Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Naif


__ADS_3

"Dimana j*lang itu?" tanya Patricia sembari memainkan pisau lipat di tangannya.


"Saat ini Nona Elea sedang berada di Paris bersama dengan Tuan Muda Gabrielle, Nona. Di sana juga ada Nona Levi dan juga dokter Reinhard."


Patricia mendengus. Setelah dia berhasil meluluhkan kemarahan Junio, Patricia segera mengatur rencana untuk secepatnya menghabisi Elea. Dia harus sudah menjadi istrinya Gabrielle sebelum Junio semakin mengggila. Bahkan semalam pria sinting itu sudah mengutarakan niatnya yang ingin mengajaknya menikah. Tentu saja Patricia bersedia, tapi itu hanya di mulut saja. Junio sangat tidak sepadan jika di bandingkan dengan Gabrielle. Ya meski pria itu bukanlah pria miskin, tapi status yang di milikinya tidak akan bisa membuat derajat Patricia melambung tinggi. Hanya Gabrielle, hanya dengan menjadi bagian dari Keluarga Ma Patricia baru bisa mencapai puncak.


"Apa yang sedang mereka lakukan disana?."


"Saat ini mereka tengah berada di kediaman Bangsawan Wu, Nona. Sepertinya mereka ada urusan dengan si pemilik rumah."


Patricia tersentak. Bangsawan Wu? Bukankah itu adalah nama keluarga dari Clarissa Wu, si desaigner yang paling ternama di Paris?. 'Kenapa Gabrielle dan Elea bisa berada di rumah Nyonya Wu? Apa yang sedang di bicarakan oleh mereka? Atau jangan-jangan Gabrielle berniat menjalin kerjasama dengan desaigner itu? Luar biasa. Kalau begini caranya aku harus menyingkirkan Elea secepat mungkin. Namaku akan sangat besar jika berhasil menjadi istrinya Gabrielle, apalagi kalau dia benar-benar menjalin kerjasama dengan Nyonya Wu. Di jamin seluruh dunia akan berada di genggaman tanganku. Hahhahaha!.'


Melihat bosnya tersenyum-senyum sendiri membuat kedua anak buah Patricia mengerutkan kening.


"Nona, ada apa?."


"Haaah?." Patricia kikuk.


"Kenapa Nona tersenyum-senyum seperti itu? Apa ada yang salah dengan laporan kami?."


Patricia menggeleng. Dia menarik nafas dalam kemudian mengeluarkan sebuah amplop berisi uang tunai dari dalam tasnya. Dengan senyum semringah Patricia memberikan perintah pada anak buahnya yang baru saja memberinya kabar baik.


"Kalian tetap awasi Gabrielle dan Elea. Jika memungkinkan habisi gadis bodoh itu juga. Dan ingat, aku tidak ingin namaku terseret dalam masalah ini" ucap Patricia penuh ancaman. "Ini uang untuk kalian. Bersenang-senanglah sebelum datang membawakan kabar baik lagi untukku. Dan akan semakin baik lagi jika kalian berhasil menyingkirkan gadis itu dari sisinya Gabrielle, karena kalian akan mendapat imbalan seratus kali lebih besar daripada ini. Paham?."

__ADS_1


"Kami paham, Nona. Terima kasih!."


"Pergilah!."


Kedua pria itu pergi dengan wajah berbinar. Bagaimana tidak, jumlah uang yang di berikan Patricia sangatlah besar. Manusia mana yang tidak akan merasa senang jika mendapat jacpot sebanyak itu hanya karena memberikan sebuah kabar baik pada tuannya.


"Ciihh, dasar sampah!" ejek Patricia kemudian meraih ponselnya.


Mata Patricia terpejam dengan satu kaki terangkat di atas meja saat dia menunggu telfonnya di angkat. Bibirnya langsung menyeringai begitu mendengar suara lembut yang sedang menyapanya.


"Halo Cia, ada apa menelfon Ibu malam-malam begini? Kau baik-baik saja kan, sayang?."


Ya, saat ini Patricia sedang menelfon ibunya. Dia berniat meminta ibunya untuk terlibat dalam rencananya yang ingin melenyapkan Elea.


Sebenarnya apa yang di ucapkan oleh Patricia lebih kepada ancaman agar ibunya tidak menolak apa yang akan dia katakan. Sambil memainkan pisau lipat di tangannya, Patricia menunggu ibunya bicara. Dia yakin saat ini ibunya pasti sedang sangat gelisah dan ketakutan. Memikirkan hal itu membuat Patricia merasa sangat bahagia.


"Cia, tolong jangan seperti ini pada Ibu. Ibu dan Ayah sangat menyayangimu, sama seperti kami menyayangi Eleanor. Kami tidak mungkin membeda-bedakan kalian berdua. Jadi tolong hentikan semua rencanamu itu ya Nak? Ibu tidak mau kau menyesal, Cia."


Rasanya Patricia benar-benar sangat muak mendengar perkataan ibunya. Lagi-lagi wanita ini menyebut nama gadis yang sangat dia benci.


