Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
First Kiss


__ADS_3

Tubuh Lusi kaku saat tangannya di genggam oleh pria yang sejak tadi terus menempel seperti permen karet di sebelahnya. Sebenarnya dia sangat tidak nyaman dengan posisi ini, apalagi saat ini dia sedang pergi bersama dengan Nyonya-nya. Lusi merasa seakan dirinya abai akan tugasnya menjaga gadis kecil itu.


"Tuan, tolong lepaskan tanganku. Ini sangat aneh rasanya" cicit Lusi dengan wajah galau.


"Namaku Gleen, bukan Tuan, Sweety" sahut Gleen tanpa berniat melepaskan genggaman tangannya. "Sudah tenang saja ya, istrinya Gabrielle tidak akan keberatan kalau kita jalan bersama. Masih banyak pengawal dan juga wanita bar-bar itu yang menemaninya."


Tadi, sembari menunggu Levi dan Elea kembali dari ruangannya Gabrielle, Gleen dengan tidak tahu malunya berhasil mendapatkan first kiss milik Lusi. Dia berhasil memperdayai gadis tersebut meski harus berakhir dengan Lusi yang menangis tersedu-sedu karena perbuatannya. Tapi bukan Gleen namanya jika tak berhasil menjinakkan wanita. Dengan mudah dia membuat tangis Lusi berhenti dengan menjanjikan kalau dia tidak akan mengganggu waktu bersenang-senangnya bersama Levi dan Elea. Tapi nyatanya, yang terjadi sekarang sangat berbanding terbalik dengan apa yang sudah dia janjikan saat di mobil tadi. Gleen begitu egois ingin menguasai Lusi sepenuhnya.


"Tapi kau sudah berjanji tidak akan mengganggu waktuku" ucap Lusi mengingatkan.


Kesal, tentu saja. Pria ini selain gila juga adalah orang yang sangat pemaksa. First kiss-nya hilang, dan sekarang Lusi harus rela waktunya di kuasa oleh pria ini. Sungguh menyebalkan, ingin melawan tapi tak berani karena Lusi cukup tahu diri kalau dia hanyalah seorang pelayan yang kejatuhan durian montong.


"Memangnya kapan aku pernah berjanji seperti itu, hem?" tanya Gleen mengelak.


Ah, gadisnya manis sekali. Baru di tanya seperti itu saja wajahnya sudah langsung merona. Gleen benar-benar di buat gila olehnya.


'Aduhhh, bagaimana caranya ya supaya bisa melarikan diri dari orang ini? Hiksss Nyonya Elea, Nona Levi, tolong aku. Aku ingin pergi bersama kalian saja!.'


Seakan mendengar apa yang sedang di ratapi oleh Lusi, Elea tiba-tiba berhenti. Dia berbalik kemudian berjalan menghampiri pelayannya yang terlihat sangat tertekan.


"Kak Lusi, kenapa ekpresi wajahmu terlihat sangat aneh? Apa Paman Gleen ingin memakanmu?" tanya Elea curiga sembari menelisik ke seluruh bagian tubuh pelayan pribadinya.


"Iy..


"Tidak!" ucap Gleen memotong ucapan Lusi dengan cepat.


"Nyonya, tolong aku" ucap Lusi hampir menangis.


"Eh, kau apakan temanku, Paman?" cecar Elea yang kaget melihat mata Lusi berkaca-kaca. "Apa kau sudah membujuk Kak Lusi untuk melakukan sebuah kejahatan? Wajahnya terlihat sangat tertekan sekali!."


Gleen cengo. Di hadapan banyak pengunjung mall dia di tuduh telah melakukan kejahatan pada seorang gadis. Luar biasa, istrinya Gabrielle benar-benar sangat luar biasa. Baru kali ini ada orang yang berani merendahkannya di depan khalayak umum. Ingin marah pun percuma karena belasan pengawal ada di belakang istrinya Gabrielle. Belum lagi dengan pengawal rahasia yang Gleen yakini ada di setiap lekuk bangunan ini.


