Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Tercemar


__ADS_3

"Hatchii...!."


Hidung Elea nampak memerah. Pagi ini dia benar-benar terserang flu setelah semalam bermain salju bersama suaminya. Tapi meskipun sakit seperti ini, Elea merasa sangat bahagia. Dia bahagia karena bisa merasakan sesuatu yang dulunya hanya ada di dalam bayangan saja. Sambil terus memencet hidungnya yang terasa gatal, Elea pergi mengunjungi Levi. Dia berniat memamerkan penyakit yang sedang dia derita.


Tok, tok, tok


"Kak Levi..!."


Tak ada jawaban. Sepertinya penghuni kamar ini masih belum bangun. Elea lalu memutuskan pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering dan sedikit sakit akibat flu yang di alaminya.


"Waahhh, rumah ini sangat mirip dengan bangunan kerajaan yang aku lihat di drama televisi. Grandma benar-benar sangat kaya ternyata" gumam Elea mengangumi interior bangunan yang ada di dapur.


Elea tersenyum sambil menganggukan kepala saat para pelayan menyapanya. Dia segera melangkah cepat kearah kulkas saat tenggorokannya terasa semakin tidak nyaman.


Saat Elea hendak membuka pintu kulkas, sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Dan Elea langsung tahu siapa pelakunya.


"Kak Iel, ada banyak pelayan di sini. Kau jangan berbuat mesum dulu ya."


Kening Elea mengerut saat suaminya diam saja. Perasaan Elea mendadak jadi tidak enak saat dia mencium aroma yang sedikit berbeda dari parfum yang biasa di pakai oleh suaminya. Dengan cepat Elea menepis tangan tersebut kemudian berbalik. Dia terbelalak kaget begitu tahu siapa orang yang baru saja memeluknya.


"Fulgi, apa yang kau lakukan?."


"Jangan panik, Elea. Aku hanya ingin lebih dekat dengan saudaraku saja. Maaf ya kalau tindakanku tadi membuatmu kaget" sahut Fulgi seraya mengagumi kecantikan gadis yang ada di hadapannya.


"Tapi tidak begitu juga caranya. Aku ini wanita yang sudah bersuami. Apa kata orang-orang nanti jika mereka melihat perbuatanmu barusan? Mereka pasti akan salah paham dan mengira kalau kita ada hubungan spesial!" omel Elea dongkol.


'Aku memang sengaja melakukannya agar suamimu berburuk sangka lalu menceraikanmu, Elea. Ahhh, kau manis sekali. Aku jadi semakin tidak rela melihatmu bersama Gabrielle. Yang semalam saja sudah membuatku tidak bisa tidur nyenyak. Pokoknya aku harus secepat mungkin merebutmu dari Gabrielle sebelum otakku menjadi tidak waras!.'


"Iya baiklah. Oh ya, kau sedang apa di dapur? Tidak mungkin mau memasak kan?" tanya Fulgi mencoba untuk meluluhkan kemarahan Elea.


"Memangnya kenapa kalau aku mau memasak? Kau ini cerewet sekali Fulgi. Banyak tanya" jawab Elea cetus.


"Kau masih marah padaku ya?."


"Menurutmu?."


Elea mendengus. Dia kembali bersin saat hidungnya semakin gatal. Sambil bersungut-sungut Elea mengambil air dingin dari dalam kulkas. Ekor matanya terus melirik Fulgi yang tidak berhenti menatapnya. Merasa risih dengan kelakuan saudaranya itu, Elea memutuskan untuk sesegera mungkin pergi dari sana. Dia merasa ada yang salah dengan sikap Fulgi yang mendadak jadi begitu lembut padanya. Tapi saat Elea hendak melangkah pergi, lengannya di tarik oleh Fulgi. Sontak saja hal itu membuat Elea sangat marah hingga akhirnya dia melakukan sesuatu yang membuat pria ini tertegun kaget.


Plaakkkkkk

__ADS_1


"Jangan sentuh aku atau aku akan memotong tanganmu!" teriak Elea sambil menatap tajam kearah Fulgi. "Aku sudah bilang kalau aku ini sudah punya suami. Kenapa kau masih bersikap kurangajar padaku hah!."


Rupanya suara teriakan Elea mengundang perhatian Cira yang baru saja keluar dari kamar majikannya. Dia segera berlari kearah dapur begitu tahu kalau Nona Elea sedang bersama dengan Fulgi, pria licik yang cukup dia benci.


"Nona Elea, ada apa?."


"Kak Cira, coba Kakak lihat pria cabul ini. Dia berani memegang tanganku dan bahkan tadi dia juga lancang memelukku. Aku tidak suka di sentuh sembarangan oleh orang asing. Aku ini sudah menikah Kak, sudah ada yang berhak atas setiap inci bagian tubuhku!" jawab Elea seraya menunjuk wajah Fulgi yang seperti kaget setelah melihat reaksinya.


Cira segera menatap tajam kearah Fulgi. Dia bisa menebak kalau pria licik ini mempunyai maksud lain pada Nona Elea.


"Kenapa memelototiku?" tanya Fulgi kesal.


