
"Apa yang terjadi pada istriku hah! Bukankah aku menyuruh kalian untuk menjaganya! Kenapa dia bisa sampai pingsan seperti ini!" amuk Gabrielle begitu dia sampai di dalam kamarnya.
Dokter yang tengah memeriksa nyonya rumah hampir jatuh terjengkang saking kagetnya mendengar teriakan itu. Dengan tangan gemetar, dia menyeka keringat dingin yang mengalir di wajahnya.
"Tu,Tuan Muda, bisakah anda tenang sebentar? Saya,saya belum selesai memeriksa Nyonya!".
Grizelle segera memeluk kakaknya yang sedang mengamuk seperti orang kesetanan. Dia takut kakaknya kalap karena terlalu mengkhawatirkan keadaan kakak iparnya.
"Tenang, Kak. Biarkan dokter memeriksa kakak ipar dulu!".
Dada Gabrielle bergerak tak beraturan. Dia begitu marah dan juga panik. Siapa yang tidak khawatir jika mendapat kabar kalau istrinya tiba-tiba tidak sadarkan diri?.
"Sia-sia aku menempatkan banyak penjaga dan pelayan di rumah ini untuk menjaga Elea. Mereka sama sekali tidak berguna!".
"Sudah, tenang dulu. Ambil nafas dalam-dalam, kemudian hembuskan. Ya seperti itu, terus lakukan Kak!" ucap Grizelle.
Emosi Gabrielle sedikit mereda setelah Grizelle membantunya menenangkan diri. Dengan langkah perlahan dia berjalan kearah ranjang. Matanya berubah sendu melihat wajah istrinya yang begitu pucat.
"Lusi?".
"I,iya Tuan Muda".
Tubuh Lusi gemetaran saat tuannya memanggil. Dia kemudian berdiri mendekat setelah mendapat tatapan datar dari Nun.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" tanya Gabrielle.
Glukkkk
Lusi menelan ludah begitu mendengar pertanyaan dari Tuan Muda-nya.
"Saya, saya...
"Jawab dengan benar!!" bentak Gabrielle.
"Saya lalai menjaga Nyonya, Tuan Muda" jawab Lusi ketakutan.
"Nun!".
Nun langsung mendekat.
"Iya Tuan Muda!".
"Pukul semua orang yang ada di rumah ini. Sekalipun mereka mati, jangan hentikan hukuman itu sebelum istriku sadar. Lakukan sekarang!" perintah Gabrielle tak terbantahkan.
Grizelle menghela nafas dalam-dalam. Dia menatap kasihan kearah para pelayan yang harus menerima hukuman atas kesalahan yang tidak mereka lakukan.
"Kak Iel, apa ini tidak berlebihan? Kakak ipar tadi yang meminta Lusi pergi menemaniku untuk melihat hasil gambarannya. Mereka tidak bersalah, tolong tarik kembali hukumanmu pada mereka Kak!" bujuk Grizelle.
"Jangan membela mereka, Zel. Mereka tidak berguna, hanya menjaga satu orang saja mereka tidak mampu. Harus ada hukum yang keras supaya mereka bisa bekerja dengan baik di rumah ini!".
"Aku tahu itu Kak. Tapi Lusi adalah pelayan kesayangan kakak ipar. Kakak ipar pasti akan merasa sangat bersalah jika mengetahui kalau mereka semua di hukum karena tidak bisa menjaganya. Apa Kakak mau melihat kakak ipar bersedih?".
Gabrielle tersentak kaget mendengar perkataan adiknya. Dia lalu menoleh kearah Ares.
"Hentikan Nun sekarang. Katakan padanya tidak perlu ada hukuman lagi. Dan Lusi, bawa dia kemari. Aku perlu tahu penyebab Elea bisa seperti ini!".
__ADS_1
"Baik Tuan Muda!".
Grizelle dan Kayo menarik nafas lega karena para pelayan tidak jadi di hukum. Mereka sekarang benar-benar paham kalau pria kaku ini bisa berubah menjadi sangat menyeramkan jika terjadi sesuatu pada kakak ipar mereka.
"Selain pedofil, ternyata kau ini juga sangat kejam ya. Aku jadi khawatir suatu hari kau akan melakukan hal yang sama pada Elea!" celetuk Levi.
Mata Gabrielle memerah mendengar celetukan Levi. Dia lalu menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Jangan mengundang kemarahanku sekarang, Levi. Aku masih membiarkanmu terus berada di dekat Elea karena menghargai pertemanan kalian. Kalau kau terus bicara omong kosong, jangan kau pikir aku tidak berani untuk melenyapkanmu. Dan juga buang jauh-jauh niatanmu yang ingin membawa Elea pergi dari sisiku. Perlu kau ingat, Elea adalah milik Gabrielle, dia hanya boleh jadi milikku!".
Suasana berubah mencekam setelah Gabrielle mengeluarkan keposesifannya pada Elea. Bahkan Levi di buat diam tak berkutik di samping ranjang.
"Tu,Tuan Muda, bi,bisakah kita bicara?" tanya dokter dengan suara bergetar.
"Katakan padaku apa yang terjadi pada istriku. Apa yang membuatnya bisa pingsan seperti ini?".
Tangan dokter itu bergerak mengelap keringat di wajahnya.
"Nyonya, dia...
Euuungghhhhhhh
Gabrielle segera duduk di samping ranjang begitu dia mendengar suara lenguhan Elea. Dengan cemas dia menggenggam tangan istrinya kemudian mengecupnya pelan.
