
Elea menggenggam erat tangan Levi saat beberapa perawat wanita berjalan masuk ke dalam kamar. Nafasnya tampak tak beraturan dengan bola mata yang bergerak gelisah sambil menatap kearah pintu.
"Tenang Elea, tidak akan ada dokter yang masuk kemari!" ucap Levi berusaha menenangkan Elea.
"Aku takut sekali, Kak. Aku benar-benar sangat takut!" cicit Elea dengan suara bergetar.
Levi menatap sendu kearah teman kecilnya. Tadi dia dan Gabrielle telah membuat kesepakatan kalau yang akan menemani Elea di periksa adalah dirinya. Levi sebenarnya sadar kalau dia sudah masuk ke dalam rumah tangga Gabrielle dan Elea, namun dia melakukan hal ini bukan dengan niat yang buruk. Elea sudah seperti magnet yang menarik Levi untuk terus mendekat. Dia merasa seolah-olah ada ikatan batin di antara mereka berdua.
"Permisi Nyonya Elea, bisakah kita memulai pemeriksaannya?" tanya perawat dengan suara yang sangat lembut.
Sebelum masuk kemari, para perawat sudah mendapat wejangan dari Reinhard, dokter kepala mereka. Para perawat di minta untuk bicara selembut mungkin pada istri pemilik rumah yang sedang mengalami trauma.
"Kak Levi tolong aku" bisik Elea panik.
Mata Levi membulat melihat wajah Elea yang semakin memucat. Tahu kalau kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk Elea tetap periksa, Levi segera memikirkan cara agar ketakutan Elea bisa teralihkan. Dia lalu teringat dengan obrolan saat mengantarkan Elea pulang ke kontrakannya dulu.
"Elea, kau ingin pergi ke taman bermain tidak?" tanya Levi.
'Ayo Elea, alihkan rasa takutmu. Kau pasti bisa sayang!'.
Elea menatap Levi sejenak. Dia kemudian mengagguk pelan.
"Aku ingin".
Levi mengangguk lega. Dia kemudian melirik kearah perawat, memberi tanda agar mereka segera memeriksa Elea saat pikirannya teralihkan.
"Kalau begitu kau berbaring dulu ya. Aku akan memperlihatkan padamu seperti apa suasana di taman bermain!" bujuk Levi.
Dengan sabar Levi membantu Elea berbaring di ranjang. Dia tersenyum sedih melihat tangan Elea yang masih gemetar tanpa mau melepaskan pegangan di lengannya.
"Elea, lepas dulu tanganku. Kalau seperti ini bagaimana caranya aku mengambil ponsel!".
"Jangan tinggalkan aku, Kak. Bagaimana kalau dokter yang tadi datang kemari? Dia.. Dia..
"Sssttttttt, tenang Elea, kendalikan rasa takutmu. Lihat, di sini tidak ada dokter. Hanya ada kita dan para perawat. Tenang ya, kalau dokter itu berani masuk kemari maka aku akan langsung menyuntiknya dengan racun!" ucap Levi memotong perkataan Elea.
Mata Elea mengerjap. Dia begitu salut akan keberanian Levi.
"Benar Kakak akan menyuntik dokter itu dengan racun?".
"Iya, benar Elea. Jadi kau jangan takut lagi. Oke!" jawab Levi meyakinkan.
"Mana racunnya?" tanya Elea penasaran.
"Racunnya, racunnya ada pada perawat. Iya kan?" jawab Levi gelagapan kemudian melemparkan pertanyaan pada perawat.
Mulut Levi komat kamit meramalkan do'a berharap agar perawat ini bisa tanggap pada perkataannya barusan.
"Benar, Nyonya. Racun itu ada pada saya, ini!" jawab perawat sambil menunjukkan jarum suntik yang sudah siap dengan cairan berwarna biru.
