
"Hahahahhahaa Elea, kau lucu sekali memakai kostum itu!" tawa Levi sambil menunjuk kearah Elea yang mengenakan kostum badut.
Elea tertawa. Dia juga merasa lucu dengan kostum yang di kenakannya.
"Apa seperti ini sudah bisa pergi?" tanya Elea sambil membenarkan letak bando di kepalanya.
Levi menganggukkan kepala. Dia lalu menggandeng tangan Elea untuk masuk ke dalam taman bermain.
"Ehh, kenapa tidak akan pengunjung sama sekali?" ucap Levi sambil celingukan mencari keberadaan orang-orang.
"Iya ya Kak. Seharusnya kan banyak anak-anak dan orangtua di tempat ini" tambah Elea ikut merasa bingung.
"Ya sudahlah lupakan saja. Mungkin mereka sadar kalau akan ada dua bidadari yang datang jadi mereka memberikan ruang untuk kita berdua!".
"Sepertinya memang begitu".
Levi akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu tanpa melepaskan pegangannya di tangan Elea. Mereka kini menuju pada komedi putar yang terlihat begitu sepi. Hanya ada seorang pria yang sedang berdiri menjaga permainan lucu itu.
"Selamat datang Nona-Nona!".
"Iya" sahut Elea sambil menatap lekat kearah permainan yang ada di depannya.
"Pak, kenapa tempat ini sepi sekali? Apa pemiliknya sudah bangkrut?" tanya Levi penasaran.
"Tidak Non. Hari ini ada seseorang yang menyewa tempat ini sehari semalam penuh. Itulah kenapa tidak ada pengunjung yang di perbolehkan masuk kemari".
Kening Levi mengerut. Perasaannya menjadi tidak enak.
"Kalau boleh tahu siapa nama orang yang menyewa tempat ini?".
"Kalau tidak salah namanya Nona Elea. Ya benar, Nona Elea adalah orang yang telah membooking tempat ini!".
Mata Elea terbelalak lebar begitu dia mendengar namanya di sebut.
"Bukan Pak, bukan aku. Aku,aku tidak punya uang sebanyak itu untuk menyewa tempat ini. Kak Levi, itu bukan aku. Tolong beritahu dia Kak!" ucap Elea panik.
Bukannya marah, Levi malah tersenyum lebar setelah tahu siapa yang menyewa taman bermain ini. Dia lalu melihat kearah Elea yang sedang berdiri ketakutan di sebelahnya.
"Kau ini takut apa, Elea. Suamimu itu sangat kaya, jangankan untuk menyewa taman bermain selama sehari semalam, membeli tempat ini pun dia mampu. Sudahlah, kau jangan bermuram durja. Lebih baik kita nikmati saja uang suamimu itu. Ayo kita bersenang-senang!".
"Tapi Kak...
"Tidak ada tapi-tapian. Kalau kau masih banyak bicara ini itu, akan ku tendang bokongmu ke Benua Afrika. Mau!" ancam Levi sambil memelototkan mata.
Elea segera menggeleng.
"Tidak mau!".
"Jadi sekarang mau patuh atau tidak?".
"Mau Kak".
Levi mengusap puncak kepala Elea. Dia suka sekali melihat gadis penurut sepertinya.
"Sebelum kita berkeliling bagaimana kalau kita membeli permen kapas dulu. Tidak pas rasanya kalau kita belum membeli jajanan itu!".
"Aku ikut apa kata Kak Levi saja. Kan Kak Levi yang punya uang!".
Tangan Levi bergerak mengipasi wajahnya saat dia mulai kesal mendengar ucapan Elea. Dia heran sekali kenapa Elea bisa begitu bodohnya tidak menyadari kalau blackcard yang ada di tangannya adalah pemberian Gabrielle. Yang artinya kalau semua uang yang ada di dalam sini adalah miliknya juga.
__ADS_1
"Aku bisa mati kering jika meladeni perkataannya" gumam Levi sambil menarik tangan Elea pergi.
Salah seorang penjaga yang tadi berada satu mobil dengan Elea tampak memotret kegiatan mereka yang sedang berlarian kesana kemari sambil menikmati jajajan yang ada. Nampak beberapa kali Elea berteriak heboh saat melihat hal-hal yang baru pertama kali dia temui. Sedangkan Levi kadang mengamuk saat Elea tidak berhenti bertanya ini dan itu yang membuatnya menjadi begitu kesal. Pemandangan membahagiakan itu terekam jelas di kamera penjaga yang ternyata sudah tersambung pada pemiliknya, yaitu Tuan Muda Gabrielle.
"Pak, tolong beri kami dua bungkus permen kapas!" ucap Levi pada seorang penjual.
"Baik Nona" jawab si penjual. "Ini gula kapasnya, Nona!".
Elea menahan tawa saat tahu kalau Levi salah menyebutkan nama makanan ini.
"Ternyata Kak Levi bisa bodoh juga ya. Ini namanya bukan permen kapas, tapi gula kapas. Kakak salah!" ledek Elea.
"Yakkkk... Terserah aku mau menyebutnya apa!" omel Levi malu.
"Iya iya maaf" ucap Elea.
Levi mendengus.
"Kak, kau mau kemana. Bayar dulu gula kapas ini" teriak Elea saat Levi sudah berjalan pergi meninggalkannya.
"Bayar saja sendiri" teriak Levi dari kejauhan.
