Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Dua Batu Nisan


__ADS_3

Bryan menatap sendu kearah dua bongkah batu nisan bertuliskan nama dua wanita yang sangat dia kasihi. Tangannya terulur mengusap ukiran nama putri kecilnya yang belum sempat dia lihat setelah lahir ke dunia. Eleanor Young, itu adalah nama yang selalu di sebutkan oleh Sandara di setiap malam menjelang tidur. Meski putrinya sudah tiada, Bryan tetap menggunakan nama ini untuk menandai makamnya. Dia tidak mau istrinya kecewa jika tidak menyematkan nama indah itu di sini.


"Elea, apa kabarmu di sana nak? Kau dan ibumu baik-baik saja kan? Ayah sangat merindukan kalian berdua" ucap Bryan dengan suara serak menahan tangis.


Angin sepoi-sepoi membuat suasana semakin sunyi saat Bryan melepaskan kerinduan pada makam istri dan anaknya. Di sebelahnya ada satu keranjang bunga yang sudah kosong.


"Sandara, aku merindukanmu. Hari-hariku begitu tersiksa setiap kali aku tersadar kalau kau sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sudah sembilan belas tahun berlalu, tapi aku selalu merasa kalau baru kemarin kita menangis bahagia saat mengetahui ada malaikat kecil yang akan segera hadir di tengah-tengah cinta kita. Tapi kenapa kau malah pergi meninggalkan aku? Tidakkah kau ingat janji kita yang akan membesarkan Elea bersama-sama? Sandara, aku sangat rindu pada kalian, sangat sangat rindu!".


Airmata Bryan akhirnya menetes keluar. Dia tak kuasa menahan kerinduan yang begitu mendalam pada mendiang anak dan istrinya yang telah lama tiada.


Sandara adalah sesosok gadis sederhana yang begitu cantik. Dia seorang yatim piatu saat Bryan pertama kali mengenalnya. Bryan di buat jatuh cinta oleh kepolosan dan kebaikan Sandara hingga memutuskan untuk mendekatinya. Awalnya cinta mereka baik-baik saja, namun kerikil-kerikil kecil mulai bermunculan setelah hubungan mereka di ketahui oleh orangtua Bryan. Mereka memaksa Bryan untuk meninggalkan Sandara yang menurut mereka tidak memiliki asal usul yang jelas. Juga karena status mereka yang tidak sepadan. Namun karena terlalu cinta, Bryan menolak keinginan orangtuanya. Dia akhirnya pergi meninggalkan rumah kemudian mengajak Sandara untuk menikah.


Dalam kehidupan pernikahan mereka, tak pernah ada satupun masalah yang membuat keduanya bersedih. Suka duka mereka lewati bersama. Sampai dimana akhirnya Sandara mengandung buah cinta mereka. Kebahagiaan Bryan semakin meluap begitu mereka tahu kalau janin yang ada di perut Sandara berjenis kelamin perempuan. Tidak henti-hentinya mereka berucap syukur pada Tuhan atas limpahan kebahagiaan yang mereka terima.


Namun kebahagiaan itu mulai terusik saat orangtua Bryan menemukan keberadaan mereka. Mereka mengancam akan melenyapkan Sandara jika Bryan menolak untuk kembali ke rumah. Khawatir kalau orangtuanya akan benar-benar melakukan ancaman tersebut, Bryan akhirnya bersedia pulang dengan syarat membawa serta istrinya.


Awalnya Bryan mengira kalau kebencian orangtuanya akan luluh setelah tahu kalau Sandara sedang mengandung calon penerus Keluarga Young. Namun itu semua hanya terjadi di dalam pikirannya saja. Bukannya bersuka cita dengan kabar baik tersebut, mereka malah memperlakukan Sandara dengan sangat buruk. Sandara yang kebetulan memiliki sikap yang lemah lembut tak pernah sekalipun mengadu pada Bryan kalau selama dia bekerja di kantor Sandara selalu di minta untuk mengerjakan seluruh pekerjaan pelayan.


Akibat siksaan yang di terimanya membuat Sandara tertimpa musibah. Dia mengalami pendarahan hebat setelah terjatuh dari tangga saat sedang menyelesaikan pekerjaannya. Bryan yang tengah berada di kantor terkejut setelah menerima kabar kalau istrinya di larikan ke rumah sakit. Dia seperti orang gila saat mengendarai mobil menuju tempat dimana istrinya berada. Sesampainya di rumah sakit, Bryan langsung di hadapkan pada kabar yang jauh lebih buruk. Kondisi Sandara kritis, dan dia harus segera di operasi untuk menyelamatkan janin di perutnya yang baru berusia delapan bulan. Tanpa memikirkan apapun lagi Bryan segera menyetujui tindakan operasi tersebut dengan harapan nyawa anak dan istrinya bisa terselamatkan.


"Hiks... Maafkan aku yang tidak pernah tahu penderitaanmu Sandara. Seandainya saja aku tidak membawamu pulang ke rumah terkutuk itu, mungkin sekarang kita sedang hidup bahagia bersama dengan Elea. Putri kita pasti tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik sepertimu" ucap Bryan lirih di tengah-tengah isak tangisnya.


Dari kejauhan nampak sepasang suami-istri yang sedang berjalan menuju kearah Bryan. Bryan yang saat itu sedang bersedih tersentak kaget saat salah satu dari mereka menyapanya.


