Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Bahagia Sederhana


__ADS_3

"Kak Levi, aku tidak bisa bernafas!" ucap Elea sambil memegangi masker yang menutupi wajahnya.


Levi berhenti melangkah. Dia berbalik kemudian mendengus pelan.


"Kau tidak hanya tidak bisa bernafas saja, Elea. Tapi kau juga bisa mati kalau seperti ini!".


"Lalu aku harus bagaimana, Kak? Kau tadi yang menyuruhku menutup wajah" sahut Elea bingung.


"Astaga Elea, kau punya telinga tidak sih. Aku hanya menyuruhmu untuk menutup mulut dan hidung saja, bukan malah menutupi hampir di semua wajahmu. Ya Tuhan, kau ini benar-benar. Masa memakai masker pun harus di ajari dulu!" gerutu Levi jengkel.


Elea diam saja saat Levi membantu melepaskan masker yang menutupi wajahnya. Dia meringis saat Levi memelototkan matanya sambil terus mengomel.


"Kau itu sudah besar, Elea. Harus bisa mandiri, jangan selalunya minta di ajari terus. Kalau kau tidak bisa berubah, lama-lama Gabrielle pasti akan merasa bosan padamu. Mau kau menjadi janda muda!".


"Kak Iel bilang padaku kalau dia akan menyayangiku selamanya. Jadi Kak Levi jangan cemas ya" sahut Elea menenangkan kekhawatiran temannya.


Levi menarik nafas dalam-dalam kemudian menengadah keatas. Seketika otaknya menjadi buntu mendengar perkataan Elea yang memintanya untuk tidak merasa khawatir. Dia heran, makhluk kecil ini apa tidak bisa mencerna kalau perkataannya barusan itu adalah sebuah sindiran? Dan kenapa juga Elea selalu memiliki jawaban konyol di setiap ucapan yang terlontar dari mulutnya? Gila, Levi benar-benar di buat gila oleh makhluk kecil ini.


"Kak Levi ayo, kau bilang ingin mengajakku membeli kain dan benang!" rengek Elea sambil mengguncang tangan Levi.


"Hah... Kuatkan aku Ya Tuhan" gumam Levi pasrah.


Setelah Levi melihat kartu tanpa batas di tangan Elea, dia segera membujuknya untuk pergi berbelanja. Mereka berdua kemudian mengancam Reinhard agar tidak membuka mulut saat mereka ingin kabur dari pengawalan para penjaga. Dan untung saja Reinhard mau bekerjasama. Dokter itu ikut membantu pelarian mereka dengan cara mengalihkan perhatian penjaga. Dan di sinilah mereka sekarang. Levi mengajak Elea untuk bersantai sejenak di sebuah taman yang tak jauh dari perusahaannya Gabrielle. Dia cukup tahu untuk tidak membahayakan keselamatan makhluk kecil ini.


"Elea, nanti saja ya kita belanjanya. Bagaimana kalau sekarang kita berkeliling di taman ini sambil menikmati jajanan yang ada. Aku yakin kau pasti belum pernah mencobanya kan?" tanya Levi


"Darimana Kak Levi tahu?" ucap Elea balik bertanya.


"Terlihat jelas dari wajahmu, bodoh" jawab Levi jengah.


"Oohh... ".


"Ah oh ah oh. Cepat pakai lagi maskermu".


Elea menggeleng.


"Tidak mau".


"Jangan rewel, Elea. Cepat pakai atau kita batal jalan-jalan!" ancam Levi sambil berpura-pura hendak mematahkan kartu milik Elea.


"Rasanya tidak nyaman Kak kalau memakai masker. Seperti ini lebih bebas lho!" sahut Elea beralasan.


Levi memutar bola matanya kesal. Rupanya makhluk kecil ini tidak mempan dengan ancamannya barusan..


"Orang-orang akan mengolokmu nanti jika tidak memakai masker. Wajahmu itu sangat jelek, percaya padaku!".

__ADS_1


"Tapi Kak Iel bilang hari ini aku terlihat sangat cantik. Kakak bohong kan?" tuduh Elea tak percaya.


"Bohong kepalamu. Sekalipun di wajahmu ada kotoran kerbau, pria tengik itu pasti akan tetap mengatakan kalau kau itu cantik. Matanya kan buta jika sudah melihatmu!" sindir Levi tanpa perasaan. "Sudahlah, bicara denganmu hanya akan membuatku mati berdiri. Masih ingin jalan-jalan tidak?".


Elea mengangguk. Cepat-cepat dia memakai maskernya saat Levi ingin kembali mengomel. Setelah itu keduanya mulai berjalan-jalan mengelilingi taman sambil menikmati jajanan. Elea yang memang belum pernah mencicipi makanan yang di jual di sini terlihat sangat antusias. Levi bahkan sampai menggelengkan kepala saat Elea tidak berhenti berpindah dari satu tenda ke tenda yang lain.


"Kak Levi tidak makan?" tanya Elea sambil terus mengunyah.


"Tidak, perutku kenyang melihatmu makan" jawab Levi berusaha untuk tidak tersenyum.


Jujur saja, Levi teramat bahagia melihat teman kecilnya yang begitu menikmati acara jalan-jalan sederhana ini. Ada juga rasa miris yang terlintas dalam benaknya saat dia mendengar celotehan Elea yang terus menceritakan betapa dia sangat menginginkan semua makanan yang ada di sini.


