
Mata Elea terbuka lebar begitu dia terbangun dari tidurnya. Nampak keringat dingin mengucur deras di wajahnya, menandakan kalau Elea baru saja mengalami mimpi yang sangat buruk.
"Astaga, sangkar burung siapa itu? Kenapa aku bisa terkurung di dalamnya?" gumam Elea sembari menyeka keringat.
Dalam tidurnya, Elea bermimpi di kejar-kejar oleh seorang pria aneh. Tapi sayang wajah pria itu terlihat gelap jadi Elea tidak bisa melihat jelas seperti apa rupanya. Dalam mimpinya, Elea berhasil tertangkap oleh pria itu kemudian di masukkan ke sebuah sangkar emas yang sangat besar. Dia bisa merasakan aura yang sangat dingin dan mencekam saat berada di dalam sangkar tersebut. Sementara pria aneh itu hanya berdiri diam sambil terus mengawasinya dari sudut ruangan.
"Apa iya aku keturunan suku burung? Makanya aku selalu bermimpi terkurung di dalam sangkar."
Sambil terus berfikir, Elea beranjak turun dari ranjang menuju kamar mandi. Dia meringis pelan saat merasakan perih di bagian intimnya. "Uhh, Kak Iel ini. Selalu saja ada yang tertinggal setiap kali begituan. Memangnya dia tidak merasa kehilangan apa?."
Baru saja Elea masuk ke dalam kamar mandi, pintu kamar terbuka. Gabrielle mengerutkan kening saat tak mendapati keberadaan istrinya di atas ranjang.
"Kemana Elea? Apa dia sudah bangun ya?."
Khawatir istrinya kenapa-napa, Gabrielle melangkah cepat menuju kamar mandi. Saat pintu baru terbuka sedikit, Gabrielle di buat tersenyum mendengar gumaman istrinya yang terdengar sangat menggelitik.
"Lain kali aku harus mengingatkan Kak Iel dulu sebelum melakukannya. Dia mana boleh meninggalkannya di dalam sini. Kalau dia hidup terus membesar bagaimana? Masa iya aku harus
memiliki dua kelamin?" ucap Elea sambil menatap pantulan wajahnya di cermin. "Astaga, kenapa suamiku semakin lama makin mirip dengan drakula? Lihat Elea, tubuhmu banyak sekali lebam karena suamimu itu terus menggigitinya. Memang apa enaknya sih? Kan rasanya perih. Berbeda dengan yang di bawah. Meskipun pedih, masih ada rasa nikmatnya. Kalau ini? Aku malah terlihat seperti korban kekerasan!."
Tak tahan mendengar gumaman istrinya yang makin aneh, Gabrielle segera membuka pintu kamar mandi lebar-lebar. Dia tersenyum saat Elea menatap kaget kearahnya.
"Kak Iel? Kakak belum berangkat ke perusahaan?" tanya Elea sembari membenarkan gaun tidurnya yang sudah setengah terbuka.
"Belum sayang. Aku menunggumu bangun" jawab Gabrielle.
Tanpa di suruh, Elea segera masuk ke pelukan suaminya. Dia mulai bertanya-tanya apakah suaminya mendengar perkataannya atau tidak. Jika iya, maka Elea akan merasa sangat bersalah karena sudah menyebutnya sebagai drakula.
"Apa yang sedang kau lakukan hem? Kenapa tidak memanggil pelayan untuk membantumu?" tanya Gabrielle sambil menciumi puncak kepala istrinya. "Memangnya sudah tahu cara menyalakan air di jazucci?."
"Belum tahu Kak. Tadi itu aku hanya ingin buang air kecil saja setelahnya kembali tidur. Tubuhku seperti kehabisan tenaga gara-gara semalam" jawab Elea jujur.
Sudut bibir Gabrielle tertarik keatas. Semalam dia memang sedikit keterlaluan pada Elea. Bercinta di ruang kerjanya membuat Gabrielle seperti orang kesetanan. Otaknya terus saja memaksa untuk mencoba gaya baru yang sialnya Elea selalu berhasil membuatnya mendapat pelepasan yang sangat hebat. Apapun yang di minta oleh Gabrielle selalu di lakukan dengan baik oleh Elea. Membuatnya semakin ingin lagi, lagi, lagi dan lagi.
"Maafkan aku sayang, semalam aku benar-benar sudah sangat kelewatan. Aku tidak bisa berhenti menyentuhmu, kau terlalu candu untuk di biarkan" ucap Gabrielle sedikit merasa bersalah. "Kau tidak kapok kan?."
Elea menggeleng. Dia semakin mengeratkan pelukan di tubuh suaminya. "Tidak kok Kak. Lagipula rasanya juga sangat enak. Cuma ya itu, tubuhku seperti baru habis di pukuli setiap kali Kak Iel meminta jatah. Rasanya aku hanya ingin tidur dan bermalas-malasan saja di kamar seperti orang penyakitan!."
Gabrielle tertawa mendengar jawaban Elea. Dia sangat memaklumi apa yang di rasakan olehnya sekarang.
__ADS_1
"Oh ya Kak Iel, kalau Kak Safira sudah tidak mengajar lagi lalu nasib sekolahku bagaimana? Aku takut tidak ada yang mau menerimaku nanti" tanya Elea sambil mendongak keatas.
"Memangnya siapa yang berani menolak istrinya Gabrielle hem? Sayang, semalam kan kau dengar sendiri saat Safira bilang kalau kau sudah menguasai semua pembelajaran yang dia berikan. Jadi untuk apa kau merasa khawatir? Kau itu sangat pintar Elea, hanya sedikit..
"Bodoh" sambung Elea cepat.
