Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Perang Dapur


__ADS_3

Elea meringis saat dia merasakan perih di bagian intimnya. Rasanya seperti ada yang mengganjal hingga membuatnya sedikit kesusahan saat berjalan.


"Apa Kak Iel meninggalkan sesuatu di dalam sana ya? Kenapa rasanya tidak nyaman sekali" gumam Elea sambil berpegangan di tembok saat kakinya sedikit gemetar.


Wajah Elea tertunduk saat dia merasakan hawa dingin dari arah bawah. Dia tersenyum kemudian menusuk-nusuk kepala Lan yang sedang menjilati kakinya. "Lan, kau lapar ya? Tapi kakiku ini kecil, kau tidak akan kenyang jika memakannya."


Lan menggeram. Dia lalu menggesek-gesekkan kepala di kaki majikan barunya.


Rrrgghhhhhh


"Sayang sekali kita tidak bisa saling bicara. Padahal aku sangat ingin bercerita denganmu" ucap Elea.


Sekarang sudah jam lima sore. Elea merasa bosan karena saat ini dia sendirian. Sebenarnya tadi Ibu Liona mengajaknya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk bibinya Gabrielle yang sedang di rawat. Tapi karena tubuhnya yang masih sangat lelah, dia akhirnya menolak ajakan itu dan lebih memilih untuk beristirahat di dalam kamar setelah makan siang.


Bingung tidak tahu apa yang ingin dia lakukan, Elea memutuskan untuk pergi ke dapur. Dengan senyum khasnya, dia menyapa para pelayan yang sedang sibuk menyusun sayuran di dalam kulkas.


"Halo kakak-kakak."


Para pelayan menoleh. Mereka segera membungkuk hormat kearah Elea tanpa berani menatap wajahnya. Membuat Elea merasa sedih karena berprasangka kalau pelayan di sini tidak ada yang mau berteman dengannya.


"Kakak, aku ini buruk sekali ya?."


Seperti di masa lalu, semua orang akan selalu mengacuhkannya setiap kali Elea datang menimbrung. Keberadaannya seperti tak di anggap, Elea layaknya makhluk tak kasat mata di hadapan semua orang. Membuat Elea seringkali merasa prihatin akan nasibnya sendiri.


"Maksud Nyonya apa?" tanya salah seorang pelayan masih dengan kepala tertunduk.


"Aku pasti sangat buruk kan makanya kalian semua tidak ada yang mau berteman denganku. Kenapa Kak? Aku tidak jahat kok, aku juga tidak akan memakan kalian" ucap Elea sambil berjalan mendekat kearah pelayan.


Para pelayan terlihat kebingungan saat Elea memaksa untuk tetap bergabung dengan mereka. Wajah salah satu di antara mereka langsung memucat begitu Elea dengan santai bergelayut di lengannya.


"Lihat, aku tidak makan orang kan?."


"Nyo,Nyonya Elea, tolong jangan bersikap seperti ini. Kami bisa di pecat jika memiliki kontak terlalu dekat dengan anda" ucap pelayan itu ketakutan.


Kening Elea mengerut. Dia bingung kenapa pelayan ini harus di pecat jika berdekatan dengannya. Padahal mereka berdua kan tidak berbuat jahat, aneh sekali.


"Kenapa di pecat, Kak? Kita kan hanya berbincang saja, tidak melakukan sesuatu yang salah. Memangnya siapa yang ingin memecat Kakak?" tanya Elea penasaran.

__ADS_1


Para pelayan saling melirik. Mereka di buat tidak bisa berkata-kata oleh nyonya kecil ini.


"Oh, kalian sedang menyusun sayur ya? Kalau begitu bagaimana kalau kita bereskan pekerjaan ini bersama-sama. Boleh kan?."


Seandainya saja para pelayan di izinkan untuk bicara macam-macam, ingin sekali mereka memberitahu gadis kecil yang sedang sibuk membongkar isi belanjaan sambil terus berceloteh kalau, mereka tidak berani menentang perintah nyonya pemilik rumah. Bukan apa, semua orang tahu benar kalau Tuan Muda Gabrielle memiliki OCD akut. Bahkan orang yang melayaninya saja itu tidak boleh sembarangan. Jadi mereka cukup tahu diri untuk menjaga jarak dengan istri Tuan Muda mereka.


"Kakak ayo, kenapa kalian malah kebingungan seperti itu? Tenang saja, nanti kalau kalian semua di usir aku juga akan ikut pergi" ucap Elea sambil terus membongkar sayuran di dalam plastik. "Waaaahhhh ada udang, besar sekali."


Para pelayan akhirnya tertawa mendengar perkataan lucu yang terlontar dari mulut Elea. Mereka sungguh tidak menyangka kalau istri kecil Tuan Muda mereka begitu ramah dan sangat menggemaskan. Mereka yang awalnya takut-takut kini malah langsung akrab seolah tak berjarak. Elea sangat pandai menarik hati semua orang dengan tingkah polosnya. Terkadang author bingung, kenapa orang-orang itu tega membully-nya jika Elea saja se-humble ini terhadap siapapun.


"Kak, aku ingin belajar memasak. Mau mengajariku tidak? Soalnya Kak Levi bilang, menjadi seorang istri itu harus pandai melayani suami. Emmm, tapi aku tidak tahu makanan kesukaannya Kak Iel itu apa. Kalian tahu tidak?" tanya Elea sembari menyeka keringat setelah semua pekerjaan beres.


