Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Sikap Yang Berbeda


__ADS_3

"Patricia, buka pintunya! Dasar brengsek, beraninya kau mencelakai Bibi Yura dan Elea. Cepat keluar dan ayo kita bertarung. Kita lihat siapa di antara kita yang lebih kuat. Beraninya kau ya!" teriak Levi penuh emosi sambil terus menggedor pintu apartemen milik sepupunya.


"Sayang, sudahlah. Kau itu masih sakit, kenapa berteriak-teriak seperti itu sih. Nanti kalau kau pingsan bagaimana?" ujar Lolita cemas sambil mengelus punggung putrinya yang sedang mengamuk.


"Jangan membela kucing liar ini, Bu. Dia benar-benar sudah sangat keterlaluan. Elea adalah adikku, aku tidak mungkin diam saja saat ada yang ingin mencelakainya. Selama ini aku bahkan tidak pernah membiarkan seekor nyamuk menghisap darahnya, jadi bagaimana mungkin aku melepaskan Patricia begitu saja setelah apa yang dia lakukan pada Elea dan juga Bibi Yura. Kali ini aku harus memberinya pelajaran Bu, dia bisa semakin merajalela jika di biarkan lolos!" sahut Levi menggebu-gebu.


"Iya Ibu tahu, tapi bukan itu yang Ibu permasalahkan, sayang. Kau itu sedang sakit, apa tidak sebaiknya kita pulang saja ke rumah? Nanti setelah kau pulih barulah kau datang kemari lagi. Ibu khawatir kau kenapa-napa sayang!.


"Tidak bisa Bu!" tolak Levi kemudian menepis tangan ibunya. "Malam ini juga aku akan memberinya pelajaran. Beraninya dia ingin meledakkan adikku, memangnya dia pikir dia itu siapa hah!.


Saat Levi tengah berdebat dengan ibunya, pintu kamar apartemen terbuka. Nampak Patricia muncul dengan raut wajah yang begitu datar. Levi yang melihat targetnya keluar segera menjambak rambutnya dengan sangat kuat. Tapi sedetik kemudian Levi menghentikan perbuatannya, dia merasa ada yang aneh pada diri sepupunya yang tidak mau merespon atau mengelak dari serangan yang sedang dia lakukan.


"Kenapa diam?" tanya Patricia santai.


"Kau yang kenapa!" jawab Levi curiga. "Jangan bilang kau sedang merencanakan trik lain untuk mencelakaiku juga, Patricia."


"Kenapa aku harus mencelakaimu? Memangnya ada urusan apa di antara kita?.


'Eh, kucing liar ini kenapa ya? Kenapa sikapnya terlihat berbeda sekali sih. Biasanya kan dia akan langsung mengajakku bertengkar, tapi kenapa responnya dingin sekali? Apa mungkin dia sedang melakukan pertobatan atas apa yang dia lakukan pada Bibi Yura dan Elea? Ah, tapi itu mustahil. Kucing liar ini tidak akan semudah itu menyerah, aku yakin sekali dia pasti sedang merencanakan trik lain yang lebih jahat lagi. Ya, seperti ini baru ciri khasnya Patricia!.


"Levi, jika sudah tidak ada yang ingin kau katakan sebaiknya kalian segera pergi saja dari sini. Ada banyak pekerjaan yang sedang menunggu untuk segera ku selesaikan. Pergilah!" usir Patricia.


"Yaakkkkk, urusan kita belum selesai brengsek! Aku masih belum membuat perhitungan denganmu. Sekarang jawab aku, kau itu sebenarnya masih waras atau tidak. Bisa-bisanya kau ingin meledakkan wanita yang sudah susah payah merawatmu dari kecil, juga ingin menghabisi anak dari ayah angkatmu sendiri. Otakmu sudah tidak bisa di pakai untuk berfikir lagi ya!" teriak Levi menolak untuk pergi dari sana.

__ADS_1


Lolita hanya bisa menghela nafas berat menyaksikan anak dan keponakannya bertengkar. Sebenarnya ini bukanlah hal yang baru, sejak kedua gadis ini beranjak remaja, keduanya memang tak pernah akur. Entah ada kejadian apa yang mendasari perseteruan di antara mereka berdua. Pernah beberapa kali Lolita menanyakan penyebab keduanya selalu bertengkar, namun dia tak pernah berhasil mendapat jawaban. Baik Patricia maupun Levita mereka sama-sama menutup mulut dengan rapat, seakan ada rahasia besar yang mereka tutupi dari semua orang.


"Cia, Levi, sudahlah. Kalian itu saudara sepupu, tidak sepatutnya kalian bertengkar seperti ini. Apa kata orang nanti jika melihat hubungan kalian yang tidak pernah akur? Mereka pasti akan menggunjingkan hal yang tidak-tidak tentang kalian berdua. Tahu tidak?" ucap Lolita mencoba melerai pertengkaran anak dan keponakannya.


"Bibi Lolita, bisa tolong bawa putrimu pergi dari sini tidak? Aku tak ingin membuang waktu hanya untuk meladeninya bicara omong kosong seperti ini!" sahut Patricia kemudian melirik kearah Levi yang sedang memelototkan mata.


"Apa kau bilang? Omong kosong? Woaaahhh, kau benar-benar memancing emosiku, Patricia!" teriak Levi kesal. "Bukankah aku pernah bilang padamu jika ada sesuatu yang menyangkut Elea, maka semua itu akan menjadi urusanku juga. Kau harus melangkahi mayatku dulu jika ingin mengusiknya."


