah ibu mertuanya.


"Ibu Liona, apa yang sudah Ibu Liona ceritakan pada Grandma? Apakah itu tentang kisah hidupku yang menyedihkan?.


"Sebagian iya dan sebagiannya lagi tidak" jawab Liona kemudian menepuk sofa di sebelahnya. "Duduklah. Biarkan Ibu menjelaskannya padamu."


Sebelum duduk, Elea terlebih dahulu melihat kearah suaminya. Dia baru pergi ke samping ibu mertuanya setelah suaminya memberi izin.


"Elea, Grandma-mu berhak tahu tentang masa lalumu. Bukan untuk membuka lama, tapi Ibu hanya ingin beliau lebih mengerti tentang perasaanmu. Jadi kau jangan salah paham ya? Ibu dan Grandma Clarissa sangat menyayangimu, kami hanya ingin yang terbaik untukmu dan juga rumah tanggamu bersama Gabrielle" ucap Liona sembari membelai rambut panjang menantunya.


"Ibu Liona, aku tidak salah paham pada kalian. Aku hanya tidak ingin kenangan kelam itu kembali di ungkit. Biarlah itu menjadi memori di hidupku, sekarang aku sudah bahagia" sahut Elea sambil tersenyum hangat pada semua orang. "Oh iya Ibu Liona, aku ingin mengabarkan sesuatu yang penting pada kalian semua. Aku sudah mengambil keputusan kalau aku akan memaafkan kesalahan dokter Jackson. Aku ingin memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri!.


"Elea, kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Liona.


"Iya Ibu Liona. Aku tidak mau menjadi orang jahat seperti dokter Jackson. Aku ikhlas memaafkan semua perbuatannya dan aku ingin dia mendapatakan kesempatan kedua. Kak Iel bilang orang keji sekalipun berhak mendapatkan pengampunan. Dan aku rasa dokter Jackson juga berhak untuk mendapatkannya. Ibu Liona mau kan untuk melepaskannya? Ayah Greg, Ayah mau kan memaafkan dokter Jackson?.


Elea bergantian menatap ayah dan ibu mertuanya. Lama tak mendapat jawaban, dia akhirnya melihat kearah suaminya untuk meminta bantuan. Gabrielle yang tanggap pun segera membantu memberi penjelasan. Dia tahu kalau orangtuanya sedikit tak setuju dengan keputusan istrinya.


"Ayah, Ibu, meski Elea sudah memaafkan bajingan itu, dia ingin agar Jackson tetap berada di rumah ini agar kita semua bisa terus memantau perubahannya. Aku tahu kalian ingin menolak, tapi ini sudah menjadi keputusan Elea. Dia tidak ingin menyimpan dendam" jelas Gabrielle.


Liona menghela nafas. Meski tak ingin, dia harus tetap menghargai keputusan yang sudah di ambil oleh menantunya.


"Apa benar itu yang kau inginkan, hm?" tanya Liona kemudian menggenggam tangan menantu kebanggaannya. "Kau baik sekali sayang. Kau mampu memaafkan orang yang telah membuatmu merasa tertekan selama bertahun-tahun. Ibu salut padamu."


"Ayah juga, Elea. Mungkin jika itu Ayah, Ayah pasti akan langsung memberinya ganjaran yang jauh lebih menyakitkan melebihi apa yang sudah dia perbuat. Dari surga sana Mama-mu pasti sangat bangga melihat putrinya tumbuh menjadi seorang gadis berhati malaikat" imbuh Greg ikut merasa bangga.

__ADS_1


Clarissa berkaca-kaca. Dia tanpa sadar berlari masuk ke pelukan cucunya. Clarissa merasa sangat terharu, meskipun hidup dalam kepedihan nyatanya cucunya bisa tumbuh menjadi pribadi yang begitu baik. Cucunya bahkan mau memaafkan begitu saja kesalahan orang yang telah membuatnya menderita.


"Grandma, jangan menangis. Nanti make-up Grandma luntur, keriputnya jadi kelihatan nanti."


Celetukan Elea mengundang gelak tawa semua orang. Lagi, sekali lagi dia berhasil merusak suasana haru yang sedang terjadi. Gabrielle yang gemas dengan sangat tidak sabar menunggu gilirannya untuk memeluk Elea. Tangannya sudah sangat gatal ingin mendorong Grandma Clarissa agar segera melepaskan pelukannya.


"Sabar, Gabrielle" ejek Liona sambil menggelengkan kepala.


"Tidak bisa, Bu. Aku harus segera mengamankan Elea sebelum Ayah ikut memeluknya. Aku tidak ingin berbagi wanitaku dengan pria lain" sindir Gabrielle sambil melirik sinis kearah ayahnya.


Greg terperangah.


"Kau.. kurang ajar. Memang apa salahnya kalau Ayah memeluk putri Ayah sendiri?" kesal Greg tak terima.


"Pokoknya aku tidak mau tahu. Ayah tidak aku izinkan memeluk istriku, apapun alasannya!" sanggah Gabrielle kemudian segera menarik Elea ke dalam pelukannya begitu terbebas dari pelukan Grandma Clarissa.


Liona hanya bisa menghela nafas melihat perseteruan ayah dan anak ini. Sudah bukan rahasia lagi kalau suami dan anaknya akan selalu memperebutkan Elea. Dia kemudian melirik kearah Nyonya Clarissa, tersenyum ketika wanita bangsawan itu memperhatikan dengan seksama perdebatan yang sedang terjadi antara Greg dan Gabrielle.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


✅Hai hai hai.... Emak bawa novel baru lagi nih dari author imut kita @Ovie NurAisyah. Kuy lah kunjungin lapaknya. Mengisahkan tentang perjodohan dimana si wanita kehilangan ingatan karena satu kejadian. Hingga pada akhirnya dia di pertemukan dengan seorang pria yang memang berasal dari masa lalunya. Penasaran kan??? Sama, emak juga. Yuk lah ramai2 kita kasih dukungan untuk karyanya. Jangan pelit like, comment, dan vote juga ya gengs... 😁



...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2