
Ares yang kebetulan ingin datang melamar bersama kedua orangtuanya hanya bisa terdiam bingung melihat Tuan Bryan menghajar Junio hingga babak belur. Sedangkan Patricia, wanita itu nampak seperti sedang menahan tangis di samping Nyonya Liona.
"Bajingan! Berani-beraninya kau menghamili putriku. Kau pikir kau itu siapa hah!" amuk Bryan setelah kelelahan menghajar pria brengsek yang telah membuat putrinya mengandung.
"Aku Junio, ayah mertua. Aku juga tidak sengaja menanam benih kecambah di perutnya. Awalnya kami hanya senang-senang saja, siapa yang menduga kalau akan ada makhluk lain yang tumbuh di rahim Cia," sahut Junio pasrah.
Liona tersenyum samar mendengar Junio yang masih bisa melawak di saat-saat genting seperti ini. Ya, seperti yang di janjikan oleh Liona bahwa dia yang akan menjelaskan tentang kehamilan Patricia pada keluarganya. Tapi Liona sengaja menutupi kejadian yang sebenarnya demi menjaga perasaan kedua besannya itu. Dia juga meyakinkan mereka kalau Patricia dan Junio sama-sama saling mencintai. Meski awalnya menolak, Bryan dan Yura akhirnya mau menerima setelah mengetahui kalau Junio akan datang melamar. Dan sekarang Junio harus mau menerima amukan seorang ayah yang merasa gagal menjaga putrinya.
"Nyonya Liona, tolong bantu hentikan kemarahan Ayah. Junio bisa mati kalau terus dipukuli seperti itu," ucap Patricia memohon dengan mata berkaca-kaca.
"Biarkan saja. Semua itu memang pantas di terima oleh calon suamimu. Lagipula itu adalah bentuk perhatian seorang ayah untuk putrinya," sahut Liona santai. "Tenang saja. Junio tidak mungkin mati di tangan ayahmu. Aku jamin itu."
"Iya Cia. Biarkan saja ayahmu menghajar bajingan itu sampai bonyok. Grandma senang melihatnya," imbuh Clarissa.
Patricia menoleh ke arah wanita tua yang menyebut dirinya sebagai Grandama. Dia menatap lama ke arahnya yang mana membuat wanita tua tersebut balik menatapnya.
"Jangan melihatku seperti itu. Kau dan Elea adalah cucuku, jadi kau harus memanggilku Grandama juga seperti adikmu."
"Adik? Maksudnya .....
"Ya, adik. Elea kan jauh lebih muda darimu. Berarti dia adikmu bukan?" sela Clarissa.
Di saat yang bersamaan, orang yang sedang di bicarakan oleh Patricia dan Grandma Clarissa muncul. Elea datang bersama Gabrielle yang mendorong kursi rodanya.
"Halo semua!" sapa Elea sambil tersenyum manis. "Ya ampun Ayah, kenapa Ayah memukuli Paman Junio sampai jelek begitu? Kasihan dia, Yah. Jangan memukulinya lagi."
Kata-kata yang terlontar dari mulut Elea seperti tim penyelamat bagi Junio. Dia bisa sedikit bernapas lega karena calon mertuanya sekarang sudah berpindah menghampiri Gabrielle dan Elea.
"Kau baik-baik saja?" tanya Yura lembut sambil berusaha membantu calon menantunya berdiri. Dia kemudian menoleh ke arah Patricia, berharap kalau putrinya itu bisa segera datang membantu.
"Aku rasa ini cukup setimpal untuk bisa menikahi putrimu, calon ibu mertua," sahut Junio seraya mengerling nakal ke arah Patricia yang kini sudah menunduk malu. "Cia, tolong biarkan aku memelukmu sebentar saja. Aku lelah sekali."
"Di sini banyak orang, Jun."
"Kalau begitu ayo cari tempat yang sepi!"
Plaaakkkk
Semua orang langsung melihat ke arah Patricia yang baru saja menggeplak kepala Junio. Mereka menggelengkan kepala begitu mendengar omelan yang keluar dari si ibu hamil.
"Bisa-bisanya kau berpikir mesum di saat nyawamu sendiri sedang dalam bahaya. Menyesal aku menolongmu, Junio!"
"Sayang, jangan seperti itu. Ayo bantu Ibu membawa Junio duduk ke sofa," ucap Yura sambil mengelus bahu putrinya yang sedang marah.
__ADS_1
Sambil bersungut-sungut, Patricia akhirnya membantu Junio untuk duduk. Dia menarik nafas panjang saat pria gila ini langsung berbaring di pangkuannya.