"Sayang, mana yang sakit, hemm?" tanya Gabrielle khawatir.
Pandangan mata Elea masih buram. Dia terus mengerjapkan mata berulang kali sampai semuanya jelas.
"Kenapa ramai sekali" gumamnya.
"Elea, ini aku Kak Levi. Kau masih ingat aku kan?".
Elea mengangguk. Dia beralih menatap suaminya yang terus menciumi tangannya.
"Kak Iel, bukannya kau berada di perusahaan ya? Kenapa tiba-tiba kau bisa ada di sini?" tanya Elea lirih.
"Tadi Nun bilang padaku kalau kau jatuh pingsan. Jadi aku cepat-cepat pulang untuk melihat keadaanmu. Sekarang apa yang kau rasakan sayang? Mana yang membuatmu merasa tidak nyaman?" jawab Gabrielle kemudian kembali bertanya.
"Perutku tadi mendadak sakit, Kak. Aku tidak tahu kenapa, padahal saat bangun tidur sudah baik-baik saja. Apa mungkin cacing di perutku mengamuk ya karena aku belum makan?".
Gabrielle melirik tajam saat mendengar suara orang menahan tawa di belakangnya. Memang sih, perkataan Elea barusan terdengar cukup menggelitik. Wajar saja kalau ada yang merasa lucu dengan kata-katanya itu.
"Lusi, buatkan bubur untuk istriku" perintah Gabrielle.
"Baik Tuan Muda!".
"Dan kau, katakan hasil pemeriksaanmu pada Nun. Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapapun sekarang!" ucap Gabrielle pada dokter yang memeriksa Elea.
"Baik Tuan Muda!" sahut dokter lega.
Tinggallah Gabrielle,Elea,Levi,Grizelle dan Kayo di dalam kamar. Gabrielle yang sangat tidak suka kalau kamarnya di masuki oleh orang asing segera mengusir mereka semua. Dia ingin menghabiskan waktu untuk menemani istrinya istirahat.
"Keluar dari kamarku sekarang!".
"Aku tidak mau!" tolak Levi.
__ADS_1
Grizelle menarik nafas dalam. Sebentar lagi pasti akan segera terjadi pertengkaran.
"Levi!" teriak Gabrielle jengkel.
Elea tersentak kaget mendengar teriakan suaminya.
"Kak, jangan meneriaki Kak Levi seperti itu. Nanti kalau dia mengompol bagaimana?".
Wajah Levi berubah masam setelah mendengar perkataan Elea. Ingin rasanya Levi menenggelamkan kepala Elea ke dalam bak mandi supaya otaknya bisa berpikir benar sedikit.
"Kak Izel, kenapa kakak ipar bisa sepolos itu? Aku sampai tidak bisa berkata apa-apa sekarang!" tanya Kayo sembari berbisik.
"Sekarang kau tahu bukan kenapa Kak Iel begitu melindunginya? Kakak ipar sangat polos, otaknya suka berpikir di luar nalar kita. Kau harus bersabar jika sedang berbicara dengannya. Lihat saja si Levi, dia sekarang terlihat seperti banteng yang sedang marah gara-gara perkataan kakak ipar barusan!" jawab Grizelle sambil melirik kearah Levi.
"Kau benar, Kak. Kasihan Levi, tanpa sengaja dia sudah di olok-olok oleh kakak ipar!".
'Itu sudah nasibnya. Dan kau, bersiaplah. Giliranmu juga akan segera tiba nanti!'.
"Elea?" panggil Levi.
"Ya Kak, ada apa?".
Nafas Levi berhembus kuat. Dia benar-benar sangat kesal dengan kebodohan gadis kecil ini.
"Gabrielle, aku menyerah. Aku tidak mau lagi bicara dengan istrimu. Aku menyerah, bisa-bisanya dia menghinaku seperti itu. Aku menyerah, titik!" teriak Levi dongkol kemudian pergi dari kamar sambil menggerutu.
"Kak Levi kerasukan ya Kak?" tanya Elea bingung.
Sudut Gabrielle berkedut. Dia lalu mengelus puncak kepala istrinya.
"Jangan hiraukan wanita sinting itu. Dia akan menggila jika obatnya sudah habis!".
Grizelle dan Kayo membungkam mulut setelah mendengar celotehan konyol kakak mereka. Keduanya segera berlari keluar sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kayo sangat cantik, sama seperti Izel" puji Elea setelah semua orang keluar.
"Mereka memang cantik, tapi di mataku kau jauh lebih cantik sayang. Kau lebih segala-galanya dari semua gadis yang ada di dunia ini" ucap Gabrielle memuji kemolekan istrinya.
Wajah pucat Elea sedikit merona. Dia kemudian teringat dengan perkataan Levi tempo hari.
"Kata Kak Levi pria yang suka memuji wanita adalah seorang buaya darat. Apa Kakak termasuk anggotanya?" tanya Elea dengan wajah serius.
Hening. Gabrielle tidak bisa menjawab pertanyaan nyeleneh Elea. Dalam hati dia menyumpahi Levi yang sudah mencemari pikiran suci istrinya.
'Aku akan membunuhmu setelah ini, Levi. Beraninya kau bicara yang tidak-tidak pada istriku. Buaya darat? Astaga Elea, kau adalah gadis pertama yang kupuji selain Ibu dan para sepupuku yang lain. Levita Foster, aaarrggghhhhhhh, awas kau gadis sialan!'.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS....
LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA
🌻 IG: nini_rifani
🌻 FB: Nini Lup'ss
__ADS_1
🌻 WA: 0857-5844-6308