"Berhenti menyebut nama Elea di depanku, Bu. Aku jijik mendengar nama itu!" bentak Patricia dengan sangat emosi. "Dan satu hal lagi, berhenti menceramahi aku atau aku akan benar-benar menelfon Ayah dan Kakek untuk memberitahu rahasia Ibu. Mau!!."


Hening. Tidak ada suara apapun dari balik telepon selain hanya deru nafas yang terdengar cukup berat. Sebenarnya ada sedikit rasa sakit setiap kali Patricia membentak ibunya. Tapi ibunya itu sangat bebal, terus saja membela Elea yang membuat Patricia menjadi semakin sakit hati.

__ADS_1


"Kalau itu bisa membuatmu tenang, maka lakukanlah Nak. Ibu pasrah...."


Rahang Patricia mengetat ketika mendengar kalau ibunya bahkan sudah tak takut lagi rahasia percakapan mereka terbongkar. Merasa kehilangan pion penting dalam rencananya, Patricia akhirnya berpura-pura tidak mendengar apa yang di katakan oleh ibunya barusan.


"Nanti jika gadis sialan itu masih hidup setelah pulang dari Paris, tolong Ibu ajak dia untuk pergi ke suatu tempat. Di sana nanti sudah ada anak buahku yang akan menghabisinya. Ibu hanya perlu mengajaknya pergi keluar, selebihnya biar aku dan anak buahku yang mengurus. Bisa kan?."


"Cia, Ibu tidak mau menyakiti putri-putri Ibu. Ibu sangat menyayangimu dan juga Eleanor, kalian adalah harta berharga yang Ibu punya, jadi Ibu tidak akan mengotori tangan Ibu hanya untuk membuat salah satu dari kalian merasa bahagia. Kalian berdua itu harus bahagia bersama, bukan seperti ini. Tidak apa kalau kau ingin memberitahu Ayah dan Kakekmu tentang pembicaraan kita waktu itu, Ibu sudah siap dengan semua resikonya. Asal itu bisa membuat Eleanor selamat, tidak masalah kalau Ibu harus di benci oleh Ayahmu. Biarlah, mungkin ini adalah hukuman yang harus Ibu terima karena sudah bertindak tanpa berfikir terlebih dahulu. Jadi Ibu mohon, batalkan niatmu untuk mencelakai Eleanor, dia adalah adikmu."


"DIIIIAAAAAMMMMMMMM.......!" bentak Patricia sambil menggebrak meja. "Aku tidak sudi mengakuinya sebagai adik, Bu. Dia adalah parasit, tumbuhan pengganggu yang harus secepatnya aku musnahkan sebelum menjalar kemana-mana. Dan lagi, kalau Ibu berani pergi membiarkan aku seorang diri, maka Ibu tidak akan pernah lagi bertemu denganku. Malam ini juga aku akan bunuh diri, aku akan membuat Ibu menyesali keputusan yang sudah Ibu ambil barusan. Aku lebih memilih mati daripada harus berdamai dengan Elea. Aku lebih baik matiiii....!."


Setelah berkata seperti itu Patricia segera menonaktifkan ponselnya. Dia lalu menyeringai, yakin sekali kalau ibunya pasti sedang kepanikan di rumahnya.


"Ibuku sayang, apa Ibu pikir bisa lari semudah itu dari masalah ini?? Tidak sayangku. Sejak awal Ibu adalah milikku, dan aku tidak akan membiarkan pion terpenting dari rencana ini pergi begitu saja. Di awal rencana Ibu yang datang menyerahkan diri padaku, jadi sebelum rencana ini selesai maka Ibu tidak akan bisa pergi kemanapun. Memberitahu Ayah dan Kakek??? Cih, otakmu terlalu polos untuk bisa mencerna ancaman dariku, Bu. Aku mana mungkin membiarkan hal ini terbongkar sedang suaraku sendiri ada di dalam rekaman itu. Pantas saja Ayah selalu mengabaikanmu, ternyata karena kau terlalu naif pada keadaan. Hidupmu terlalu jujur sampai-sampai membuat Ayah merasa jengah. Aku prihatin atas kebaikanmu, Bu. Benar-benar sangat prihatin!!."


Air susu di balas dengan air tuba. Mungkin pepatah itulah yang cocok di peruntukan bagi Patricia. Dia tega menggigit wanita yang telah membawanya masuk ke dalam Keluarga Young. Menjadikannya sebagai Tuan Putri dengan berbagai fasilitas mewah di dalamnya. Hanya karena kurangnya kasih sayang yang dia terima dari ayah angkatnya, hal itu membuat Patricia menjadi gelap mata dan mendendam. Dia bahkan berniat menghabisi cucu kandung dari keluarga yang selama ini sudah membesarkannya. Sangat ironis bukan? Tentu saja, dan lagi-lagi kejahatan Patricia di picu karena harta. Sungguh, harta adalah sesuatu yang sangat membahayakan. Karena harta, orang bisa dengan tega menghilangkan nyawa orang lain. Karena harta pula lah banyak terjadi perselisihan antar saudara. Untuk kalian para pembaca, waspadalah akan harta. Dan jika harta di rumah kalian terlalu banyak, jangan ragu untuk membaginya dengan author yang merangkai kata ini. Terima gaji 🙏🙏😝😝😝😝😝


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2