Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Gejala Aneh


__ADS_3

"Selamat pagi Tuan dan Nyonya Muda".


Gabrielle mengangguk kearah para karyawan yang beru saja menyapa. Dia melangkah sambil melingkarkan satu tangannya ke pinggang Elea dengan begitu posesif.


"Selamat pagi Kakak" sahut Elea ramah membalas sapaan orang-orang di sana.


Ares melirik lucu kearah para karyawan yang terkejut mendapat sapaan balik dari nyonya mereka.


Gabrielle begitu bangga melihat bagaimana ramahnya Elea terhadap para bawahannya. Meskipun statusnya adalah istri pemilik perusahaan, tak nampak sama sekali keangkuhan di diri Elea. Mungkin jika yang menjadi istrinya adalah wanita lain, Gabrielle sangat yakin mereka akan mengangkat dagu setinggi mungkin. Dengan pongah mereka pasti menunjukkan betapa besar status yang mereka miliki di perusahaan ini. Jangankan untuk balas menyapa, berpapasan dengan bawahannya saja pasti mereka akan merasa jijik. Tidak seperti Elea-nya, dia begitu ramah dan bahkan lupa pada statusnya sendiri.


"Kak Iel, kenapa semua orang terheran-heran melihatku? Apa suaraku jelek?" tanya Elea saat mereka berada di dalam lift.


"Tidak sayang. Mereka seperti itu karena terpukau melihat kecantikanmu!" jawab Gabrielle.


"Benarkah?".


"Tentu saja. Kau adalah wanita tercantik yang pernah aku temui, jadi wajar kalau mereka menatapmu seperti tadi!".


Gabrielle memang tak main-main dalam memberikan kemewahan untuk istrinya. Dia bahkan tidak ragu mempekerjakan seorang desainer kondang dan juga MUA terbaik untuk bertanggung jawab pada penampilan Elea setiap harinya. Dengan kemampuan orang-orang perpengalaman itu sudah pasti Elea sekarang berubah menjadi sesosok gadis yang sangat berkelas. Berbeda dengan penampilannya dulu yang terkesan sangat buruk dan tidak terawat. Gabrielle benar-benar seperti menemukan sebuah berlian indah di dalam tumpukan sampah.


Ting


Pintu lift terbuka. Elea melihat kearah perutnya yang lagi-lagi di peluk dengan sangat posesif oleh suaminya. Setelah mereka menikah, sebenarnya Elea merasakan ada semacam gelenyar aneh di hatinya. Wajahnya mudah memanas dan jantungnya berdebar kuat setiap kali mendapat perhatian dari suaminya yang tampan ini.


"Sayang, kenapa diam?" tanya Gabrielle.


"Emm tidak apa-apa Kak. Hanya sedang berfikir saja" jawab Elea.


Ares membukakan pintu ruangan untuk kedua tuannya. Dia menunduk sebelum akhirnya pergi menuju ruangannya sendiri.


"Apa yang kau pikirkan, hem?".


"Sepertinya ada yang salah di tubuhku Kak".


Gabrielle terkejut mendengar perkataan Elea. Cepat-cepat dia menariknya duduk kemudian menatapnya dalam.


"Apa yang kau rasakan Elea? Mana yang tidak nyaman? Apa perutmu sakit lagi?" tanya Gabrielle beruntun dengan mimik wajah yang terlihat begitu khawatir.


"Bukan sakit seperti itu, Kak Iel. Ini lain" jawab Elea bingung dengan respon suaminya.


Alis Gabrielle mengerut bingung.


"Lain bagaimana? Maksudnya apa Elea? Tolong jujur padaku sekarang, jangan membuatku takut sayang!".


Elea terdiam. Dia bimbang.


'Aku bilang tidak ya? Kalau tidak Kak Iel pasti marah, tapi kalo iya, kenapa aku merasa malu ya? Sebenarnya aku ini sakit apa sih? Membingungkan sekali!'.


