Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
21+


__ADS_3

Terkadang meskipun hati mencoba untuk tetap tegar, ada kalanya ketegaran itu di paksa runtuh saat sebuah kebenaran mencuat di depan mata. Munafik lah jika diri tak ingin berontak, memaki dan mengecam segala bentuk kekejaman yang di lakukan seseorang dalam satu aliran darah. Kurang lebih seperti itulah yang sedang di rasakan oleh Elea saat ini. Entahlah, dia bingung kenapa jalan kehidupannya begitu terjal dan berat. Dia yang di buang oleh kakek dan neneknya saja sudah cukup menyesakkan dada, sekarang bertambah dengan satu kenyataan dimana ibunya juga di buang begitu saja di tengah hujan. Elea tidak paham kenapa dia dan ibunya harus di lahirkan sedangkan kehadiran mereka sendiri di tolak oleh dunia. Seberapa pun kerasnya Elea berusaha memecah teka-teki ini, tetap saja dia tidak berhasil menemukan jawabannya. Semuanya terlalu sulit bagi Elea.


"Sayang...."


Elea yang sedang melamun tersentak kaget saat merasakan sebuah elusan lembut di pipinya. Dia menoleh, mendapati wajah sendu suaminya yang terlihat lelah.


"Sayang, i miss you" bisik Gabrielle lirih. Hati siapa yang tak sesak melihat orang yang di cintai hanya terbaring diam selama beberapa hari. Yah, Gabrielle sudah berada di ruangan ini selama empat hari penuh sejak dia kembali dari memberi pelajaran pada Jackson.


"Kak Iel, kenapa kau terlihat sedih? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Elea lembut.


Tes


Setelah empat hari lamanya Gabrielle menunggu, akhirnya hari ini istrinya mau bicara. Dia tak kuasa untuk menahan laju airmatanya melihat hal baik ini. "Ya, memang ada yang menggangguku sayang. Kau!."


"Aku?."


"Elea, apa kau sangat marah padaku sampai mengunci mulut dan tidak mau bicara? Apa kau merasa sangat kecewa karena aku terlambat menyelamatkanmu malam itu?" cecar Gabrielle sambil menciumi tangan Elea yang terasa sangat dingin. "Tanganmu dingin seperti es, mau ku peluk tidak?."


Elea mengangguk. Dalam sekejab tubuhnya sudah berada di dalam dekapan suaminya. Dia lagi-lagi tersenyum, merasakan betapa pelukan ini memberinya sebuah keyakinan kalau suaminya tidak akan pernah mendatangkan rasa sakit seperti yang sedang dia pendam sekarang.


"Maaf...."


Gabrielle menunduk begitu dia mendengar kata maaf dari mulut istrinya. "Maaf untuk apa?."


"Karena sudah mengabaikan Kakak beberapa hari ini" jawab Elea. "Hatiku sangat lelah Kak, aku hanya ingin mengistirahatkannya sebentar!."


"Aku mengerti sayang. Em Elea, bagaimana kalau kita pergi berlibur saja, nanti di sana kau bisa menghibur diri dengan berbagai macam kegiatan. Jalan-jalan, belanja, menikmati kuliner atau yang lainnya. Mau tidak?" ucap Gabrielle mencoba mengalihkan kesedihan istrinya.


"Mau Kak" jawab Elea. "Aku mau pergi ke suatu tempat yang sangat jauh dimana tidak ada orang yang mengenali kita. Aku benar-benar ingin sekali menikmati waktu yang seperti itu, Kak. Hanya ada kebahagiaan dan canda tawa, tanpa luka dan beban rahasia!."


"Sesuai yang kau mau, sayang. Tunggu sebentar, aku akan meminta Ares untuk mengirimkan sesuatu" sahut Gabrielle kemudian mengambil ponselnya di atas meja. "Beberapa hari yang lalu dia sempat merekomendasikan tempat wisata padaku, tapi aku tidak mempedulikannya karena istriku yang cantik sedang puasa bicara!."


Elea hanya tersenyum kecil mendengar ejekan suaminya. Netranya terus menikmati ciptaan Tuhan yang begitu sempurna di sampingnya. Entah karena rasa rindu atau sedang ada setan lewat, tiba-tiba saja tangan Elea bergerak mengusap dada bidang suaminya. Dia melakukan gerakan naik-turun yang mana membuat suaminya menelan ludah dan tidak fokus lagi pada ponsel yang sedang dia pegang.


"Sayang, aku mohon jangan menggodaku. Kau belum sembuh, aku tidak mau kalau sampai kehilangan kendali" ucap Gabrielle dengan suara parau.

__ADS_1


"Aku rindu padamu, Kak Iel. Aku menginginkanmu" sahut Elea tanpa merasa malu. Biarlah, toh tidak ada yang melarang jika dia meminta haknya sebagai seorang istri. Dan lagipula Elea memang sedang membutuhkan belaian dari suaminya, dia butuh kehangatan.


"Kau yakin?" tanya Gabrielle sembari meletakkan ponsel ke atas meja. "Sayang, aku merindu lebih dari yang kau rasakan. Tapi saat ini kondisimu belum terlalu sehat, aku takut kau akan merasa tidak nyaman jika kita tetap melakukannya!."


"Lakukan perlahan, Kak. Aku, aku benar-benar sangat membutuhkanmu. Tolong jangan tolak aku Kak, jangan menolakku seperti mereka. Jangan!" sahut Elea sedih.


Gabrielle segera mencium bibir pucat Elea saat menyadari ada kesedihan di balik kata-katanya. Dalam hati dia sangat menyesal karena tidak langsung menuruti keinginan istrinya, malah dia seperti sengaja mengingatkan Elea pada kesedihan yang sedang dia rasakan. 'Bodoh, bodoh, bodoh.'