"Apa saya masih harus menjelaskannya pada anda, Tuan Fulgi? Saya rasa anda tidak sebodoh itu untuk bisa memahami perkataan Nona Elea" jawab Cira.


"Mulutmu!" sentak Fulgi sambil mengepalkan tangan.


"Ada apa ini? Nyonya Elea, apa yang anda lakukan di sini? Dimana Tuan Muda?" tanya Ares yang tiba-tiba sudah muncul di dapur.


Fulgi segera menormalkan wajahnya begitu melihat kemunculan Ares disana. Dia tidak mau emosinya merubah cara pandang pria ini. Sambil tersenyum ramah, Fulgi mencoba memanipulasi keadaan dengan menghasut Area agar tak bertanya apa yang sedang terjadi pada Cira dan Elea.


"Selamat pagi Tuan Ares. Tidak, kami bertiga hanya sedang saling menyapa saja. Oh ya, bagaimana tidurmu semalam? Apa ada sesuatu di dalam kamar yang membuatmu merasa tidak nyaman?."


Hatchiiiiii


Semua mata tertuju pada Elea saat dia kembali bersin. Cira yang tanggap segera mengambilkan tisu untuk cucu majikannya. Dia kemudian menyapa Ares yang sedang memandanginya dalam diam.


"Selamat pagi, Ares."


Ares tersenyum kemudian mengangguk. Dia senang karena gadis ini tak lagi bicara menggunakan kalimat formal.


"Nyonya Elea, dimana Tuan Muda Gabrielle? Kenapa anda sendirian di luar kamar?."


"Sebenarnya tadi itu aku ingin menemui Kak Levi. Tapi dia belum bangun, jadi aku pergi ke dapur untuk mengambil minum. Siapa yang tahu kalau aku akan bertemu dengan pria cabul disini. Ares, tadi Fulgi memelukku dan menyentuh tanganku. Aku jadi takut tertular virus karena sentuhan dia!" jawab Elea sambil mengadukan perbuatan Fulgi padanya.


"Brengsek! Bukankah semalam aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menyentuh istriku? Lancang kau keparat!."


Bugghhhhhh


Fulgi terpelanting menabrak kulkas saat Gabrielle menendangnya dengan sangat kuat. Dia melenguh kesakitan kemudian menatap marah kearah pria yang juga sedang menatapnya.

__ADS_1


"Tuan Muda!" cegah Ares sambil menahan tubuh Tuan Muda-nya yang ingin kembali menyerang Fulgi. "Jangan gegabah!."


"Lepaskan aku. Biarkan aku menghabisi pria bajingan ini Ares!" bentak Gabrielle sambil berusaha melepaskan diri.


Elea yang melihat Ares kewalahan menahan suaminya segera bertindak. Dia menggantikan Ares memeluk tubuh suaminya yang sedang berontak sambil terus menatap marah kearah Fulgi yang sedang duduk menyender di pintu kulkas.


"Kak Iel, jangan marah lagi ya. Tendanganmu tadi pasti sudah membuat perutnya Fulgi memar. Itu seharusnya cukup memberinya pelajaran supaya tidak berbuat kurangajar lagi padaku!."


"Dia sudah berani menyentuhmu, sayang. Aku tidak rela jika hanya memberikan satu tendangan saja, itu sangat tidak sebanding dengan apa yang sudah di lakukan padamu" sahut Gabrielle dengan emosi yang sedikit mereda. Satu tangannya segera menarik masuk tubuh Elea ke dalam pelukannya. Dia lalu menciumi puncak kepalanya dengan penuh sayang.


"Kalau begitu Kakak bersihkan saja bagian tubuhku yang sudah tercemar. Jangan buang-buang tenaga lagi ya, semalam kan kita sudah kelelahan bermain bola salju. Aku khawatir Kakak jatuh pingsan karena lemas!."


Cira terkejut mendengar ucapan cucu majikannya. Dia lalu menoleh saat lengannya di sentuh oleh Ares.


"Jangan kaget. Nyonya Elea memang seperti itu, kata-katanya akan selalu membuat orang jantungan."


"Oh, jadi begitu ya" sahut Cira mengerti.


Ares mengangguk. Dia segera maju ke depan ketika melihat Fulgi yang sudah bangkit dari tempatnya duduk.


"Sebaiknya anda jangan macam-macam, Tuan Fulgi!."


"Minggir kau, aku tidak ada urusan denganmu" sahut Fulgi sambil mendorong Ares agar tak menghalangi jalannya. "Dan kau Gabrielle, kau salah sudah menuduhku seperti itu. Aku tidak bermaksud apapun pada Elea, dia salah paham dengan apa yang aku lakukan tadi!."


"Bohong, Kak Iel" sela Elea cepat. "Tadi pria cabul ini menatapku seperti orang kelaparan. Dia pasti menginginkanku dia ingin merebut aku dari Kak Iel!."


Fulgi menelan ludah saat niatnya terbaca oleh Elea. Dia segera memalingkan muka kearah lain.


"Habisi bajingan ini kalau dia masih berani mengganggu istriku, Ares!" perintah Gabrielle kemudian membawa Elea masuk ke dalam kamar mereka.


"Baik Tuan Muda!."


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2