Satu pelayan segera berlari mengambilkan air minum dan juga tisu untuk Elea. Mereka cukup khawatir kalau nyonya kecil ini akan kelelahan.


"Tuan Muda sangat menyukai masakan udang, Nyonya. Beliau tidak terlalu suka dengan sayuran hijau."


"Terima kasih, Kak" ucap Elea sambil menyerahkan gelas pada pelayan. " Oh, jadi Kak Iel tidak suka makan sayuran ya? Tapi kenapa tubuhnya sehat sekali? Semalam saja tenaganya sangat kuat, Kak. Aku sampai kelelahan melayaninya" ucap Elea heran.


Wajah para pelayan memerah begitu mendengar perkataan nyonya mereka. Mereka tentu saja tahu apa yang di maksud dengan kata melayani.


"Ekhm Nyonya, bagaimana kalau kita belajar memasak sekarang? Sebentar lagi semua orang akan kembali ke rumah. Nyonya bisa menyajikan masakan itu untuk makan malam" ucap pelayan tak ingin membiarkan nyonya nya makin terjerumus dengan kepolosannya.


Tak lama kemudian, perang dapur segera di mulai. Elea yang begitu antusias ingin memasak tanpa merasa kesulitan segera mengeluarkan sayuran beserta udang yang tadi di susunnya di dalam kulkas. Sementara para pelayan memperhatikannya sambil memotong bahan-bahan untuk memasak.


"Nyonya, bukan seperti itu caranya!" pekik pelayan kaget melihat nyonya mereka ingin menceburkan udang ke dalam minyak panas tanpa mencuci dan mengupas kulitnya terlebih dahulu.


Elea yang terkejut mendengar teriakan pelayan tanpa sengaja memegang pinggiran kuali. Sontak hal itu membuat udang yang di tangannya jatuh berhamburan di lantai.


"Aw aw panas" ucap Elea sambil meniup tangannya yang memerah.


"Ya Tuhan Nyonya!" teriak pelayan syok.


"Tidak apa-apa, Kak. Ini hanya akan sakit sebentar, jangan panik!."


'Bagaimana kami tidak panik, Nyonya. Nyawa kami jadi taruhannya jika sampai terjadi sesuatu pada anda. Ya Tuhan, kenapa gadis kecil ini terlihat biasa saja. Apa dia tidak merasa sakit setelah memegang kuali panas itu? Tangannya bahkan melepuh.'


"Hei, mana obatnya? Cepatlah!" teriak pelayan yang sedang meniup luka melepuh di tangan Elea.

__ADS_1


Tak lama kemudian satu orang pelayan lari tergopoh-gopoh sambil membawa obat di tangannya. Bukannya menjerit kesakitan, Elea malah tersenyum melihat betapa orang-orang ini begitu perhatian padanya. Dulu saat dia bekerja di restoran, pernah sekali tangan Elea tersiram air panas. Dia bahkan sampai menangis karena saking sakitnya. Tapi, tidak ada satupun orang di sana yang peduli dengan penderitaannya. Mereka malah mengolok-olok Elea sebagai gadis lemah yang bisanya hanya menangis saja. Berbeda dengan sekarang, para pelayan ini terlihat jauh lebih menderita di bandingkan dirinya sendiri.


"Terima kasih banyak, kakak-kakak. Kalian baik sekali!" ucap Elea terharu.


Para pelayan terpaku. Mereka cukup kaget mendengar ucapan terima kasih tersebut.


Saat semua orang tengah berada di dapur, Lan datang menghampiri. Dia segera mendekat kearah majikan barunya kemudian menggeram sambil menggesekkan kepala. Membuat para pelayan di sana tercengang kaget melihat betapa Lan menjadi sangat manja pada nyonya kecil mereka.


"Kenapa kalian melihat Lan sampai seperti itu?" tanya Elea heran.


"Itu Nyonya, selama ini Lan sangat agresif setiap kali bertemu dengan orang asing. Kami hanya merasa heran karena Lan sama sekali tidak menyerang Nyonya, malah asik bermanja-manja seperti orang yang sudah lama dia kenal."


Elea tersenyum. Dia lalu mengelus kepala Lan menggunakan satu tangannya yang tidak terluka.


"Lan sangat manis, bulunya juga sangat lembut. Aku suka."


"Nyonya tidak takut padanya?."


"Tidak, tapi aku lebih takut pada manusia" jawab Elea.


"Kenapa begitu, Nyonya?" tanya pelayan ingin tahu.


"Karena terkadang manusia memiliki sikap yang jauh lebih mengerikan di bandingkan dengan binatang buas. Manusia menyakiti manusia lain demi memenuhi nafsu belaka, sementara binatang buas, mereka menyerang hanya di saat merasa terancam dan kelaparan. Mungkin maksud mereka sama, tapi dengan tujuan yang berbeda."


Para pelayan takjub mendengar ucapan nyonya mereka. Sangat logis dan mudah di pahami.


Akhirnya, sore itu berakhir dengan Elea yang hanya duduk sambil melihat para pelayan memasak. Dia tidak di izinkan lagi untuk berada dekat dengan api setelah insiden udang mentah itu. Dan Lan, dengan setianya terus berada di bawah kaki Elea. Entahlah, binatang buas itu terlihat begitu menyayangi gadis kecil yang tak memiliki rasa takut padanya.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2