Nafas Gabrielle dan Elea sama-sama terengah setelah mereka berciuman cukup lama. Dengan hati-hati Gabrielle mengusap bibir bawah istrinya yang sedikit membengkak, tersenyum melihat tatapannya yang terlihat begitu mendamba.


"Minta aku untuk berhenti jika tubuhmu merasa tidak nyaman, oke?" bisik Gabrielle saat mulai membuka kancing baju yang di pakai oleh istrinya. "Aku akan melakukannya sepelan mungkin, pukul kepalaku jika gerakanku nanti menyakitimu!."


Elea mengangguk. Dia lalu membantu membukakan kemeja suaminya. "Kak Iel, hanya aku satu-satunya wanita yang boleh memiliki dada ini. Tidak boleh ada orang lain yang meminjamnya, apalagi merebutnya. Janji jangan biarkan siapapun merenggut aset berhargaku ya?."


Sudut Gabrielle berkedut. Hatinya senang sekali melihat istrinya yang tiba-tiba menjadi sangat posesif. Dia tentu saja tidak merasa keberatan sama sekali, karena nyatanya memang hanya Elea yang dia izinkan untuk bersandar disana.


"Seluruh tubuhku semuanya adalah milikmu sayang. Aku janji tidak akan pernah ada wanita lain selain Eleanor Ma, istriku. Sampai mati" sahut Gabrielle sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya yang sudah polos. "Sayang, bantu aku membuka celana. Posisiku sudah sangat pas seperti ini!."


Tanpa menunggu lagi Elea segera membuka resleting celana milik suaminya. Dia segera menyambut bibir suaminya dengan penuh hasrat. Entahlah, malam ini Elea benar-benar merasa seperti wanita binal. Dia yang selama ini tak pernah berani melakukan hal vulgar seperti ini, mendadak sangat menginginkannya, bahkan tak bisa di bendung lagi. Tapi Elea tidak peduli, karena sekarang kehangatan dari suaminya adalah satu hal yang paling dia butuhkan. Dia butuh kehangatan ini yang menstabilkan hatinya yang hampir membeku.


"Euuungghhhhh......."


Lenguhan manja akhirnya mulai menggema di dalam kamar tersebut saat Gabrielle menyatukan miliknya dengan milik Elea. Dia sama sekali tak melepaskan pandangan matanya dari wajah istrinya, ingin memastikan kalau istrinya tidak merasa kesakitan.


Bulir-bulir keringat nampak mengucur deras di tubuh dua orang insan yang sedang mengayuh kenikmatan di tengah lautan nafsu. Keduanya saling meluapkan betapa mereka sangat membutuhkan kehangatan yang sama. Bahkan Elea yang selama ini pasif sekarang berubah menjadi sedikit lebih aktif, membuat Gabrielle beberapa kali hampir kuwalahan menghadapi gerakannya.


Hampir tiga puluh menit lamanya Gabrielle dan Elea menikmati percintaan mereka. Hingga akhirnya mereka mencapai pelepasan yang sangat hebat. Setelah mengeluarkan seluruh benih kecebongnya, Gabrielle segera turun dari atas tubuh Elea kemudian memeluknya dari samping. Dia mengusap kening Elea yang masih di banjiri keringat.


"Sayang, kau baik-baik saja kan?."


Dengan nafas yang masih memburu Elea menganggukkan kepala. Dia terkekeh, menertawakan kebinalannya barusan. "Hehe, Kak Iel, apa tadi aku terlihat seperti wanita murahan?."


"Tidak sama sekali, malah kau tadi itu sangat hebat sayang. Sungguh" jawab Gabrielle jujur. "Ekhmm, nanti saat kita berlibur kau harus memberiku servis seperti tadi ya? Rasanya benar-benar enak, sayang. Membuatku ketagihan!."


Wajah Elea merona. Untuk sejenak dia berhasil lupa dengan kesedihannya. Ternyata memang benar kalau bercinta dengan orang yang kita sayang bisa membuat mood kita membaik. Dan sekarang Elea sudah membuktikannya sendiri.

__ADS_1


"Kak Iel, ayo kita pergi berlibur besok. Nanti di sana aku akan menunjukkan banyak gaya padamu" bisik Elea centil.


Seringai licik segera muncul di bibir Gabrielle begitu dia mendengar tawaran istrinya yang begitu menggoda. Segera dia mengirim pesan pada Ares untuk mempersiapkan segalanya.


"O iya sayang, kau ingin mengajak Levi atau tidak?" tanya Gabrielle.


"Em, sepertinya Kak Levi harus di ajak Kak. Karena bagaimanapun dia pernah ikut menjadi korban gara-gara aku. Ya anggap saja ini sebagai balasan atas kebaikan hatinya" jawab Elea.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan menyuruh Ares menyiapkan kamar lain untuk Levi dan Reinhard" ucap Gabrielle kemudian mengirim pesan lagi kepada Ares.


"Kak Iel...." panggil Elea.


Gabrielle yang sedang menulis pesan segera menoleh kearah Elea saat namanya di panggil. "Ya sayang, ada apa?."


"Aku mencintaimu!."


"Lagi, ..."


"Aku mencintaimu Kak" ulang Elea.


"Sekali lagi..." goda Gabrielle dengan senyum semringah di bibirnya. "Ayo sayang katakan sekali lagi."


"Aku sangat mencintaimu Kak Iel...!."


"Lagi...."


"Kak Iel...." rajuk Elea malu.


Gabrielle tertawa puas setelah berhasil menggoda istrinya. Tak ingin masuk angin, dia segera membopong istrinya ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah berberes Gabrielle dan Elea tidur berdampingan sambil saling memeluk. Meresapi sisa percintaan yang baru saja terjadi di atas ranjang rumah sakit ini.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2