
Clarissa dengan penuh perhatian menyuapi cucunya dengan bubur hangat yang dia masak. Sesekali dia nampak tersenyum ketika sang cucunya terus bergumam jika bubur yang dia makan sangat lezat.
"Hum, biasanya bubur kan terasa hambar. Tapi kenapa bubur yang aku makan rasanya lezat sekali ya?" celetuk Elea.
"Itu karena kau sedang dalam kondisi hati yang baik, sayang. Makanya bubur ini bisa terasa lezat di lidahmu" sahut Liona yang masih setia menunggui menantunya.
"Benarkah?.
Sambil menikmati bubur suapan dari neneknya, Elea terus melihat kearah pintu. Sejak pagi ayah dan ibunya belum juga datang. Padahal Elea ingin sekali melihat wajah keduanya.
"Ada apa, sayang? Apa yang sedang kau tunggu?" tanya Clarissa.
"Itu Grandma, Ayah dan Ibu kenapa belum datang kemari ya? Mereka tidak tersesat di jalan kan?.
Liona dan Clarissa tertawa mendengar hal tersebut. Bagaimana mungkin orangtua Elea bisa tersesat jika saat ini saja mereka selalu di kawal oleh anak buahnya Gabrielle. Sebenarnya baik Clarissa maupun Liona, mereka juga teramat sangat penasaran kenapa Bryan dan Yura tak kunjung muncul di rumah sakit. Tapi mereka menahan diri untuk tidak mencari tahu karena berpikir mungkin saja mereka sedang ada urusan.
Di saat semua orang sedang sibuk memikirkan alasan tentang hal tersebut, pintu ruangan terbuka. Akhirnya yang di tunggu-tunggu oleh Elea datang juga. Bryan muncul bersama Yura sambil membawa bunga dan juga sekeranjang buah segar di tangan mereka. Namun mata sembab Yura membuat ketiga orang yang ada di sana mengerutkan kening, bingung.
"Halo sayang, bagaimana keadaanmu, hm? Maaf ya Ayah dan Ibu datang terlambat. Tadi di rumah ada sedikit masalah" ucap Bryan sambil meletakkan barang bawaannya ke atas meja. "Halo Mama Clarissa, halo Nyonya Liona!.
Clarissa dan Liona mengangguk pelan saat Bryan menyapa mereka. Ekor mata mereka kemudian melirik kearah Yura yang hanya diam saja seperti orang linglung.
"Keadaanku sudah jauh lebih baik, Ayah!" sahut Elea. "Ibu, ada apa? Kenapa kau terlihat cemas sekali?.
Yura terhenyak kaget ketika mendengar pertanyaan Elea. Cepat-cepat dia memfokuskan diri, tak lupa juga dia menyapa ibu mertuanya dan juga ibu mertua putrinya.
"Tidak ada apa-apa sayang. Ibu hanya sedikit kelelahan saja" sahut Yura beralasan.
Timbul niat jahil di benak Elea saat dia mendengar jawaban ibunya. Setelah menelan bubur yang ada di dalam mulutnya, Elea segera melancarkan aksi untuk menggoda sang ibu.
"Ekhmm, sepertinya semalam ada yang baru saja belah duren!.
Wajah semua orang yang ada di sana mengerut bingung saat mendengar ucapan Elea. Tapi Liona yang bisa mendengar isi pikirannya tampak menghela nafas panjang. Belum lama menantunya tersadar, gadis ini sudah kembali membuat ulah. Dalam hati Liona membatin, bisa-bisanya Elea menggoda orangtuanya dengan kata-kata sevulgar itu. Sungguh sangat menggelitik hati.
"Belah duren? Maksudnya makan durian?" tanya Bryan yang tak paham.
__ADS_1
"Ah Ayah pura-pura tidak tahu" jawab Elea sambil mengerlingkan mata kearah ibunya.
Bryan dan Yura saling berpandangan. Lama mereka melakukan hal itu hingga akhirnya Yura menyadarinya terlebih dahulu. Bryan menjadi semakin bingung melihat wajah istrinya yang sudah memerah seperti kepiting rebus, bahkan istrinya itu sampai beralih melihat kearah lain.
'Ini sebenarnya ada apa sih? Kenapa juga Yura malah terlihat seperti malu-malu? Memangnya apa hubungannya dengan belah duren? Aneh sekali!.
"Hehehhe, Ayah masih bingung ya?" ledek Elea.
"Sayang, jangan menggoda Ayah dan Ibumu seperti itu. Kasihan mereka!" tegur Clarissa yang juga telah memahami arti dari belah duren.
"Tidak apa-apa, Grandma. Ini adalah hiburan yang sangat menyenangkan selain membuat Kak Levi kebakaran jenggot" sahut Elea kemudian tertawa.
Jangan di tanya bagaimana kondisi Yura saat ini. Entahlah, dia juga tak habis pikir kenapa putrinya bisa memiliki istilah aneh seperti itu. Belah duren, ya Tuhan. Dia dan Bryan sama sekali belum pernah melakukannya. Baik itu di saat hubungan mereka sudah membaik maupun belum. Meski Yura sangat menginginkannya, dia tak pernah berani menuntut haknya pada Bryan. Terlalu memalukan bagi Yura jika sampai meminta hal tersebut.
