
Suasana di meja makan terlihat canggung ketika Bryan datang. Dia yang semalaman di bujuk oleh Yura akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri muncul di hadapan putrinya. Bryan sadar kalau dia terus-terusan menghindar yang ada Eleanor malah akan membencinya. Dan dia tidak mau itu.
"Selamat pagi Ayah" sapa Gabrielle dan Elea kompak.
"Pagi" sahut Bryan kikuk.
Sedangkan Karim, pria tua itu terlihat sangat bersemangat. Bagaimana tidak, cucunya sekarang ada di rumah ini. Dia bahkan mendapat perlakuan yang begitu hangat dari gadis kecil yang dulu di sia-siakannya.
"Pagi Bibi Yura!" ucap Elea menyapa sang ibu sambung.
"Pagi juga sayang" sahut Yura sembari tersenyum.
Gabrielle terus memperhatikan sorot mata istrinya yang terlihat sedikit berbeda. Dia tahu kalau istrinya itu sedang menyembunyikan satu emosi yang Gabrielle sendiri tidak tahu pada siapa di tujukan. Karena tak ingin menambah kecanggungan yang ada di meja makan, Gabrielle akhirnya memilih untuk diam.
"Ayah, bagaimana keadaan Ayah sekarang? Apakah sudah lebih baik?" tanya Elea.
Bryan mengangguk. Dia mencoba untuk tersenyum meski rasanya benar-benar sangat sulit. Bryan tidak ingin putrinya merasa di acuhkan.
"Sudah lebih baik, sayang. Maaf ya kemarin Ayah tidak sempat menemuimu. Tubuh Ayah benar-benar tidak bisa di ajak kompromi."
"Iya Ayah, tidak apa-apa. Aku bisa mengerti" sahut Elea dengan senyum manis di bibirnya.
Saat keadaan mulai mencair, ponsel Yura bergetar. Rahangnya seperti mengetat ketika membaca pesan yang baru saja masuk.
"Siapa?" tanya Bryan sedikit aneh melihat reaksi di wajah istrinya.
Yura tersentak. Diat kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Patricia, dia menanyakan bagaimana keadaanmu " jawab Yura sembari tersenyum kecut.
Ekor mata Gabrielle melirik kearah ibu sambung Elea. Dia tahu kalau wanita itu sedang menutupi sesuatu dari mereka semua. Khawatir Patricia melakukan sesuatu hal yang bisa mengancam nyawa istrinya, segera Gabrielle mengirim pesan pada Ares. Dia ingin ada seseorang yang mengawasi gerak-gerik Patricia di luaran sana.
"Kak, ini kan meja makan. Bukankah Kakak yang bilang kalau kita tidak boleh bermain ponsel saat sedang makan seperti ini?" tegur Elea yang tidak menyukai sikap suaminya.
"Ah, maaf sayang. Semalam aku lupa memberitahu Ares kalau pagi ini ada meeting penting dengan Junio. Aku hanya memintanya untuk menyiapkan semua berkas yang akan di bawa nanti!" sahut Gabrielle lalu cepat-cepat memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya.
__ADS_1
"Apa itu penting sekali?" tanya Elea penasaran.
Gabrielle mengangguk.
"Ya sudah tidak apa-apa. Tapi lain kali tidak boleh seperti itu lagi ya Kak? Nanti kalau Kakek atau Ayah mengikuti kebisaan jelek Kakak bagaimana? Kan bisa gawat!.
Karim dan Bryan nyaris tersedak ketika mendengar ucapan Eleanor. Setelah itu mereka semua tersenyum, sangat lucu dengan caranya menegur Gabrielle.
"Em Elea, setelah ini kau ada acara tidak? Bibi ingin mengajakmu pergi jalan-jalan" tanya Yura sembari menyendok nasi. "Sejak kau kembali belum pernah sekalipun kita menghabiskan waktu bersama. Meski Bibi hanya ibu sambung, tapi Bibi ingin membelikanmu beberapa barang seperti orangtua pada umumnya. Bibi juga ingin menghabiskan waktu dengan berbelanja dan pergi ke salon dengan putri Bibi. Kau mau tidak?.
Gabrielle langsung bereaksi ketika mendengar keinginan ibu sambung istrinya. Namun belum sempat dia bicara, Elea sudah lebih dulu memberikan jawaban.
"Tentu saja aku mau, Bi. Oh, kemarin ada pameran berlian di Diamond Group milik Kak Darius. Bagaimana kalau nanti kita pergi kesana saja, Bi? Aku sekarang kaya, Ayah Greg dan Ibu Liona memberiku dua blackcard sebagai uang jajan. Mereka juga memintaku untuk menghabiskannya!.
"Sayang, aku..
"Kak Iel!" sela Elea sembari menggenggam tangan suaminya. "Tidak apa-apa, aku dan Bibi Yura kan hanya ingin pergi berbelanja. Kami bukan mau berangkat perang!.
"Tapi sayang, tetap saja aku khawatir. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu padamu? Aku sangat mengkhawatirkan keselamatanmu, sayang" sahut Gabrielle cemas.
Yura yang menyadari ketidakrelaan dari suami anak sambungnya segera mengambil tindakan. Dia lebih baik mengurungkan niatnya untuk mengajak Eleanor pergi berbelanja ketimbang harus melihat mereka berdua berdebat.
Elea terbelalak kaget. Segera dia melihat kearah suaminya dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Kak Iel tolong maafkan aku ya. Hampir saja aku melakukan dosa besar. Maafkan aku ya Kak, aku janji tidak akan melawan lagi!.
