
"Bibi Yura, bagaimana keadaanmu?" tanya Elea begitu masuk ke dalam kamar rawat ibu sambungnya.
Setelah Grandma-nya kembali ke hotel, Elea meminta suaminya untuk mengantarkan ke rumah sakit. Dia ingin pergi menjenguk Bibi Yura dan juga Lusi. Elea merasa sedikit penasaran dengan reaksi Lusi setelah dia menjauhkannya dari Paman Gleen.
"Sudah lebih baik, sayang. Kau darimana? Kenapa malam-malam begini datang ke rumah sakit?" tanya Yura sambil melemparkan senyum kearah anak sambungnya.
Gabrielle menganggukkan kepala kearah ibu mertuanya. Dia celingukan mencari keberadaan sang ayah mertua.
"Ayah kalian sedang pulang untuk mengurus beberapa berkas pekerjaan. Patricia sedang tidak enak badan, jadi dia tidak bisa datang ke perusahaan dulu" ucap Yura memberitahu dimana keberadaan suaminya.
"Oh, aku pikir Ayah pergi kemana" sahut Gabrielle kemudian duduk di sofa ruangan. Ekor matanya terus mengawasi Elea yang kini sudah duduk di tepi ranjang.
"Bibi, aku boleh memanggilmu Ibu tidak? Bibi kan istrinya Ayah, seharusnya aku memang memanggilmu Ibu kan?" tanya Elea.
Yura terkesiap. Mimpi apa dia tiba-tiba saja anak sambungnya ingin memanggilnya Ibu? Dia tidak salah dengarkan kan?.
"Em, tidak boleh ya Bi?" ucap Elea merasa kecewa.
"Boleh, boleh" sahut Yura cepat. "Sayang, kau boleh memanggilku Ibu. Bibi, Bibi hanya tidak percaya, rasanya seperti mimpi. Sungguh!.
Elea tersenyum senang. Dia lalu menoleh kearah suaminya dengan mata berkaca-kaca.
"Kak Iel, aku sekarang punya Ibu. Keluargaku sudah lengkap."
"Selamat ya sayang. Aku turut berbahagia dengan apa yang baru saja kau dapatkan" jawab Gabrielle penuh haru.
Elea langsung menoleh kearah ibu barunya saat dia mendengar suara isak tangis. Awalnya Elea kaget, tapi dia langsung paham alasan yang membuat ibu barunya jadi seperti ini.
'Tuhan, kebahagiaan macam apa ini? Kebaikan apa yang telah aku perbuat sampai kau memberiku cinta sebanyak ini? Suamiku bersedia memberiku tempat di hatinya, dan sekarang putri sambungku ingin memanggilku Ibu. Aku benar-benar merasa sangat amat terberkati. Tuhan.... Terima kasih, terima kasih banyak untuk semua kebahagiaan bertubi-tubi ini. Aku berjanji akan menjaga keluargaku dengan sebaik-baiknya. Aku berjanji akan mencintai mereka dengan sepenuh hati. Aku berjanji Tuhan, aku berjanji!.
Gabrielle tersenyum samar saat mendengar doa yang di panjatkan oleh ibu mertuanya. Dia merasa lega karena satu-persatu batu sandungan yang menghalangi kebahagiaan istrinya berhasil di luluhkan. Hati Elea yang begitu bersih mampu menyelesaikan segala permasalahan yang ada. Kini hanya tinggal masalah Kakek Karim dan juga Grandma Clarissa. Dan Gabrielle masih harap-harap cemas dengan sikap yang akan di ambil oleh Elea mengingat betapa besar rasa kecewa yang di rasakan oleh istri kesayangannya itu.
"Ibu, jangan menangis ya. Aku jadi ikut sedih" hibur Elea sambil menyeka airmata di wajah ibunya.
"Hikssss, Ibu benar-benar merasa sangat terharu, sayang. Ibu tidak menyangka kau masih bersedia memanggilku Ibu setelah apa yang terjadi. Maafkan Ibu ya Nak, Ibu sangat menyesal pernah mempunyai niat buruk untuk mencelakaimu" sesal Yura lirih.
"Sudahlah Bu, aku sudah memaafkan kesalahan Ibu. Lagipula semuanya juga sudah lewat, jadi kita buka lembaran yang baru saja ya. Seperti hubungan Ayah dan Ibu, aku tahu kalian pasti sudah berbaikan kan?.
Yura tertawa melihat gaya tengil Eleanor saat menggodanya. Mereka terus mengobrol hingga akhirnya Yura terlelap karena tadi sebelum Elea datang dia sudah meminum obat. Elea yang melihat ibunya tertidur segera menyelimutinya dengan hati-hati. Setelah itu dia mengajak Gabrielle pindah ke ruangan Lusi.
__ADS_1
"Rasanya lega sekali ya Kak setelah memaafkan semua orang. Haaaaahhhhhhh..." ucap Elea seraya membuang nafas tanpa beban.
"Istriku yang terbaik" puji Gabrielle kemudian mencium puncak kepala istrinya. "Aku sangat mencintaimu, Elea. Aku beruntung bisa menikah dengan seorang peri baik hati sepertimu."
Elea tersipu di puji seperti itu oleh suaminya. Tak lama kemudian mereka berdua sampai di depan ruangan Lusi. Dia dengan sangat tidak sabar segera masuk ke dalam ruangan tersebut, meninggalkan suaminya yang sedang menatapnya sambil mengerucutkan bibir.
"Selalu saja di tinggal jika sudah bertemu dengan temannya. Elea-Elea, kau ini pintar sekali sih membolak-balikkan hatiku. Hmm.."
