
Dengan perlahan-lahan, Yura membuka pintu ruang kerja suaminya. Ini sudah lewat tengah malam, tapi suaminya itu belum juga masuk ke dalam kamar. Karena penasaran, Yura akhirnya memutuskan untuk datang menghampirinya.
"Bryan, ini sudah larut malam. Kenapa kau belum tidur?" tanya Yura pelan.
Bryan yang saat itu tengah memandangi foto almarhum istrinya diam tak menjawab. Dia bahkan enggan untuk sekedar menoleh kearah istrinya.
"Tidurlah, kau perlu istirahat setelah seharian berada di kantor!" ucap Yura.
"Jangan menggangguku. Kalau kau lelah, tidur saja dulu. Aku masih ingin di sini" sahut Bryan dingin.
Yura meremas ujung bajunya saat dia mendengar respon dingin suaminya. Hatinya sakit, selalu seperti ini setiap kali dia ingin menunjukkan perhatian untuknya.
"Kenapa?".
Kali ini Bryan menoleh. Dia menatap datar istrinya yang sedang berdiri dengan wajah sedih.
"Kenapa kau selalu bersikap dingin padaku, Bryan? Kesalahan apa yang sudah aku perbuat padamu?" tanya Yura sembari menahan sesak di dada.
"Kau sebenarnya tidak salah. Yang salah adalah kehadiranmu di rumah ini. Kau sudah merebut status Sandara sebagai Nyonya Young, kau berusaha menggantikan posisinya di hatiku!" bentak Bryan emosi.
Tes
Airmata Yura menetes membasahi pipi. Selama ini dia begitu tulus mencintai Bryan meski tak pernah di anggap. Dia bahkan tidak keberatan dengan kelakuan suaminya yang masih menyimpan foto-foto bersama mendiang istrinya dulu. Tapi Bryan selalu saja menuduhnya ingin merebut posisi Sandara di rumah ini.
"Bryan, tidak pernah sekalipun aku berniat menggantikan posisi Sandara di hatimu. Tidak apa-apa kalau kau belum bisa mencintaiku, aku tidak masalah. Tapi tolong jangan menganggapku serendah ini. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!" ucap Yura terisak pelan.
"Belum bisa mencintaimu? Yura, sepertinya kau salah beranggapan selama ini. Aku bukan belum bisa mencintaimu, tapi aku tidak akan pernah mencintaimu. Selamanya!" tandas Bryan dengan kejamnya.
"Tapi kenapa Bry?Apa salahku selama ini? Apa??" tanya Yura dengan berderai airmata.
Emosi Bryan tersulut.
"Benar kau ingin tahu apa kesalahanmu?".
Mendengar nada suara Bryan yang begitu tenang, tiba-tiba saja Yura merasa takut. Dia takut Bryan akan mengeluarkan kata-kata yang paling tidak ingin dia dengar. Perceraian.
"Kesalahanmu adalah menghasut kedua orangtuaku agar aku bersedia menikah denganmu. Itu kesalahanmu Yura!" teriak Bryan murka.
__ADS_1
Tubuh Yura membeku. Dia tidak menyangka kalau Bryan mengetahui apa yang menjadi alasannya bisa masuk ke rumah ini. Yura memang sempat berbicara pada ibu mertuanya kalau dia sangat mencintai Bryan. Dia berani melakukan hal itu setelah tahu kalau Sandara telah meninggal. Dia egois ingin memiliki Bryan meski dia tahu kalau pria itu tidak mencintainya.
"Bryan, aku, aku bisa jelaskan padamu. Semuanya tidak seperti yang kau pikir!".
Bryan tersenyum sinis. Dia lalu menatap foto istrinya dengan mata sendu.
"Kau tahu aku tidak bisa mencintai wanita lain selain Sandara. Tapi kau tetap memaksa, Yura. Jangan salahkan aku kalau hidupmu menderita, itu sudah jadi keputusan yang kau ambil sendiri" ucap Bryan. "Yura.... Kalau kau merasa sakit menjadi istriku, pergilah, aku tidak akan melarangmu. Carilah pria yang benar-benar bisa menerimamu. Kau wanita baik, jadi tidak perlu cemas akan kesepian!".
Yura jatuh terduduk di atas lantai. Dia menggelengkan kepala dengan suara tangis yang semakin kencang.
"Tolong jangan bicara seperti itu padaku, Bryan. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, aku tidak mau kita berpisah. Aku tidak mau!" jerit Yura histeris.
