
"Astaga sayangku, kenapa kau duduk di luar?" tanya Clarissa sambil berlari menghampiri cucunya yang sedang duduk di depan pintu kamar hotel.
Elea menoleh. Wajahnya langsung semringah melihat kedatangan nenek dan suaminya.
"Kak Iel, kau ada di sini juga?.
Gabrielle mengangguk. Dia tersenyum sambil menyender ke dinding, membiarkan istrinya berada dalam pelukan Grandma Clarissa.
"Sayang, kenapa tidak masuk ke dalam saja, hm?" tanya Clarissa sambil mengelus rambut panjang cucunya. "Apa staff hotel melarangmu masuk ke dalam?.
"Tidak, Grandma" jawab Elea. "Tadi itu aku sebenarnya sudah masuk. Tapi keluar lagi karena rasanya aneh."
"Aneh?.
Elea mengangguk.
"Aneh kenapa?.
"Jangan bahas masalah itu dulu, Grandma. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu" jawab Elea dengan raut wajah yang sangat serius.
Gabrielle yang sudah tahu apa tujuan istrinya nampak mengulum senyum. Dia gemas sendiri melihat cara serius Elea yang ingin meminta black card dari neneknya.
"Lebih baik kita bicarakan hal itu di dalam saja ya. Grandma takut kau kelelahan jika kita mengobrol di sini" ajak Clarissa dengan wajah tegang.
"Grandma takut ya? Kenapa? Aku kan belum meminta kartu hitam dari Grandma" tanya Elea heran.
"Kartu hitam?" beo Clarissa bingung. "Kartu hitam apa sayang?.
Cepat-cepat Elea mengeluarkan tiga kartu hitam dari dalam tasnya. Dengan bangga dia memamerkan tiga benda keramat tersebut di hadapan neneknya.
"Ini kartu hitam milikku, Grandma. Pemberian dari Ayah, Ibu, dan juga Kakek Karim."
Deg, deg, deg
Ekpresi di wajah Clarissa langsung berubah saat Elea menyebut nama Karim. Dadanya berdebar, tangannya juga mengeluarkan keringat dingin.
"Grandma, boleh tidak kalau aku meminta kartu hitam dari Grandma?" tanya Elea.
"B-boleh. Ayo masuk, Grandma menyimpannya di dalam lemari" jawab Clarissa gugup.
Sebelum menyetujui ajakan neneknya, Elea terlebih dahulu mendekati suaminya. Dia tersenyum senang begitu masuk ke dalam pelukan pria yang entah kenapa selalu terlihat tampan.
"Rindu..." bisik Elea.
"Ekhmm, kenapa perasaanku jadi tidak enak ya?" goda Gabrielle sambil menciumi puncak kepala istrinya.
"Hehehe."
Gabrielle ikut tertawa saat niat jahat istrinya terbaca. Dia kemudian mengajak Elea masuk ke dalam kamar hotel menyusul nenek mereka yang sudah menunggu di dalam.
"Sayang, kemarilah. Ada yang ingin Grandma tunjukkan padamu" ucap Clarissa sembari menepuk ranjang.
__ADS_1
Elea menengadah menatap wajah suaminya.
"Pergilah, Grandma sepertinya sudah menyiapkan banyak kartu hitam untukmu" ucap Gabrielle yang paham arti dari tatapan istrinya.
"Baiklah" sahut Elea kemudian segera mendatangi neneknya. "Grandma, mana kartu hitamnya? Satu atau dua?.
Clarissa tersenyum. Dia kemudian memberikan sebuah kotak berukuran sedang pada cucunya.
"Kotak?" beo Elea.
"Iya kotak, tapi itu bukan kotak biasa. Bukalah, nanti kau akan tahu apa isinya."
Dengan penuh penasaran Elea segera membuka kotak tersebut. Benaknya bertanya-tanya apakah mungkin di dalam kotak ini tersimpan sebuah bom yang bisa membuat tubuhnya gosong.
Gabrielle menarik nafas dalam-dalam kemudian menengadahkan wajahnya keatas. Elea benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya dia berfikir ada bom di dalam kotak itu. Seandainya saja Grandma Clarissa mendengar apa yang sedang dia pikirkan, Gabrielle yakin sekali kalau wanita tua itu pasti akan langsung menangis. Istrinya ini sungguh luar biasa. Saking luar biasanya sampai Gabrielle tak bisa mengartikannya.
"Eh, kartu hitam? Waahhh, ada banyak. Waahhhh...ada yang lain juga!" teriak Elea kegirangan begitu kotaknya terbuka. "Grandma, kau benar-benar sangat baik. Aku kaya raya sekarang. Hahaha.. Ah, sebaiknya aku mengabari Kak Levi dulu. Dia pasti akan langsung mengamuk jika mengetahui kalau aku menemukan harta karun di dalam kotak ini. Ya benar, nyonya pelakor itu harus tahu kalau sekarang aku sudah menjadi juragan kartu hitam."
Tanpa mempedulikan neneknya yang sedang tercengang, Elea segera mengubungi Levi. Dia sudah tidak sabar ingin segera melihat wajah mengenaskan dari temannya itu.
"Mau apalagi kau?.
Pertanyaan sarkas langsung terdengar begitu panggilan video yang Elea lakukan tersambung. Sebelum memperlihatkan harta karunnya, Elea terlebih dahulu menampilkan senyum licik kearah kamera yang mana perbuatannya itu membuat Levi murka.
