Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Ruang Operasi


__ADS_3

Di ruang rawat Elea, semua orang sudah berkumpul. Sore ini juga Elea akan menjalani operasi transplantasi ginjal karena keadaannya kian memburuk. Dan operasi itu akan dilakukan langsung oleh Jackson dan juga Reinhard, mereka berdua yang akan bertanggung jawab atas keselamatan Elea dan juga Kakek Karim.


Gabrielle yang begitu terpukul dengan keadaan istrinya tampak murung. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya meski semua orang terus mengajaknya bicara. Gabrielle merasa dunianya menjadi gelap, dia begitu takut akan kehilangan istri kecilnya.


"Kak Iel, gelang kembaran kita mana?" tanya Elea dengan suara lirih. Keadaannya semakin melemah setelah dia muntah tanpa henti.


Gabrielle ingin menjawab, tapi lidahnya kelu. Untung saja Ares sigap dengan meminta Nun mengantarkan semua barang milik tuannya siang tadi setelah dia memberikan kejutan romantis untuk Cira. Dia lalu dengan cepat mengambil gelang yang di inginkan oleh nyonya kecilnya.


"Ini gelangnya, nyonya."


"Terima kasih, Ares."


"Sama-sama, nyonya" sahut Ares kemudian mundur.


Bryan dan Yura tidak ada di ruangan tersebut. Mereka kini tengah menemani Kakek Karim yang sudah berada di ruang operasi. Wajah Liona, Greg, Clarissa dan yang lainnya sama, mereka murung. Permata mereka begitu tak berdaya, terbaring lemah dengan kaki yang membengkak besar. Entahlah, rasa ini terlalu sulit untuk di gambarkan. Semuanya terluka.


Di pojok kamar, terdengar suara isak tangis Levi yang tidak berhenti sejak tadi. Wanita bar-bar yang biasanya selalu garang kini terlihat begitu menyedihkan. Levi tidak merasa malu sedikitpun meski harus menangis di depan banyak orang. Sekarang dia tidak peduli dengan harga dirinya yang setinggi langit, dia sedang sangat khawatir memikirkan kondisi teman kecilnya yang semakin menurun.


"Grandma, musim panas ini Grandma akan membuat pagelaran busana bukan?" tanya Elea.


Clarissa mengangguk. Dia kemudian mendekat kearah cucunya lalu mencium keningnya lama. Kesayangannya begitu lemah sekarang.


"Sayangku, kau harus bisa melewati operasi ini dengan baik. Grandma janji akan mengadakan pergelaran busana yang sangat meriah khusus untukmu. Ya?.


"Apa aku dan Kak Levi boleh menjadi modelnya?.


"Boleh, tentu saja boleh" jawab Clarissa seraya menyeka airmatanya. "Kau boleh mengajak siapapun yang kau mau asalkan itu bisa membuatmu bahagia. Karena itulah kau harus cepat sembuh."


Elea mengangguk lemah. Dia kemudian beralih menatap Kayo yang berada dalam pelukan ibunya. Elea tersenyum.


"Kayo, apa dokter Jackson itu jelek?.


"Tidak kakak ipar, dia sangat tampan" jawab Kayo. "Kenapa bertanya seperti itu?.


"Dokter Jackson bilang kau menolaknya,"


Abigail melepas pelukannya kemudian mendorong putrinya agar mendekat kearah ranjang.


"Selesaikan,"


Kayo mengangguk.


"Aku memang menolaknya, kakak ipar. Dia terlalu kaku saat mengajakku menikah, dan aku tidak suka itu" ucap Kayo jujur. "Tapi semakin aku sering berbicara dengan Jackson, aku baru tahu kalau dia tidak seburuk yang aku pikirkan."


Elea tersenyum. Rasanya lemas sekali, kakinya juga tidak berhenti berdenyut.


"Kakak ipar, kau harus sembuh ya? Aku ingin mengajakmu merecoki hidupnya Jackson, tidak asik kalau aku melakukannya seorang diri. Mau kan?.

__ADS_1


"Mau,"


"Janji sembuh ya?" ucap Kayo dengan suara tercekat ketika melihat pandangan mata kakak iparnya semakin sayu.


"Iya,"


Gabrielle menengadahkan wajahnya keatas. Dia benar-benar tidak sanggup melihat keadaan istrinya yang seperti ini. Greg yang melihat putranya begitu terpukul segera datang mendekat. Dia memberinya pelukan, mencoba menguatkannya agar tetap berpikiran tenang.


"Aku seperti akan mati, Ayah. Leherku seperti tercekik. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa semuanya jadi seperti ini" bisik Gabrielle yang akhirnya bisa mengeluarkan suara.


"Tidak apa-apa. Ini semua sudah menjadi cobaan dalam rumah tanggamu. Kau harus kuat demi Elea, jangan membuatnya terbebani pikiran saat akan masuk ke ruang operasi. Kuatlah Nak, kita semua ada di sini bersamamu" sahut Greg lirih.


"Tapi ini semua terlalu menyakitkan, Ayah. Bertahun-tahun Elea hidup menderita, kenapa Tuhan masih saja mengujinya dengan cara seperti ini. Tidakkah Tuhan merasa sedikit kasihan padanya?.


"Ssttt, kau tidak boleh menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi pada Elea. Satu hal yang harus kau ingat, Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan umatNya sendiri. Dia terus-menerus mendatangkan kepedihan di hidup Elea karena Dia yakin kalau Elea pasti sanggup melewatinya. Seperti sekarang, Ayah yakin Elea pasti akan sembuh setelah melewati operasi ini. Kau tidak boleh lemah, Gabrielle. Di sini Elea sedang sangat membutuhkan dukungan darimu. Angkat kepalamu dan tunjukkan sikapmu yang tegar. Jadilah seorang suami yang kuat di hadapan istrimu, Nak!" jawab Greg terus menguatkan batin putranya yang sedang terpuruk.