Gabrielle dan Elea sama-sama terkikik lucu. Elea sama sekali tidak merasa ragu menyebut dirinya bodoh di hadapan suaminya. Dia cukup sadar diri dengan kemampuan otaknya yang memang sedikit lamban dalam berfikir.
"Ya sudah sekarang kau mandi dulu. Di bawah Levi sudah seperti nenek-nenek yang tidak berhenti mengomel karena mencarimu" ucap Gabrielle kemudian melepas pelukannya.
"Mungkin dia lapar Kak makanya mengomel" sahut Elea asal.
Gabrielle terkekeh. Dia lalu menuntun Elea menuju bathup kemudian segera mengisikan air hangat ke dalamnya. Tak lupa juga dia menuangkan aroma terapi sebelum akhirnya membantu Elea membuka gaun tidurnya.
"Kak Iel, aku ikut ke perusahaan tidak?" tanya Elea.
Jakun Gabrielle bergerak cepat melihat tubuh istrinya yang polos tanpa tertutup sehelai benangpun. Matanya terus tertuju pada dua gundukan daging yang terpampang jelas di depan matanya.
"Kak Iel, kenapa diam saja?."
"Haaa... Kenapa sayang?" tanya Gabrielle gelagapan.
Elea menunduk. Setelah itu dia menatap suaminya sambil menggelengkan kepala. "Kak Iel Kak Iel, semalam kan Kakak sudah menikmati ini sampai puas. Kenapa sekarang bisa sampai seperti orang bodoh saat menatapnya? Kan Kakak sudah sering melihatnya!."
"Memang benar aku sudah sering menikmatinya. Tapi entah kenapa mataku selalu tersihir melihat benda mungil di dadamu itu. Rasanya aku ingin menggigitnya dengan kuat" sahut Gabrielle bercanda.
Bluusshh
Wajah Elea langsung memerah mendengar perkataan mesum suaminya. Dia lalu bergegas masuk ke dalam bathup karena takut di goda lagi.
"Sayang, kau malu ya?" ledek Gabrielle.
Elea mengangguk pelan. Dia lalu menutupi tubuhnya dengan busa yang ada di dalam bathup. Berharap dengan begitu Gabrielle tidak akan bisa lagi melihat benda-benda aneh di tubuhnya.
"Emm Kak Iel, hari ini aku tidak mau berdandan. Rasanya melelahkan, wajahku jadi terasa berat."
Gabrielle mengangguk. Dia kemudian berjongkok di samping bathup sambil memainkan busa yang ada di dalamnya.
"Sayang, untuk beberapa hari ke depan kau tidak usah pergi ke perusahaan dulu. Aku ingin kau fokus mengejar ketertinggalan sekolahmu" ucap Gabrielle menjawab pertanyaan istrinya yang dia lewatkan.
__ADS_1
"Tapi kan Kak Safira sudah tidak ada lagi Kak. Dengan siapa aku belajar? Masa iya dengan Kak Levi?" tanya Elea sambil bergidik.
"Memangnya kenapa jika bersamanya? Bukankah dia juga pintar?" sahut Gabrielle balik bertanya.
"Aku tidak tahu dia pintar atau tidak Kak. Tapi yang jelas Kak Levi pasti akan mengajari aku hal-hal yang aneh. Contohnya hari itu. Dia meminta aku untuk meminta mobil baru pada Kak Iel dengan alasan supaya bisa pamer pada teman-temannya. Idenya sesat sekali bukan?."
Gabrielle menarik nafas. Yah, Levi memang sangat mata duitan. Tapi Gabrielle tidak merasa keberatan karena dia tahu betapa sayangnya Levi pada Elea. Dia merasa kalau kedua wanita ini sangat cocok untuk berteman. Yang satu bar-bar dan sangat matrealistis, sementara yang satunya polos dan sangat mudah untuk di hasut.
"Lalu kenapa kau tidak membantah, sayang? Lawan saja kalau itu bertentangan dengan hatimu" ucap Gabrielle.
"Sudah Kak. Tapi Kak Levi mengancam akan membotaki rambutku jika berani melawan. Memangnya Kakak mau mempunyai istri yang bentuknya seperti tuyul?."
Gabrielle tergelak. Setelah itu dia tertawa terbahak-bahak sampai meneteskan airmata saking lucunya.
"Hahahhaha, sayang. Kenapa otakmu bisa sampai terfikir kearah sana sih?."
Elea tersenyum malu saat di tertawai oleh suaminya. Tapi jujur, memang itulah yang muncul di dalam otaknya setelah mendapat ancaman dari Levi. Dia pernah mendengar ejekan seseorang yang mengatai temannya mirip tuyul karena kepalanya botak tak berambut.
"Sudahlah, lebih baik aku keluar untuk menyiapkan pakaian. Perutku bisa sakit jika terus bercanda denganmu" ucap Gabrielle menyerah berbincang dengan istrinya.
Cup
"Aku akan segera kembali."
Elea mengangguk. Dia terus memperhatikan punggung suaminya yang sedang berjalan keluar.
"Suamiku manis sekali" celetuk Elea sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba berdebar kuat. "Jantung oh jantung, kenapa kau berdebar kuat begini? Kau baik-baik saja kan?."
Masih dengan mode bodohnya, Elea belum juga menyadari kalau dadanya berdebar karena dia sedang jatuh cinta pada suaminya sendiri. Sungguh menyebalkan bukan? Tapi itulah Elea dengan segudang kebodohannya yang ternyata berhasil membuat para pembaca merasa terhibur. 😊😊
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
HARI INI NGGAK ADA JASA TRAVELLING YA GENGSS 🤣🤣🤣🤣
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...