
Levi memperhatikan Elea yang sedang duduk seorang diri di dekat kolam renang. Sejak di tinggal pergi oleh Gabrielle, makhluk kecil itu tiba-tiba memperlihatkan sikap yang sedikit aneh. Biasanya, Elea akan langsung menempel seperti perangko dimanapun Levi berada. Tapi tidak dengan hari ini, Elea malah seperti menghindari semua orang. Bahkan para pelayan pun di larang untuk mengikutinya.
"Dia kenapa? Apa di dalam otaknya sedang ada pembaharuan?" gumam Levi heran.
"Sepertinya Nyonya sedang butuh waktu untuk sendiri, Nona."
Levi terperanjat kaget saat ada orang yang tiba-tiba bicara di belakangnya. Dengan cepat dia berbalik badan siap untuk menyembur orang tersebut.
"Apa kau tidak bisa memberi kode saat datang mendekat Nun?."
"Maaf Nona Levi, sejak tadi saya sudah berada di sini. Nona saja yang tidak menyadarinya" jawab Nun datar.
"Jadi yang salah aku, begitu?" tanya Levi sambil menunjuk wajahnya sendiri.
Nun hanya mengendikkan bahunya acuh. Dia lalu menatap kearah kolam renang dimana Nyonya kecilnya sedang duduk melamun. "Mungkin ini adalah sisi lain yang ada di diri Nyonya Elea, Nona. Selama ini yang kita tahu hanyalah sikapnya yang bodoh dan polos seperti orang idiot. Atau mungkin ini adalah bentuk kemarahan beliau yang selama ini terpendam!."
"Apa maksudmu Nun, aku tidak mengerti" tanya Levi bingung.
"Coba Nona perhatikan baik-baik wajah Nyonya Elea. Datar, tidak ada ekpresi apapun di sana. Biasanya, hal seperti itu di lakukan oleh orang-orang yang sedang mengatur siasat atau sedang meredam amarah. Dan menurut tebakan saya, Nyonya Elea sedang berusaha untuk berdamai dengan kemarahannya" jawab Nun.
"Berdamai dengan kemarahan? Memangnya siapa yang sudah membuat makhluk kecil itu marah? Aneh" gumam Levi sambil mengusap dagu, berfikir.
Sementara Elea, dia bukan tidak tahu kalau Nun dan Levi sedang mengawasinya. Tapi dia terlalu malas untuk sekedar berbicara pada mereka. Benak Elea saat ini sedang di penuhi oleh kemarahan yang dia sendiri tidak tahu harus bagaimana cara meluapkannya.
"Kau pasti bisa Elea, lupakan dan bersikaplah seperti biasa. Anggap kau tidak pernah melihat apapun, semua hanya ilusi. Ya benar, hanya ilusi" ucap Elea bicara pada dirinya sendiri.
Mungkin belum ada orang yang tahu kalau sebenarnya Elea sudah lama mengetahui siapa keluarga kandungnya. Dan kemarin pagi, entah itu hanya ketidaksengajaan atau memang sudah garis dari Tuhan, Elea di pertemukan dengan seseorang yang telah membuat hidupnya menderita. Orang yang tidak sengaja dia tabrak kemarin ternyata adalah kakeknya. Elea masih ingat betul dengan wajahnya saat dulu menyambangi panti asuhan dan memaksa pemilik panti untuk terus menyiksanya. Seandainya pagi itu Elea tidak panik melihat kakeknya yang sedang kesakitan, dia pasti sudah bertanya dimana ayah dan ibunya berada. Elea tidak berharap akan di anggap oleh mereka, dia hanya ingin melihat mereka dari kejauhan saja. Setidaknya dia lega karena masih memiliki orangtua.
"Aih sudahlah. Aku tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Siapapun dan dimanapun kedua orang tuaku berada, aku harap mereka baik-baik saja. Pun tidak ada gunanya juga aku berharap banyak pada mereka" ucap Elea pelan.
Tak ingin terlalu lama terbawa suasana, Elea memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Dia memasang ekpresi seperti biasanya. Menutupi dan memperdayai dirinya sendiri kalau nyatanya dia adalah sesosok gadis yang sangat cerdas.
"Kak Levi, Nun, kalian di sini?" tanya Elea pura-pura kaget.
Sebelah alis Levi terangkat keatas. Dia cukup kaget melihat perubahan ekspresi di diri teman kecilnya ini.
"Elea, kau tidak sedang kerasukan kan?" tanya Levi curiga.
__ADS_1
"Kerasukan bagaimana Kak? Aku masih normal kok" jawab Elea.
"Aku itu bertanya kau kerasukan atau tidak, bukan bertanya tentang kenormalanmu" ucap Levi mulai dongkol.
"Ooh, bilang dong Kak dari tadi. Jadinya kan aku tidak salah bicara" sahut Elea santai.
Mata Levi terpejam. Dia berusaha menetralisir emosinya yang mulai merambat naik ke ubun-ubun. "Sabar, sabar..."