Bryan tak menanggapi tangisan Yura. Sebenarnya dia tidak tega melihatnya seperti ini, tapi dia harus melakukannya supaya Yura tidak berharap lebih. Bryan tahu kalau niat Yura sebenarnya tidak jahat, dia hanya terlalu mencintainya saja. Tapi sayangnya hati Bryan sudah terkunci rapat dengan segel nama Sandara. Dia tidak bisa menerima kehadiran wanita lain.
"Bryan, maafkan aku ya. Aku,aku tidak akan mengeluhkan sifatmu lagi. Tapi jangan minta aku untuk pergi. Tolong maafkan aku!" bujuk Yura penuh harap.
"Yura?".
Yura segera berdiri kemudian mendekat kearah suaminya. Tak lupa dia mengusap air matanya terlebih dahulu.
"Iya Bryan, ada apa?" tanya Yura was-was.
Hati Yura serasa di sayat-sayat mendengar perkataan lirih suaminya. Dunianya seperti hancur saat Bryan kekeh memintanya untuk pergi. Seandainya saja bisa, Yura pasti akan meninggalkannya. Tapi sayangnya hati dan langkah Yura ingin tetap berada di rumah ini. Tak peduli meski dia harus berkubang dalam penderitaan yang entah kapan baru akan berakhir.
"Bryan, aku menerima semua kekuranganmu. Aku tidak keberatan meski tidak mendapatkan hak-ku sebagai seorang istri. Asalkan bisa terus berada di dekatmu, itu sudah lebih dari cukup!".
Bryan terdiam. Sudah ratusan kali dia meminta Yura untuk pergi. Namun wanita ini tetap pada pendiriannya untuk bertahan. Terkadang Bryan merasa kasihan padanya, dia tidak ingin Yura berada dalam kesepian seperti apa yang dia rasakan selama ini.
"Maafkan aku Yura. Terserah apa maumu, yang jelas jangan pernah berharap apapun padaku. Aku hanya mencintai Sandara, sampai mati!" ucap Bryan kemudian pergi meninggalkan Yura seorang diri.
Tatapan mata Yura kosong. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana membuat suaminya percaya. Hati dan perasaannya merasa lelah, tapi tetap masih ingin bertahan mencintainya.
"Ibu..... ".
Yura menoleh. Dia tersenyum kecut melihat putrinya yang sedang berjalan mendekat.
"Sayang, kenapa kau belum tidur?".
__ADS_1
Greeeeeppppp
"Menyandarlah jika Ibu merasa lelah. Aku tahu Ibu sangat terluka dengan perkataan Ayah tadi!" ucap Patricia sembari mengusap punggung ibunya sayang.
Yura diam membisu. Sudah tidak mengejutkan lagi kalau putrinya mengetahui pembicaraannya dengan Bryan.
"Ibu, ayo kita pergi saja dari sini. Aku tidak tega melihat Ibu terus di sakiti oleh Ayah. Cinta yang Ibu miliki tidak membawa kebahagiaan, tapi malah sebaliknya. Kita pergi saja ya Bu" bujuk Patricia sedih.
"Patricia, apa kau pernah jatuh cinta?" tanya Yura.
"Tidak, Bu. Tapi hari ini aku tiba-tiba merasa nyaman berada di dekat seseorang. Apa itu bisa di artikan sedang jatuh cinta?".
Yura tersenyum. Dia menatap wajah putrinya dalam.
"Rasa nyaman adalah awal dari sebuah rasa. Itu yang Ibu rasakan saat pertama kali berbicara dengan ayahmu dulu. Patricia, Ibu tidak bisa meninggalkan ayahmu sendirian. Cinta Ibu terlalu dalam!".
"Tapi Bu, untuk apa mencintai orang yang terus menerus menorehkan luka di dalam hati. Tidakkah itu hanyalah sebuah kebodohan?" tanya Patricia.
"Terkadang cinta itu senang melihat orang yang kita cintai bahagia meski harus bersama cinta yang lain. Dan itu yang sedang Ibu lakukan sekarang. Mencintai ayahmu dengan tulus meski hatinya telah terkunci untuk wanita lain!" jawab Yura.
"Omong kosong apa itu Bu. Cinta mana yang memiliki peraturan seperti itu!" kesal Patricia.
Yura tersenyum. Dia meraih tangan putrinya kemudian mengajaknya keluar.
"Kau akan merasakannya sendiri jika cinta itu datang. Dan Ibu harap cintamu berakhir bahagia. Tidak menyedihkan seperti apa yang Ibu alami!".
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
DEFINISI CINTA MENURUT KALIAN ITU APASIH GENGSS??? KOMEN DI BAWAH YA..
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1
...🌻 WA: 0857-5844-6308...