
Pagi menjelang, Gabrielle tampak semringah saat berjalan menuju meja makan. Wajahnya terlihat segar dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Pikirannya terus melayang pada kejadian panas dimana Elea merintih tidak berdaya di bawah hujaman juniornya.
"Astaga, membayangkan yang semalam membuatku jadi bergairah lagi. Hehe!".
Liona yang tidak sengaja melihat putranya tertawa sendiri membuatnya menggelengkan kepala. Sebagai orang yang pernah melewati malam pertama, Liona jelas tahu apa yang terjadi pada pasangan pengantin baru itu. Hatinya tergelitik melihat putranya yang terlihat begitu bahagia.
"Kau tidak membuat menantu Ibu pingsan kan?".
Gabrielle sedikit kaget begitu mendengar suara ibunya. Dia berdehem pelan untuk menormalkan wajahnya yang sedang berseri-seri.
"Selamat pagi, Bu. Dimana Ayah?" tanya Gabrielle mengalihkan pembicaraan.
"Jangan melarikan diri dari pertanyaan Ibu, Iel. Elea baik-baik saja kan?" desak Liona merasa lucu.
"Ck, Ibu. Memangnya aku manusia kanibal yang suka memakan daging manusia? Elea itu istriku, aku mana tega menyakitinya" sahut Gabrielle sembari menggaruk kening.
"Mungkin" sambung Liona penuh maksud. "Tapi semalam kau pasti membuatnya menangis kan. Iya kan, ayo mengaku saja!".
Gabrielle salah tingkah saat di goda oleh ibunya. Telinganya memerah, kebiasaan yang akan selalu muncul setiap kali dia merasa malu.
"Gabrielle, telingamu memerah. Tebakan Ibu pasti benar kalau semalam kau sudah membuat menantu Ibu menangis!" ledek Liona tak henti-hentinya.
Senyum Gabrielle menghilang saat dia teringat dengan keanehan di diri Elea semalam. Dia sebenarnya ingin membagi kecurigaan ini pada ibunya, tapi Gabrielle merasa ragu.
"Ada apa?" tanya Liona serius.
Gabrielle menghela nafas. Dia menggandeng tangan ibunya lalu menariknya kearah sofa. "Bu, aku merasa ada yang salah pada Elea!".
Kening Liona mengernyit. Dia tidak mengerti maksud dari perkataan putranya.
"Bicara dengan jelas, Iel. Ibu tidak paham!".
"Elea pernah mengalami kejadian buruk yang membuatnya trauma berat terhadap dokter. Kemarin dia bahkan hampir melompat dari jendela kantor saat Reinhard tidak sengaja menyinggung masalah itu. Elea mengaku kalau dirinya tak lagi suci. Tapi semalam, ternyata aku menjadi yang pertama untuk Elea Bu. Keadaan ini benar-benar sangat membingungkan" jawab Gabrielle sembari menekan tulang hidungnya.
Liona diam menyimak perkataan putranya. Otaknya yang cerdas segera bekerja mencari tahu kira-kira apa yang menyebabkan menantunya bisa seperti itu.
"Kenapa tidak menceritakan masalah ini dari awal?" tanya Liona.
"Aku tadinya berniat menyelesaikan masalah ini sendirian, Bu. Tapi kejadian semalam membuatku ragu. Di tambah lagi dengan informasi Ares saat menyelidiki masa lalu Elea dimana banyak rekaman CCTV yang sengaja di potong oleh seseorang untuk menghilangkan jejak. Aku curiga kalau rekaman yang hilang itu berhubungan dengan dokter yang menyakiti Elea". Jeda sejenak. "Apa pendapat Ibu mengenai hal ini?" tanya Gabrielle.
"Jika kau bertanya apa pendapat Ibu, maka Ibu akan bilang kalau yang menghapus rekaman itu adalah dokter itu sendiri. Tenang saja, meskipun mereka sudah menghapus rekaman tersebut, Paman Mario dan Bibi Maria pasti bisa membukanya kembali. Mereka adalah si tangan dewa karena selama ini belum ada yang mampu menyaingi kemampuan meretas paman dan bibimu. Gabrielle, Ibu paham kalau kau ingin melindungi istrimu, tapi kau jangan sungkan untuk meminta bantuan pada Ibu. Kapanpun dan apapun yang kau butuhkan, Ibu selalu siap membantu. Jangan remehkan kemampuan Ibumu ini meskipun sudah tua!" jawab Liona di selingi dengan candaan.
__ADS_1
Gabrielle tersenyum mendengar candaan itu. Mungkin memang benar kalau selamanya dia tidak akan bisa melakukan apapun tanpa bantuan dari ibunya. Seperti sekarang, Gabrielle mengadu layaknya anak kecil yang sedang mengalami masalah.
"Iel, biar Ibu yang mengurus masalah ini. Nikmatilah masa-masa pengantin baru kalian. Apa kau tidak ingin membawa Elea pergi bulan madu, hmm?" tanya Liona berusaha meringankan beban putranya.
"Sangat ingin Bu. Tapi untuk sekarang belum bisa karena Elea harus mengejar ketertinggalan pelajaran supaya bisa masuk ke universitas. Nilai akademiknya saat di sekolah menengah sangat bagus, sayang kalau tidak di asah lagi. Dan juga aku ingin Elea menikmati masa mudanya seperti gadis-gadis lain. Kasihan dia, selama ini dia tidak sempat membahagiakan diri. Dia hanya sibuk memikirkan cara bagaimana bisa bertahan hidup!" jawab Gabrielle lirih.
"Oh, jadi Elea akan mengejar pendidikannya?".
Gabrielle mengangguk.
