
"Maaf Tuan Bryan, Nyonya Sandara tidak bisa bertahan lagi. Dia mengalami pendarahan yang sangat hebat setelah putrinya lahir!".
Jedaaaarrrrrrr
Bryan seperti di sambar petir begitu mendengar kabar dari dokter yang menangani persalinan istrinya. Tubuhnya gemetar dan dadanya terasa begitu sesak.
"K,kau bilang apa dok?" tanya Bryan gugup.
Dokter menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Bryan.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Tuan Bryan. Tapi nyawa istri anda tidak bisa di selamatkan. Kami mohon maaf sebesar-besarnya Tuan, Nyonya Sandara telah meninggal dunia!".
Tubuh Bryan luruh ke lantai. Dia tidak mempunyai tenaga lagi untuk sekedar berdiri. Sandara, kekasih hatinya telah tiada. Hal ini sangat sulit untuk Bryan terima.
"Dokter, bayi Nyonya Sandara berhenti bernafas!" teriak salah seorang perawat dari dalam kamar operasi.
"Apa yang terjadi? Bukankah tadi keadaannya baik-baik saja?".
"Saya tidak tahu dokter. Tiba-tiba saja bayinya mengalami kejang kemudian jantungnya berhenti berdetak!".
"Segera lakukan pertolongan pertama. Dan juga pindahkan jenazah ibunya dari sana!" teriak dokter sambil berlari masuk ke dalam ruangan.
Bryan merasa kalau dunianya berubah menjadi gelap. Baru saja dia di beritahu kalau istrinya sudah tiada, sekarang giliran putrinya yang meninggal. Dunia Bryan runtuh seketika.
"Sandara, kenapa kau tega melakukan ini padaku? Apa salahku padamu sayang? Kenapa kau kau dan putri kita meninggalkan aku seorang diri di sini. Kenapa kau tega Sandara, kenapa!" gumam Bryan sedih.
Airmata Bryan tak bisa terbendung lagi saat dia melihat perawat yang sedang mendorong jenazah istrinya keluar dari ruangan operasi. Dengan tubuh yang gemetaran dia berusaha berdiri kemudian berlari menghampirinya.
"Sandara, buka matamu sayang. Ini aku, Bryan suamimu. Aku mohon jangan seperti ini sayang, maafkan aku jika aku melakukan sesuatu yang membuatmu marah. Jangan hukum aku dengan perpisahan, aku tidak sanggup Sandara. Aku tidak sanggup!" isak Bryan sambil menciumi wajah istrinya yang mulai mendingin.
"Maaf Tuan Bryan, anda sebaiknya segera mengurus biaya administrasi di bagian kasir. Biar kami yang akan mengurus kepulangan jenazah Nyonya Sandara!" ucap salah seorang perawat.
"Tidak, tolong jangan pisahkan aku dengan istriku. Aku sangat mencintainya, aku tidak mau jauh dari istriku!" sahut Bryan panik.
Para perawat terlihat kebingungan saat Bryan dengan gilanya ingin menggendong jenazah istrinya. Satu di antara mereka akhirnya dengan terpaksa menahan tubuh Bryan agar tidak pergi dari sana.
"Tuan Bryan, tolong jaga kesadaran anda. Kasihan Nyonya Sandara, dia pasti sedih melihat anda seperti ini!".
"Jangan halangi aku, istriku belum mati. Kalian tidak boleh membawanya pergi dariku!" amuk Bryan tak sadar sambil berontak ingin melepaskan diri.
"Ambil jenazahnya Nyonya dan segera urus kepulangannya. Aku yang akan menahan Tuan Bryan untuk sementara waktu!".
"Bajingan kau, lepaskan aku. Kalian jangan coba-coba memisahkan aku dengan Sandara. Dia istriku, aku akan membawanya pulang ke rumah kami. Lepaskan akuu!" teriak Bryan panik saat beberapa perawat ingin merebut tubuh istrinya.
"Maafkan kami, Tuan Bryan. Tolong sadarlah, Nyonya Sandara sudah meninggal. Biarkan dia beristirahat dengan tenang!" bujuk perawat saat Bryan mendekap jenazah istrinya dengan begitu kuat.
"Sandara belum meninggal, istriku masih hidup. Dia, dia hanya kelelahan setelah melahirkan putri kami. Dia belum meninggal!" bentak Bryan menolak kenyataan.
__ADS_1
Para perawat saling menatap. Setelah itu mereka merebut paksa jenazah Sandara dari tangan Bryan. Yang mana membuat Bryan berteriak histeris sambil terus berontak seperti orang gila.
"Sandara... Jangan tinggalkan aku Sandara. Tolong kembalikan istriku!! Sandara.....!!!!".
......................
"SANDARA..!".
Patricia yang saat itu sedang berusaha membangunkan ayahnya terlonjak kaget saat ayahnya tiba-tiba berteriak dengan sangat kencang. Dia dengan sigap mengambilkan segelas air lalu memberikan pada ayahnya yang sedang terengah-engah.
"Ayah minum dulu. Pelan-pelan" ucap Patricia pelan.
Bryan menerima gelas tersebut kemudian meneguk isinya hingga tak bersisa. Wajahnya nampak basah oleh keringat yang masih mengucur deras. Bryan baru saja memimpikan hal terburuk yang pernah terjadi di dalam hidupnya belasan tahun lalu. Sandara, satu nama yang telah membuatnya tersiksa selama ini. Istri yang sangat di cintainya itu pergi meninggalkannya tepat setelah putri mereka lahir. Bahkan putrinya pun ikut pergi bersama dengannya ke surga.
