
Tok, tok, tok
"Selamat siang, Ayah!."
Yura yang saat itu tengah menyuapi Bryan segera menoleh kearah pintu begitu mendengar suara putrinya. Keningnya mengerut heran melihat Patricia yang muncul dengan senyum manis di bibirnya.
'Ada apa ini? Kenapa aku merasa kalau kedatangan Patricia bukan hal yang baik? Apa yang sedang dia rencanakan? Dia tidak mungkin mencelakai Bryan kan?.'
"Oh, Ibu juga ada di sini ternyata. Selamat siang Ibuku sayang" sapa Patricia kemudian mencium kedua pipi ibunya.
"Cia, kau tidak pergi bekerja?" tanya Yura penasaran.
"Aku mana mungkin tidak bekerja, Bu. Kebetulan sekali setelah ini ada meeting tak jauh dari rumah sakit ini. Jadi ya sekalian saja aku menjenguk Ayah karena dari awal Ayah di rawat aku belum datang menjenguknya" jawab Patricia. Dia lalu melihat kearah ayahnya. "Ayah, bagaimana kabar Ayah? Apa sudah lebih baik? Bagaimana dengan orang yang mencelakai Ayah, apa pihak kepolisian sudah berhasil meringkusnya?."
Di cecar dengan beberapa pertanyaan oleh putrinya yang selama ini tak pernah dia anggap, entah kenapa Bryan merasa bersalah. Mungkin apa yang terjadi pada Eleanor juga salah satu imbas dari sikapnya yang selalu tak pernah peduli pada kebahagiaan istri dan anak angkatnya. Tak ingin kesedihannya di ketahui oleh yang lain, Bryan segera meminta Patricia untuk mendekat.
"Patricia, kemarilah Nak!."
Patricia tertegun melihat cara ayahnya memanggil. Suara pria ini terdengar begitu lembut di telinganya. Sambil tersenyum, dia kemudiansegera duduk di samping ayahnya kemudian menatapnya bingung.
"Ada apa Ayah?" tanya Patricia penasaran.
Sebelum bicara, Bryan menarik nafas dalam-dalam kemudian menggenggam tangan putri angkatnya dengan erat. "Ayah ingin minta maaf atas segala kesalahan yang sudah Ayah perbuat selama ini padamu, Cia. Maafkan Ayah yang selalu mengacuhkanmu, menganggap seolah kau dan Ibumu tidak ada. Ayah menyesal Nak!."
Tubuh Patricia menegang mendengar permintaan maaf dari ayahnya. Dia tidak percaya kalau pria yang ingin dia singkirkan bisa sadar di detik-detik terakhirnya. Namun perasaan kaget itu hanya sekilas karena Patricia kembali memantapkan hatinya untuk tetap menyingkirkan Eleanor kemudian merebut seluruh harta kekayaan milik Keluarga Young. Hatinya sudah terlalu sakit dengan sikap ayahnya selama ini. Di tambah lagi sekarang ibunya sudah berubah, tak lagi memberinya dukungan setelah mendapatkan cinta dari ayahnya.
"Patricia, kau mau kan memaafkan kesalahan Ayah? " tanya Bryan lagi.
"Ayah, apa yang membuat Ayah tiba-tiba meminta maaf padaku? Bukankah selama ini Ayah sangat tidak menyukai keberadaanku di rumah?" tanya Patricia curiga.
Bukan Patricia namanya jika dia langsung mempercayai permintaan maaf ayahnya. Dia yakin sekali pasti ada sesuatu hal yang menjadi pemicu pria ini bersedia melemah di hadapannya, bahkan pada ibunya juga. Saat sedang menantikan jawaban ayahnya, tiba-tiba saja Patricia tersentak saat menyadari sesuatu. Eleanor, ya pasti dia alasan ayahnya melakukan ini semua.
__ADS_1
'Jangan-jangan Ayah sudah menemukan keberadaan Eleanor? Makanya dia bersedia dengan sukarela menahan egonya untuk meminta maaf. Aku harus menyelidikinya sekarang juga. Gadis sialan itu tidak boleh sampai masuk ke rumah Keluarga Young sebelum aku mengambil habis seluruh harta kekayaan mereka!.'
"Ayah tahu perbuatan Ayah memang sudah sangat keterlaluan, Cia. Ayah menyesal. Dan satu-satunya alasan kenapa Ayah meminta maaf pada kalian adalah hanya karena ingin membuka lembaran baru bersama kalian" jawab Bryan beralasan. Dia tidak mungkin menyebutkan alasan sebenarnya jika dia melakukan hal ini demi Eleanor. Bryan ingin istri dan anaknya bersedia menerima kehadiran putri kandungnya kelak.
"Sungguh hanya karena itu, Ayah? Bukan karena Ayah ingin aku menerima Eleanor saat dia kembali ke rumah?" cecar Patricia lagi dengan wajah sendu. "Ayah, aku ini hanya putri angkatmu. Aku sama sekali tidak ada hak apapun di rumah kalian. Jadi Ayah tidak perlu melakukan ini semua hanya karena takut aku tidak bisa menerima Eleanor. Aku sadar siapa aku, Ayah!."
Tangan Yura saling meremas kuat. Entah kenapa dia menjadi sangat takut dengan sikap polos yang sedang di perlihatkan oleh Patricia. Putrinya sekarang terlihat seperti monster yang siap membunuh siapapun orang yang ingin menghalangi jalannya. Yura sangat ingin menghentikannya, tapi dia sendiri ketakutan karena pernah menyetujui keinginan Patricia yang ingin melenyapkan Eleanor.