"Oh ya Kak Levi, kau belum menjawab pertanyaanku tadi" ulang Elea. "Apa yang sedang kau lakukan bersama Nun di sini? Kalian pacaran ya?."
"Pacaran kepalamu!!....Astaga Elea, bisa tidak sih sebelum bicara kau saring dulu perkataanmu itu, hah! Model berkelas sepertiku mana mungkin berpacaran dengan pria beku sepertinya. Nun sama sekali tidak menarik, dia jauh dari kriteria yang aku harapkan!" amuk Levi tak terima dirinya di sebut sedang berpacaran dengan kepala pelayan di rumah inj. Yang benar saja.
"Saya pun demikian, Nyonya. Sama sekali tidak tertarik pada wanita yang sangat berisik seperti Nona Levi. Dia terlalu merepotkan!" sahut Nun ikut merasa tak terima.
Elea menatap cengo kearah dua orang di depannya yang terlihat begitu menggebu-gebu saat membela diri. Sebenarnya Elea ingin sekali tertawa, tapi dia takut Levi akan semakin mengamuk. Dia lalu mengalihkan ketegangan tersebut dengan mengajak Levi pergi.
"Sudah sudah, jangan bertengkar terus. Kak Levi, lebih baik sekarang kita memasak saja. Aku tiba-tiba ingin memakan cemilan" ucap Elea kemudian menggandeng tangan Levi menuju dapur.
"Memangnya kau bisa memasak?" tanya Levi penasaran.
"Tidak bisa Kak" jawab Elea jujur.
"Kan ada Kakak bersamaku. Jadi kita aman."
"Aman bagaimana?" beo Levi tak paham.
"Ya aman karena Kakak yang akan memasak dan aku yang mencari tahu apa resepnya. Mudah sekali bukan?."
Levi langsung menghentikan langkahnya begitu sadar kalau dirinya sedang di manfaatkan. Dia lalu menatap tajam kearah Elea yang sedang melihatnya dengan tatapan polos.
'Astaga, kenapa dia imut sekali. Kalau begini caranya aku mana mungkin tega untuk memarahinya.'
"Kak Levi, ayo. Aku sudah tidak sabar ingin segera memasak" rengek Elea sambil mengguncang lengan Levi.
"Tidak sabar, tidak sabar. Aku yang akan memasak Elea, bukan kau. Huhh, siapa yang ingin makan siapa juga yang harus kesusahan. Menyebalkan sekali" gerutu Levi lalu kembali melangkah menuju dapur.
Elea tersenyum samar. Dia bergegas menyusul ke dapur saat menyadari tatapan horor dari wanita yang sedang memakai celemek di tubuhnya.
__ADS_1
"Sekarang katakan padaku apa yang ingin kau makan?" tanya Levi sambil membuka kulkas. "Sejenis kue kering atau makanan ringan untuk menunda lapar?."
Levi segera menoleh saat pertanyaannya tak mendapat jawaban. Dia mengerut heran melihat Elea yang terduduk diam dengan tatapan mata yang kosong.
"Elea, kau kenapa?."
Masih tak ada jawaban. Khawatir kalau teman kecilnya di rasuki setan, Levi segera mendekat kemudian menepuk bahunya pelan. "Elea, jangan melamun. Kau ini kenapa sih, sejak pagi aku perhatikan sikapmu terlihat sedikit aneh. Kau sedang menyembunyikan apa dariku?."
Elea menelan ludah saat di cecar pertanyaan oleh Levi. Dia berusaha mengajak mulutnya untuk bekerjasama supaya tidak membocorkan rahasia yang sedang dia coba sembunyikan.
"Aku tidak menyembunyikan apapun darimu Kak. Lihat, kedua tanganku kosong tidak ada isinya" jawab Elea sambil membuka kedua telapak tangannya.
Pletakk
"Aaawwwww Kak Levi!" pekik Elea kaget.
"Bukan seperti itu yang aku maksud bodoh" kesal Levi setelah menyentil kening Elea. "Haishhhh, sudahlah. Bicara denganmu hanya membuatku darah tinggi saja. Sekarang cepat katakan apa yang ingin kau makan sebelum moodku berubah!."
"Aku akan memakan apapun yang Kak Levi buat" jawab Elea pasrah.
Levi menyeringai usil. "Kalau aku membuat makanan yang sudah kutaburi racun, apa kau akan tetap memakannya?."
"Tentu saja" jawab Elea. "Tapi setelah Kak Levi memakannya terlebih dahulu."
"Sialan!" umpat Levi yang terjebak permainannya sendiri.
Karena Elea yang terus merengek, Levi akhirnya membuatkan cookies untuk menjadi cemilan siang mereka. Sesekali dia terus melirik kearah Elea yang lagi-lagi terdiam melamun. Sebenarnya Levi sangat penasaran, tapi dia juga tak mungkin memaksa Elea bicara karena sepertinya makhluk kecil itu sedikit enggan untuk membagi cerita.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
MAAF YA GENGSS CUMA UP SATU PART DOANG. TAPI INSYAALLAH ENTAR SORE EMAK CRAZY UP.... TUNGGUIN YA..
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...