"Ayah baik-baik saja?" tanya Patricia khawatir.
"Kenapa kau bisa ada di ruanganku?".
Patricia mengepalkan tangan mendengar pertanyaan dingin dari ayahnya. Sorot matanya nampak memperlihatkan sebuah kesedihan yang mendalam.
"Itu, maaf Ayah. Aku hanya ingin mengingatkan kalau Ayah memiliki janji temu dengan Tuan Muda Gabrielle. Sekalian ingin meminta tanda tangan Ayah di berkas-berkas ini" jawab Patricia lembut sambil meletakkan beberapa tumpukan berkas pekerjaan di meja ayahnya.
Bryan menarik nafas dalam-dalam. Dia duduk menyender sambil menyeka keringat di wajahnya.
"Jam berapa sekarang?".
"Pukul setengah tiga sore, Ayah".
"Apa sekertaris Gabrielle sudah menelfon?" tanya Bryan lagi.
"Sudah. Mereka sedang dalam perjalanan menuju restoran" jawab Patricia.
Mata Bryan terpejam. Rasanya dia malas sekali untuk menghadiri pertemuan itu.
"Patricia".
"Ya Ayah, ada apa?" tanya Patricia.
"Kau saja yang menghadiri pertemuan itu. Aku ingin pergi ke suatu tempat" jawab Bryan dingin.
Patricia terdiam. Dia bimbang antara ingin mengiyakan atau menolak perintah ayahnya.
"Kenapa tidak menjawab? Tidak mau?".
"Tidak Ayah, bukan seperti itu. Hanya saja, bukankah dari awal kerjasama ini Ayah lah yang bertanggung jawab. Apa tidak akan terjadi apa-apa jika aku yang datang menemui Tuan Muda Gabrielle?" tanya Patricia ragu.
Giliran Bryan yang terdiam. Di dunia bisnis, semua orang tahu betul seperti apa watak dari Tuan Muda Keluarga Ma itu. Dia sangat tidak suka pada orang yang tidak bertanggung jawab pada pekerjaannya. Tapi Bryan benar-benar sedang tidak ingin menemui siapapun. Dia sekarang hanya ingin pergi ke makam istrinya untuk melepas rindu setelah mengalami mimpi buruk.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Tapi kalau memang Gabrielle tidak bisa menerima kedatanganmu nanti, bayar saja denda penaltinya. Aku tidak peduli meski perusahaan kita harus mengalami kerugian yang cukup besar" jawab Bryan setelah menimang keputusan.
"Tapi Ayah, keputusanmu ini bisa berdampak pada saham perusahaan kita. Group Ma bukan perusahaan yang bisa dengan mudah menerima denda pinalti dari rekan bisnisnya. Aku takut masalah ini akan membuat reputasi perusahaan kita anjlok!" ucap Patricia khawatir.
"Sudah aku bilang aku tidak peduli, Patricia. Ini perusahaanku, dan aku adalah pemiliknya. Kau itu hanya bawahanku saja, jadi jangan bersikap seolah-olah kau adalah penerus perusahaan ini!" sentak Bryan kesal.
Airmata Patricia hampir menetes saat ayahnya bicara dengan begitu kasar. Dia hanya bisa menunduk sambil menguatkan hati dan perasannya.
'Ayah, sampai kapan kau akan terus bersikap dingin padaku? Aku tahu aku bukan anak kandungmu, tapi bisakah kau berhenti menyakiti perasaanku?'.
Sadar kalau kata-katanya tadi telah melukai perasaan putrinya, akhirnya Bryan sedikit melunak. Dia sedikit tidak tega melihat putri angkatnya bersedih.
"Maafkan aku, Patricia. Aku sedang dalam suasana hati yang sangat buruk sekarang!".
Patricia segera mengangkat wajahnya begitu dia mendengar permintaan maaf dari ayahnya. Hatinya yang sedang bersedih langsung berubah bahagia.
"Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah membuat Ayah marah. Aku hanya tidak ingin Ayah mengalami kesulitan. Itu saja!" ucap Patricia sembari tersenyum manis.
"Aku tahu. Tapi untuk sekarang tolong tangani pekerjaan ini. Apapun hasilnya nanti, aku tidak akan menyalahkanmu" timpal Bryan.
"Kalau memang itu yang Ayah inginkan, aku tidak akan menolak lagi. Pekerjaan ini aku yang akan mengambil alih selagi Ayah belum merasa tenang" sahut Patricia senang.
Bryan mengangguk.
"Kalau begitu kau pergilah temui Gabrielle. Katakan padanya aku meminta maaf karena tidak bisa hadir".
"Baik Ayah!".
"Berkas untuk meeting ada di meja sekertaris. Minta saja padanya!" ucap Bryan.
Patricia mengangguk.
"Kalau begitu aku permisi Ayah" pamit Patricia kemudian berjalan keluar dari ruangan ayahnya.
Bryan diam memandang kearah pintu. Dia lalu menghela nafas.
"Kau sebenarnya adalah gadis yang baik, Patricia. Tapi maaf, aku tidak bisa mengakuimu. Karena di hatiku selamanya hanya akan ada Sandara dan putri kecil kami!".
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1
...🌻 WA: 0857-5844-6308...