Elea menarik nafas lega karena ternyata Levi tidak berkata bohong. Meski takut, Elea dengan perlahan melepaskan pegangannya.
Setelah tangannya terlepas, Levi segera keluar untuk mengambil ponselnya yang berada di kamar tamu. Di depan pintu kamar, dia di hadang oleh Gabrielle dan Reinhard. Ada juga Ares dan Nun yang juga sedang menunggu di sana.
__ADS_1
"Bagaimana Elea? Apa dia bersedia untuk di periksa?" tanya Gabrielle cemas.
"Masih perlu sedikit waktu untuk membujuk istrimu. Dia masih tidak percaya pada perawat meski aku sudah mengatakan kalau akan membunuh Reinhard dengan menyuntikkan racun ke tubuhnya!" jawab Levi.
Setelah bicara seperti itu, Levi dengan cepat pergi dari sana. Membiarkan semua orang diam tercengang setelah mendengar kata-katanya barusan.
"Gabrielle, apa wanita itu psikopat? Bagaimana bisa dia mengatakan hal mengerikan dengan begitu santai?" tanya Reinhard syok.
"Itu masih mending. Ares pernah mendapatkan hal yang lebih mengerikan lagi dari ini" jawab Gabrielle sambil memijit pelipisnya.
Reinhard menoleh kearah Ares. Sadar kalau dirinya kembali menjadi sasaran, dengan cepat dia membuang muka.
"Apa yang dia katakan padamu, Res?" tanya Reinhard penasaran.
"Jangan bahas hal itu" jawab Ares singkat.
"Kenapa? Apa Levi mengancam akan memecahkan biji-bijian yang ada di tubuhmu?" tanya Reinhard berusaha menebak.
Ares menghela nafas. Hari ini nasibnya sial sekali.
"Ya, itu yang dia katakan. Apa kau puas?".
"Pfftttt, hahahhahaa!".
Tawa Reinhard terhenti saat Levi melintas melewati mereka tanpa bicara apapun. Dia berlalu sambil membawa ponsel di tangannya.
Tak sabar ingin segera tahu kondisi istrinya, Gabrielle akhirnya menerobos masuk ke dalam kamar. Dia tersenyum saat Elea melihat kearahnya.
"Kak Iel" panggil Elea.
Levi diam mendengarkan percakapan Gabrielle dan Elea. Tangannya sedang sibuk mengotak-atik ponsel mencari video tentang taman bermain.
"Dapat. Lihat Elea, seperti inilah tempat yang akan kita kunjungi nanti!" teriak Levi sambil menunjukkan video pada Elea.
Dengan sangat antusias Elea melihat video di ponsel Levi. Matanya sampai tidak berkedip saking takjubnya. Karena selalu hidup dalam kemiskinan, baru sekarang ini Elea bisa melihat dengan jelas seperti apa bentuk ponsel. Dia sebenarnya sangat ingin memegang ponsel ini, tapi dia tidak berani. Elea takut kalau-kalau Levi akan mengamuk jika benda mahal miliknya di sentuh sembarangan oleh orang lain.
'Semiskin itukah hidupmu sampai-sampai kau begitu penasaran ingin menyentuh ponsel?'.
Gabrielle mengangguk kearah perawat saat Elea tengah larut menonton video. Dia dengan cepat menggenggam tangan Elea karena dia sedikit bereaksi saat perawat membalurkan jel di perutnya.
"Tidak apa-apa, ada aku di sini. Apa videonya bagus?" tanya Gabrielle.
Elea terus melihat kearah tangan perawat yang sedang menempelkan suatu benda ke atas perutnya. Dia menoleh saat Levi menambah volume suara pada video itu.
"Elea lihat, ada kuda berputar dan bianglala. Kau mau naik ini tidak?" tanya Levi.
"Mau mau" jawab Elea dengan mata berbinar.
Gabrielle tersenyum. Dengan sayang dia membelai kepala istrinya sambil terus mengawasi pekerjaan para perawat.
