Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Celana Laknat


__ADS_3

"Ares, tahan semua tamu yang ingin datang menemuiku. Elea sebentar lagi sampai dan aku tidak mau ada yang mengganggu kebersamaan kami!" ucap Gabrielle setelah mendapat pesan dari istrinya.


"Tapi Tuan Muda, sebentar lagi Nona Patricia juga akan segera tiba. Perlukah saya membatalkan pertemuan ini?."


"Aaa, jadi wanita blonde itu mau datang ya?" ucap Gabrielle sembari mengusap dagu. "Kalau begitu biarkan saja, Res. Aku ingin lihat apa yang akan di lakukan Elea ketika bertemu dengannya nanti!."


"Baik, Tuan Muda" sahut Ares.


Sambil menunggu istrinya datang, Gabrielle mengenang kegiatan panasnya tadi pagi. Dia tersenyum sendiri saat mengingat Elea yang merengek meminta untuk berhenti. Tapi sayang, rengekan istrinya itu bukannya membuat Gabrielle merasa kasihan, dia malah semakin kesetanan menyentuh tubuh candunya. Hingga akhirnya Elea langsung terlelap begitu mereka keluar dari dalam kamar mandi karena kelelahan.


"Hehe, maafkan aku yang terlalu menggilai tubuhmu, sayang. Aku benar-benar tidak bisa jika hanya menyentuhmu satu kali. Kau terlalu candu, dan juniorku bisa sakaw kalau tidak mendapat kepuasan!."


Sekitar hampir setengah jam Gabrielle menunggu, Elea akhirnya datang bersama Levi. Matanya melotot ketika melihat celana Elea yang sangat pendek. Dengan langkah lebar Gabrielle segera menghampirinya kemudian menelisik dalam-dalam kearah kulit paha istrinya yang terlihat.. uh, sangat mengundang nafsu.


"Sejak kapan ada celana kekurangan bahan seperti ini di rumah, hem? Seingatku aku tidak pernah memesannya?" tanya Gabrielle dengan wajah masam.


"Aku tidak tahu, Kak. Tanganku asal mengambil saja tadi" jawab Elea sekenanya.


Rahang Gabrielle mengetat. 'Sialan, ini pasti ulahnya Ares dan Nun. Mereka pasti sengaja memasukkan celana laknat ini ke dalam lemarinya Elea. Huh, awas saja nanti, akan ku hukum kalian berdua.'


Elea meringis melihat kebungkaman suaminya. Dia yakin sekali suaminya pasti sedang menyalahkan Ares dan Nun atas celana hotpants yang dia pakai. Tak ingin suaminya marah, Elea segera meringsek masuk ke dalam pelukannya. Membaui aroma tubuh suaminya yang selalu menghadirkan kenyamanan dalam hati.


"Tidak apa-apa ya Kak aku pakai celana ini? Kan aku perginya tidak sendirian" rayu Elea. Dia sungguh sangat menyukai style yang dia pakai sekarang.


"Ganti!" sahut Gabrielle tak terbantahkan. Dia mencoba untuk tidak luluh akan rayuan istrinya. Memangnya suami mana yang rela kalau bagian tubuh istrinya di nikmati oleh orang-orang di luaran sana. Di sogok uang ratusan milyar pun Gabrielle tidak akan mau memberikan izin.


"Nanti aku akan singgah membeli lingerie kalau Kakak mengizinkan aku tetap memakai hotpants ini. Tapi kalau tidak di izinkan ya sudah tidak apa-apa" bisik Elea yang sangat paham bagaimana cara untuk meluluhkan hati suaminya yang cemburuan ini.


Aura kelicikan langsung menguar dari mata Gabrielle begitu Elea menyebutkan satu kostum astral yang bisa membangkitkan gairah fantasinya. Sembari menganggukkan kepala Gabrielle tanpa sadar memeluk tubuh mungil istrinya dengan sangat erat. Di otaknya sudah terbayang akan seperti apa sexynya Elea ketika memakai pakaian tersebut.


"Uh Kak Iel, jangan memelukku sekencang ini. Aku tidak bisa bernafas jadinya" keluh Elea.


"Oh, maaf sayang, aku tidak sengaja" sahut Gabrielle kemudian merenggangkan pelukannya.


"Cihh, seperti tidak pernah bertemu saja. Padahal setiap malam tidur bersama" sindir Levi jengah.


"Biar saja!."


"Kak Iel, Paman Gleen itu pria baik bukan ya?" tanya Elea menimpali.


Saat ini Lusi dan Gleen sedang menungu mereka di dalam mobil. Levi sengaja melarang mereka ikut masuk supaya keduanya bisa memiliki waktu untuk saling mendekatkan diri. Jujur saja, melihat bagaimana cara Gleen meluluhkan kepanikan Lusi membuat Levi merasa lucu. Itu terlihat sangat unik di matanya.


"Ah iya aku sampai lupa memberitahumu tentang mereka" ucap Gabrielle kemudian menepuk kening. "Dimana Lusi? Bukankah kalian akan mengajaknya untuk pergi berbelanja juga?."

__ADS_1


"Kak Lusi ada di mobilnya Paman Gleen, Kak. Kami sengaja memberikan waktu untuk mereka berdua" jawab Elea.


Gabrielle mengangguk kemudian membawa Elea duduk di kursi kerjanya. Dia lalu memangkunya, membelai wajah cantik istrinya yang selalu membuat hatinya merindu.


"Dia pria baik, seharusnya. Tapi kalau dia berani macam-macam pada Lusi, aku yang akan turun tangan langsung. Jadi kau jangan cemas, oke?."


"Haaah... ya sudah kalau begitu. Aku lega mendengarnya Kak!."


"Apa dia datang ke rumah?."