"Elea, kau jangan mempermalukan pria sombong ini sekarang. Kita kan belum sempat mencicipi isi dompetnya. Rugi banyak kalau dia sampai merajuk" ucap Levi ikut menimbrung. "Dan kau Lusi, apa yang sudah dia lakukan padamu sampai wajahmu terlihat begitu menderita, hum?."


Sebelum menjawab, Lusi terlebih dahulu melirik kearah Gleen. Tampan, tapi pemaksa. Dan Lusi sangat tidak suka itu.


"D-dia tidak mau melepaskan aku, Nona. Kan, kan kita datang kesini untuk berbelanja. Aku merasa tidak enak karena tidak bisa melayani Nyonya" jawab Lusi gugup.


"Oh, hanya karena masalah itu to" sahut Levi dan Elea berbarengan.


"Kak Lusi tenang saja, aku sama sekali tidak keberatan kok. Kan masih ada Kak Levi dan Paman-Paman lain yang bisa membantuku. Iya kan Kak?."

__ADS_1


Levi mendengus. Sementara para pengawal menganggukkan kepala.


"Tapi Nyonya, saya ingin pergi bersama Nyonya saja. Saya tidak nyaman seperti ini" ucap Lusi menghiba.


"Sweety, apa kau begitu membenciku?" tanya Gleen dengan ekpresi penuh luka.


"Tidak, bukan begitu. Hanya saja... Tuan, maksudku Gleen, tolong beri aku waktu untuk menikmati waktu bersama Nyonya. Kau, kau bisa mengikuti kami dari belakang tanpa harus menggenggam tanganku terus" jawab Lusi tak enak hati. "Nyonya, aku mohon."


Tak tega melihat gadisnya menghiba seperti ini, Gleen dengan sangat tidak rela akhirnya melepaskan pegangan tangannya. Dia lalu menatap kearah istrinya Gabrielle.


"Kenapa melihatku seperti itu?."


"Paman, wanita-wanita itu, apa yang kau lakukan pada mereka?."


Ya, Elea baru saja melihat sesuatu yang berhubungan dengan Gleen. Dia melihat ada banyak wanita berada di sebuah ruangan mewah yang cukup besar. Tapi anehnya semua wanita-wanita itu terlihat kaku, seakan tubuh mereka sudah di awetkan sebelumnya. Dan ada satu wanita yang membuat Elea kebingungan mengartikan apa yang baru saja dia lihat. Patricia, ya, wanita blonde itu menjadi bagian dari puluhan wanita-wanita kaku yang ada di ruangan itu. Dan Gleen ada disana bersama seorang teman lelakinya.


"Wanita apa yang kau maksud?."


'Apa yang terjadi dengan gadis kecil ini? Darimana dia tahu kalau aku dan Junio suka mengawetkan tubuh wanita cantik untuk di jadikan manekin? Tidak mungkin kan Gabrielle yang memberitahunya?.'


Bukannya menjawab, Elea malah melangkah maju kemudian menatap wajah Gleen dari jarak dekat. Ya, Elea bisa merasakan kalau pria ini cukup berbahaya. Dia memang tidak bisa melihat dengan jelas apa yang pria ini lakukan pada wanita-wanita itu, tapi Elea yakin sekali kalau mereka itu mati di bunuh. Mungkinkah....


"Elea, kau kenapa? Ada apa?" tanya Levi heran.


Gleen yang tidak ingin kelakuannya di ketahui oleh Lusi, dengan cepat menarik tangan Elea. Dia bermaksud mengajak gadis ini untuk bicara. Namun perbuatan lancang yang dia lakukan harus berujung dengan belasan pistol yang menempel di kepalanya. Sadar kalau dia telah melakukan kesalahan, dengan cepat Gleen melepaskan tangan Elea kemudian mengangkat kedua tangannya keatas.


"Maaf, aku tidak sengaja. Aku hanya ingin berbicara secara pribadi dengannya" ucap Gleen menjelaskan.


"Tuan Gleen, kami tidak peduli kau siapa. Berani menyentuh Nyonya kami, maka kematian adalah ganjarannya. Kau harus ingat batasan itu!" gertak salah satu penjaga.


