Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Dilema


__ADS_3

Semenjak Karim mengakui kejahatannya, rumah Keluarga Young berubah menjadi sangat sunyi seakan tidak ada lagi kehidupan di rumah mewah tersebut. Hanya terlihat para penjaga dan juga para pelayan yang sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Sementara si tuan rumah sendiri asik menyembunyikan diri di dalam kamar.


Seperti pagi ini, Yura nampak lesu saat berjalan keluar dari dalam kamarnya. Matanya terlihat sembab dengan wajah yang terlihat sedikit pucat. Semalam Yura tidak bisa tidur karena terus menangisi suaminya yang tak kunjung pulang ke rumah. Anak buah yang dia minta untuk mencari Bryan-pun tak memberinya kabar baik. Yura sangat mengkhawatirkan keadaan Bryan, dia takut terjadi sesuatu pada pria yang sangat di cintainya itu. Belum lagi kondisi mertuanya yang tak kalah mengkhawatirkan. Sejak suaminya pergi meninggalkan rumah, ayah mertuanya berubah menjadi mayat hidup yang menolak untuk bicara pada siapapun. Bahkan makanan dan juga obata-obatanpun di tolak. Mungkin kemarahan Bryan membuat ayah mertuanya merasa sangat terpukul.


Bruuukkk


"Astaga Ibu, kau baik-baik saja?" tanya Patricia kaget melihat ibunya terjatuh ke lantai setelah menabraknya.


Dengan cepat Patricia membantu ibunya berdiri. Dia lalu mengajaknya untuk duduk di sofa, mengusap sikunya yang terlihat sedikit memerah karena tergores lantai. "Wajah Ibu pucat sekali, Ibu sakit?."


Yura menggeleng lemah. Matanya tiba-tiba kembali memanas saat teringat dengan suaminya. "Ayahmu masih belum pulang juga, Cia. Ibu sangat mengkhawatirkannya" ucap Yura berusaha untuk tidak menangis.


"Ibu tidak perlu secemas ini, Ayah pasti baik-baik saja di luar sana. Lagipula Ayah kan sudah dewasa, seharusnya dia tidak melakukan hal-hal bodoh yang bisa merugikan dirinya sendiri. Mungkin saja Ayah sedang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri setelah mendengar pengakuan Kakek" sahut Patricia tenang.


Tidak peduli meski ayahnya harus mati sekalipun, itu sama sekali tidak berpengaruh pada Patricia. Baginya, yang terpenting adalah bagaimana cara merebut semua harta kekayaan milik Keluarga Young sebelum parasit itu di bawa pulang ke rumah ini. Patricia bahkan tidak merasa iba sama sekali melihat keadaan kakeknya yang hanya terduduk diam dengan tatapan mata yang kosong.


"Tapi Cia, Ayahmu pergi dengan membawa amarah yang sangat besar. Ibu takut Ayahmu kalap lalu membuat onar di luar rumah. Bagaimana kalau sampai ada preman-preman yang tidak terima kemudian memukuli Ayahmu? Ibu tidak mau itu terjadi Cia, Ibu tidak mau!" ucap Yura dengan airmata berderai di wajahnya.


'Itu malah bagus Bu kalau ada orang yang mencelakai Ayah. Secara tidak langsung mereka sudah membantuku menyingkirkan salah satu penghambat jalanku untuk bisamenguasai harta milik keluarga ini. Lebih bagus lagi jika kakek tua itu bisa mati lebih cepat. Kemenangan benar-benar akan berada di genggaman tanganku Bu!.'

__ADS_1


"Cih, ini semua terjadi karena anak sialan itu. Untuk apalagi dia datang kemari setelah sekian tahun menghilang? Baru saja beberapa hari ini aku melihat sikap Ayah sedikit melembut pada Ibu, tapi sekarang semua itu di hancurkan dengan kedatangan Eleanor. Tidakkah menurut Ibu kita perlu menyingkirkannya?" tanya Patricia sengaja memprovokasi ibunya. "Aku tidak rela ada yang menghancurkan kebahagiaan Ibu, sekalipun itu adalah anak kandung Ayah. Bagiku dia hanyalah parasit yang ingin merusak kebahagiaan kita, Bu!."


Tangis Yura langsung terhenti. Dia tidak menyangka kalau putrinya yang lembut ini akan bicara seperti itu tentang anak kandung suaminya yang ternyata masih hidup.


"Patricia, apa kau sadar dengan apa yang kau katakan barusan nak?" tanya Yura heran.