"Itu berita yang sangat bagus, Iel. Semakin dia pintar, rahasia tentang siapa ibunya akan semakin cepat terkuak. Kalau boleh tahu jurusan apa yang ingin dia ambil?".
"Kelas desainer, Bu. Dia bercita-cita bisa membuat gaun pengantin" jawab Gabrielle kemudian tersenyum teringat dengan gambaran nyeleneh istrinya.
"Desainer?" ucap Liona membeo.
"Iya. Ada apa Bu? Kenapa Ibu terlihat kaget?" tanya Gabrielle heran.
Untuk beberapa saat lamanya Liona terdiam. Tak lama kemudian dia tersenyum, senyum aneh yang di penuhi maksud terselubung.
"Gabrielle, tidak kah kau merasa ada yang spesial dari keinginan Elea?".
"Maksud Ibu?".
Gabrielle mengangguk.
"Elea terlahir dari garis keturunan keluarga yang memiliki jiwa seni. Ibu yakin ibunya Elea pasti bagian dari orang-orang besar yang namanya sudah mendunia" ucap Liona yakin.
"Darimana Ibu mendapat keyakinan itu? Setahuku ibunya Elea hanyalah orang biasa yang suka melukis. Selain itu, tidak ada informasi apapun lagi tentang mendiang Nyonya Sandara!" ucap Gabrielle ragu.
Liona lagi-lagi tersenyum. Dia lalu menepuk bahu putranya kemudian sedikit menekannya kuat.
"Jangan mudah tertipu, Iel. Bryan pasti mengetahui sesuatu tentang siapa istrinya. Elea itu memiliki bakat terpendam, dan bakat seperti itu tidak terlahir dengan sendirinya. Percayalah, yang Ibu katakan bisa kau jamin kebenarannya, Gabrielle. Istrimu itu, dia pasti berasal dari keluarga yang sangat terpandang. Bahkan mungkin jauh lebih terpandang di bandingkan keluarga kita!".
Kali ini Gabrielle yang terdiam. Perkataan ibunya biasanya tidak pernah salah.
"Jangan diam saja. Cepat pikirkan sesuatu agar kau bisa menguak siapa Elea sebelum ada yang menyadari keberadaannya. Percaya tidak percaya, Ibu merasa kalau Elea akan segera menemui banyak masalah. Dan sebelum semua itu terjadi, bersiagalah. Sedia payung sebelum hujan itu jauh lebih baik daripada mengobati setelah sakit!" tambah Liona saat putranya terlihat ragu.
"Apa Ibu yakin dengan yang Ibu katakan barusan?" tanya Gabrielle lagi.
"Sebaiknya kau percaya pada ibumu, Gabrielle. Benar atau tidaknya Elea berasal dari keluarga terpandang, Ayah akan tetap menerimanya. Dia menantu utama di Keluarga Ma, di tambah lagi dia juga sangat manis. Ayah tidak mau kehilangannya!" ucap Greg ikut menimbrung pembicaraan istri dan putranya.
__ADS_1
Wajah Gabrielle langsung masam saat dia mendengar ayahnya memuji Elea. Jiwa pencemburunya seketika memberontak.
"Ck, tidak perlu memasang wajah buruk seperti itu, Iel. Ayah tidak tertarik untuk melirik wanita lain, jadi kau jangan cemburu saat Ayah memuji istrimu!' kesal Greg saat menyadari kalau putranya sedang terbakar cemburu.
"Seandainya Paman Mattheo memuji Ibu di hadapan Ayah, apa yang akan Ayah lakukan?" tanya Gabrielle dongkol.
Skak mat. Pertanyaan Gabrielle sangat menjebak, membuat Greg mau tidak mau harus mengakui kekalahannya.
"Baiklah baiklah, lain kali Ayah tidak akan memuji istrimu lagi. Astaga Hon, bagaimana bisa dia tumbuh sama persis sepertiku?" tanya Greg frustasi sambil menatap istrinya.
"Jangan tanya aku Greg. Tanyakan saja pada dirimu sendiri" jawab Liona kemudian pergi menuju meja. makan. "Sudah mulai siang, ayo sarapan!".
Gabrielle dan Greg saling melempar tatapan penuh permusuhan. Keduanya segera memasang wajah normal seperti biasa saat mendengar suara deheman singa betina yang sedang menunggu kedatangan mereka.
"Elea tidak ikut sarapan?" tanya Greg yang tidak melihat keberadaan menantunya sejak tadi.
"Gabrielle baru berbuka puasa semalam. Jadi kau jangan menanyakan dimana menantumu sekarang karena dia sedang kelelahan setelah melayani putramu!" sahut Liona sembari mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Oh!" ucap Greg singkat. "Lakukan dengan rajin, Iel. Jika perlu aduk setiap malam supaya adonannya cepat jadi".
Plaaakkkkk
"Honey, kenapa memukulku!" pekik Gabrielle sambil mengusap kepalanya yang baru saja di pukul dengan sendok.
"Greg, jangan menyebar ide sesat pada putramu. Kasihan Elea!" omel Liona.
"Kasihan apanya Hon. Kau saja selalu berteriak keenakan setiap kali kita membuat adonan. Biarlah menantuku merasakan juga keganasan dari pria-pria di Keluarga Ma. Gabrielle, kau setuju dengan pendapat Ayah tidak?" tanya Greg.
"Iya Ayah. Aku sangat setuju!" sahut Gabrielle semringah.
Liona mendesah pelan. Kepalanya mendadak jadi pusing mendengar pembicaraan kedua pria ini yang entah kenapa begitu klop saat membicarakan urusan ranjang.
Tak lama kemudian Grizelle datang dan ikut sarapan bersama mereka. Dia hanya diam saja saat ayah dan kakaknya sibuk membahas adonan kue.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...