"Junio, tolong sopanlah sedikit. Jangan seperti ini!"
Dan ketika Patricia hendak menggeser Junio agar tidak berbaring di pangkuannya lagi, tiba-tiba saja terdengar suara orang yang mendengkur. Seketika semua orang ternganga, kaget karena ternyata Junio langsung tertidur begitu berada dekat dengan calon istri dan anaknya.
"Waahh, sepertinya Paman Junio mendapat siksaan yang cukup berat selama Patricia mengandung anaknya ya. Kasihan sekali dia!" celetuk Elea takjub.
"Iya sayang. Calon kakak iparmu itu yang harus mengalami muntah-muntah dan mengidam. Mungkin itu adalah sebagian karma atas semua kejahatan yang pernah dia lakukan dulu!" sahut Liona.
"Kejahatan? Kejahatan apa maksudnya, Nyonya Liona?" tanya Bryan ingin tahu.
"Aduuh, Ayah ini ingin tahu saja sih. Paman Junio itu dulu sangat jahat karena sudah mempermainkan hati Patricia. Benarkan, Bu?" jawab Elea berbohong.
Liona mengangguk. Dia kemudian melirik ke arah Patricia yang lebih banyak diam setelah Gabrielle dan Elea datang kemari. Liona kemudian bertanya pada Maria dan Digo yang sejak tadi hanya diam menonton.
"Maria, Digo, mau sampai kapan kalian menganggurkan keberadaan Cira? Bukankah tujuan kalian datang kemari adalah untuk melamarnya? Dan kau juga Ares, tidak bisakah sedikit lebih romantis pada calon istrimu? Bagaimana bisa kalian berdua duduk berjauhan seperti orang yang sedang bertengkar? Ayo cepat mendekat. Ini sudah siang, jangan mengulur waktu lagi."
Wajah Cira langsung memerah. Dia salah tingkah saat Ares benar-benar duduk di sebelahnya. Clarissa yang melihat putri angkatnya tersipu menjadi gemas sendiri. Dia lalu mengirim kode pada cucunya agar menggoda calon pasangan pengantin ini.
"Kak Cira, jangan malu-malu begitulah. Relaks saja karena Ares bukan orang yang mempunyai rasa malu. Jadi kau aman jika ingin berbuat gila. Iya kan, Ares?"
Ledekan yang di ucapkan oleh Elea sukses mengundang gelak tawa semua orang yang ada di sana. Tak terkecuali juga dengan Ares dan Cira. Sedangkan Patricia, wanita itu nampak tersenyum tipis sambil menyeka noda darah di sudut bibir calon suaminya.
Jadi seperti ini rasanya tertawa bersama dengan orang-orang yang kita sayang? Rasanya benar-benar sangat membahagiakan. Terima kasih Tuhan karena masih memberiku kesempatan untuk merasakan semua kebahagiaan ini. Terima kasih.
"Sayang, kita hapus kerenggangan dengan Patricia ya? Mau tidak?" bisik Gabrielle.
"Mau sekali, Kak."
Setelah mendapat persetujuan dari istrinya, Gabrielle pun segera mendorong kursi roda ke arah Patricia yang sedang menunduk. Dia mencoba untuk tersenyum ketika wanita yang pernah memiliki niat membunuh istrinya ini mendongakkan kepala.
"A-ada apa?" tanya Patricia gugup.
"Selamat untuk kehamilanmu, Patricia. Dan selamat juga untuk pernikahan yang akan segera terjadi antara kau dan Junio," jawab Gabrielle.
Patricia langsung mengangguk. Setelah itu dia kembali menunduk.
"Bolehkah aku memanggilmu ... Kakak?" tanya Elea hati-hati.
Tes
Setetes air mata jatuh di pipi Patricia saat dia mendengar ucapan Elea yang ingin menganggapnya sebagai seorang kakak. Dadanya terasa sesak sekali saat terbayang dengan kejahatan yang pernah dia lakukan dulu.
__ADS_1
"Kak, bolehkan?" desak Elea sambil menoel kaki Patricia. "Jangan pelit-pelitlah. Nanti Tuhan marah kalau kita tidak berbaikan. Memangnya Kakak mau mendapat karma seperti Paman Junio? Tidak kan?"
Patricia memberanikan diri menatap wajah Elea. Awalnya begitu gugup, tapi saat Patricia melihat senyum di bibir gadis ini tangisnya langsung pecah. Dia memindahkan kepala Junio ke sofa kemudian menangis di pangkuan Elea.
"Hiksss ... Maafkan Aku E-Elea. Maafkan aku!"
