
"Hiksss... Hikssss..... ".
Ares yang hendak masuk ke ruangan Tuan Muda-nya terdiam bingung saat mendengar suara isak tangis. Dia kemudian mengedarkan pandangan untuk mencari tahu suara siapa itu.
"Tidak mungkin ada setan menangis di siang bolong begini. Atau jangan-jangan ada orang yang ingin berbuat jahat menggunakan trik ini?" gumam Ares curiga.
"Hiksssss... Kasihan sekali... ".
Ares menghela nafas. Dari jenis suaranya sepertinya dia tahu siapa orang ini. Ares lalu melangkah sepelan mungkin saat dia melihat bayangan orang yang sedang duduk berjongkok di sebelah lemari.
"Ini kantor, bukan tempat yang bisa kau gunakan untuk meratapi nasib. Pergilah, kau merusak pemandangan!".
Levi yang tidak menyadari kedatangan Ares terjengkang ke belakang karena terkejut mendengar suaranya. Dia lalu menatap jengkel kearah pria itu.
"Apa kau ini sejenis hantu yang bisa menginjak bumi, hah?".
"Kau itu yang hantu. Cih, menangis seperti anak tiri yang kelaparan di siang bolong. Memalukan!" ejek Ares menahan tawa.
"Apa kau bilang? Anak tiri yang kelaparan?" sahut Levi tak terima.
Ares mengangguk. Bibirnya berkedut melihat betapa kacaunya riasan di wajah wanita ini.
"Beraninya kau mengataiku" kesal Levi kemudian berdiri.
Levi kemudian berniat menjambak rambut Ares. Namun serangannya itu harus terhenti saat Ares melemparkan bom atom tepat di wajahnya.
"Benahi dulu riasanmu jika ingin berkelahi denganku. Setahuku airmata itu berwarna bening, tapi kenapa airmatamu berwarna hitam? Tidakkah kau merasa kalau kau itu sudah di kutuk oleh Tuhan?".
Mata Levi membulat lebar. Dia mengambil cermin dari dalam tasnya kemudian segera berkaca untuk memeriksa apakah benar yang di katakan oleh Ares tentang riasannya.
"Aaaaaaaaa... Setaaan!" teriak Levi kaget melihat kondisi wajahnya sekarang.
"Pffttttt, hahahahahahha!".
Karena terkena airmata, maskara di mata Levi akhirnya luntur. Jadi wajar saja kalau Ares menganggap air matanya itu aneh. Levi sendiri sebagai pemilik wajah juga sangat syok begitu melihatnya tadi. Dia terlihat seperti kuntilanak yang hidup di zaman modern.
"Jangan menertawaiku, sialan. Cepat ambilkan air dan handuk kecil untuk membersihkan kekacauan ini!" teriak Levi jengkel.
"Kenapa aku?" tanya Ares acuh.
"Banyak bicara kau. Cepat ambilkan atau....
"Atau apa, hah?" sergah Ares memotong perkataan Levi.
__ADS_1
Tengkuk Ares tiba-tiba meremang saat dia melihat seringai aneh di bibir wanita ini. Apalagi di tambah dengan riasannya yang menakutkan. Levi benar-benar terlihat seperti kuntilanak sungguhan.
"Atau aku akan berteriak supaya orang-orang datang kemari lalu aku akan mengatakan pada mereka semua kalau kau itu adalah pria mesum yang ingin berbuat tidak senonoh padaku. Bagaimana, apa kau siap menyandang gelar sebagai pria 21+, hm?" tantang Levi dengan liciknya.
"Kau gila ya!" sentak Ares dongkol.
"Aku hitung sampai tiga. Satu.. Tiga...
Levi terkekeh melihat Ares yang langsung berlari kencang menuju kamar mandi. Dengan santai dia berjalan kearah kursi kemudian mengambil tisu basah dari dalam tasnya. Levi mulai membersihkan maskara yang membuat wajahnya sambil menertawai kebodohan Ares.
"Sudah menjadi asisten Gabrielle saja kau masih bodoh, Ares. Aku ini mantan seorang model terkenal, kemana pun aku pergi aku pasti selalu membawa perkakas make up ku. Hahahaha, tidak kusangka ternyata kau sangat mudah di bodohi oleh trik-trik kecil seperti ini!".
Kesal karena tadi Ares menertawakan riasan wajahnya yang terlihat kacau, timbul niat jahat di hati Levi untuk mengerjainya. Dan sepertinya pria itu juga cukup sensitif dengan ancaman yang di ucapkan oleh Levi. Terbukti karena Ares langsung lenyap begitu saja saat Levi mulai menghitung.
"Elea, aku tidak tahu harus merasa sedih atau malah merasa bangga atas kebesaran hati yang kau miliki. Kau masih kecil, darimana kau bisa mendapatkan sumber kedewasaan untuk menghadapi kekejaman keluargamu? Jika itu aku, mungkin selamanya aku tidak akan pernah sudi memaafkan mereka. Atau aku akan menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh keduanya. Kau benar-benar luar biasa Elea, aku salut!".
