
Di saat Gabrielle dan Elea tengah menikmati kebersamaan dengan pergi berlibur, Patricia saat ini malah sedang mengamuk di dalam apartemen miliknya. Dia seperti orang kerasukan saat di beritahu oleh orang suruhannya kalau Elea telah menikah lama dengan Gabrielle. Patricia sangat sakit hati, tidak terima posisinya di rebut begitu saja oleh gadis sialan itu.
"Aaargrgrhhhhh..... Elea, kau gadis k*parat. Gabrielle itu milikku, dia calon suamiku, kenapa kau berani merebutnya hah!! Asal kau tahu Elea, hanya aku yang pantas menjadi menantu di keluarganya Gabrielle. Hanya Patricia Young yang berhak memiliki status itu. Hanya aku!!!."
Praaaanngggggg
Dengan sangat marah Patricia melemparkan asbak kearah lemari hingga membuat kacanya pecah berantakan. Dia lalu mengambil sepuntung rokok kemudian menyalakannya. Dengan mata yang memerah Patricia menghisap rokok dalam-dalam kemudian menghembuskan asapnya keatas. Sudah terjatuh, tertimpa tangga pula. Mungkin seperti itulah nasib yang sedang di alami oleh Patricia. Baru saja dia di kejutkan dengan kenyataan kalau keluarganya sudah mengetahui keberadaan Elea, bagai tersambar petir dia kembali di buat kaget mendapat laporan kalau pria yang di sukainya itu ternyata sudah menikah dengan gadis yang sedang dia incar. Patricia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Begitu Elea muncul, gadis itu langsung merebut semuanya. Kasih sayang ibunya, posisinya sebagai pewaris tunggal di Keluarga Young, dan sekarang menghancur-leburkan keinginannya yang ingin menjadi istrinya Gabrielle.
"Kau sudah sangat keterlaluan, Elea. Tapi aku tidak akan membiarkanmu terus berada di puncak kemenangan. Kau sekarang boleh saja bahagia dengan merebut segala hal yang aku inginkan, tapi aku jamin kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Gabrielle, aku akan membuat kalian terpisah dengan cara apapun. Hanya aku Elea, hanya Patricia Young yang berhak berdiri di sisinya Gabrielle. Hanya aku saja yang boleh menjadi menantu di Keluarga Ma. Hanya aku Elea, akuuuu....!" teriak Patricia semakin gila.
Bola mata Patricia bergerak gelisah. Dia tengah memikirkan cara untuk merusak pernikahan Gabrielle dan Elea. Patricia sangat tidak rela singgasananya di miliki oleh wanita lain, terlebih lagi itu adalah orang yang menjadi musuhnya. Semakin lah membuat Patricia merasa sangat frustasi.
"Aah ya, sepertinya aku harus pergi menemukan Jack-Gal untuk meminta bantuan darinya. Persetan dengan kekejamannya, aku tidak peduli. Hanya dia yang mampu berurusan dengan Keluarga Ma. Ya, hanya dia saja yang mampu!" gumam Patricia sembari menyeringai jahat begitu menemukan jalan keluar.
Tanpa membuang waktu lagi Patricia segera menyambar tas dan kunci mobilnya yang tercecer di lantai. Dengan setengah berlari dia pergi meninggalkan apartemen kemudian bergegas melajukan mobilnya. Patricia menggunakan koneksinya untuk mencari keberadaan Jack-Gal. Dia bahkan harus rela merogoh kocek yang cukup besar hanya demi mendapatkan alamat tempat tinggal si pembunuh berdarah dingin itu.
Dengan kebencian yang begitu membara, Patricia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia sudah tidak sabar ingin segera memberikan perintah untuk menghabisi Elea. Dalam bayangannya, Patricia merasa sangat puas melihat Elea yang mati dengan kepala terpenggal. Tapi saat dirinya tengah asik-asik membayangkan hal tersebut, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di tengah jalan. Patricia yang tidak siap dengan keadaan itu segera menginjak rem yang membuat kepalanya terbentur stir mobil.
Ciiiiittttttttttt...... Brrrkkkk
"Aawwwwwww......" ringis Patricia dengan pandangan yang sedikit memburam.
Junio terkekeh melihat apa yang baru saja dia lakukan. Glenn yang berada di sebelahnya hanya menarik nafas panjang, sudah tidak heran lagi dengan kelakuan sahabatnya.
"Kalau kau suka tidak perlu menyakitinya sampai seperti ini, Jun. Culik dan tiduri saja dia!" ucap Glenn santai.
