
"Datang dan temuilah kekasihmu di rumah sakit. Aku dan Elea sudah mengampunimu." 🤣🤣
Gleen yang hanya menggunakan handuk hampir saja langsung berlari pergi ke rumah sakit jika saja Junio tidak mengingatkannya. Dia dengan sangat tergesa-gesa kembali masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Senyum nampak terus mengembang di bibir Gleen saat membayangkan kalau kerinduannya akan segera terobati karena sebentar lagi dia akan bertatap muka dengan gadis yang sangat di sukainya itu.
"Tunggu sebentar ya Sweety, aku akan segera datang menemanimu di rumah sakit."
Junio yang saat itu tengah mengintip kelakuan Gleen dari belakang pintu terkikik geli ketika sahabatnya terus menggumam seorang diri. Lucu, karena memang baru pertama kali inilah seorang Gleen di buat kelimpungan oleh seorang gadis. Junio berpura-pura baru akan masuk ke dalam kamar saat Gleen berjalan hendak keluar.
"Sudah mau pergi ya?.
"Jangan mengejekku" jawab Gleen saat menyadari ada kedutan di sudut bibir sahabatnya.
"Cih, siapa juga yang mau mengejekmu. Aku kan hanya bertanya, kenapa sensitif sekali sih" kilah Junio.
"Alasan!.
Tak ingin membuang waktu, Gleen tidak lagi meladeni ejekan Junio. Dia setengah berlari keluar dari dalam rumah menuju mobilnya. Memacu dengan kecepatan di batas normal agar bisa sesegera mungkin sampai di rumah sakit. Saat mobil Gleen berhenti di lampu merah, ada sebuah pesan masuk yang membuatnya tersenyum senang.
"Jangan hanya datang dengan tangan kosong, Gleen. Belilah setangkai mawar agar Lusi bisa semakin membuka hatinya untukmu. Kau kan kaya, jangan pelit-pelit. Karena harga diri dari seorang pria terletak pada kebahagiaan wanitanya."
"Cih, macam dia bisa membahagiakan wanita saja. Begitu melihat wanita cantik bukannya membahagiakan wanita tersebut kau malah menjadikannya sebuah manekin. Dasar gila" ucap Gleen yang kemudian mengikuti saran Junio untuk membeli bunga.
Saat Gleen tengah berbunga-bunga karena akan bertemu dengan Lusi, lain halnya dengan apa yang tengah terjadi antara Junio dan juga Patricia. Kedua orang itu kini tengah berdiri saling berhadapan dengan sorot mata yang sama-sama tajam. Sungguh, Patricia sama sekali tidak ada takut-takutnya pada pria psikopat ini. Dia merasa sangat frustasi karena terus di kurung di dalam kamar.
"Lepaskan aku, Jun."
__ADS_1
"Jangan membuat ulah, Patricia. Aku sedang lelah" sahut Junio dingin.
"Apa kau pikir aku tidak lelah terus di kurung di dalam kamar ini?" sentak Patricia. "Aku ini bukan pelaku kriminal, Jun. Kau tidak seharusnya berbuat seperti ini padaku!.
"Dan aku tidak peduli kau pelaku kriminal atau bukan!" balas Junio kemudian menatap penuh nafsu kearah tubuh Patricia yang begitu berlekuk karena memakai lingerie dengan bentuk yang sangat sexy.
Sadar kemana arah pandang pria gila ini, dengan sengaja Patricia malah merobek lingerie tersebut. Airmatanya menetes, dia benar-benar tak lagi mempunyai harga diri di hadapan Junio.
"Kau mau tubuhku kan? Silahkan, silahkan nikmati sepuasmu. Tapi tolong lepaskan aku Jun, aku ingin pergi ke makam Ibuku. Aku-aku takut, aku salah. Aku menyesal sudah melakukan sesuatu yang buruk pada Ibuku, aku menyesal Jun, aku menyesal!.
Junio terpaku melihat apa yang di lakukan oleh Patricia. Bukan karena melihat tubuh t*lanjangnya, melainkan melihat bagaimana wanita jahat ini terlihat sangat tersiksa oleh rasa bersalah yang dia rasakan. Entah dorongan darimana tiba-tiba tangan Junio bergerak melepas jas yang di pakainya. Dia lalu memakaikannya ke tubuh Patricia.
"Jangan menangis seperti ini. Kau membuatku takut" ucap Junio lirih.
"Hikssss, aku ingin ke makam Ibuku. Hanya itu Jun, hiksss... Tolong biarkan aku pergi dari sini, aku tidak tahan lagi" bujuk Patricia sambil terisak sesenggukan.
