
Gabrielle tak henti-hentinya menciumi tangan istrinya yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit. Pagi tadi, saat Gabrielle membuka mata dia melihat Elea yang sedang asik menonton video tentang kegiatan di kampusnya. Gabrielle yang sadar kalau hati istrinya sudah sedikit membaik merasa sangat lega. Segera dia menghubungi semua orang dan memberitahukan kalau Elea sudah sadar.
"Kak Lusi, kau sudah melihat videonya belum? Universitasnya sangat besar, calon teman-teman kita nanti juga sangat banyak" tanya Elea begitu antusias.
"Sudah, El" jawab Lusi. "Makanya kau cepat sembuh ya supaya kita berdua bisa segera masuk dan bergabung dengan mereka."
"Memangnya Kak Lusi sendiri sudah sembuh? Punggungnya sudah tidak patah lagi ya?.
Semua orang tertawa mendengar pertanyaan Elea yang sedikit aneh. Sedangkan Gleen, dia sedikit merutuki pertanyaan Elea yang dengan entengnya menyebut kalau punggung kekasihnya patah.
"Bukan punggungnya yang patah, Elea. Tapi tulang di punggungnya" ucap Gleen membenarkan.
"Sama saja, Paman Gleen. Lukanya kan sama-sama di punggung" sahut Elea enggan mengalah.
'Astaga, mulut gadis ini.'
Pintu ruangan terbuka. Muncul Levi yang datang sambil membawa buket bunga yang sangat besar di tangannya. Senyum lebar tampak menghiasi bibir Levi ketika dia melihat teman kecilnya sudah baik-baik saja.
"Kak Levi!" panggil Elea semringah. "Apa itu bunga kematian?.
Baru saja Levi hendak membuka mulut, dia sudah langsung mendengar pertanyaan yang membuat darahnya mendidih. Bisa-bisanya makhluk kecil ini menyebut bunga yang dia bawa sebagai bunga kematian. Seketika jiwa psikopat Levi muncul.
"Elea, apa kau tidak bisa membedakan mana bunga kematian dan mana bunga yang di siapkan untuk menjadi buah tangan?? Ya Tuhan, sepertinya tensi darahku naik ke ubun-ubun" keluh Levi sambil memijit pinggiran kepalanya.
Gabrielle melirik kearah Elea yang sedang tersenyum usil. Gemas, Gabrielle dengan sengaja menggigit ujung jari tangannya yang mana membuat Elea mengerlingkan mata.
'Jangan menggodaku, Kak Iel. Aku sedang sakit, jadi tidak bisa bermain kuda-kudaan dulu denganmu!.
Hampir saja Gabrielle tertawa kencang saat mendengar isi pikiran istrinya. Sungguh, Elea-nya sudah kembali lagi seperti dulu.
"Ekhmm Kak Levi, tadi itu kau terlihat begitu gembira saat masuk ke ruanganku. Jadi aku pikir kau sedang berdukacita, makanya aku menyebut bunga itu sebagai bunga kematian" ucap Elea sengaja memplesetkan kata untuk kembali merebus darah Levi agar semakin mendidih. Dia suka hiburan ini.
"Astaga... terserah kau saja mau menganggap ini bunga apa, Elea. Aliran darah ke otakku mendadak tersumbat, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi!" sahut Levi menyerah.
Elea terkekeh. Dia kemudian meringis sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri.
"Sayang, kenapa? Mana yang sakit?" tanya Gabrielle panik.
Semua orang ikut merasa tegang saat Elea mendesis kesakitan. Lagi-lagi lukanya sedikit terguncang karenakan dia yang tadi tertawa sedikit kencang.
"Sepertinya ini karma Tuhan karena aku sudah mengerjai Kak Levi, Kak" bisik Elea.
__ADS_1
Gabrielle tergelak. Setelah itu dia tertawa.
"Kau ini ada-ada saja sih. Masih sakit tidak, hm? Biar aku panggilkan Jackson kemari ya?.
Elea menggeleng.
"Tidak usah, Kak. Ini hanya sedikit kontraksi saja."
"Kontraksi kepalamu. Kau pikir kau sedang hamil tua apa?" celetuk Levi kesal dengan kata-kata nyeleneh yang di lontarkan oleh teman kecilnya.
"Hehe, biar saja sih Kak. Kau ini kenapa sensitif sekali padaku. Tadi datang membawakan bunga kematian, sekarang malah mengejekku hamil tua. Iri ya?" canda Elea sambil memasang tampang polos yang bisa membuat Levi terkena serangan stroke mendadak.
"Gabrielle, apa kau yakin istrimu baru tersadar dari koma? Kenapa aku malah merasa kalau makhluk kecil ini baru pulang bersemedi dari goa hantu ya? Lidahnya semakin tajam saja!" tanya Levi mengadukan kelakuan Elea.
"Begini malah bagus, Lev" sahut Gabrielle dengan entengnya.
"Woaahhh, kalian benar-benar pasangan gila!.
