Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Tugas Penting


__ADS_3

Elea tersenyum sambil memperhatikan adik suaminya yang tengah mengucap janji suci di hadapan Tuhan. Dia lalu terbayang dengan pernikahannya dengan Gabrielle beberapa bulan lalu dimana Elea yang hampir menggagalkan pernikahan mereka karena merasa tidak percaya diri setelah tahu siapa pria yang menikah dengannya.


"Sayang, ada apa?" tanya Gabrielle pelan.


Kepala Elea tertoleh. Dia tersenyum saat wajahnya dan wajah suaminya berada dalam jarak yang begitu dekat. "Kak Iel, apa kau ingin menciumku di sini?."


Gabrielle menelan ludah. Bukan hanya ingin menciumnya saja, tapi juga ingin memuaskan juniornya jika tidak mengingat kalau mereka sedang berada di dalam gereja menghadiri acara pemberkatan adiknya.


"Iya, aku sangat ingin menciummu. Tapi tidak bisa" jawab Gabrielle setengah berbisik.


"Ya sudah cium pelan-pelan saja" bisik Elea sambil melirik ke kanan dan kirinya. "Aman Kak Iel, semua orang sedang menangis sekarang."


Sudut bibir Gabrielle berkedut mendengar perkataan istrinya yang sangat menggelitik. Bisa-bisanya istrinya ini menyuruhnya untuk mencium setelah memastikan kalau semua keluarganya sedang fokus ke altar. Elea bahkan menyebut kalau semua keluarganya sedang menangis. Ya mereka memang sedang menangis, tapi menangis haru karena sekarang adiknya telah sah menjadi istri dari seorang Drax Osmond.


"Apa kau tidak lelah?" tanya Gabrielle sembari mengusap pinggang istrinya.


"Lelah sih. Tapi kata Ibu Liona dosa besar kalau menolak permintaan suami. Bisa di hukum Tuhan nanti" jawab Elea jujur.


"Gadis pintar" puji Gabrielle bangga. "Nah, sebentar lagi Pendeta akan memintamu untuk membawakan cincin pernikahan milik Izel dan suaminya. Bersiaplah."


Ya, di hari bahagianya Izel, Elea mendapat tugas penting sebagai pengantar cincin. Dan sebentar lagi dia akan segera menunaikan tugasnya begitu janji suci selesai di ucapkan.


"Di hadapan Tuhan dan di hadapan para saksi, hari ini saya umumkan jika kalian berdua sudah sah menjadi pasangan suami istri. Silahkan kedua mempelai saling memakaikan cincin pernikahan" ucap Pendeta mempersilahkan.


Gabrielle mengangguk kearah istrinya. "Jangan gugup, bawalah cincin ini pada mereka" ucap Gabrielle sambil menyerahkan sepasang cincin berlian yang sejak tadi di bawanya.


"Baik Kak Iel" sahut Elea.


Dengan langkah pasti Elea berjalan mendekat kearah Grizelle. Dia tersenyum lucu melihat adik iparnya yang sedang terisak.


"Gabrielle, kau yakin istrimu tidak akan membuat Pendeta itu mati karena terkejut?" tanya Greg khawatir.


"Aku tidak tahu, Ayah. Kita berdoa saja semoga kejadian buruk itu tidak terjadi" jawab Gabrielle sambil menatap was-was kearah istrinya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, semoga menantuku tidak mengeluarkan jurus mautnya sekarang."


Liona yang mendengar doa suaminya hanya bisa menghela nafas. Karena sejatinya dia pun mengharapkan hal yang sama. Berharap agar menantunya yang polos itu tidak berbicara nyeleneh di hadapan semua orang.


"Izel, jangan menangis lagi ya. Nanti make up mu luntur dan wajahmu jadi kelihatan jelek" ucap Elea prihatin.


Untuk sesaat keadaan di sana berubah menjadi begitu hening. Bahkan Drax dan Pendeta langsung terdiam seperti patung setelah mendengar perkataan Elea yang begitu terus terang.


"Hehe, Elea... Kau luar biasa" puji Gabrielle sambil tertawa pasrah.


"Iel, cepat bawa istrimu kembali kesini. Lihat Pendeta itu, sepertinya dia hampir sekarat gara-gara perkataan istrimu tadi. Ayo cepat bawa Elea kembali" bisik Greg setelah tersadar dari kekagetannya.


Sadar kalau masalah akan semakin panjang, Gabrielle bergegas menuju altar. Dengan lembut dia memegang lengan istrinya kemudian menatap kearah Drax.


"Maaf, istriku hanya terlalu jujur."


"Benar kata Kak Iel. Aku benar-benar bicara jujur kalau Izel akan kelihatan jelek jika terus menangis. Ini adalah hari kebahagiaan kalian, jadi Izel tidak boleh sedih" sambung Elea tanpa merasa bersalah.


'Kak Iel, tolong singkirkan kakak ipar dari hadapanku sekarang. Airmataku seperti berubah menjadi airmata darah gara-gara celetukannya tadi. Ya Tuhan, dimana kau memungut gadis kecil ini Kak? Bagaimana bisa kau menikahi seorang gadis yang mulutnya sama sekali tidak memiliki saringan? Kenapa kakak ipar bicaranya begitu jujur sih?.'