"Patricia, Ayah tidak memiliki perasaan seperti itu terhadapmu. Sekalipun kau hanya putri angkat, Ayah akan tetap memperlakukanmu sama seperti Eleanor saat dia kembali nanti. Ayah akan benar-benar menyayangi kalian berdua secara adil. Ayah janji Nak!."
Bryan gundah. Dia tidak menyangka kalau Patricia bisa menemukan alasan kenapa dia melakukan hal ini. Jujur saja, ada sebersit kekhawatiran di benaknya mengingat kalau Patricia bukanlah gadis bodoh. Bryan bisa melihat dengan jelas ada kemarahan di matanya saat sedang bicara tadi.
"Ayah, klien sudah menungguku. Aku pamit dulu!" ucap Patricia acuh seraya melihat jam yang melingkar di tangannya. "Bu, aku pamit dulu ya. Oh ya, dimana Kakek? Bukankah Kakek datang kemari bersama Ibu?."
"Ka,Kakekmu sedang berjalan-jalan di taman rumah sakit, Cia" jawab Yura gugup. "Sayang, biar Ibu mengantarmu keluar ya. Sekalian ada sesuatu yang ingin Ibu bicarakan denganmu."
"Baiklah Bu, ayo!" jawab Patricia sembari menggandeng tangan ibunya.
"Apa yang ingin Ibu bicarakan? Kalau itu menyangkut Eleanor maka jawabannya aku akan terus maju meksipun Ibu tak lagi mendukungku. Tapi jika itu mengenai hal lain, mungkin aku masih mau untuk mendengarkan!."
Perasaan Yura serasa hancur di perlakukan seperti ini oleh putrinya yang begitu dia sayangi. Hampir saja airmatanya menetes jika Patricia tidak berdecih kesal di hadapannya.
"Patricia, Ibu, Ibu....
"Cepatlah Bu. Aku sedang di tunggu oleh klien-ku" sergah Patricia tak sabar.
"Cia, Ibu mohon hentikan semua rencanamu. Kau sudah dengar sendiri kan kalau Ayahmu akan bersikap adil pada kalian berdua nanti? Tolong jangan membahayakan keselamatanmu sendiri Cia. Orang suruhan Kakekmu sekarang sedang memburu orang-orang yang kau sebar untuk mencari Eleanor. Ibu tidak mau kau masuk penjara Nak!" ucap Yura menghiba.
Patricia sedikit kaget mendengar aduan ibunya. Namun sedetik kemudian dia menyeringai. Sekalipun tak lagi memberi dukungan, rasa kasihan dari ibunya ternyata masih bisa memberikan celah bagi Patricia untuk menghindari bahaya dari kakeknya. Dengan senyum liciknya, dia melenggang pergi dari sana meninggalkan ibunya yang sedang berdiri kebingungan.
"Patricia, tolong dengarkan apa yang Ibu katakan tadi Nak!" teriak Yura frustasi.
__ADS_1
Di abaikan begitu saja oleh putrinya membuat Yura benar-benar putus ada. Dia berjongkok sembari menutupi wajahnya dengan tangan. Takut, sudah pasti. Yura takut putrinya tertangkap kemudian di jebloskan ke penjara, tapi dia jauh lebih takut kalau Bryan dan ayah mertuanya sampai tahu jika dirinya pernah bersekongkol dengan Patricia untuk mencelakai Eleanor.
Pukkk
"Yura, kau kenapa?."
Karim dan asistennya yang baru saja kembali dari taman rumah sakit terkejut melihat Yura yang sedang duduk berjongkok di depan pintu kamar rawat putranya. Khawatir terjadi sesuatu, Karim bergegas menghampirinya dan bertanya ada apa.
"A,Ayah.. Ayah sudah kembali?" sahut Yura kelabakan.
Sudah tidak bisa di katakan lagi betapa Yura sangat panik sekarang. Jantungnya berdebar kuat, menerka apakah ayah mertuanya mendengar pembicaraannya dengan Patricia atau tidak. Jika iya, maka tamatlah riwayatnya.
"Iya, baru saja. Apa yang kau lakukan di sini, Yura? Bryan mengusirmu keluar?."
"Oh, tidak Ayah. Tadi, tadi Patricia datang kemari, dan dia sedikit merajuk setelah berbicara dengan Bryan. Aku kemudian keluar untuk mengejarnya, tapi dia tidak mau mendengar apapun lagi. Cia salah paham dengan ucapan Bryan, Ayah" jawab Yura berbohong.
Karim terdiam. Dia menghela nafas, paham dengan apa yang di maksud oleh menantunya. "Ya sudah biarkan saja dulu. Mungkin Patricia perlu waktu untuk menerima kehadiran Eleanor. Selama ini kan hanya dia yang menjadi kesayangan kita semua. Wajar kalau sekarang dia kecewa dan merasa di abaikan. Lebih baik kita biarkan dia memenangkan diri dulu. Lagipula Eleanor juga masih belum di temukan. Siapa tahu dengan berjalannya waktu Cia bisa menerima kehadiran adiknya!."
Yura hanya bisa mengangguk pasrah. Dia hanya bisa berdoa dalam hati agar putrinya benar-benar mau berdamai dengan masalah ini. Yura kemudian mengikuti ayah mertuanya masuk ke dalam ruangan Bryan. Sedikit mengabaikan kegelisahan hatinya saat Bryan memintanya untuk duduk bersebelahan.
'Biarlah untuk sesaat aku egois pada kebahagiaan diriku sendiri. Maafkan aku Bryan, aku lakukan ini semua karena tidak mau kehilanganmu. Maafkan aku pernah berencana menghilangkan nyawa anakmu dan Sandara. Maafkan aku!.'
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1
...🌻 WA: 0857-5844-6308...