"Eleanor, sebenarnya belah duren itu apa? Ayah sungguh tidak mengerti apa maksudnya?" tanya Bryan sambil memperhatikan istrinya yang masih terlihat kikuk.
"Belah duren itu....
"Em Bry, bisakah kau mengambilkan buah untukku? Aku-aku ingin mengupasnya untuk Eleanor!" sela Yura dengan wajah panik.
Elea, Clarissa dan Liona tertawa lucu melihat reaksi Yura yang ketakutan saat Elea hendak menjelaskan apa itu belah duren pada ayahnya. Clarissa yang gemas dengan lembut mengelus tangan cucunya sambil menggelengkan kepala, berharap kalau cucunya yang usil ini berhenti membuat ibunya merasa malu.
"Eleanor!" potong Yura sambil menggeleng pelan.
"Hei, kalian ini sebenarnya sedang memainkan apa!" tegur Bryan kebingungan. "Eleanor, ayo cepat beritahu Ayah apa itu belah duren. Ayah sudah hampir mati penasaran gara-gara hal itu!.
"Belah duren itu membuat adonan, Ayah. Anak-anak!" celetuk Elea yang sukses membut ibunya memekik kaget.
Untuk beberapa saat Bryan terdiam heran. Namun setelahnya dia tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaaa, astaga sayang, Ayah pikir belah duren itu apa. Rupanya itu!.
"Sekarang Ayah sudah tahu kan?" tanya Elea sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
Bryan mengangguk-angguk sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri karena terlalu lama tertawa. Pantas saja Yura terlihat panik, rupanya karena ini menyinggung tentang aktifitas ranjang mereka. Setelah berpikir seperti itu Bryan langsung tersentak kaget. Selama ini, tak pernah sekalipun Bryan memberikan nafkah batin pada istrinya yang sangat sabar itu. Ada sesal di benak Bryan ketika dia melihat Yura yang terdiam sambil menundukkan kepala. Bibirnya tersenyum getir.
__ADS_1
'Ya Tuhan, suami macam apa aku ini. Aku sudah menelantarkan istriku sendiri selama bertahun-tahun lamanya. Tolong ampuni aku, Tuhan. Bantu aku untuk menjadi suami yang baik bagi Yura!.
Liona tersenyum kecil. Dia yakin sekali kalau Eleanor memang sengaja menyinggung hal ini karena tahu kalau ibunya belum mendapat hak sebagai seorang istri. Sungguh, menantunya sangat pandai memojokkan seseorang, tak terkecuali ayahnya sendiri.
"Ekhm, karena sekarang Ayah sudah tahu, Ayah akan bertanya padamu" ucap Bryan sambil terus melirik kearah istrinya. "Apa kau menginginkan seorang adik?.
Blusssshhh
Wajah Yura seperti terbakar api begitu Bryan melempar pertanyaan pada putri mereka. Tubuhnya mendadak kaku, tidak menyangka kalau suaminya akan mengucapkan kata-kata seperti itu di hadapan semua orang.
"Tentu saja aku menginginkan seorang adik, Ayah. Oh ya, ngomong-ngomong Patricia kemana? Dia tidak ikut datang kemari ya?" tanya Elea yang baru menyadari kalau saudaranya tidak ada di sana.
"O-oh, Patricia sedang tidak enak badan, sayang. Jadi dia belum bisa datang kemari. Tidak apa-apa ya?" sahut Yura dengan cepat.
'Syukurlah Eleanor teringat dengan Patricia. Huhff, kenapa sih Bryan harus membahas masalah anak di sini. Membuat orang malu saja!.
"Jadi Patricia sakit Bu?" kaget Elea.
"Em bagaimana ya. Mungkin sekarang pikiran Patricia sedang di penuhi perasaan bersalah atas apa yang sudah dia lakukan pada kita berdua, sayang. Tadi itu Ibu sempat mengajaknya untuk datang kemari, tapi dia menolak dengan alasan belum siap bertemu denganmu. Ibu harap kau bisa maklum dan mau memberinya sedikit waktu untuk menenangkan diri. Patricia sedang sangat tertekan sekarang!" jawab Yura dengan mata sendu.
Elea langsung melirik kearah ayahnya yang hanya diam saja di dekat ranjang. Saat ayahnya melihat kearah Elea, dia langsung menggerakkan dagu memberi kode agar sang ayah menenangkan ibunya yang sedang bersedih. Bryan yang melihat kelakuan putrinya hanya bisa mengulum senyum. Segera dia berjalan mendekat kearah Yura kemudian mengusap bahunya pelan.
"Tidak apa-apa. Seiring berjalannya waktu Patricia pasti akan membaik dengan sendirinya. Jangan khawatir!.
Jantung Yura berdegup dengan sangat kuat saat Bryan menunjukkan perhatiannya di hadapan semua orang. Entahlah, perasaannya sangat sulit untuk di jelaskan. Terlalu bahagia dan juga malu di saat yang bersamaan.
'Berbahagialah Bu. Semua penantianmu selama ini terbayar sudah. Terima kasih karena sudah mau bersabar menunggu pintu hati Ayah terbuka, aku bahagia sekali menjadi anakmu!.
Liona tersenyum. Bangga karena memiliki Elea sebagai menantunya.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: rifani_nini...
...🌻 FB: Rifani...