"Sayang, lain kali tolong jangan bicara seterbuka itu ya? Kasihan Izel, dia pasti sedih sekali saat kau mengatainya seperti itu" ucap Gabrielle memberi pengertian.


"Aku bukan mengatainya Kak Iel. Tadi saat aku datang kesana, Izel sudah menangis. Aku khawatir kalau airmatanya akan melunturkan make up yang dia pakai. Memangnya Kakak tidak lihat tadi kalau maskaranya Izel luntur dan mengotori bagian bawah matanya? Dia terlihat seperti zombi tadi" sahut Elea meyakinkan.


Greg dan Liona hampir menangis saat Grizelle di sebut seperti zombi oleh menantu mereka. Entahlah, mereka tidak tahu harus menangis atau malah tertawa mendengar ucapan polosnya. Tapi jujur saja, setiap perkataan yang keluar dari mulut Elea selalu membuat suasana menjadi semakin berwarna karena kata-kata unik itu keluar tanpa di sengaja. Murni natural tanpa ada maksud di baliknya.


"Aku tahu sayang, tapi lain kali jangan lakukan lagi ya? Oke?" bujuk Gabrielle memelas.


"Baik Kak" sahut Elea patuh.


Semua orang kini kembali fokus pada pasangan pengantin yang sedang mendengarkan nasehat dari si Pendeta.


'Grizelle, rasanya pasti bahagia sekali ya. Semua keluargamu berkumpul untuk menyertai acara pernikahanmu. Seandainya aku punya keluarga, pernikahanku dengan Kak Iel pasti akan sebahagia ini. Tapi ya sudahlah, aku sudah sangat bersyukur dengan apa yang kumiliki sekarang. Kak Iel menyayangiku, aku juga punya Ibu Liona dan Ayah Greg. Aku tidak perlu lagi memikirkan keluarga kandungku yang tega menelantarkan aku saat masih bayi. Karena keluarga baruku lah yang akan menjadi prioritas utama.'

__ADS_1


Gabrielle melirik kearah ibunya yang juga sedang melirik kearahnya. Hati keduanya seolah di cabik-cabik setelah mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh Elea.


"Sayang, kenapa diam saja? Apa kau lapar?" tanya Gabrielle sedih.


Elea menoleh. Gabrielle bisa melihat dengan jelas kalau di dalam manik mata istrinya ada sebuah kekosongan yang sangat menyedihkan. Membuat dadanya semakin terasa sesak.


"Aku diam karena sedang memikirkan sesuatu yang mustahil untuk terjadi, Kak. Dan sekarang perutku masih kenyang, tapi aku ingin makan mie goreng. Boleh?" jawab Elea lirih.


Sakit, hati Elea selalu sakit setiap kali teringat dengan beban penderitaan yang di tanggungnya sejak kecil. Elea tidak menyalahkan siapa-siapa, dia hanya merasa bingung kenapa keluarganya tega melakukan hal sekejam itu sejak dia masih tinggal di panti asuhan. Dalam benaknya, Elea selalu bertanya-tanya apakah benar kalau dirinya memang terlahir sebagai bayi terkutuk seperti yang selalu di ucapkan oleh ibu panti dan teman-temannya di panti asuhan dulu.


"Boleh sayang. Kalau begitu ayo kita pulang, lagipula acaranya juga sudah selesai" jawab Gabrielle iba.


"Mana boleh begitu Kak Iel, itu tidak sopan namanya. Bagaimana kalau nanti Izel menangis karena kita pergi, Kakak ini bagaimana sih" omel Elea sambil menautkan kedua alisnya.


Gabrielle tercengang kaget. Cepat sekali emosi istrinya berubah. Tadi terlihat sangat sedih, tapi dalam sekali kedipan mata Elea langsung bisa mengomelinya. Tidakkah menurut kalian sikap Elea hampir sama seperti bunglon yang sangat mudah berubah-ubah?.


"Ya sudah kalau begitu kita tunggu sampai acaranya selesai ya?."


Elea mengangguk. "Begini baru benar Kak. Oh ya Kak Iel, nanti aku boleh membungkus beberapa kue yang ada di sana tidak? Sayang sekali kalau tidak di makan, lebih baik di bungkus untuk di bagi-bagikan pada Kak Lusi dan teman-temanku yang lain. Mereka pasti sama sepertiku yang belum pernah memakan kue seenak itu" ucap Elea sambil menujuk kearah deretan kue yang tersusun rapi di atas meja.


Gabrielle tersenyum. Tangannya bergerak mengusap lembut pipi istrinya. "Hatimu sangat baik sayang. Aku beruntung menikahi malaikat sepertimu."


"Aku juga beruntung karena menikahi pria tampan dan juga ATM berjalan."


Ingin menangis namun hati memaksa untuk tetap tersenyum. Itulah yang sedang di rasakan oleh Gabrielle saat Elea menyebutnya sebagai ATM berjalan. Gabrielle sangat yakin kalau ada seseorang yang telah mengajari istrinya bicara nyeleneh seperti ini. Dan siapa lagi pelakunya jika bukan si wanita bar-bar, Levita Foster.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS......


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2