Sadar kalau suaminya masih menunggu jawabannya, Elea mau tidak mau akhirnya bicara jujur.


"Itu Kak, sejak kita menikah dadaku seringkali berdebar kuat. Aku tidak tahu kenapa, dan juga wajahku terkadang sering terasa panas kalau Kakak menciumku. Aneh kan?".


Untuk beberapa saat mulut Gabrielle terkunci rapat. Yang mana membuat Elea menjadi gelisah. Dia takut kalau itu adalah gejala penyakit yang sangat serius melihat kebungkaman suaminya.


"Kak Iel jangan diam saja. Aku sakit parah ya?" tanya Elea sedih.


Gabrielle terkejut melihat istrinya yang sudah hampir menangis.


"Sayang hei, kenapa sedih. Itu bukan gejala penyakit sayang, tapi itu tanda-tanda kalau kau sedang jatuh cinta!" jawab Gabrielle sambil menangkup wajah Elea.


"Jatuh cinta? Tapi aku kan tidak punya kekasih Kak!".

__ADS_1


'Ya Tuhan Elea, kau memang tidak punya kekasih, tapi kau memiliki suami. Aku, gejala itu karena aku Elea. Kau jatuh cinta pada suamimu sendiri'.


"Sekarang aku tanya, sejak kapan gejala itu datang?" tanya Gabrielle gemas.


"Sejak kita menikah, Kak" jawab Elea jujur.


"Gejala itu muncul di saat apa?".


"Saat Kak Iel menciumku dan memberikan banyak perhatian".


"Jadi?".


Kening Elea mengerut. Dia bingung sendiri.


"Tidak jadi apa-apa Kak" sahut Elea asal.


Gabrielle tertawa.


"Jadi gejala itu terjadi di depan siapa?".


"Di depan Kak Iel lah, kan aku sudah bilang tadi" jawab Elea masih belum mengerti.


"Siapa Kak Iel bagimu?".


"Suamiku".


"Itu tandanya kau sedang jatuh cinta pada suamimu, Elea sayang. Dan orang itu adalah aku, benar kan?".


Gabrielle diam membiarkan Elea mencerna kata-katanya barusan. Tak lama kemudian mata Elea membelalak lebar kemudian menutup mulutnya dengan ekpresi kaget.


"Jadi maksud Kak Iel aku menyukai Kakak, begitu?".


"Iya. Memangnya kau tidak suka padaku, hem?" ucap Gabrielle balik bertanya.


Wajah Elea memerah. Dia segera menundukkan kepala, malu.


"Sayang, ayo jawab. Jangan malu, oke!" rayu Gabrielle sambil menekan pipi istrinya yang terasa begitu kenyal.


"Kak Iel, kita kan bukan kekasih. Mana mungkin aku menyukaimu" elak Elea tanpa berani menatap mata suaminya.


"Kenapa tidak? Anggap saja kalau aku ini suami rasa kekasih!" sahut Gabrielle kekeh.


"Memangnya ada hal seperti itu Kak?" tanya Elea penasaran.


Bibir Gabrielle berkedut melihat istrinya yang begitu penasaran sampai tak sadar menatapnya. Padahal tadi dia terus menundukkan kepala karena menahan malu.


"Tentu saja ada. Mau mencobanya tidak?".


"Mau Kak" ucap Elea asal.


Gabrielle tergelak.


Tok,tok,tok


"Masuk!" teriak Gabrielle dari dalam ruangan.


Ares masuk ke dalam ruangan setelah mendapat izin dari Tuan Muda-nya. Dia segera menundukkan kepala begitu mendapat tatapan sinis dari pria beku yang wajahnya sudah berubah masam.


'Aku datang di saat yang tidak tepat rupanya'.


"Ada apa?" tanya Gabrielle kesal.

__ADS_1


"Ada tamu yang ingin menemui anda, Tuan Muda. Sekarang dia sedang menunggu di ruang meeting!" jawab Ares.