"Kak Levi, boleh tidak aku membeli minuman itu?" tanya Elea sambil menunjuk kearah penjual es kelapa.


"Belilah. Jika mampu habiskan semua kelapa yang ada di sana" jawab Levi bercanda.


"Aih Kak Levi ini kenapa. Aku mana mampu meminum habis kelapa sebanyak itu Kak. Aku kan bukan raksasa yang banyak makan" sahut Elea sambil mengerucutkan bibir.


Levi tertawa. Dia kemudian mengajak Elea untuk mendatangi penjual es kelapa tersebut.


Drrtttt.... Drrrtttt.....


"Kak Iel menelfon!" teriak Elea senang.


"Darimana kau tahu kalau Gabrielle yang menelfon?" tanya Levi terheran-heran.


"Pasti dia, Kak. Karena di dalam ponsel ini hanya ada nomornya saja" jawab Elea kemudian segera menjawab penggilan dari suaminya. "Kak Iel...... !".


Bruuukkkkk


Ponsel Elea masuk ke dalam got saat dia tidak sengaja menabrak seorang kakek tua yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Aaaaa ponselku Kak Levi!" teriak Elea histeris kemudian membuang semua makanan yang dia bawa.


Kakek tua yang tadi bertabrakan dengan Elea terlihat kaget saat Elea melompat masuk ke dalam got untuk mengambil ponsel miliknya. Levi pun tak kalah kaget, dia berteriak meminta Elea untuk segera naik ke atas.


"Yaakkkk kau cari mati ya. Cepat naik, di bawah banyak ular dan kotoran manusia!" teriak Levi panik.


Astaga, ini got. Bisa kalian bayangkan sendiri bukan seperti apa aroma yang keluar dari sana??.


"Aku tidak mati, Kak Levi. Tunggu sebentar, sepertinya ponselku di makan lumpur" sahut Elea dari dalam got.


"Levi?".


Merasa ada yang memanggil, Levi menoleh. Dia kaget. "Kakek Karim. Apa yang sedang anda lakukan di sini?".

__ADS_1


Karim berjalan mendekat. Dia ikut berjongkok di sebelah gadis cantik yang ternyata adalah keponakan menantunya.


"Kakek sedang berjalan-jalan sambil menghirup udara segar. Gadis yang di dalam sana itu temanmu?".


"Iya Kek, dia temanku. Haishhh, anak ini. Maaf ya Kek, aku harus mengurus dia dulu. Bisa panjang urusannya jika sampai terjadi sesuatu pada temanku. Nyawaku jadi taruhannya!" jawab Levi kemudian kembali berteriak memanggil Elea.


"Hei makhluk kecil, cepat keluar atau aku akan meminta bantuan semua orang yang ada di sini untuk menguburmu hidup-hidup. Aku hitung sampai tiga. Satu... Tiga... Yaaakkkkkkk...!!".


Tak lama kemudian kepala Elea menyembul keluar. Dia tertawa sambil menunjukkan ponselnya yang terlihat sangat kotor.


"Aku mendapatkannya, Kak Levi!".


"Kau sudah gila ya. Hanya demi ponsel ini kau rela menantang bahaya. Suamimu bisa membunuhku kalau kau sampai mati di telan anakonda yang ada di dalam sana. Dasar bodoh!".


Karim diam memperhatikan Levi yang sedang mengomel sembari membantu temannya naik keatas. Dada Karim tiba-tiba saja berdetak kuat saat dia bertatapan dengan gadis yang wajahnya tertutup masker.


'Mata itu..... Sandara. Tidak mungkin, gadis ini tidak mungkin dia. Eleanor tidak mungkin bisa berteman dengan Levi yang seorang model ternama. Tenang Karim, kau hanya sedang kalut saja. Gadis ini bukan Eleanor. Cucumu tidak seberuntung ini untuk bisa berteman dengan Levi yang sangat angkuh!'.


"Kakek siapa?" tanya Elea bingung.


"Ck, banyak tanya kau. Namanya Kakek Karim, beliau adalah ayah mertua bibiku. Ayo sapa dulu, jangan tidak sopan ya!" sahut Levi menjawab pertanyaan Elea.


Elea mengangguk. Dia mengibaskan ponselnya yang basah kemudian membungkuk sopan kearah kakek tua yang terus menatapnya sejak tadi.


"Halo Kakek Karim, perkenalkan namaku E...


"Nyonya..!".


Ketiga orang itu menoleh kearah belasan penjaga yang sedang berlari kearah mereka. Levi yang sadar kalau pelariannya dengan Elea sudah ketahuan, dengan cepat menarik tangan Elea untuk segera kabur dari sana.


"Kakek, aku pergi dulu. Tolong tahan para penjaga itu, mereka orang jahat yang ingin menjual kami pada pria hidung belang!" teriak Levi dengan gilanya.


Para penjaga itu sangat kaget saat di fitnah sebagai kelompok penjahat. Mereka kemudian segera memberikan penjelasan pada orang-orang yang ingin menghajar mereka. Karim yang sudah sangat hafal dengan kebar-barannya Levi hanya menarik nafas pelan. Dia kembali terfikir dengan gadis yang bola matanya sangat mirip dengan bola mata Sandara, menantunya yang dulu selalu dia sengsarakan.


"Eleanor, kau dimana nak? Kakek ingin bertemu!".


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2