Ceklek


"Sudah waktunya Elea masuk ke ruang operasi!" ucap Jackson dingin.


Kayo menoleh. Dia lalu menganggukkan kepala kearah Jackson, mencoba menyalurkan kekuatan agar pria itu kuat menyelesaikan tugasnya.


"Dokter, apa Kakek Karim baik-baik saja? Kau sudah memeriksanya dengan benar belum?" tanya Elea khawatir.


"Tuan Karim terlihat sangat bahagia sejak tadi. Dia sama sekali tidak terlihat cemas ataupun takut" jawab Jackson kemudian masuk sambil mendorong kursi roda. "Gabrielle, kau atau aku yang akan mengangkat Elea?.


Elea langsung mengulurkan tangan kearah suaminya sambil tersenyum. Dia terus menatap lekat wajah tampan suaminya, merekam sebanyak mungkin agar dirinya tidak tersesat saat berada di alam mimpi.


"Aku mencintaimu, Gabrielle Shaquille Ma, suamiku."


Rahang Gabrielle mengetat saat dia mendengar bisikan istrinya. Ingin rasanya dia membawa Elea pergi dari semua masalah yang ada, dia tidak rela istrinya kesakitan seperti ini.


Begitu Elea duduk di kursi roda, Jackson segera mendorongnya keluar. Semua orang pun segera mengikutinya dari belakang. Tak terkecuali Levi yang masih terus menangis sampai ujung hidungnya memerah dan bengkak.


"Ayah, Ibu... em hai Patricia, hai Paman Junio" sapa Elea ketika melihat ada empat orang tengah berdiri di depan ruang operasi.


Patricia kikuk. Dia memilih untuk menjauh karena belum siap untuk bertemu dengan semua orang, terlebih lagi Eleanor.


"Sayang, kau harus sembuh ya" ucap Yura yang langsung menangis sambil menciumi wajah pucat putrinya.


"Do'akan saja ya Bu,"


Bryan duduk berjongkok di hadapan kaki putrinya yang membengkak. Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa begitu sakit, seakan ada banyak duri yang tumbuh di dalamnya.


"Ayah jangan menangis. Aku dan Kakek pasti akan baik-baik saja setelah keluar dari ruang operasi. Jangan sedih ya" ucap Elea dengan nafas yang mulai sesak.


Jackson yang melihat Elea mulai sesak nafas segera memeriksanya. Semua orang menjadi panik, mereka menatap penuh khawatir kearah Elea yang nampak tersengal.

__ADS_1


"Aku rasa kalian semua cukup tahu kalau operasi ini sudah tak bisa di tunda lagi" ucap Jackson sambil mengepalkan tangan. "Tidak ada lagi pembicaraan, karena itu semua hanya akan membuat tenaga Elea makin terkuras!.


Semua orang mengangguk paham. Gabrielle yang sejak tadi tidak mengatakan apapun pada Elea dengan cepat menahan pundak Jackson yang sudah hampir masuk ke dalam ruangan.


"Satu menit, please!.


"Gabrielle, satu menit yang kau minta bisa membuat Elea berada dalam bahaya. Tolong mengertilah!" tegur Jackson.


Bruukkk


"Aku mencintaimu, Elea. Aku mencintaimu... aku mencintaimu, aku mencintaimu... Tolong tetap ingat aku, ingat aku yang sangat mencintaimu di sini" ucap Gabrielle sambil terisak di pangkuan Elea.


Dengan gerakan yang sangat lemah Elea mengusap rambut suaminya. Meski kesakitan, Elea tetap mensyukuri pemberian Tuhan yang sudah mempertemukannya dengan pria sebaik Gabrielle. Sungguh, Elea sangat mencintai pria ini, benar-benar sangat mencintainya.


"Tunggu aku melewati badai ini ya, Kak. Setelah itu aku janji kita berdua akan hidup dengan sangat bahagia bersama ketiga anak kita kelak. Jangan menangis, aku sedih melihatmu begini."


Liona tak kuasa untuk tidak meneteskan airmata saat mendengar isi pikiran menantunya. Keadaan saat ini terasa begitu haru dan juga menyedihkan. Sungguh, Liona benar-benar tidak memahami takdir Tuhan, semuanya terjadi tanpa bisa di tebak.


"Gabrielle....


"Iya" sahut Gabrielle kemudian berdiri.


Gabrielle menatap wajah istrinya sepuas mungkin kemudian meninggalkan satu kecupan hangat di keningnya. Dia tersenyum.


"Aku tidak akan pergi kemana-mana sampai kau membuka mata. Lekaslah kembali, sayang."


Elea mengangguk. Dia terus menatap wajah suaminya ketika kursi roda yang di naikinya mulai di dorong masuk ke dalam ruang operasi. Elea sama sekali tidak mengalihkan pandangannya sampai pintu ruangan benar-benar tertutup sempurna. Dan....


Klik


Gabrielle seperti kehilangan nyawa saat lampu di depan pintu ruangan operasi menyala. Dia tahu, saat ini istrinya akan segera berjuang di atas meja operasi.


"Kau pasti sembuh, sayang. Aku yakin itu" gumam Gabrielle lirih.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


💗 Kakak-kakak, do'ain aku ya💗



...💜 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...💜 IG: rifani_nini...


...💜 FB: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2