
"Hati-hati Nyonya!" ucap Cira sambil memegangi tangan majikannya yang sedang berjalan menuruni anak tangga pesawat.
"Cira, aku benar-benar sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Elea. Menurutmu dia merindukan aku tidak?" tanya Clarissa menggebu.
"Nona Elea pasti merindukan anda, Nyonya. Semarah apapun beliau, anda tetaplah Grandma-nya. Dia pasti akan sangat bahagia ketika bertemu dengan anda nanti" jawab Cira.
Senyum lebar mengembang di bibir Clarissa begitu dia menapakkan kaki di tanah kelahiran cucunya, juga tanah dimana mendiang putrinya di makamkan. Mengingat putrinya yang telah tiada, awan mendung langsung menggeser senyum yang tadi menghiasi bibir Clarissa. Ada kesenduan di balik tatapan matanya yang tajam.
Cira yang menyadari perubahan ekpresi di wajah majikannya hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Sambil menenteng tas dengan satu tangannya dia mengusap bahu majikannya.
"Ikhlaskan kepergian Nyonya Sandara, Nyonya. Beliau sudah tenang di surga Tuhan. Lebih baik Nyonya pikirkan pertemuan nanti dengan Nona Elea, jangan lagi mengingat-ingat sesuatu yang sudah tidak ada lagi di dunia ini. Bukan saya bermaksud meminta anda untuk melupakan Nyonya Sandara, bukan. Saya hanya ingin Nyonya bisa melanjutkan hidup dengan baik dan menyimpan semuanya sebagai kenangan indah. Yang luka jangan di kenang, cukup kenang kebahagiaan anda saat masih bersama Nyonya Sandara dulu!.
Clarissa menoleh kemudian tersenyum kecut. Dia beruntung, setidaknya masih ada gadis ini di sampingnya setelah kepergian Sandara. Juga masih ada Elea yang harus dia pikirkan kebahagiaannya. Tak ingin lagi berlarut dalam kesedihan, Clarissa segera menggandeng tangan Cira kemudian mengajaknya untuk masuk ke mobil yang sudah di sediakan oleh Gabrielle. Clarissa berusaha bersikap setenang mungkin agar hati dan pikirannya tidak kacau.
"Semuanya pasti baik-baik saja, Nyonya. Percayalah padaku!" hibur Cira ketika mobil mulai bergerak pergi meninggalkan landasan pesawat pribadi milik Keluarga Ma.
"Terima kasih Cira, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada kau di sisiku" sahut Clarissa seraya menepuk-nepuk tangan gadis yang sudah di adopsinya beberapa tahun lalu.
"Begitupun saya, Nyonya. Saya jauh lebih tidak tahu lagi bagaimana nasib saya ke depannya jika saat itu Nyonya tidak datang dan membawaku ke rumah anda. Mungkin saat ini saya masih menjadi gelandang yang tinggal di pinggiran toko!.
Clarissa terkekeh, merasa tergelitik mendengar pengakuan Cira yang begitu terus terang.
"Nyonya istirahatlah. Perjalanan dari Paris lumayan jauh, anda butuh istirahat yang cukup" ujar Cira lega setelah mendengar tawa majikannya.
"Baiklah. Kau juga ya."
"Iya Nyonya."
Di saat Clarissa dan Cira sedang menuju hotel tempat mereka akan menginap, di bandara sepasang ibu dan anak baru saja keluar dari dalam pesawat. Dialah Fulgi dan Kimmy, mereka diam-diam membuntuti Clarissa datang ke negara ini tanpa menggunakan pesawat pribadi. Bukan tanpa alasan kenapa mereka bersikap seperti ini, mereka sengaja melakukannya karena tak ingin Clarissa dan Cira tahu kalau ternyata mereka juga ikut datang untuk mengunjungi Elea. Fulgi sudah mengatur beberapa rencana agar bisa mendekati gadis yang di sukainya itu. Dia benar-benar melupakan status mereka sebagai saudara sepupu, bahkan lebih melupakan fakta kalau Elea sudah menjadi istri orang. Fulgi mencintai Elea, dan dia akan melakukan segala hal agar bisa merebutnya dari tangan Gabrielle.
"Fulgi, di hotel mana kita akan tinggal?" tanya Kimmy sembari membenahkan letak kacamata hitamnya.
__ADS_1
"Tentu saja di hotel tempat Bibi Clarissa tinggal, Ma. Kenapa memangnya?.
Fulgi dengan santai berjalan masuk ke dalam gedung bandara sambil memasukkan satu tangannya ke dalam saku. Dia sudah sangat tidak sabar ingin segera melihat Elea, gadis cantik nan manis yang tiba-tiba saja mengusik hatinya. Membayangkan dirinya yang akan segera melihat gadis pujaannya itu membuat Fulgi tersenyum bahagia. Perasaannya begitu membuncah.
"Tidak apa-apa sayang. Mama pikir kau akan mengajak Mama menginap di penginapan kumuh seperti yang ada di film-film karena kita datang ke negara ini bukan untuk berlibur. Jadi tadi Mama hanya ingin memastikan saja" ucap Kimmy lagi.
"Ck, apa Mama pikir aku semiskin itu sampai kita harus menginap di penginapan yang kumuh? Astaga, sejak kapan Mama jadi bodoh sih. Ini Fulgi Ma, Fulgian Alexander Wu. Cucu semata wayangnya Kakek Frederick. Dunia bisa kiamat kalau sampai kita menginap di tempat murah. Mau di taruh dimana marga keluarga kita nanti kalau sampai ada wartawan yang mengetahuinya!" omel Fulgi tak habis pikir.
