
Gabrielle pergi meninggalkan perusahaan adiknya seperti orang kesetanan. Ares yang mengejarnya dari belakang tampak panik dan juga kewalahan. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja Tuan Muda-nya berteriak mengajaknya untuk segera pergi dari sana.
"Ares, mana mobilnya!" teriak Gabrielle sambil mengacak-acak rambutnya.
"Tunggu sebentar, Tuan Muda" sahut Ares dengan nafas terengah.
Dari dalam kantor, semua keluarganya datang menyusul. Mereka terlihat bingung dan juga khawatir.
"Aku ikut Kak!" ucap Grizelle.
"Tidak usah, Zel. Kau di sini saja, masih banyak hal yang perlu kau urus".
"Tapi aku khawatir pada keselamatan kakak ipar, Kak Iel. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu padanya?" tanya Grizelle kekeh ingin ikut pergi.
Liona yang tahu kalau putranya tidak berkenan, segera membujuk putrinya untuk jangan mengganggunya dulu. Meskipun tadi dia juga sempat kaget saat telfon menantunya tiba-tiba terputus, Liona lebih memilih untuk tetap tenang. Dia yakin kalau menantunya itu tidak sedang berada dalam bahaya, mungkin saja ponselnya mati karena kehabisan daya baterai mengingat belum ada satupun orang yang tahu kalau Elea kini telah menjadi bagian dari Keluarga Ma.
"Grizelle, biarkan kakakmu pergi. Kita tunggu kabarnya saja dari sini, jangan menghambat perjalanannya!".
"Tapi Bu, aku...
Gabrielle sudah tidak mempedulikan keluarganya lagi. Dia segera masuk ke dalam mobil kemudian meminta Ares mengendarai mobil secepat mungkin.
"Tabrak semua benda yang menghalangi jalan kita, Res. Kita harus sudah sampai dalam waktu lima detik!" desak Gabrielle tak sabar.
Ares menghela nafas berat mendengar perkataan konyol Tuan Muda-nya.
'Tuan Muda, ini mobil, bukan rudal siluman yang mampu melesat jutaan kilometer dalam sekali gas. Bagaimana bisa anda meminta untuk segera sampai di perusahaan hanya dalam waktu lima detik. Bukankah itu sama artinya dengan anda yang ingin kita mati bersama karena kecelakaan?'.
Meskipun sangat mustahil untuk bisa memenuhi keinginan Tuan Muda-nya, Ares berusaha untuk berkata iya. Biarlah, jika ingin mengamuk, maka mengamuklah. Ares tidak punya jalan keluar lain selain menyanggupinya dulu.
"Lebih cepat Ares!".
"Ini sudah yang tercepat, Tuan Muda!" sahut Ares sabar. "Maaf jika saya lancang, sebenarnya apa yang terjadi, Tuan Muda? Kenapa anda terlihat sangat buru-buru dan juga panik?".
Gabrielle mengusap wajahnya kasar kemudian memukul kursi mobil saat lampu lalu lintas berubah merah. Tahu kalau Tuan Muda-nya sedang emosi, tanpa pikir panjang lagi Ares segera menerobos lampu merah, mengabaikan suara panggilan polisi dari pengeras suara yang meminta mereka untuk berhenti.
"Kita membuat masalah, Tuan Muda" ucap Ares sambil melirik ke kaca spion samping mobil.
Suara sirene polisi terus meraung-raung saat sebuah mobil mengejar mereka dari belakang. Bukannya menepi, Ares malah menambah kecepatan mobilnya. Dia kemudian menghubungi salah satu anak buahnya untuk mengurus polisi-polisi itu.
"Cepat Ares, abaikan mereka. Elea sedang berada dalam bahaya sekarang!" teriak Gabrielle saat laju mobilnya sedikit memelan karena Ares tengah menelfon.
__ADS_1
"Nyonya berada dalam bahaya? Bagaimana bisa, disana ada banyak pengawal, Tuan Muda. Mustahil untuknya bisa keluar dari perusahaan!" sahut Ares terkejut.
"Aku tidak tahu. Atau jangan-jangan Levi dan Reinhard sebenarnya bukan mereka. Astaga Ares kenapa aku tidak terfikir kesana, aku bahkan menitipkan Elea begitu saja pada mereka!".
Perasaan Gabrielle semakin tidak karu-karuan. Dia kemudian kembali menghubungi nomor Elea, tapi hasilnya nihil. Nomor istrinya masih berada di luar jangkauan.
"Shitttt... Siapapun yang berani melukai Elea, aku pasti akan langsung membunuhnya. Arrrggghhh sialan! Cepat lah Ares, kenapa belum sampai juga. Pantatku sudah berjangkar sejak tadi!" teriak Gabrielle menggila.
"Sebentar lagi Tuan Muda!".
Karena mengendarai mobil secara ugal-ugalan, tak lama kemudian mereka akhirnya sampai di perusahaan. Tanpa menunggu mobil berhenti, Gabrielle segera meloncat keluar dari sana kemudian berlari masuk ke dalam kantor. Para penjaga yang saat itu tengah berjaga terkejut melihat kemunculannya yang begitu tiba-tiba. Mereka segera berlari mendekat.
"Tuan Muda, ada apa?" tanya salah satu dari mereka.
Bugghhhhh
"Apa saja kerja kalian, hah! Bagaimana bisa kalian membiarkan istriku keluar dari kantor tanpa pengawalan. Dia berada dalam bahaya sekarang !" bentak Gabrielle sambil memukul perut penjaga yang tadi bicara.