"Tapi aku tidak punya uang" sahut Elea yang juga ikut berteriak.
"Dasar gadis bodoh, tempat ini sudah di bayar full oleh suamimu. Jadi kau jangan selalu ribut tentang uang. Cepat kemari, kau ingin naik bianglala tidak!".
Elea menepuk keningnya. Dia kemudian pergi menyusul Levi setelah mengucapkan terima kasih pada si penjual.
"Gula kapasku" ucap Elea sambil memegang lembut makanan yang terbuat dari gula itu.
Levi menunggu Elea sampai sambil menikmati gula kapas miliknya. Matanya sampai terpejam saat makanan itu melebur dengan begitu lembut.
"Jadi ini pertama kali Kak Levi makan gula kapas?".
Levi gugup saat tahu kalau Elea mendegar gumamannya. Dia membuka mata dengan cepat kemudian mengalihkan perhatian.
"Ayo Elea, kita naik bianglala sekarang!".
"Kakak belum menjawab pertanyaanku" sahut Elea sambil menyembunyikan tangan ke belakang tubuh saat Levi ingin menariknya.
'Sejak kapan makhluk kecil ini punya keberanian untuk melawanku?'.
Terdengar helaan nafas berat dari mulut Levi. Dia tidak ingin Elea tahu kalau ini pertama kalinya dia datang ke taman bermain. Takaran harga diri Levi terlalu tinggi untuk sekedar mengakui kalau ini juga adalah kali pertama dia memakan makanan yang bernama gula kapas.
"Sudah jangan banyak bicara lagi. Ayo masuk!" ucap Levi sambil menarik tangan Elea untuk masuk ke dalam kotak bianglala.
Senyum semringah muncul di bibir Elea saat bianglala nya mulai bergerak.
"Wooaahhhh, ini sangat menakjubkan!" teriak Elea heboh.
Levi diam saja. Perutnya terasa sedikit mual saat bianglala ini berada di ketinggian. Tak mau membuat kebahagiaan Elea rusak, Levi menyiasati ketidaknyamanan yang dia rasakan dengan mengobrol dengan Elea.
"Hei makhluk kecil, kau senang tidak?" tanya Levi setengah berteriak saat penjaga bianglala memutar musik.
"Sangat senang Kak. Aku bahagia sekali sekarang" jawab Elea jujur.
Levi tersenyum. Dia memperhatikan mood di diri Elea sebelum masuk ke pertanyaan yang paling penting.
"Elea?".
__ADS_1
"Iya Kak, ada apa?".
"Bisa aku tahu kenapa kau begitu takut saat melihat dokter?" tanya Levi hati-hati.
Senyum di bibir Elea langsung luntur. Bola matanya bergerak gelisah yang memperlihatkan kalau dia sangat tidak nyaman dengan pertanyaan itu.
"Mereka terlihat sama".
Perkataan Elea terjeda. Levi dengan sabar menunggu Elea untuk melanjutkan perkataannya.
"Sama? Maksudnya apa?" tanya Levi saat Elea tak kunjung bicara.
Tangan Elea menggenggam pinggiran kotak bianglala dengan begitu kuat. Dan hal itupun di sadari oleh Levi. Dia paham kalau Elea masih belum siap untuk menceritakan rahasianya.
"Hei, kenapa kau belum memakan permen kapasnya, Elea? Lihat, punyaku sudah hampir habis!?" teriak Levi mengalihkan perhatian Elea dengan menyebut nama permen kapas.
"Bukan permen kapas, Kak. Tapi gula kapas" sahut Elea membenarkan.
"Biarkan saja. Entah itu permen kapas ataupun gula kapas toh mereka sama-sama makanan yang bisa kita nikmati kan?" elak Levi.
Elea mengangguk. Dia lalu membuka bungkusan gula kapas kemudian mulai menikmatinya. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca.
"Ada apa Elea? Apa perutmu kembali terasa sakit?" tanya Levi cemas melihat teman kecilnya yang seperti akan menangis.
"Tidak" jawab Elea lirih.
"Lalu kenapa kau menangis? Apa pertanyaanku tadi membuatmu sedih?".
Elea menggeleng.
"Bukan karena itu Kak".
"Lalu apa Elea? Tolong jangan membuatku takut seperti ini. Gabrielle bisa mengirimku ke surga kalau tahu kau menangis!" desak Levi.
"Aku hanya sedang bersyukur pada Tuhan, Kak. Karunia-Nya begitu baik, Dia mempertemukan aku dengan orang-orang baik seperti Kakak dan Kak Iel. Tanpa belas kasih dari kalian mungkin sampai mati aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Terima kasih Kak sudah membuatku merasakan sesuatu yang selama ini hanya bisa aku khayalkan dalam mimpiku!".
Mata Levi berkaca-kaca. Dia kemudian memeluk Elea dengan begitu sayang. Mereka berdua akhirnya menangis bersama dengan di saksikan oleh bianglala dan juga permen kapas di tangan masing-masing.
👇
👇
👇
👇
👇
Tuhan tidak akan pernah salah menempatkan bidadari di sekeliling orang baik. Seperti Elea, gadis malang itu mendapatkan kebahagiannya setelah bertemu dengan Gabrielle dan Levi. Hidupnya akan berubah cerah layaknya mentari di pagi hari setelah ini......
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1
...🌻 WA: 0857-5844-6308...