"Sangat sadar, Bu. Gadis bernama Eleanor itu adalah iblis yang ingin merusak kebersamaan kita bersama Ayah dan juga Kakek. Gara-gara dia, sekarang rumah ini berubah seperti kuburan. Ibu bersedih, Ayah kabur dari rumah, dan Kakek terlihat seperti tak ingin hidup lagi. Sebagai putri kalian, wajarkan jika aku marah dan mengutuki gadis itu Bu? Aku sangat menyayangi kalian semua, aku tidak rela ada yang mengusik ketenangan keluarga kita!" jawab Patricia menggebu-gebu.


"Tapi Cia, Eleanor adalah putri kandung Ayahmu. Kau tidak boleh berbicara seperti itu. Jika Ayahmu sampai mendengarnya, Ayahmu pasti akan sangat marah!."


Patricia mendengus. Dia kembali memikirkan cara agar ibunya mau mendukung niatnya yang ingin menyingkirkan Eleanor sebelum dia sampai ke rumah ini. Apapun yang terjadi, parasit itu tidak boleh menggeser posisinya. Rencananya yang hanya tinggal selangkah lagi tidak boleh gagal atau dia akan menjadi orang paling sial di seluruh dunia.


"Bu, tidak ada Eleanor saja kita berdua hanya di pandang sebelah mata oleh Ayah. Apa jadinya jika parasit itu sampai masuk ke rumah ini? Kita berdua pasti akan langsung tersisihkan, semua perhatian Ayah dan Kakek pasti hanya akan tertuju padanya. Percaya padaku Bu, tebakanku tidak mungkin salah!" ucap Patricia sembari meremas tangan ibunya.


Yura diam memikirkan perkataan putrinya. Sebenarnya Yura juga mengkhawatirkan hal yang sama, dia takut dirinya akan terbuang jika putri kandung Bryan dan Sandara benar-benar masih hidup dan akan di bawa masuk ke rumah ini. Mungkin kesakitan yang akan dia dan putrinya rasakan jauh lebih buruk dari apa yang mereka rasakan sekarang. Bryan pasti akan menutup mata dengan keberadaan mereka berdua. Tapi meskipun begitu, Yura tak terfikir untuk menyingkirkan anak tirinya. Dia tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal kejam tersebut.


"Bu,tolong jangan salah paham dulu padaku. Aku, aku mengatakan ini semua karena terpaksa. Keadaanlah membuatku bisa memiliki pemikiran seperti ini. Tolong Ibu pahami bagaimana perasaanku sekarang. Hatiku hancur Bu" ucap Patricia lirih berusaha menarik simpati ibunya.


"Cia, Ibu sangat paham bagaimana perasaanmu saat ini. Hati kita berdua sama-sama hancur saat tahu kalau ternyata anak kandung Ayahmu masih hidup. Tapi melenyapkan nyawa orang lain itu adalah tindak kriminal. Ibu tidak mau kau masuk penjara sayang" sahut Yura mulai bimbang.

__ADS_1


"Aku tidak peduli meksipun harus di kirim ke neraka sekalipun. Asalkan itu bisa membuat Ibu bahagia, maka aku pasti akan melakukannya. Biarlah putrimu ini berbuat dosa hanya demi bisa melihat Ibu kembali tersenyum. Karena wanita berhati malaikat seperti Ibu hanya pantas untuk bahagia, bukan untuk bersedih!."


Patricia semakin mendramatisir mental ibunya agar mau mendukung niatannya yang ingin melenyapkan Eleanor. Dari sorot mata ibunya, Patricia yakin kalau ibunya mulai goyah. Dia lalu kembali memikirkan cara agar keyakinan ibunya semakin goyah.


"Bu, apa Ibu tidak takut terasingkan jika gadis itu sampai bergabung di tengah-tengah kita? Ibu tidak takut akan kehilangan kasih sayang Ayah dan Kakek nantinya? Ibu tidak takut, iya?" cecar Patricia.


"Cia, Ibu, Ibu....


Yura gugup. Bimbang antara ingin mengiyakan atau menolak kebenaran yang di sampaikan putrinya barusan. Tak ingin terjebak dalam dilema tersebut, Yura akhirnya memilih untuk pergi ke dapur. Dia pergi tanpa meninggalkan jawaban pada putrinya yang kini hanya menatapnya dengan tatapan datar.


"Saat ini kau boleh menghindar dari pertanyaanku, Bu. Tapi aku yakin, cepat atau lambat kau pasti akan mendatangiku dan mengatakan kalau kau juga mempunyai keinginan yang sama. Sampai waktu itu tiba, aku akan memikirkan cara terbaik untuk menyingkirkan parasit itu. Jika perlu, aku juga akan langsung menghabisi suami Ibu yang tidak punya perasaan itu. Aku sangat membencimu Bryan, benci sampai ke tulang rusukku!" geram Patricia sambil menatap datar kearah ibunya yang sudah sibuk di dapur bersama para pelayan.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2