__ADS_1
"Tidak asik jika tidak ada perlawanan, Glenn. Kau tahu, gadis ini sedikit galak jika di bandingkan dengan wanita yang pernah dekat denganku selama ini. Lagipula aku melakukan hal ini juga atas keinginan Grizelle. Bukankah kau juga dengar apa yang dia katakan malam itu?" tanya Junio sembari melepaskan seatbelt. "Kau tunggu di sini saja. Aku akan memeriksa apakah calon manekinku terluka atau malah baik-baik saja. Aahhh, aku jadi tidak sabar ingin segera mendengar umpatanya!."
Tanpa mengindahkan ejekan Glenn, Junio bergegas menghampiri Patricia. Bibirnya mengulum senyum ketika dia melihat tatapan penuh kebencian di mata wanita yang sedang menatapnya dari dalam mobil.
Tok, tok, tok
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" ledek Junio sembari mengetuk jendela mobil. "Maaf, tadi aku sengaja melakukannya. Kau tidak marah bukan?."
Di dalam mobil, Patricia tengah mengumpat dengan sangat kasar begitu melihat kemunculan Junio. Nasibnya benar-benar menjadi sangat sial setelah pertemuan mereka malam itu. Hidup Patricia seperti tidak bisa tenang karena pria ini selalu muncul dimanapun dia berada.
"Sayang, ayo buka kaca jendelanya" rayu Junio.
Patricia sadar jika pria ini bisa saja nekad kalau dia tidak menuruti keinginannya. Dengan sangat enggan akhirnya Patricia menurunkan kaca jendela. "Kali ini kau mau apa lagi, Junio. Bisa tidak jangan menggangguku?."
"Apa kau sudah tidak waras menyapa dengan cara seperti ini hah! Kau hampir membuatku celaka, Junio!" bentak Patricia dengan sengit.
Plaaakkkkk
Setetes darah segar menetes keluar dari sudut bibir Patricia saat Junio menamparnya dengan cukup keras. Wajah Junio yang tadinya terlihat tengil kini sudah berubah menjadi merah padam. Dia sangat tidak suka jika ada wanita yang berani meneriakinya.
"Aku kira kau sudah pernah mendapat peringatan dariku kalau aku-sangat-tidak-suka-di bentak oleh wanita. Aku mengejarmu bukan berarti kau bisa bebas berbuat sesuka hati padaku, Patricia. Ingat, kau itu hanya wanita lemah yang bisa aku hancurkan kapan saja!" geram Junio.
"Ciihhh, apa kau pikir aku akan takut padamu, iya?" sahut Patricia dengan berani. "Tidak, Junio. Secuilpun aku tidak akan pernah takut untuk berhadapan denganmu. Kau itu hanya orang asing yang tiba-tiba datang mengusik kehidupanku. Jadi jangan harap aku akan kalah, karena itu hanya akan terjadi dalam mimpimu saja. Ingat itu!."
Setelah memberi peringatan pada Junio, Patricia segera menyalakan mesin mobilnya kemudian berlalu dari tempat itu. Satu tangannya kemudian bergerak menghapus noda ada yang ada di sudut bibirnya. "Kau bajingan Junio!."
__ADS_1
Sementara itu Junio yang di tinggalkan begitu saja sedikit merasa tersinggung saat dirinya di sebut sebagai pria asing. Ada semacam rasa tidak rela di bagian hatinya yang paling dalam.
"Sial, kenapa tiba-tiba aku jadi lembek begini ya. Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya kan!" ucap Junio sambil berjalan kearah mobilnya.
"Kenapa? Di campakkan, euh?" ledek Glenn melihat sahabatnya kembali dengan wajah murung.
"Diam kau brengsek!" umpat Junio dongkol. "Glenn, kenapa ada yang aneh ya saat Patricia menyebutku sebagai orang asing?."
Sebelah alis Glenn terangkat keatas. Dia lalu mengusap bibirnya sambil menahan senyum. "Tidak salah lagi, kau sudah terpikat olehnya Jun!."
"Yakkk, jangan sembarangan bicara kau. Aku mana mungkin terpikat pada wanita rendahan sepertinya. Dia itu hanya aku anggap sebagai p*lacur yang tak pantas untuk hidup di sisiku!" sergah Junio.
"Terserah kau saja. Tapi menurutku, Patricia cukup menarik bila kau jadikan istri. Dia pandai melakukan perlawanan, hidupmu pasti akan lebih berwarna jika memiliki seorang istri pemberontak!" ucap Glenn.
Junio terdiam. Yang benar saja, masa iya dia mau menjadikan Patricia sebagai istrinya. Sangat tidak masuk akal, terlebih lagi Junio tak pernah terfikir untuk memiliki sebuah keluarga. Keinginannya itu sudah hilang semenjak kebahagiaan keluarganya di hancurkan oleh seorang wanita cantik yang membuatnya mengidap obsesi aneh sampai saat ini. Junio tidak pernah percaya akan pernikahan. Dia membencinya.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1