Levi yang saat ini sudah duduk menyandar di sofa menjawab pertanyaan Gabrielle dengan suara lirih. Jujur saja kepalanya saat ini terus saja berdenyut dan suhu tubuhnya juga kembali memanas. Sepertinya efek obat yang di berikan oleh Reinhard sudah mulai habis. Namun Levi berusaha kuat untuk tetap menahannya. Dia tidak mau kehilangan moment menyenangkan bersama Elea dan juga Lusi. Juga tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menguras dompet seorang pria sombong bernama Gleen.


"Ya. Pagi-pagi sekali pria sombong itu dengan tidak tahu malunya sudah menunggu Lusi di halaman rumahmu. Dia bahkan tidak ada inisiatif untuk menyapaku dulu saat aku datang. Benar-benar orang yang angkuh."


"Iya Kak. Paman Gleen dan Kak Levi terlihat seperti orang yang siap untuk bertarung tadi. Untung saja Paman Gleen langsung oleng setelah Kak Lusi muncul. Kalau tidak, aku yakin mereka berdua pasti sudah baku hantam" timpal Elea sembari menggerakkan dagu kearah Levi.


Sebelah alis Gabrielle mengerut. "Oleng? Jatuh maksudnya?."


"Bukan. Iihh, Kak Iel ini bagaimana sih. Maksudnya oleng itu dia tidak fokus lagi setelah Kak Lusi datang, begitu" jawab Elea gemas.


"Ooh, aku kira apa" sahut Gabrielle kemudian terkekeh. "Oh iya sayang, hari ini kalian mau pergi kemana saja? Dan apa saja yang akan kalian beli?."


Elea diam berfikir. Dia mengerucutkan bibir sambil memangku dagu dengan jari telunjuk.


"Jangan bermain bibir seperti itu, sayang. Aku jadi ingin mengajakmu berolahraga di dalam kamar" bisik Gabrielle kemudian menggigit pelan daun telinga istrinya.


"Tapi anu-ku masih sedikit mengganjal, Kak. Nanti malam saja ya" sahut Elea ikut berbisik. "Siapa tahu nanti malam anu-ku sudah sehat. Kan setelah ini aku mau pergi bersenang-senang."


Gabrielle setengah mati menahan diri agar tidak tertawa mendengar ucapan aneh istrinya.


"Elea, sesi pemeriksaannya sudah selesai belum? Ayo cepat, aku takut Lusi di makan oleh Gleen" tanya Levi yang sudah bosan menyaksikan keromantisan pasangan suami istri tersebut.


"Haaaa???" pekik Elea kaget. "Memangnya Paman Gleen itu kanibal ya? Ya Tuhan, kasihan sekali Kak Lusi."


Levi mendengus. Dia salah melemparkan pertanyaan rupanya.


"Tidak begitu juga, Marpu'ah. Maksudku di makan itu, em contohnya seperti yang sedang kalian lakukan sekarang. Bisa saja kan si Gleen memaksa Lusi agar mau bermesraan dengannya? Dia kan type pria pemaksa seperti suamimu" jelas Levi sembari menekan pelipisnya.


Gabrielle menatap datar kearah Levi saat menyadari ada yang tidak beres dengannya. Karena tidak biasanya wanita bar-bar ini mau menjawab pertanyaan istrinya dengan santai. Levi akan selalu meledak-ledak setiap kali istrinya mulai berceloteh aneh, dia akan menjawab seperti orang yang sedang kerasukan.


"Levi, kau sakit?."


"Tidak, hanya demam."

__ADS_1


"Sama saja bodoh" sungut Gabrielle.


"Hehhee. Tidak usah mencemaskan aku, Gab. Meksipun demam aku masih sanggup kalau hanya untuk membuat kepalamu benjol" sahut Levi bercanda.


"Cih, siapa juga yang mencemaskanmu. Tubuhku bisa gatal-gatal nanti!."


"Heleh, bilang saja kau malu untuk mengakuinya. Iya kan?."


Gabrielle menatap horor kearah Levi yang sedang tersenyum aneh sembari meliriknya. Seketika bulu kuduknya meremang.


"Sudah selesai belum bertengkarnya?" tanya Elea.


"Sudah/belum!" jawab Gabrielle dan Levi berbarengan.


"Waahh, kalian ternyata sangat akur ya" puji Elea dengan nada menghina.


Malas berdebat, Levi akhirnya menghampiri Gabrielle dan Elea. Dia berdiri sambil berkacak pinggang.


"Berangkat sekarang atau akan akan menyeretmu keluar!."


"Iya-iya kita berangkat sekarang. Galak sekali" ucap Elea bersungut-sungut.


"Aku dengar yang kau katakan, Elea" sahut Levi mulai kesal.


Elea meringis. Dia lalu menatap suaminya yang sedang tersenyum. Manis sekali.


"Cium aku dulu baru kau boleh pergi. Di sini, sini, sini, dan di sini. Tanpa penawaran dan lakukan dengan perlahan" ucap Gabrielle sebelum istrinya sempat bicara.


"Baiklah" jawab Elea patuh.


Nafas Levi memburu ketika dia melihat pasangan suami istri yang tidak punya akhlak ini malah asik bercumbu di hadapannya. Bukan saling sih, tapi lebih tepatnya Gabrielle yang menahan tengkuk Elea agar ciuman mereka tidak terlepas. Dan tentu saja hal itu membuat emosi Levi langsung meledak. Dia menarik nafas panjang sebelum akhirnya....


"YAAAAAKKKKKKKK......!!!! teriak Levi frustasi sambil mengepalkan kedua tangannya ke atas. " APA KALIAN SUDAH TIDAK MENGANGGAPKU SEBAGAI MANUSIA LAGI, HAH!."


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


__ADS_2