
Setelah bertemu dengan gadis yang memiliki mata sama persis dengan Sandara, jantung Karim tidak berhenti berdebar. Dia bahkan sampai harus menahan rasa sakit dan nyeri di dadanya.
"Tuan Karim, anda baik-baik saja?".
"Dadaku sakit. Tolong antarkan aku ke dokter dulu sebelum pulang, aku tidak mau membuat Yura khawatir" jawab Karim sambil terus menekan dadanya yang semakin sesak.
"Baik Tuan!".
Anak buah Karim mengendarai mobil dengan sangat cepat. Sementara Karim yang duduk di kursi belakang mulai kesulitan bernafas. Bukan karena rasa sakit itu, tapi karena tekanan batin yang semakin menderanya setelah bertemu dengan gadis yang tadi bersama Levi.
"Akkhhhhh!" pekik Karim kesakitan.
"Tuan, tolong bertahanlah. Sebentar lagi kita akan segera sampai di rumah sakit!" ucap anak buahnya panik.
Karim mengangguk lemah. Dari sudut matanya keluar cairan bening, menandakan kalau dia benar-benar sangat kesakitan. Sakit karena kembali terbayang akan semua kejahatan yang pernah dia lakukan terhadap menantunya dulu. Sungguh lah, penyesalan begitu membuatnya merasa sangat tersiksa. Jika boleh memilih, Karim ingin menjadi orang biasa yang tidak akan mengukur seseorang hanya dari harta dan statusnya saja. Karena dulu mata Karim di butakan oleh harta benda sehingga membuatnya tega menghancurkan hidup putranya,menantunya dan bahkan cucunya yang tidak tahu apa-apa.
'Tuhan tolong ampuni semua dosa yang telah kuperbuat. Sandara, Eleanor, tolong maafkan pria tua ini!'.
Tak lama kemudian, Karim dan anak buahnya sampai di rumah sakit. Dengan tergesa-gesa anak buahnya memapah Karim keluar dari mobil kemudian membawanya masuk ke dalam. Beberapa dokter yang tahu siapa Karim segera mengambil tindakan. Salah satunya adalah dokter Jack. Dokter yang baru saja kembali dari luar negeri dan langsung bergabung di rumah sakit milik Group Ma.
"Siapkan tabung oksigen!" perintah Jack pada perawat sambil mendorong kursi roda Karim.
Wajah Karim kian memucat, airmata juga tidak berhenti menetes. Sakit, rasanya benar-benar sakit saat ingatan Karim terus terngiang-ngiang dengan gadis itu. Meskipun mustahil jika gadis itu benar Eleanor, entah kenapa efeknya bisa begitu besar di tubuhnya.
"Tuan, tolong pertahankan kesadaran anda. Kami tim dokter akan segera memberikan pertolongan!" ucap Jack berusaha membuat pasiennya tetap sadar.
"Tuan Karim, sebaiknya saya menelfon Tuan Bryan dan memintanya datang kemari. Atau Nyonya Yura saja yang saya hubungi?".
Karim menggeleng. Dengan nafas yang tersengal Karim berusaha untuk berbicara pada anak buahnya.
"Jangan hubungi siapapun. Ini belum waktunya aku mati, aku tidak mau mereka mengetahui karma yang sedang aku rasakan!" ucap Karim lemah.
"Tapi Tuan, anda...
"Maaf menyela, sebaiknya anda mendengarkan apa kata Tuan ini dulu. Jantungnya sedang bermasalah, jangan membuatnya merasa tertekan. Itu akan sangat berbahaya!" ucap Jack penuh penekanan.
Jack dan para perawat membawa Karim masuk ke ruang UGD. Di sana mereka segera memasangkan alat untuk membantu Karim bernafas. Jack pun segera memeriksa denyut jantung pria ini. Dahinya mengerut.
__ADS_1
'Apa yang terjadi pada orangtua ini? Tekanan jantungnya sangat lemah, apa dia sedang tertekan?'.
Keadaan Karim berangsur-angsur membaik setelah mendapat bantuan pernafasan. Dengan mata yang masih sembab, Karim meraih tangan dokter yang masih memeriksanya.
"Dokter...?".
Jack menoleh. Dia kemudian duduk di samping ranjang saat menyadari kalau pasiennya butuh teman bicara. Sementara para perawat pergi meninggalkan ruangan
"Ya Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?".
"Siapa namamu?" tanya Karim lirih.
"Anda bisa memanggil saya dokter Jack. Oh tidak, panggil Jack saja tanpa embel-embel dokter" jawab Jack melucu.
Karim tersenyum. Dia menatap lekat kearah dokter yang bernama Jack ini. Wajahnya tampan dan sikapnya sangat ramah.
"Tuan, maaf mungkin ini sedikit lancang. Saya tahu anda sedang dalam tekanan, karena itu terlihat jelas dari gejala yang timbul tadi. Tuan, anda sudah tidak muda lagi, di usia anda sekarang sangat rentan terkena serangan jantung. Mohon Tuan untuk tidak memendam masalah, itu bisa sangat beresiko untuk hidup anda!" ucap Jack mengingatkan.