"Gabrielle, setelah ini aku dan Elea akan pergi ke taman bermain. Kita akan bermain di sana sampai puas. Benar kan Elea?".
Elea mengangguk senang. Dia seperti melupakan rasa takut yang di rasakannya tadi.
__ADS_1
"Iya Kak Iel. Bolehkan?".
Levi berdehem keras memberi kode agar Gabrielle tidak menolak permintaan Elea.
'Dasar gadis licik!'.
"Iya boleh. Tapi setelah kau selesai di periksa ya?" ucap Gabrielle memberi kelonggaran.
Padahal sesungguhnya Gabrielle sangat tidak rela ada orang lain yang melihat kecantikan istrinya. Saat dia sedang gundah, tiba-tiba saja sebuah ide tercetus di kepalanya. Dia lalu tersenyum.
"Iya Kak, terima kasih" sahut Elea senang.
Gabrielle mengangguk. Dia melihat kearah perawat yang sedang merapihkan pakaian Elea.
"Permisi Tuan Muda, bolehkah saya mendiskusikan hasil USG ini dengan dokter kepala terlebih dahulu?" tanya perawat.
"Katakan pada Reinhard aku akan segera datang menemuinya!" ucap Gabrielle.
"Baik Tuan Muda. Kalau begitu saya pamit!".
Levi dan Gabrielle menarik nafas lega karena akhirnya Elea berhasil di periksa. Mereka lalu menatap kearah Elea yang sedang fokus melihat video di mana seorang anak kecil tampak sedang memakan permen kapas yang berwarna merah muda.
"Kau ingin makanan itu?" tanya Gabrielle sambil mengusap pipi istrinya sayang.
"Iya. Sejak dulu aku selalu bermimpi ingin pergi ke taman bermain kemudian membeli permen kapas sebanyak-banyaknya!" jawab Elea tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
Wajah Gabrielle dan Levi langsung di penuhi awan mendung begitu mendengar kejujuran yang di ucapkan oleh Elea.
"Kalau begitu bersiaplah. Levi akan menemanimu pergi bermain sepuasnya di sana. Beli apapun yang kalian mau, dan berjanjilah pulang dengan membawa senyum manis untukku. Bisa?" ucap Gabrielle dengan suara yang sedikit parau.
Sedih. Gabrielle begitu sedih dengan nasib Elea sebelum dia mengenalnya.
"Bisa Kak. Tapi, apa benar-benar boleh pergi?" tanya Elea memastikan.
"Tentu saja boleh. Kenapa memangnya?" tanya Gabrielle balik.
'Kira-kira Kak Iel bangkrut tidak ya kalau aku menaiki semua permainan yang ada di sana?'.
"Sayang, jangan pikirkan apapun. Hari ini kau harus bahagia, oke. Dan jangan membantah!" ucap Gabrielle sambil menempelkan satu jarinya di bibir Elea.
Levi tersenyum samar melihat betapa patuhnya Elea pada perintah suaminya. Dia bangga sekaligus takjub.
"Levi, tolong bantu istriku bersiap. Aku harus segera pergi menemui Reinhard untuk membahas hasil pemeriksaan Elea tadi. Dan ini kartu untuk kalian. Pin nya tanggal lahir Elea!?" ucap Gabrielle sambil memberikan blakcard pada Levi. " Sayang, aku pergi dulu ya. Maaf tidak bisa menemanimu, bersenang-senang lah bersama Levi. Aku akan menunggumu di rumah!" pamit Gabrielle kemudian mencium kening istrinya lama.
Pipi Elea merona mendapat perlakuan yang begitu manis dari suaminya. Dan itu semua terjadi di hadapan Levi. Gabrielle yang melihat istrinya malu-malu terkekeh lucu. Dia kemudian pergi meninggalkan Levi dan istrinya di dalam kamar.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻WA: 0857-5844-6308...