
Tes
Sebutir airmata menetes dari sudut mata Patricia yang sedang duduk melamun di balkon kamar sambil memandangi bintang di langit. Rasa penyesalan begitu membelenggu hatinya, dia merasa amat sangat tersiksa. Bayangan wajah ibunya yang sedang tersenyum sambil membelai-belai rambutnya membuat dada Patricia terasa begitu sesak.
Hanya karena kecewa dengan ketidak-adilan yang dia terima dari sang ayah, Patricia sampai tega membunuh wanita yang selama ini sudah merawatnya dengan penuh cinta meski hubungan di antara mereka sebenarnya hanya sebatas bibi dan keponakan. Patricia gelap mata, hatinya semakin sakit setelah mengetahui kalau Eleanor telah datang ke tengah-tengah keluarganya. Jauh di dalam hati Patricia, dia ingin menyingkirkan Eleanor hanya karena takut kehilangan kasih sayang dari ayah, ibu, dan juga kakeknya. Namun, ketakutan yang menjerat hati Patricia membuatnya menurut pada bisikan iblis yang terus mengatakan kalau Eleanor akan membuat keberadaannya semakin tak terlihat. Patricia di dera kepanikan yang luar biasa. Hingga pada akhirnya kemarahan Patricia memuncak ketika sang ibu tidak berhenti membela Eleanor. Kemudian muncullah rencana jahat untuk menghabisi keduanya. Namun sayang, rencana itu malah membuat Patricia terjebak dalam kubangan lumpur hitam yang sangat kotor.
Kesuciannya hilang di tangan Junio, dan dia harus menerima kenyataan pahit kalau hanya ibunya saja yang meninggal dalam ledakan bom yang dia rencanakan. Dia merasa sangat marah karena ternyata Eleanor masih hidup. Akan tetapi semakin lama dia menyimpan amarah, Patricia malah merasa kalau hidupnya sangat menyedihkan. Dia merasa telah dibodohi oleh rasa ketakutan dan kebencian yang tak berdasar. Eleanor tidak salah apa pun padanya. Pun pewaris dari seluruh harta kekayaan Keluarga Young sebenarnya bukan dia, melainkan gadis yang selama ini dia anggap sebagai parasit dalam hidupnya.
"Hikssss... Ibu, maafkan aku,"
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Kening Junio mengerut ketika tak mendapati Patricia di dalam kamar. Dia lalu melihat kearah pintu balkon yang terbuka, kemudian memutuskan untuk datang ke sana.
"Maafkan aku Bu, aku salah. Aku menyesal tidak mendengarkan nasehat Ibu, aku rindu padamu Bu. Aku rindu pelukan Ibu" isak Patricia pilu.
Langkah Junio terhenti. Dia tertegun melihat wanita cantik yang sedang menangis sambil menatap langit. Entahlah, setiap kali Junio melihat Patricia meneteskan airmata, dia seperti melihat bayangan ibunya yang sedang menangis saat mengetahui perselingkuhan yang di lakukan oleh ayahnya.
Netra Junio kemudian memperhatikan lekuk tubuh Patricia yang tercetak jelas karena hanya memakai lingerie. Junio kemudian melepas jas yang di pakainya, melangkah dengan sangat pelan kearah Patricia lalu memakaikan jas tersebut ke tubuhnya.
"Angin malam tidak baik untuk kulitmu" bisik Junio kemudian merengkuh pinggang ramping Patricia.
Patricia menelan ludah. Hatinya menjerit, sadar jika dirinya akan kembali menerima pelecehan dari pria yang ada di belakangnya. Namun, karena dia tak ingin kehilangan kesempatan untuk datang ke makam ibunya, Patricia dengan berat hati berpura-pura senang melihat kehadiran Junio. Apa pun akan dia lakukan supaya pria ini bersedia untuk mengajaknya keluar meski hanya sebentar.
"Jun, apa kau sudah makan malam?" tanya Patricia sambil menahan tangis.
Junio bukanlah orang yang bodoh. Dia tentu tahu kalau Patricia sedang menyembunyikan rasa muaknya.
"Aku ingin memakanmu" jawab Junio dengan sengaja.
Tubuh Patricia langsung menegang. Junio yang merasakan hal itu nampak tersenyum samar. Tebakannya benar bukan? Patricia sedang berpura-pura.
"Ganti bajumu,"
"G-ganti baju? Bukankah kau...
__ADS_1
"Sudah, turuti saja" sela Junio kemudian merenggangkan pelukannya. "Sepuluh menit kau harus sudah sampai di lantai bawah."
Patricia langsung berbalik begitu mendengar suara langkah kaki Junio bergerak menjauh. Dengan raut wajah kebingungan dia bergegas mengganti pakaian. Setelah itu dengan setengah berlari dia turun ke lantai bawah menghampiri Junio yang sedang berdiri menunggunya.
"Jun, sudah,"
Ekor mata Junio menatap lama kearah Patricia. Dia lalu menggandeng tangannya menuju mobil.
Dalam perjalanan, baik Junio mau pun Patricia tidak ada yang bicara. Keduanya hanya diam dengan tatapan lurus ke depan. Kurang lebih satu jam lamanya mereka berkendara sebelum akhirnya mobil berhenti di dekat pantai.
"Keluarlah!.