"Kalau itu yang kau inginkan maaf Patricia, aku tidak bisa mengabulkannya. Kau sudah membuatku marah karena tidak mendengar laranganku untuk tidak menyukai pria lain selain aku. Gabrielle itu sudah menjadi miliknya Elea, dan aku sangat membenci type-type wanita yang suka merusak rumah tangga orang lain. Kau tahu kenapa?" tanya Junio sambil menyeka airmata di wajah tahanannya.
Patricia menggeleng. Entah ini hanya perasaannya saja atau bagaimana, sikap Junio terlihat sangat berbeda. Dari matanya, Patricia bisa melihat kalau pria ini begitu menderita. Dia bahkan cukup kaget saat pria gila ini malah membungkus tubuh t*lanjangnya menggunakan jas, padahal Patricia pikir Junio akan kembali melakukan pelecehan terhadapnya seperti malam lalu.
"Karena dulu keutuhan keluargaku di rusak oleh seorang wanita muda yang memiliki wajah sangat cantik. Dia sepertimu, indah namun mempunyai hati yang sangat picik. Kau dan wanita itu sama-sama kejam, Patricia. Dan kekejaman yang kau lakukan membuatku sangat marah. Aku begitu bernafsu ingin menjadikanmu patung manekin, tapi tidak dengan Elea. Dia berpesan pada Gabrielle agar aku tidak menyakitimu, dia ingin kau tetap menjadi saudaranya terlepas dari semua kejahatan yang sudah kau perbuat" jelas Junio dengan begitu sabar. "Patricia, apakah orang-orang baik seperti mereka yang ingin kau hancurkan hidupnya? Tidakkah kau merasa malu pada gadis semuda Elea yang mampu memaafkan kesalahan seseorang hanya karena ingin mempunyai saudara? Aku tahu kau sebenarnya tidak benar-benar mencintai Gabrielle, kau hanya iri melihat Elea di terima dan di cintai oleh semua orang. Iya kan?.
Ucapan Junio bagai tamparan yang sangat menyesakkan di dada Patricia. Benarkah dia tidak mencintai Gabrielle? Benarkah ini semua hanya karena rasa iri? Elea.. Patricia enggan berfikir. Dia terlalu syok saat tahu kalau ternyata bukan Gabrielle yang menyelamatkan hidupnya, melainkan gadis polos yang sebelumnya ingin dia bunuh.
"Sayangku, aku ini bukan orang baik. Tapi jujur, aku malu jika harus berhadapan dengan malaikat tak bersayap seperti Elea. Sekarang keputusan ada di tanganmu sendiri. Kalau kau patuh dan tidak membuat ulah, ada kemungkinan aku akan membawamu pergi mengunjungi Ibumu. Tapi kalau kau membangkang dan terus membuatku marah, maka kau akan menjadi seorang tahanan di rumah ini. Kau pasti tahu bukan harus bagaimana bersikap?" tanya Junio melunak.
__ADS_1
"B-benar kau akan membawaku pergi ke makam Ibuku?" sahut Patricia penuh harap.
"Itu tergantung bagaimana sikapmu nanti" jawab Junio.
Tanpa memikirkan apapun lagi Patricia langsung menganggukkan kepala. Masa bodo dia dengan siksaan yang akan di berikan oleh Junio, karena yang terpenting sekarang adalah dia bisa pergi ke makam untuk memohon ampunan dari ibunya. Sungguh, di benak Patricia tak ada lagi keinginan untuk mendapatkan Gabrielle setelah di kurung di dalam kamar ini. Karena yang dia inginkan sekarang hanyalah pelukan dari ibunya. Tapi sayang, itu tidak akan pernah dia dapatkan lagi karena wanita yang begitu menyayanginya kini sudah berada di surga Tuhan.
"Sekarang tolong bantu siapkan pakaian untukku. Aku mau mandi."
"Iya, aku-aku akan menyiapkannya sekarang juga" sahut Patricia kemudian bergegas mengambil pakaian dari dalam lemari.
Junio tersenyum. Entah dia tersenyum untuk apa, tapi yang jelas hatinya terasa sangat lega.
'Jangan-jangan virus kepolosan Elea sudah menulari otakku makanya aku bisa dengan mudah bersikap sangat lembut pada Patricia. Wahh Junio, dulunya kau pasti jelmaan malaikat surga yang hilang karena tersesat di bumi. Ahaha...'
Sambil membayangkan sesuatu yang bukan-bukan, Junio melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Dia geli sendiri ketika menganggap jika dirinya adalah malaikat yang sedang tersesat di bumi. Sungguh pemikiran yang sangat konyol.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Rifani...
__ADS_1