"Hei, ralat kembali ucapanmu. Kau bukan cucu satu-satunya di Keluarga Wu, sayang. Ingat, masih ada Sandara dan juga Elea. Astaga, kau serakah sekali!.
Langkah Fulgi terhenti kemudian dia memicingkan mata kearah ibunya yang baru saja mengomel. Sekarang dia yakin, benar-benar sangat yakin kalau ibunya adalah orangtua terbodoh yang ada di muka bumi ini.
"Sebenarnya Mama ini ada di pihak siapa hah! Kenapa malah memarahiku saat aku menyebut kalau aku adalah cucu semata wayangnya Kakek Frederick. Apa Mama lebih suka kalau mereka yang menguasai seluruh harta warisan milik Kakek, iya! Ya Tuhan, kenapa aku bisa mempunyai Mama yang begini bodoh sih!.
Kimmy meringis. Dia kemudian melambaikan tangan kearah seorang pria yang sedang berdiri di dekat pintu keluar penumpang sambil membawa plakat namanya dan juga Fulgi.
"Dengan Nyonya Kimmy dan Tuan Fulgi Wu?.
"Baik Nyonya!.
Sekilas Fulgi sempat merasa curiga pada pria yang datang menjemputnya. Entah kenapa dia tadi seperti melihat kalau pria ini seperti sedang menyeringai. Sambil terus memperhatikan gerak-gerik pria tersebut, Fulgi berjalan menuju mobil. Dia segera menarik tangan ibunya untuk masuk kemudian memberinya sedikit peringatan.
"Jangan sembarangan bicara, Ma. Aku punya firasat kalau pria ini memiliki tujuan lain terhadap kita berdua."
"Tujuan apa maksudmu? Fulgi, kau jangan negatif thinking dulu padanya, dia itu kan hanya seorang pria bawahan yang di tugaskan pihak hotel untuk menjemput kita. Apanya yang harus di khawatirkan coba?" sahut Kimmy santai.
Fulgi berdecak. Selain bodoh, ternyata ibunya adalah seorang wanita yang cukup bebal. Kesal karena ucapannya tak di dengar, Fulgi memutuskan untuk mengirim pesan pada anak buahnya. Dia ingin tahu dimana Elea berada. Sebenarnya Fulgi bisa saja langsung melakukan panggilan telefon, tapi dia tidak mau melakukannya karena sekarang pria mencurigakan ini sudah masuk ke dalam mobil.
"Tuan, Nyonya, kita akan segera berangkat menuju hotel!.
"Baiklah. Hati-hati" sahut Kimmy kemudian menyender ke kursi mobil. "Fulgi, negara ini sangat bagus. Kenapa Mama tidak pernah terfikir untuk berlibur kemari ya sejak dulu?.
__ADS_1
Fulgi diam tak menyahut. Ekor matanya sesekali melirik kearah pria yang sedang mengemudikan mobil. Sekilas tidak ada yang aneh, tapi justru itu yang membuat Fulgi merasa gelisah. Selama ini dia sudah banyak berhubungan dengan orang-orang jahat, jadi tentu saja dia bisa merasakan aura licik yang menguar dari tubuh pria tersebut. Sambil berbalas pesan, Fulgi mencoba menebak siapa orang yang ingin berurusan dengannya di negara ini.
"Hoaaammmmm, kenapa ngantuk sekali ya?" ujar Kimmy tiba-tiba di dera rasa kantuk yang luar biasa.
Mendengar ucapan ibunya barulah Fulgi sadar kalau mereka berdua sedang di jebak. Tapi belum sempat dia menggapai leher pria tersebut, dia sudah lebih dulu jatuh terkapar di kursi saat kepalanya tiba-tiba berdenyut kuat. Fulgi kemudian melirik kearah ibunya yang ternyata sudah tertidur lelap.
"K-kau s-siapa?" tanya Fulgi berusaha untuk tetap sadar.
"Saya hanya orang yang di tugaskan pihak hotel untuk membawa anda dan Nyonya Kimmy kesana, Tuan!.
Bohong, Fulgi tentu sadar kalau itu hanya alasan saja. Tak kuat menahan rasa kantuk dan juga nyeri di kepalanya, Fulgi akhirnya tertidur. Melihat kedua tamunya sudah tidak sadarkan diri, pria tersebut segera merobek topeng wajahnya kemudian menepikan mobil di pinggir jalan.
"Nyonya, kami sedang dalam perjalanan" lapor pria tersebut pada seseorang di dalam telepon.
"Bawa dan ikat mereka berdua di ruang bawah tanah. Dan juga pastikan Lan berkenalan dengan kedua teman barunya. Oh ya Hansen, jangan lupa kirimkan orang pengganti untuk mereka di Paris. Aku tidak ingin Nyonya Clarissa curiga ketika tidak mendapati kedua setan itu di rumahnya saat pulang dari sini nanti!.
"Baik, Nyonya. Kalau begitu saya tutup dulu telponnya!.
Setelah melapor, pria tersebut kembali melajukan mobil. Dia melirik melalui kaca spion, tersenyum sinis melihat kedua manusia jahat yang ingin merusak kebahagiaan putra nyonya-nya.
"Nyonya Liona bukanlah tandinganmu, Fulgi. Kau dan Ibumu datang ke negara ini hanya untuk menyerahkan nyawa. Kalian sudah salah mencari musuh!.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1