Patricia kebingungan.
"Cepat, sebelum aku berubah pikiran" ucap Junio sambil menatap Patricia yang hanya diam tak bergeming.
"Apa aku dibuang?" tanya Patricia lirih. "Kau belum mengantarkan aku ke makam ibuku, Jun. Kenapa malah membawaku kemari?.
"Kau lihat laut itu?" tanya Junio. "Pergi dan menjeritlah sekuat mungkin. Ada dua pilhan di sana, pergi melarikan diri atau kembali padaku. Sekarang Patricia!.
"Aaaaaaaaa... Ibuuuuu... Maafkan aku Bu... Maafkan akuu... Aku menyesal, hiksss. Aku menyesal Bu, tolong ampuni kesalahanku Bu, aku salah!.
Patricia jatuh terduduk di atas pasir setelah menjerit dengan sangat kuat. Dia kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan sebelum kembali menjerit. Dadanya begitu sakit, dia serasa ingin mati.
"Hiksssss....
Bahu Patricia terus bergetar. Suaranya bahkan hampir habis karena tak berhenti berteriak. Deburan ombak nampak bergulir membasahi kakinya yang putih. Yang mana hal itu membuat Patricia membuka tangan yang menutupi wajahnya.
"Kenapa Tuhan, kenapa kau tidak menyadarkan aku sebelum ledakan itu terjadi. Sekarang aku kehilangan tujuan hidupku, aku tak memiliki siapa pun lagi di dunia ini. Pada siapa aku harus kembali sekarang?.
Saat Patricia tengah kebingungan kemana dia harus pergi melarikan diri, tiba-tiba saja dia terngiang dengan ucapan Junio. Lama dia terdiam, hingga akhirnya Patricia memutuskan untuk pergi dari sana. Langkahnya gontai, tatapan matanya pun terlihat kosong. Ya, Patricia berjalan tanpa arah. Dia hanya berjalan saja mengikuti suara hati yang akan membawanya pergi menuju tempat persinggahan.
Junio yang saat itu sedang duduk di kap mobil nampak terkejut melihat kedatangan Patricia. Awalnya dia mengira kalau wanita ini akan kabur begitu dia melepaskannya. Namun, siapa yang menyangka kalau wanita ini akan kembali lagi padanya.
"Tidak menyesal kembali padaku, hm?" tanya Junio lembut sembari mengusap pipi Patricia yang terlihat pucat dan juga sangat dingin.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Patricia malah menangis histeris. Dia sangat ingin pergi dari cengkeraman pria gila ini, tetapi dia tidak tahu harus pergi kemana. Seputus-asanya Patricia, dia masih sadar untuk tidak menuruti desakan iblis yang menyuruhnya untuk melakukan bunuh diri. Patricia tidak mau menjadi manusia yang di tolak Tuhan, dia tidak mau itu.
"Hikss, J-Jun....
"Apa?.
Tak tega melihat Patricia yang kelihatan begitu tersiksa, Junio segera memberinya sebuah pelukan hangat. Dia membiarkan airmata wanita ini tumpah membasahi kemejanya. Di temani deburan ombak, seharusnya momen ini bisa menjadi momen yang sangat membahagiakan. Namun, di antara mereka tak ada perasaan yang terjalin. Sang wanita terjebak dalam noda hitam di bawah kekuasaan sang pria.
"Aku menyesal Jun, aku menyesal. Aku ingin bertemu Ibu, aku rindu" ucap Patricia sambil menangis sesenggukan.
"Lalu kenapa kau tidak lari tadi? Aku kan sudah memintamu untuk mengambil keputusan. Kenapa kau malah kembali lagi padaku?" sahut Junio sambil terus mengusap-usap punggung wanita yang sedang menangis di pelukannya.
"Kemana aku harus pergi?.
Deg
Ada perasaan miris di benak Junio ketika mendengar jawaban Patricia. Kemana aku harus pergi, seolah kata ini menyiratkan rasa keputus-asaan yang begitu mendalam.
"Kau adalah anggota Keluarga Young. Aku yakin mereka pasti akan menerimamu kembali jika kau bersedia untuk meminta maaf dan mengakui semuanya,"
Patricia menggeleng. Dia mengeratkan pelukannya ke tubuh Junio. Mencoba mencari ketenangan untuk meredakan hatinya yang sudah hancur tak berbentuk. Patricia terlalu malu untuk kembali ke keluarga itu. Terlebih lagi di sana ada Eleanor, gadis tak bersalah yang hampir mati di tangannya. Hidup menjadi budaknya Junio adalah pilihan terakhir Patricia untuk menghabiskan sisa hidupnya. Tiada lagi masa depan, semuanya hilang bersamaan dengan kematian ibunya.
Junio merengkuh kuat tubuh Patricia ketika mendengar suara dengkuran halus dari mulutnya. Mungkin karena kelelahan menangis, Patricia sampai tertidur di pelukannya. Lama Junio berada dalam posisi itu, membiarkan angin malam menerpa tubuhnya dan juga tubuh Patricia.
'Apa aku harus memberitahunya kalau Nyonya Yura itu masih hidup? Lama-lama aku jadi tidak tega melihatnya seperti ini. Haruskah aku jujur?.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_lupss...
...🌻 FB: Rifani...
__ADS_1