Gabrielle terkesima. Istrinya terlalu spontan ketika mengungkapkan perasaanya. Bahkan Elea tidak ragu meminta maaf di hadapan keluarganya. Sungguh, Gabrielle benar-benar sangat beruntung memiliki istri sepatuh dan sepolos Elea.
"Sayang, tidak perlu minta maaf juga. Tadi itu aku hanya merasa khawatir saja, jadi aku melarangmu untuk pergi bersama Bibi Yura" ucap Gabrielle kemudian mengusap pipi istrinya. "Pergilah. Aku mengizinkanmu!.
"Benarkah? Apa ini artinya aku sudah tidak berdosa jika pergi jalan-jalan dengan Bibi Yura?" tanya Elea dengan sorot mata berbinar.
Gabrielle mengangguk.
"Sekalian saja minta Bibi Yura untuk menemanimu berbelanja pakaian. Kau sebentar lagi masuk universitas, jadi perlu banyak pakaian yang akan kau pakai setiap harinya."
__ADS_1
"Tapi di rumah aku sudah memiliki banyak pakaian, Kak. Jadi buat apa aku membelinya lagi? Lebih baik aku gunakan uang itu untuk beramal ke panti asuhan saja. Mereka yang tinggal disana jauh lebih membutuhkan pakaian daripada aku" ucap Elea lirih. "Dulu saat aku tinggal di panti asuhan semua bajuku sangat usang, Kak. Bahkan aku selalu di olok-olok karena memakai pakaian yang sudah robek. Sungguh kasihan anak-anak yang di buang oleh orangtua mereka!.
Tangan Karim bergetar kuat ketika mendengar ucapan cucunya. Ya, dia adalah pelaku dari kesengsaraan yang di alami oleh Eleanor. Dia pula yang memaksa pemilik panti agar tidak memberikan pakaian yang layak untuk cucunya. Mengingat kejahatan itu membuat dada Karim terasa sesak. Nasi yang sedang dia kunyah serasa berubah menjadi butiran krikil berduri yang melukai mulutnya.
"Ekhmm sayang, pokoknya nanti kau beli apapun yang kau sukai. Kalau kau mau menyumbang ke panti asuhanpun boleh. Belilah apa yang sekiranya di butuhkan oleh anak-anak yang tinggal disana. Nanti aku akan meminta banyak pengawal untuk membantumu membawa barang belanjaan!" ucap Gabrielle mengalihkan pembicaraan Elea yang kembali menyinggung derita di masa lalunya.
Bryan yang juga tergugu setelah mendengar penuturan putrinya tampak menundukkan kepala. Dia ikut merasa bersalah karena ibunya adalah salah satu penyebab semua penderitaan yang di alami oleh putrinya dulu.
"Baiklah Kak. Bibi Yura, nanti setelah kita ke salon dan berbelanja Bibi mau kan menemaniku pergi ke panti asuhan?" tanya Elea penuh harap.
Yura mengangguk canggung. Dia merasa tak tega melihat reaksi di diri suami dan ayah mertuanya. Tapi dia juga tak kuasa menolak permintaan anak sambungnya.
"Iya sayang. Nanti setelah kita puas berbelanja Bibi akan menemanimu pergi ke panti asuhan" jawab Yura sembari melirik kearah suaminya.
"Yeyyy, aku jadi bisa bernostalgia disana nanti. Ah, rasanya pasti akan sangat menyenangkan jika bisa berbagi dengan mereka. Kenapa aku bisa lupa ya untuk membelanjakan mereka, padahal suamiku adalah bandar uang. Aihhh, Elea-Elea!.
Saat Elea sedang tersenyum bahagia, lain halnya dengan apa yang sedang di rasakan oleh Karim dan Bryan. Kedua pria beda usia itu terlihat sedih, wajah mereka juga di penuhi raut penuh penyesalan. Gabrielle yang melihat hal tersebut hanya bisa menghela nafas dalam. Dia tahu kalau Elea sebenarnya tidak bermaksud membuat ayah dan kakeknya merasa kaku seperti ini. Istrinya itu sedang dalam mode polos, jadi apa yang keluar dari mulutnya adalah murni berasal dari dalam hati tanpa ada niat untuk menyakiti siapapun.
Sarapan pagi yang tadinya terlihat hangat seketika berubah sunyi setelah Elea membahas tentang masalalunya. Yura yang merasa sebagai penyebab kesunyian ini merasa amat sangat bersalah terhadap suami dan juga ayah mertuanya. Seandainya saja tadi dia tidak mengajak Eleanor untuk pergi keluar, mungkin masalalu itu tidak akan terungkit. Yura benar-benar merasa sangat tidak berguna sekarang. Mau menyesal pun tiada guna karena nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Dia kini hanya bisa diam merutuki kebodohannya sendiri.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
✅ Hai gengss... Emak mau promosiin novel punya author baru nih. Ceritanya sangat menarik, memuat genre action/fiksi modern. Kisah tentang seorang mafia yang membantu seorang gadis bernama Cristabelle yang ingin mengusut benang merah tentang kematian kedua orangtuanya.
Oh iya gengss, novel itu ada giveaway-nya juga lho. Untuk 5 orang pemenang vote terbanyak masing-masing mendapatkan voucher pulsa sebesar 25k. Syaratnya adalah like dan komen di semua chapter. Pemenang akan di undi akhir bulan ini. Yuk gengss buruan mampir ke novel itu. Di jamin candu deh karena emak juga udah baca novelnya.
Judulnya KESAYANGAN SANG MAFIA
Author @Lotus Putih
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...