Lusi yang saat itu tengah melamun terkejut melihat kedatangan nyonya-nya. Dia lalu berniat bangun untuk memberi hormat, namun gagal karena tulang punggungnya terasa begitu sakit.
"Astaga, sudah tahu punggungnya patah masih saja tidak mau diam. Kak Lusi mau menjadi nenek bengkok ya?" omel Elea sambil berlari membantu Lusi untuk berbaring dengan benar.
"Sshhhh, maaf nyonya. Saya hanya ingin memberi hormat pada anda dan juga pada Tuan Muda" sahut Lusi sambil menahan sakit.
"Hormat hormat terus yang Kakak pikirkan. Memangnya aku dan Kak Iel tiang bendera apa? Kenapa juga masih memanggilku Nyonya, kita kan teman, Kak Lusi. Sebentar lagi kita bahkan akan masuk ke Universitas yang sama. Jadi jangan memanggilku seperti itu lagi ya? Panggil saja E-L-E-A, Elea. Bisa kan?.
Lusi canggung.
"Turuti saja apa kata istriku, Lusi. Tidak perlu merasa canggung" ucap Gabrielle yang tahu kalau mantan pelayannya ini merasa tidak enak.
"Nah, Kak Lusi dengar sendiri kan?" imbuh Elea.
Meski segan, Lusi akhirnya menurut. Dia dengan hati-hati memanggil nama Elea tanpa embel-embel nyonya.
Elea bertepuk tangan. Dia kesenangan.
"Kak Lusi, kau mau marah padaku tidak?" tanya Elea saat teringat dengan tujuannya datang kemari.
"Marah? Marah kenapa?" tanya Lusi heran.
"Itu, aku sudah menghukum Paman Gleen seharian ini dengan tidak mengizinkannya bertemu denganmu. Maaf ya, aku sengaja melakukan hal itu untuk balas dendam karena dia sudah memukuli Ibuku sampai terluka parah. Bibir Ibuku sampai robek dan menjadi jelek gara-gara ulah Paman Gleen" jawab Elea menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Mata Lusi terbelalak lebar. Dia pikir Gleen di hukum karena ingin mendekati nyonya-nya, rupanya bukan.
"Jadi dia di hukum bukan karena ingin mendekatimu?.
"Ehh, memangnya untuk apa Paman Gleen mendekatiku? Berani sekali dia ingin mendekati istrinya seorang Gabrielle, cari mati ya."
Gabrielle tergelak. Rasanya aneh sekali saat mendengar Elea menyebutnya dengan sebutan seorang Gabrielle. Terdengar kurang luwes tetapi menyenangkan. Hehe..
__ADS_1
"Aku pikir begitu karena dia sempat bilang Tuan Muda Gabrielle yang menghukumnya. Jadi bukan ya?" ucap Lusi saat menyadari kalau dirinya sudah salah paham pada pria yang diam-diam sudah mendapatkan tempat khusus di hatinya.
"Bukanlah."
Gabrielle diam menyimak pembicaraan absurd antara istri dan juga mantan pelayannya. Sesekali bibirnya nampak tersenyum ketika mendengar celetukan Elea yang membuat Lusi tidak bisa berkata-kata.
"Kak Lusi, cepat sembuh ya. Nanti aku akan mengajakmu pergi menguras uangnya Kak Iel lagi. Rasanya sangat tidak seru kalau aku pergi berfoya-foya sendirian" ajak Elea sambil berpangku dagu.
"Memangnya Nona Levi kemana? Biasanya kan dia yang selalu bersemangat menguras harta milik Tuan Muda" sahut Lusi bingung.
"Kak Levi juga sedang sakit, dia belum sembuh juga dari hari itu. Mungkin dia terkena azab karena selalu menjadi pelakor di dalam rumah tanggaku, makanya Tuhan tidak mau mengangkat penyakitnya."
Seandainya Levi ada di sini, sudah bisa di pastikan mantan model itu pasti akan langsung mengamuk seperti orang kerasukan setelah mendengar apa yang di katakan oleh Elea. Dia pasti tidak akan terima di cap sedang terkena azab karena menjadi seorang pelakor.
"Sayang, ini sudah malam. Sudah waktunya Lusi untuk beristirahat. Kita pulang ya?" ajak Gabrielle tak tahan lagi mendengar ucapan nyeleneh istrinya.
"Yaahh, padahal aku masih ingin menggosip di sini. Tapi ya sudahlah, besok aku akan datang lagi kemari. Kak Lusi, aku pulang ya?" ucap Elea berpamitan.
"Iya. Terima kasih banyak sudah mau datang menjengukku" sahut Lusi sambil tersenyum haru.
Elea mengangguk. Setelah itu dan Gabrielle keluar dari sana, meninggalkan Lusi yang sedang termenung memikirkan Gleen.
"Jadi dugaanku salah ya?.
Gabrielle yang masih bisa mendengar apa yang tengah di pikirkan oleh Lusi pun merasa tidak tega. Tanpa sepengetahuan Elea, dia mengirimkan sebuah pesan pada sahabatnya Junio.
"Datang dan temuilah kekasihmu di rumah sakit. Aku dan Elea sudah mengampunimu." π€£π€£
πππππππππππππππππ
β Silahkan di pilih mau mampir ke novel yang mana. Dua-duanya bagus. Kalau mau yang romantis silahkan mampir ke lapaknya @Ovie NurAisyah, tapi kalau mau yang bikin tegang silahkan mampir ke lapaknya @Lotus Putih.
...π» VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...π» IG: emak_rifani...
...π» FB: Rifani...