Gabrielle dan Elea tertawa.
Liona, Greg, Abigail, Mattheo, Kayo dan yang lainnya nampak tersenyum melihat pertengkaran antara Levi dengan Elea. Kayo kemudian tak sengaja melihat Jackson sedang berdiri di luar ruangan dari celah pintu yang kebetulan sedikit terbuka. Penasaran dengan tindakan dokter tampan itu, dia memutuskan pergi keluar untuk menghampirinya.
"Kenapa tidak masuk?" tanya Kayo setelah berada di luar kamar.
"Benarkah?.
Entah kerasukan setan darimana tiba-tiba saja Kayo menggandeng tangan Jackson kemudian membawanya untuk duduk di kursi yang ada di sana. Mereka duduk bersebelahan, dan tanpa sadar gandengan tangan mereka tidak terlepas.
"Kay, kau ingat perkataanku malam itu?" tanya Jackson menagih janji.
Kening Kayo mengerut. Dia sedikit tak mengerti arti dari pertanyaan Jackson barusan.
"Perkataan yang mana?.
"Ajakan untuk menikah begitu Elea sadar."
"Ohh, itu."
Kayo terkekeh. Dia menatap lekat-lekat ke wajah Jackson yang sedang melihat kearah lain. Sudut bibirnya tertarik keatas, Kayo merasa tergelitik.
"Sebenarnya aku tidak masalah untuk menerima lamaran tak lazim ini, Jack. Hanya saja aku perlu memastikan kalau kau benar-benar ingin menikahiku, bukan hanya ingin menyenangkan hati kakak ipar saja. Kau pasti tahulah kalau pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa di permainkan sesuka hati. Jadi aku butuh kepastian dan juga keyakinan yang sebenar-benarnya dari pernyataanmu barusan!.
__ADS_1
Jackson menarik nafas. Susah sekali mengambil hati gadis ini. Dia yang tadinya tak peduli, entah kenapa sekarang malah jadi berpikir keras hanya demi membuat gadis ini bersedia menikah dengannya.
"Apa yang kau ingin aku lakukan? Pembuktian seperti apa yang bisa membuatmu yakin kalau aku bersungguh-sungguh ingin menikahimu?" tanya Jackson sembari menatap dalam kearah gadis yang juga tengah menatapnya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu" jawab Kayo sambil mengendikkan bahu. "Semua itu harusnya terlahir dari inisiatifmu sendiri, Jack. Kau mana bisa menanyakan hal itu kepadaku. Di sini kan aku yang meminta pembuktian, artinya aku sedang menunggu sesuatu yang akan kau lakukan. Rasanya sedikit tidak etis dan tidak sakral lagi jika aku memberitahumu."
"Jadi kau ingin bermain tebak-tebakan denganku?" tantang Jackson.
"Maybe yes, maybe no!.
Jackson menyeringai.
"Kau tunggu saja. Cepat atau lambat aku pasti akan menunjukkan pembuktian diri di hadapanmu. Dan jika semua itu sudah terlaksana, kau tidak akan mempunyai kesempatan lagi untuk mengulur waktu. Karena sekuat apapun kau menolak, kau akan tetap menjadi istriku!.
"Tidak masalah. Menjadi istri seorang dokter ternama dan juga seorang penggila saham aku rasa bukan hal yang buruk. Dengan kekayaan yang kau miliki aku tidak perlu merasa takut akan kelaparan" sahut Kayo dengan santai. "Kau tidak akan pelit padaku kan?.
"Semuanya milikmu setelah kita menikah."
"Semuanya?.
Jackson mengangguk. Dia kaya raya, dan kekayaannya itu tidak akan habis sekalipun gadis ini selalu berhura-hura setiap harinya.
"Karena kau sudah pasrah seperti ini berarti aku hanya tinggal menunggu lamaran resmi itu tiba. Oh ya Jack, apa kau sudah mempunyai cara untuk meluluhkan hati kedua panglima perang yang selama ini menjagaku? Mereka cukup sulit, aku takut kau tidak akan berhasil memenangkan hati mereka!.
"Ada ibumu, untuk apa aku merasa cemas" sahut Jackson gampang. "Kelemahan ayah dan kakakmu ada di tangan Nyonya Abigail. Aku benar kan?.
Sebelah alis Kayo terangkat keatas. Dia cukup kaget karena Jackson bisa mengetahui rahasia terbesar kedua pria di keluarganya.
"Aku pergi dulu, dan tolong kau bersiaplah karena aku bisa saja datang dengan tiba-tiba" ujar Jackson lalu beranjak dari tempatnya duduk.
Kayo tersenyum. Sepertinya dia tidak bisa mengelak lagi dari tawaran Jackson. Karena sekarang, hatinya sudah memiliki ruang khusus untuk dokter yang dingin dan aneh itu.
"Aku akan menunggu saat itu tiba, Jackson!.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: rifani_nini...
__ADS_1
...🌻 FB: Rifani...