"Ugghhhh, ma,maaf Tuan Muda. Tapi Nyonya sejak tadi terus berada di dalam. Nyonya sama sekali tidak keluar!" sahut penjaga sambil meringis menahan sakit.
"Tidak keluar kepalamu. Jelas-jelas aku melihatnya berada di keramaian sebelum panggilan video kami terputus. Lihat saja, jika istriku sampai kenapa-napa, kalian lah yang harus bertanggung jawab. Dasar k*parat, sia-sia aku memelihara kalian selama ini!" maki Gabrielle dengan suara yang sangat keras.
Melihat Tuan Muda-nya yang sedang mengamuk, Ares segera menghubungi anak buahnya untuk segera mencari keberadaan nyonya mereka. Tak lupa juga dia menghubungi salah satu penjaga yang tadi di tugaskan berjaga di depan pintu ruangan milik Tuan Muda-nya.
"Jadi kalian masih hidup? Dimana Nyonya Elea sekarang?" tanya Ares sambil mengawasi Tuan Muda-nya yang sedang menghajar para penjaga.
"Nyonya sedang makan siang di dalam ruangan bersama Nona Levi dan juga Tuan Reinhard, Tuan. Dan kami semua masih hidup. Ada apa Tuan Ares? Apa terjadi sesuatu di sana?".
Kening Ares mengerut mendengar jawaban anak buahnya. Dia merasa heran kenapa semua anak buahnya bilang kalau nyonya mereka masih berada di dalam ruangan.
"Halo Tuan Ares, apa yang terjadi?".
"Tidak apa-apa. Kalian tetaplah berjaga di sana, sebentar lagi kami akan kesana!" jawab Ares kemudian memutuskan panggilan.
Para karyawan yang menyaksikan betapa brutalnya bos mereka saat menghajar para penjaga bergidik ngeri. Mereka semua segera lari berhamburan saat mendapatkan tatapan menghunus dari Ares.
"Tuan Muda, apa anda tidak salah lihat tadi? Para penjaga yang berjaga di depan ruangan bilang kalau Nyonya Elea tengah menikmati makan siangnya bersama Nona Levi dan juga Tuan Reinhard. Nyonya sama sekali tidak keluar ruangan!".
Tangan Gabrielle yang terkepal hendak memukul wajah penjaga terhenti di udara. Dia lalu menatap Ares dengan tatapan tajam seperti mata pedang.
"Apa kau kira mataku sudah buta, hah! Kalau Elea memang berada di ruanganku, lalu darimana asal suara bising knalpot yang tadi aku dengar. Kau pikir kantorku ini jalanan yang bebas di lalui kendaraan orang. Dimana otakmu Ares!".
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan Muda, saya salah!" sahut Ares cepat.
"Maaf maaf saja bisamu!".
Dengan kasar Gabrielle meninju satu-persatu perut para penjaga. Dia sangat murka pada mereka semua.
"Jangan ada satupun dari kalian yang berani beranjak dari tempat kalian berdiri sekarang. Jika aku tahu kalian bergeser sedikit saja, itulah terakhir kalian bernafas. Dasar tidak berguna!" sentak Gabrielle kemudian berlari masuk ke dalam lift.
Sebelum menyusul Tuan Muda-nya, Ares terlebih dahulu menebar ketakutan di diri para penjaga.
"Berdo'alah supaya Nyonya Elea baik-baik saja. Karena jika sampai ada hal buruk yang terjadi padanya, satu-persatu dari kalian akan kukirim ke kandangnya Lan. Kesayangan Nona Muda Grizelle pasti akan sangat senang menikmati tubuh berlemak dari orang-orang tidak berguna seperti kalian. Mengerti!".
"Ka,kami mengerti Tuan Ares!" sahut para penjaga ketakutan.
"Ingat pesan Tuan Muda. Jangan bergerak sedikitpun jika masih sayang dengan nyawa kalian!" pesan Ares kemudian bergegas masuk menuju ruangan Tuan Muda-nya.
Sementara itu, Reinhard yang di tinggalkan seorang diri tengah duduk termenung. Bukan tanpa alasan dia membiarkan Levi membawa Elea pergi keluar. Sebelum kedua wanita itu pergi, ada satu kejadian yang sempat membuatnya panik. Benar-benar sangat panik.
Brrraaaakkkkkk
"DIMANA ISTRIKU..!".
Reinhard kaget bukan kepalang saat pintu ruangan di dobrak dengan sangat kuat. Di tambah lagi dengan suara Gabrielle yang langsung berteriak mencari istrinya.
"Reinhard, kau kemanakan istriku hah! Aku menyuruhmu untuk menjaganya, kenapa kau malah membiarkannya keluar!" bentak Gabrielle sambil mencengkeram leher temannya.
"Uhukk,uhuukkk... Gab,Gabrielle, tolong tenang dulu. Lepaskan tanganmu, aku tidak bisa bicara kalau seperti ini!" sahut Reinhard terbata-bata.
Meski terbakar emosi, Gabrielle akhirnya melepaskan cengkeraman di leher Reinhard. Dia lalu menatapnya tajam.
Baru saja Reinhard hendak berbicara, Ares masuk ke dalam ruangan.
"Bos, Nyonya Elea dan Nona Levi sudah di temukan. Mereka baik-baik saja!".
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...