"Oke-oke. Aku tidak akan melakukannya lagi, sungguh!."


Elea yang tahu kalau pria ini ingin membicarakan hal penting dengannya segera meminta Lusi dan Levi untuk duduk menunggu di tempat lain. Awalnya Levi menolak, tapi setelah di bujuk akhirnya dia bersedia untuk pergi. Elea kemudian meminta para penjaga untuk sedikit menjauh darinya.


"Paman, tolong menjauh sedikit."


"Maaf Nyonya, kami tidak akan melakukannya."


"Kenapa?" tanya Elea.


"Karena kami bisa mati di tangan Tuan Muda jika sampai terjadi sesuatu pada Nyonya. Jadi kami harap Nyonya bisa memahami pekerjaan yang kami emban" jelas penjaga dengan sopan.

__ADS_1


"Oh, begitu ya."


Gleen melangkah maju. Dia menelisik penuh kecurigaan pada gadis kecil yang tengah menatapnya.


"Apa Gabrielle memberitahumu sesuatu tentangku?."


"Tidak. Kak Iel hanya bilang kalau dia akan turun tangan langsung kalau kau berani menyakiti Kak Lusi" jawab Elea jujur.


"Lalu pertanyaanmu tadi, darimana kau mengetahui semua itu? Yang tahu rahasiaku hanya suami dan adik iparmu. Mustahil kalau kau tahu dari orang lain" ucap Gleen penasaran.


Elea tersenyum simpul. Wajah yang biasanya terlihat polos itu mendadak berubah menjadi datar. Gleen yang melihatnya semakin merasa heran. Dia yakin kalau gadis kecil ini tidak sesederhana yang dia lihat.


"Paman, apa yang kau lakukan itu tidak ada hubungannya denganku. Tapi akan berhubungan kalau Paman berani menyakiti Kak Lusi karena dia tidak hanya sekedar menjadi temanku saja, tapi dia adalah keluargaku. Aku memang tidak tahu apa yang sudah kau lakukan pada wanita-wanita itu. Yang jelas, jangan pernah menyentuh Kak Lusi. Aku tahu kau dan teman priamu itu sangat terobsesi dengan wanita berparas cantik. Dan aku harap Kak Lusi bukan bagian dari obsesimu."


Jakun Gleen bergerak-gerak. Bukan karena nafsu, tapi sedikit segan dengan ancaman yang baru saja di lontarkan oleh istrinya Gabrielle. Gleen bisa melihat kalau gadis kecil ini memiliki sisi lain yang cukup mengerikan. Entah karena terbawa suasana atau karena dia yang merasa segan, Gleen mengangguk menyetujui keinginan Elea. Dia lalu melihat kearah Lusi.


"Aku menyukainya, tulus dari lubuk hatiku. Dan aku berniat menjadikannya sebagai teman hidup."


"Benarkah?" tanya Elea dengan sorot mata berbinar.


Gleen tergelak.


"Hei, sedetik yang lalu kau baru saja memperlihatkan ekpresi yang begitu dingin. Bagaimana caramu merubah ekpresi secepat ini? Kau spesies bunglon ya!" pekik Gleen kaget.


Elea terkekeh. Setelah itu dia berlari menuju Levi dan Lusi. Meninggalkan Gleen yang masih terbengang-bengang setelah melihat sikapnya yang gampang sekali berubah.


"Apa Nyonya kalian memang seperti itu?" tanya Gleen kepada para pengawal.


"Ya, Nyonya kami sangat manis dan lucu."


"Bukan itu maksudku. Dia... ah sudahlah" ucap Gleen menyudahi keingintahuannya akan sikap istrinya Gabrielle yang entah kenapa terlihat begitu misterius.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


YANG PUNYA WATTTTTPAAAAADDDD AYOK MAMPIR KE KARYA EMAK. SERU LO. CERITA TENTANG CEWEK PEMBUAT ONAR, SUKA BALAP LIAR. KUY DI LIRIK



...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2