Saat Levi ingin masuk ke ruangan Gabrielle, dia tidak sengaja mendengar curahan hati Elea. Dadanya terasa sangat sesak mendengar Elea yang sedang mempertanyakan apa kesalahannya. Airmata Levi langsung mengucur deras saat Elea mengatakan kalau dirinya sama sekali tidak pernah membenci kedua orangtuanya meskipun mereka telah berbuat jahat. Takut kalau suara tangisnya mengganggu waktu Gabrielle dan Elea, Levi segera menyingkir. Dia menangis di pojokan lemari sampai dimana Ares datang merusak suasana hatinya.
"Ini air dan handuk yang kau minta. Awas saja kalau kau....
Perkataan Ares terhenti saat dia melihat si pelaku tengah memoles lipstik dengan kondisi wajah yang sudah bersih. Sadar kalau dia hanya di kerjai, dengan marah Ares melemparkan handuk yang di bawanya ke wajah Levi.
"Ups, kau kasar sekali Tuan Ares. Hehehe" ledek Levi sembari terkekeh lucu.
Setelah meluapkan kekesalannya, Ares bergegas masuk ke ruangan Tuan Muda-nya. Ada hal penting yang harus segera dia sampaikan.
"Ck, dasar perajuk" gumam Levi kemudian lanjut merias wajah.
Rupanya interaksi antara Levi dan Ares di perhatikan oleh Reinhard yang saat itu hendak menemui Gabrielle dan Elea. Sorot matanya menampakkan kecemburuan yang cukup dalam. Penasaran dengan kedekatan mereka, Reinhard memutuskan untuk mendekati Levi. Dia perlu memastikan kalau keduanya tidak sedang menjalin hubungan asmara.
"Hai Levi" sapa Reinhard.
Levi menoleh. Dia acuh saja melihat kedatangan temannya Gabrielle.
"Berdandan secantik itu mau pergi kemana?" tanya Reinhard tak putus asa meski sapaannya tadi di abaikan.
"Memangnya harus ada tujuan dulu baru boleh berdandan cantik?" sahut Levi cetus.
Reinhard tersenyum. Dia suka sekali mendengar suara cetus wanita pujaannya ini.
"Tidak juga sih, hanya penasaran saja".
Tiba-tiba saja Levi teringat kalau Reinhard adalah dokter yang akan menangani kejiwaan Elea. Dia segera berpindah duduk di sebelah Reinhard kemudian tanpa sadar menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Reinhard, Elea bisa sembuh kan?" tanya Levi cemas.
Dug dug dug
Jantung Reinhard berdebar tak karu-karuan melihat keagresifan Levi. Dia sampai tidak fokus untuk menjawab pertanyaannya.
"Reinhard, kenapa diam saja? Ayo jawab" desak Levi tak sabar.
"A, apa? Kau tanya apa tadi?" tanya Reinhard tergagap.
Kening Levi mengerut. Matanya menyipit memperhatikan wajah Reinhard yang terlihat memerah.
"Kau sedang malu ya?".
"Malu?" beo Reinhard bingung.
"Iya malu. Kau malu karena aku bicara sedekat ini denganmu, iya kan?".
Reinhard membuang muka kearah samping.
"Haishhh sudahlah jangan malu-malu dulu. Sekarang jawab pertanyaanku, Elea pasti sembuh dari traumanya kan?".
'Selamat, selamat'.
"Aku belum bisa memberi jawaban untuk masalah itu, Lev. Kita masih perlu proses untuk mengetahui semuanya" jawab Reinhard sembari menghirup nafas lega.
Wajah Levi terlihat murung setelah mendengar jawaban Reinhard. Tiba-tiba saja dia ingin kembali menangis.
"Jangan sedih dulu, aku yakin Elea pasti bisa melewati semua itu asalkan kita mendukungnya. Dari yang aku lihat, Elea tidak hanya mengalami luka batin saja, tapi ada kekosongan di sana. Mungkin kekosongan itu erat kaitannya dengan kepahitan yang di jalani oleh Elea selama ini. Membuatnya tidak bisa melarikan diri dari belenggu trauma itu sendiri!" hibur Reinhard sambil mengusap lengan Levi yang terlihat murung.
"Aku kasihan sekali padanya, Rein. Di usia sekecil itu dia di paksa untuk menjalani kehidupan yang keras ini seorang diri. Mungkin jika aku yang berada di posisinya Elea, aku akan memilih untuk mengakhiri hidup. Aku tidak mungkin bisa setegar itu menghadapi kesulitan di usia yang masih begitu muda" ucap Levi dengan suara bergetar.
Reinhard ikut merasa sedih mendengar perkataan Levi. Dia juga memiliki pikiran yang sama sepertinya. Mungkin karena terbawa suasana sedih, tanpa sadar keduanya saling memeluk. Saling meresapi kepedihan yang di alami gadis kecil bernama Elea.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1