"Jack, apa aku bisa mengatakan sesuatu padamu? Selama ini aku tidak bisa menceritakan masalah ini pada keluargaku, tapi sekarang aku sudah tidak tahan. Rasanya sangat menderita hidup dalam penyesalan seperti ini" tanya Karim dengan mata berkaca-kaca.
Alis Jack saling bertaut. Dia semakin yakin kalau orangtua ini mempunyai masalah yang cukup besar.
"Terima kasih Jack".
Jeda sebentar. Karim menarik nafas dalam-dalam sebelum menceritakan masalahnya.
"Kau tahu, orangtua ini adalah seorang pendosa yang tak terampuni. Dulu aku memiliki seorang menantu yang begitu baik, namanya Sandara. Tapi karena mataku di butakan oleh harta dan kasta, aku dan istriku memperlakukannya dengan buruk saat tahu kalau dia tidak memiliki latar belakang yang sama seperti kami. Kami menghinanya, mencacinya, bahkan juga melukai fisik beserta batinnya juga. Tapi dia tidak pernah mengeluh, tak pernah sekalipun dia mengadu pada putraku tentang perbuatan kami. Sampai dimana setelah aku mengucapkan sumpah untuk tidak menerima kehadiran anaknya di tengah-tengah keluarga kami, menantuku terjatuh dari tangga kemudian meninggal!".
Airmata Karim menetes. Jack yang mendengar cerita tersebut berusaha untuk menyalurkan ketenangan. Dengan penuh perhatian dia menggenggam tangan pasiennya.
"Jangan di teruskan jika itu terlalu menyakitkan, Tuan!".
"Tidak Jack. Harus ada orang yang tahu tentang rahasia yang selama ini aku sembunyikan" sahut Karim kekeh untuk tetap bicara. "Cucuku selamat, tapi aku dengan kejinya bersekongkol dengan dokter yang menangani Sandara untuk mengatakan pada semua orang kalau anaknya meninggal. Lalu aku dan istriku membuangnya ke sebuah panti asuhan yang berada di pinggiran kota. Karena terlalu membenci bayi itu, kami mengancam pemilik panti agar tidak memberinya kebahagiaan. Kami ingin bayi itu hidup menderita. Tapi Tuhan sepertinya menjawab sumpah yang pernah aku ucapkan. Putraku tidak bisa lagi memiliki anak setelah anak dan istrinya meninggal, dia impoten. Dan sekarang aku menyesal, sangat sangat menyesal. Aku ingin bertemu dengan cucuku untuk meminta maaf. Dan barusan, barusan aku bertemu dengan seorang gadis yang matanya sama persis seperti Sandara. Hanya saja aku merasa ragu kalau dia adalah cucuku karena penampilan mereka sangat berbeda. Cucuku hidup terlunta-lunta, sementara gadis itu sangat terawat. Aku merasa sangat tertekan, dan akhirnya harus terbaring di sini. Aku adalah seorang ayah dan kakek yang sangat kejam bukan? Bahkan aku rasa bumi pun akan menolak jasad seorang pria hina sepertiku!".
Tangan Jack terkepal kuat. Entah kenapa dia sangat tidak suka saat pria tua ini menyia-nyiakan cucunya sendiri. Jika mereka tidak sedang berada di rumah sakit, dia sangat ingin menghabisi orang ini. Ada semacam perasaan tidak rela saat mendengar cerita pilu si cucu yang tak di inginkan.
"Apa sekarang cucu anda sudah di temukan?" tanya Jack dingin.
__ADS_1
Karim menggeleng. Dia lalu menyeka airmatanya.
"Belum. Itu juga yang membuatku semakin tertekan. Eleanor-ku hilang entah kemana, aku bahkan tidak tahu dia masih hidup atau tidak!".
'Eleanor? Namanya seperti nama gadis kecilku, Elea'.
"Jack, aku tahu kau pasti mengutukku di dalam hati, tapi aku mohon tolong jangan biarkan siapapun tahu mengenai rahasia ini. Terlebih lagi putraku, aku belum siap menerima kebenciannya!" ucap Karim memohon.
Jack diam memikirkan.
"Jack...
"Anda tenang saja. Sesuai janji saya tadi, saya akan merahasiakan hal ini. Tapi Tuan, kapan anda akan mengakui semua dosa itu pada putra anda?" tanya Jack penasaran.
"Segera, setelah aku menemukan cucuku. Jack, saat waktu itu tiba, aku akan kembali mencarimu" jawab Karim sembari tersenyum kecut.
"Kenapa mencariku?".
"Karena kau adalah satu-satunya orang yang mengetahui dosa pria tua ini selain istriku. Kau tidak keberatan bukan?" tanya Karim.
Jack menggeleng.
"Tidak, Tuan. Saya akan dengan senang hati menunggu kedatangan anda. Semoga cucu anda lekas di temukan Tuan!".
"Semoga saja. Terima kasih banyak untuk waktunya, dokter Jack!".
Jack mengangguk. Setelah itu dia meminta orangtua ini untuk istirahat. Dia baru keluar dari sana setelah memastikan pasiennya terlelap.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
Jeng... Jeng... Jeng....
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...