"Dan aku tidak peduli dengan kebaikanmu itu, Levita. Apa yang sudah aku lakukan pada Elea sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Silahkan saja kalau kau mau membelanya, tapi aku tidak akan pernah peduli apalagi menanggapimu. Kau itu hanya orang luar, jadi maaf kalau aku tidak akan memandang keberadaanmu sekalipun aku ingin membunuhnya!.


Brraaaakkkkkkk


Levi dan ibunya berjengit kaget ketika pintu kamar di tutup dengan sangat kuat. Kesal karena emosinya belum terselesaikan, dengan marah Levi menendangi pintu kamar tersebut hingga membuat tamu-tamu yang tinggal di sebelah kamar Patricia menegurnya.


"Nona, kalau kau mempunyai masalah dengan penghuni kamar itu tolong selesaikan dengan baik. Ini sudah malam, sudah waktunya bagi semua orang untuk beristirahat!.


Lolita yang melihat hal itu segera turun tangan. Dia membungkukkan badan kearah para penghuni kamar yang sedang memprotes kelakuan putrinya sembari meminta maaf. Setelah berhasil meredakan kekesalan semua orang, dengan lembut Lolita membujuk putrinya untuk pergi dari sana. Dia tidak mau kalau putrinya kembali membuat gaduh yang bisa memancing kemarahan para penghuni apartemen.


Sambil tersungut-sungut Levi mengikuti langkah ibunya menuju mobil. Dia tidak berhenti mengumpati Patricia yang sudah bertindak tidak sopan pada dia dan juga ibunya.


"Sudahlah sayang, jangan pikirkan kejadian tadi. Ibu yakin suaminya Elea pasti tidak akan tinggal diam, mereka pasti sudah mengambil tindakan terlebih dahulu pada Patricia. Jadi sekarang Ibu mohon tolong tenanglah. Kau itu masih sakit, bagaimana kalau kondisimu kembali drop setelah marah-marah seperti ini? Siapa yang rugi coba?" bujuk Lolita menasehati putrinya yang masih terlihat begitu emosi.


"Tapi Bu, Ibu merasa ada yang aneh tidak pada Patricia. Tatapan matanya sangat kosong, wajahnya juga tidak memperlihatkan emosi apapun selain ekpresi tenang dan datarnya. Apa mungkin dia sedang mengahadapi masalah lain yang jauh lebih besar ya? Dia bahkan tidak mau membalas seranganku tadi" ucap Levi yang merasa janggal dengan perubahan di diri sepupunya yang jahat.

__ADS_1


"Iya sayang, Ibu sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Mungkin saja tebakanmu benar kalau dia sedang menghadapi masalah yang jauh lebih pelik. Dan Ibu yakin sekali kalau masalah itu pasti datang dari Gabrielle dan keluarganya. Kau tentu tahu bukan siapa Nyonya Liona dan Tuan Greg? Mereka adalah pasangan yang paling di hindari amarahnya, akan sangat rugi bagi orang-orang yang berani memantik api pada mereka berdua. Besar kemungkinan itu yang sedang di hadapi oleh Patricia saat ini" sahut Lolita membenarkan ucapan putrinya.


Levi menyeringai.


"Baguslah kalau memang benar begitu, Bu. Biar saja kucing liar itu berhadapan dengan amarah orangtuanya Gabrielle. Dia tidak tahu saja betapa sayangnya Bibi Liona dan Paman Greg pada Elea. Gadis cilik itu bagaikan berlian di mata mereka!.


"Tapi Ibu jadi merasa iba pada nasibnya Patricia, sayang. Dia sudah menjadi yatim piatu sejak kecil, kemudian di angkat oleh Bibimu dimana dia tidak di akui oleh ayah angkatnya. Di tambah lagi dengan kemunculan Elea, Patricia pasti merasa sangat tertekan karena masalah itu. Anak yang malang."


Jujur saja, Levi sebenarnya juga merasa cukup kasihan akan nasib sepupunya itu. Tapi respeknya sudah lama hilang sejak dia menyaksikan kejahatan Patricia. Satu kejadian yang menjadi penyebab ketidak-akuran di antara keduanya.


"Sudahlah, jangan bahas gadis malang itu lagi. Patricia sudah besar, dia pasti sudah bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Karena dia terlanjur melakukan kejahatan sebegini besar, seharusnya dia sudah siap dengan segala konsekuensinya. Yah, Ibu hanya bisa berdoa semoga saja Gabrielle dan keluarganya mau memaafkan Patricia. Karena hanya dengan begitu dia baru bisa selamat dari tangan singa si pencabut nyawa!.


Tanpa di ketahui oleh Levi dan ibunya, sebenarnya saat ini Patricia sedang mencicipi apa yang di sebut neraka dunia. Dan orang yang tadi di temui oleh mereka adalah mutan kiriman Gabrielle yang memang sengaja di tempatkan di sana untuk menggantikan Patricia asli yang kini berada dalam genggaman seorang Morigan Junio.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


✅ Cek cek cek,,, kalian udah pada mampir belum ke novelnya author @Lotus Putih??? Sebentar lagi giveaway nya berakhir lho. Kuy lah mampir kesana, ceritanya seru banget lho. Cerita tentang seorang mafia dan gadis muda. Memuat genre romantic/action. Nyesel banget kalo nggak baca.. Yok lah mampir, gratis kok 🤣🤣🤣



...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2