"Tuan Bryan, apa yang sedang kau lakukan di sini? Siapa yang meninggal?".


Bryan mendongak. Dia menyeka airmata di wajahnya kemudian berdiri.


"Tuan Greg, Nyonya Liona. Maaf saya tidak menyadari kedatangan kalian berdua" ucap Bryan berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


"Tidak apa-apa. Kalau boleh tahu siapa yang meninggal?" ucap Greg mengulang pertanyaannya.

__ADS_1


Bryan terdiam. Wajahnya terlihat murung.


"Maaf jika pertanyaan suamiku kurang berkenan di hati anda, Tuan Bryan. Anda tidak perlu menjawabnya" ucap Liona merasa tak enak.


"Saya sedang mengunjungi makam anak dan istri saya, Nyonya Liona, Tuan Greg" sahut Bryan sembari menundukkan kepala.


Greg dan Liona sedikit kaget mendengar hal itu. Mereka kemudian saling menatap.


"Kami turut berdukacita, Tuan Bryan" ucap Greg mewakili.


Bryan mengangguk. Dia lalu tersenyum kecut kearah pasangan yang sedang menatapnya iba.


"Kapan Nyonya Yura dan Patricia meninggal, Tuan? Kenapa tidak ada pemberitaan apapun mengenai hal ini?" tanya Liona penasaran.


Di negara ini Keluarga Young memiliki reputasi yang sangat bagus. Bisnis mereka cukup menggurita meski belum mampu menyamai kejayaan bisnis milik Keluarga Ma. Seharusnya berita tentang kematian anggota Keluarga Young di siarkan di stasiun televisi atau majalah berita mengingat reputasi keluarga mereka yang cukup lumayan. Kejanggalan ini rupanya mengundang rasa penasaran di benak Liona. Dia merasa kalau ada sesuatu yang sengaja di sembunyikan dari media.


"Bukan mereka yang meninggal, Nyonya Liona. Melainkan anak dan istri dari pernikahan pertama saya. Sudah sembilan belas tahun mereka tinggal di pemakaman ini!" jawab Bryan sedih.


"Jadi kau sebelumnya sudah pernah menikah sebelum bersama Nyonya Yura?" tanya Greg kaget.


"Iya, kami menikah diam-diam karena keluarga saya tidak memberikan restu pada hubungan kami. Ah maaf Tuan Greg, saya jadi bicara melantur!" ucap Bryan kikuk.


Greg menghela nafas. Dia paham kalau Bryan sedikit tidak nyaman saat membicarakan masa lalunya. Tak ingin membuatnya terluka dengan kenangan menyedihkan itu, Greg segera mengalihkan pembicaraan.


"Oh ya Tuan Bryan, aku dengar kau menjalin kerjasama dengan putraku. Apa benar?".


"Benar, Tuan Greg. Seharusnya saat ini saya menghadiri meeting dengan Tuan Muda Gabrielle, tapi saya malah datang kemari karena merindukan mendiang anak dan istri saya" jawab Bryan sopan.


"Tidak apa-apa. Putra kami pasti bisa memahami alasan anda, Tuan Bryan" sahut Liona.


"Semoga saja, Nyonya. Tapi tadi saya sudah mengutus Patricia untuk mewakili pertemuan itu. Saya hanya bisa berharap semoga Tuan Muda Gabrielle tidak berubah pikiran!".

__ADS_1


Tak tega melihat wajah sedih Bryan, Greg dengan tulus memberinya sebuah pelukan. Hal yang jarang sekali dia lakukan pada orang lain.


"Pepatah bilang, akan ada pelangi setelah hujan. Begitu pun dengan hidupmu. Jangan bersedih lagi, aku yakin istri dan anakmu pasti ingin melihatmu bahagia!" hibur Greg sembari menepuk punggung Bryan.


"Terima kasih, Tuan Greg" sahut Bryan lirih.


Liona tersenyum. Dia bangga dengan kepedulian suaminya yang rela menahan ketidaksukaannya bersentuhan dengan orang lain demi menghibur pria menyedihkan ini.


"Greg, hari sudah mulai malam. Ayo kita pulang!" ajak Liona.


"Baiklah Hon" sahut Greg sambil melepaskan pelukannya.


"Tuan Greg, Nyonya Liona, terima kasih sudah mau menyempatkan diri untuk menyapa saya" ucap Bryan.


Greg dan Liona mengangguk. Setelah itu mereka berpamitan untuk pergi dari sana. Meninggalkan Bryan yang kini sudah berjongkok di samping makam.


"Elea sayang, Ayah pamit pulang ya. Tolong jaga ibumu dengan baik di surga sana. Ayah sangat mencintaimu".


Setelah berpamitan pada nisan putrinya, Bryan beralih ke nisan istrinya. Tatapannya menyendu.


"Sandara, tunggu aku. Tunggu aku datang menemui kalian di surga. Aku yakin waktu itu pasti akan segera tiba. Kita bertiga akan berkumpul seperti apa yang kau inginkan dulu sayang!".


Puas mencurahkan segala kerinduannya, dengan berat hati Bryan pergi meninggalkan pemakaman. Dadanya sedikit terasa lega setelah berbicara pada makam anak dan istrinya. Hal inilah yang selalu dia lakukan setiap kali rasa rindu itu datang menyerang.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2