"Yaakkkkkkk Elea, kau sebenarnya mau apa hah! Jangan kau pikir senyummu itu bisa membuatku tergoda. Dasar kentang."
Senyum Elea langsung menghilang saat Levi menyebutnya kentang. Dia tidak paham dengan kata tersebut.
"Haaaaaaaahhhh Elea, aku benar-benar bisa gila jika terlalu lama bicara denganmu. Sekarang beritahu aku kenapa kau menelfonku. Aku sedang sibuk!.
"Ck, sibuk apa memangnya" ucap Elea sambil mencebikkan bibir. "Kak Levi, aku ingin menunjukkan harta karun padamu. Awasi jantungmu dengan baik, aku takut kau terkena stroke begitu melihat apa yang akan aku tunjukkan."
"Dasar sialan. Beraninya kau menyumpahiku. Cepat perlihatkan harta karun itu padaku. Mengganggu saja."
Gabrielle dan Clarissa saling menatap saat mendengar percakapan Levi dan Elea. Mereka cukup tergelitik dengan percakapan tersebut. Levi yang mudah marah, dan Elea sebagai pemasok emosi orang. Sungguh, pertemanan kedua gadis ini sangat unik.
"Tada......."
Elea terpingkal-pingkal melihat Levi yang terbengang dengan mata melotot lebar begitu kamera mengarah kearah kotak. Bagaimana tidak, di dalam kotak yang dia tunjukkan tidak hanya berisi kartu hitam saja, tapi ada berbagai macam perhiasan yang bertahtakan intan berlian. Juga ada beberapa kunci yang Elea tidak mengerti apa kegunaannya.
"E-Elea, siapa yang memberimu harta karun sebanyak itu?.
"Sudah dulu ya Kak Levi, katanya tadi kau sedang sibuk. Jadi sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi. Daahhh" pamit Elea kemudian mematikan panggilan video tersebut.
Coba kalian bayangkan sendiri apa yang terjadi pada Levi akibat ulah nakal Elea. Mari kita berdoa bersama-sama supaya Levi tidak terkena serangan stroke. Berdo'a mulai....🤣🤣🤣
"Sayang, kenapa kau nakal sekali sih? Kalau Levi mati bagaimana?" tanya Gabrielle sambil tertawa lucu.
"Tenang saja Kak Iel. Pelakor seperti Kak Levi akan sulit untuk mati, arwahnya tidak akan bisa tenang sebelum uang Kakak habis" jawab Elea asal seraya menyusun harta karun miliknya.
"Jadi Levita itu pelakor?" tanya Clarissa bingung melihat cucunya santai-santai saja saat ada wanita lain yang ingin mengganggu rumah tangganya.
__ADS_1
"Iya, Grandma. Tapi Kak Levi adalah pelakor yang baik, dia tidak jahat seperti yang ada di film-film."
Clarissa menelan ludah.
"Tapi tetap saja dia seorang pelakor, Elea. Bagaimana kalau dia diam-diam ingin merebut Gabrielle darimu? Memangnya kau tidak merasa khawatir?.
"Tidak" jawab Elea. "Kak Levi itu bukan mengincar Kak Iel, dia hanya mengincar hartanya saja. Aku juga sering di peras oleh Kak Levi."
Tak mau neneknya salah paham, Gabrielle segera memberi penjelasan. Dia berjalan kearah ranjang kemudian duduk di samping Elea yang masih sibuk dengan kotak harta karunnya.
"Jangan salah mengira, Grandma. Levi adalah wanita baik-baik, dia bukan pelakor seperti yang Grandma pikirkan."
"Lalu dia apa?" tanya Clarissa masih bingung.
"Parasit yang baik hati" celetuk Elea.
Gabrielle memijit tulang hidungnya. Istrinya ini...
"Apapun itu, Levi adalah orang baik. Jadi Grandma jangan berfikiran buruk tentangnya. Levi memiliki tempat tersendiri di hatiku, dari dialah aku bisa bertemu dengan Elea. Meskipun ucapannya terkesan kasar, Levi sangat meyayangi Elea. Dia bahkan rela bertaruh nyawa saat Jackson ingin membawa Elea pergi" jelas Gabrielle. "Levi sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri, Grandma."
Elea tersenyum samar.
"Hmmm syukurlah. Grandma lega mendengarnya" lanjut Clarissa. "Oh ya Gabrielle, bukankah kita di minta untuk datang ke rumah orangtuamu ya? Sekalian Grandma ingin meminta maaf atas kejadian tadi."
"Kejadian apa, Grandma? Memangnya tadi Grandma bertemu dengan Ibu Liona ya? Dimana?" cecar Elea penasaran.
"Sudah jangan banyak bertanya. Sekarang biarkan Grandma berganti pakaian kemudian kita semua pergi ke rumah Ibu. Kayo dan Fedo sedang menunggu kita di sana" sela Gabrielle mengalihkan pertanyaan istrinya.
Elea langsung mengangguk patuh.
"Tunggu sebentar ya, Grandma tidak akan lama."
"Lama juga tidak apa-apa, Grandma. Wanita yang suka berdandan itu merepotkan. Tapi aku bisa maklum karena Grandma sudah tua."
Clarissa dan Gabrielle sama-sama menarik nafas panjang. Mereka tidak tahu lagi harus bagaimana menyikapi ucapan Elea yang terlalu berterus terang.
'Sabar, sabar.'
"Tuhan, bisakah kau memasang rem cakram di kerongkongan istriku?.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Rifani...
__ADS_1