"Tamu? Bukankah hari ini aku tidak memiliki janji dengan siapapun, Res?".


"Iya Tuan Muda. Tapi saya rasa anda perlu menemui orang ini. Sepertinya orang ini terlibat kesalahpahaman pada kedekatan anda dan Nona Levi!" jelas Ares.


Mata Gabrielle memicing tajam begitu mendengar perkataan Ares. Sebuah seringai kecil muncul di sudut bibirnya.


"Aa, jadi Samuel ingin mengambil keuntungan dari putrinya?" tanya Gabrielle jijik.


"Benar Tuan Muda. Lagipula orang seperti Samuel mana mungkin diam saja jika tahu ada peluang besar yang bisa mendatangkan keuntungan. Beruntung Nona Levi tidak mengikuti jejaknya, jika iya maka saya akan menyingkirkannya jauh dari sekeliling Nyonya" jawab Ares tak kalah jijik.


"Ares, kenapa kau ingin berbuat jahat pada Kak Levi? Dan siapa Samuel? Apa dia kekasihnya Kak Levi?" tanya Elea ikut menimpali pembicaraan Ares dan suaminya.


Gabrielle dan Ares terdiam. Mereka tadi melupakan keberadaan nyonya kecil ini saat berbicara.


"Sayang, nanti aku akan memberitahumu di rumah. Jangan khawatir, Ares tidak akan melakukan apapun pada Levi, kau bisa pegang ucapanku!" jawab Gabrielle meyakinkan istrinya.


Elea masih ragu. Dia menatap Ares dengan tatapan curiga.


"Nyonya, saya hanya akan menyingkirkan orang-orang yang memiliki niat jahat kepada anda" jelas Ares merasa tak enak di tatap seperti itu.


"Tapi Kak Levi tidak jahat, Ares. Dia baik, dia pernah memberiku makan" sahut Elea tak terima.


Ares tidak tahu harus bagaimana sekarang. IQ Nyonya-nya sangat rendah, cukup menghabiskan waktu jika harus memberi penjelasan yang mendetail.


"Kak Iel, Kak Levi benar-benar sangat baik padaku meski mulutnya tajam seperti silet. Tolong jangan jahati dia ya, aku mohon" rengek Elea dengan mata berkaca-kaca.


Gabrielle dengan lembut memberi sebuah pelukan hangat pada istrinya. Dia lalu memberikan penjelasan.


"Sayang, apa yang Ares katakan tadi tidak salah. Aku memang memintanya untuk menyingkirkan semua orang yang berniat mencelakaimu. Termasuk Levi, itu pun jika keberadaannya mengancam keselamatanmu. Aku tahu Levi menyayangimu, tapi jika dia sampai berniat menyakitimu maka aku tak akan segan-segan untuk membunuhnya. Jadi jangan salah paham lagi pada Ares ya? Dia hanya melakukan tugasnya saja!".


Elea mengangguk dalam pelukan suaminya. Dia lega karena ternyata Ares tidak benar-benar ingin berbuat jahat pada Levi.


"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu ya. Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil saja karyawan yang ada di luar ruangan ini. Dia akan melakukan apapun untukmu!" ucap Gabrielle sembari melepas pelukannya.


"Apa aku boleh berjalan-jalan keluar?" tanya Elea penuh harap.


"Tidak!" sahut Gabrielle singkat, padat dan jelas.


"Kenapa?".


'Karena di sini banyak buaya darat, Elea. Aku tidak mau mereka menikmati kecantikanmu'.


Gabrielle berdehem.


"Sayang, tunggu aku kembali jika ingin melihat-lihat perusahaan ini. Patuh ya?" bujuk Gabrielle posesif.


"Iya Kak" sahut Elea tanpa banyak bicara lagi.


Gabrielle tersenyum. Dia segera pergi menemui Samuel setelah meninggalkan tiga kecupan di bibir mungil istrinya.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2