"Tidak apa-apa, Kak. Semua masalah itu sudah lewat, jangan di ratapi terus. Sudah ya jangan menangis lagi. Memangnya Kakak tidak takut kalau adik bayi ikut menangis di dalam kantongnya?" ucap Elea berkelakar.
Junio yang sedang terlelap berjengit kaget saat mendengar suara tangis Patricia. Dia langsung bangun kemudian memegang perut dimana si biji kecambah berada.
"Jun, apa-apaan sih?" omel Patricia yang kaget dengan tindakan calon suaminya.
"Aku hanya memastikan kalau biji kecambah ini tidak menggerogoti rahimmu, Cia. Kau menangis begitu kencang, aku takut dia juga menyiksamu!"
"Omong kosong."
Semua orang tertawa mendengar perkataan aneh Junio. Setelah itu mereka semua fokus pada acara lamaran antara Ares dengan Cira. Meski hanya sederhana, acara itu di gelar dengan sangat khidmat. Semua orang menikmati prosesnya, hingga tibalah giliran Junio yang melamar Patricia. Dengan wajah babak belur, Junio meminta izin pada kedua orangtua Patricia untuk menikahinya. Dia juga mengucapkan ribuan janji yang mana membuat Patricia saat ingin menggetok kepalanya saat itu juga.
"Akhirnya acara lamaran ini berakhir dengan sangat menggembirakan," ucap Elea sambil mengelus tangan suaminya. "Kak Iel, kenapa dulu kau tidak melamarku seperti yang dilakukan oleh Ares dan Paman Junio? Lihat Kak Cira dan Kak Cia, mereka mendapat hadiah yang sangat banyak dari calon suaminya. Aku kan jadi iri."
Liona, Bryan, Yura, dan Clarissa langsung menatap tajam ke arah Gabrielle. Mereka memprotes kelakuannya yang tidak memberikan apa-apa untuk kesayangan mereka saat melamar dulu. Merasa sedang di intimidasi, Gabrielle segera mencari cara agar tatapan horor orang-orang ini bisa teralihkan. Dia kemudian terpikir untuk bertanya pada istrinya tentang apa yang dia inginkan.
"Em sayang, waktu itu keadaannya sangat darurat. Bagaimana kalau hadiah lamarannya aku berikan sekarang. Mau tidak?"
"Maulah, Kak. Tapi aku ingin benda-benda yang sama seperti yang di terima oleh kedua saudaraku. Apa bisa?" jawab Elea semringah.
"Tentu saja sangat bisa, sayang. Hadiah yang mereka bawa itu sangat jelek, nanti aku akan mencarikan yang paling bagus untukmu."
"Hei, jangan sembarangan ya!" teriak Ares dan Junio bersamaan.
Di teriaki seperti itu membuat Gabrielle menatap tajam ke arah dua pria itu. Dia rasanya kesal sekali sekarang.
"Gabrielle, kalau kau ingin kabur dari kemarahan orangtua kita jangan dengan cara seperti ini lah. Aku tidak terima kalau kau menyebut hadiah yang aku bawa adalah hadiah yang jelek. Tahu tidak berapa uang yang sudah aku keluarkan untuk acara lamaran ini?" omel Junio dongkol.
"Benar, Tuan Muda. Saya setuju dengan perkataan Junio. Saya bahkan sudah memesan barang-barang ini secara eksklusif agar tidak ada yang menyamai kepemilikan istriku. Seenaknya saja menyebut jelek!" imbuh Ares ikut dongkol.
"Oh, jadi kalian berani pamer di hadapanku ya? Lihat saja. Hadiah yang akan kuberikan untuk istriku akan aku beli dengan harga saham yang sangat tinggi pada rumah mode yang membuatnya. Dan kau Ares, kalau hadiah milikmu adalah hadiah eksklusif dan hanya ada satu, maka aku akan membuat hadiah untuk Elea menjadi hak paten atas namanya. Setelah itu mari kita lihat apakah kalian masih berani berkoar atau tidak. Dasar menyebalkan!"
Patricia, Elea dan Cira tampak terbengang-bengang menyaksikan perdebatan para pria mereka yang sedang meributkan tentang hadiah siapa yang paling baik. Sedangkan para orangtua, mereka hanya diam sambil menggelengkan kepala menyaksikan bagaimana para penguasa bisnis ini saling menjelekkan kekurangan masing-masing.
πππππππππππππππππ
...π»JANGAN LUPA VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS......
__ADS_1
...π»IG: rifani_nini...
...π»FB: Rifani...