Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Ranjau Darat


__ADS_3

Elea tersenyum sambil memperlihatkan ponsel barunya pada Levi. Dia begitu bersemangat untuk memberitahukan hal ini padanya.


"Lihat Kak Levi, ponselnya bagus kan?".


"Dasar tukang pamer, ponselku bahkan jauh lebih bagus dari milikmu" jawab Levi sambil memutar bola matanya malas.


Padahal kenyataannya, ponsel di tangan Elea adalah jenis ponsel terbaru yang hanya bisa di pesan oleh kalangan borju saja. Meski ponsel milik Levi juga masuk dalam jenis ponsel mahal, hal itu tetap tidak bisa di bandingkan dengan kepunyaan Elea. Levi sengaja berkata seperti itu untuk melihat seperti apa respon dari makhluk kecil ini.


"Benarkah? Wahhh hebat, ternyata ponsel kita sama-sama bagus Kak Levi!" ucap Elea heboh.


Levi menghela nafas. Bukan respon girang seperti ini yang ingin dia lihat. Tadinya Levi berharap kalau Elea akan merasa tersaingi jika dia mengatakan kalau ponselnya lebih bagus. Siapa yang menyangka kalau makhluk kecil ini malah berteriak heboh. Padahal Levi sudah menaruh harapan besar kalau Elea akan mengajaknya pergi menghabiskan uang milik Gabrielle. Dia ingin menguras harta milik pria tengik itu dengan berbelanja pakaian dan juga beberapa perhiasan mewah. Tapi sepertinya gadis bodoh ini tidak paham dengan keinginannya. Dia langsung menghancurkan harapannya begitu saja.


"Elea?" panggil Levi pelan.


"Ya Kak, ada apa?".


"Apa kau tidak merasa iri saat aku mengatakan kalau ponselku jauh lebih bagus dari ponsel milikmu?".


Elea menggeleng.


"Tidak. Kenapa aku harus merasa iri, seharusnya kan aku bersyukur karena sudah memiliki ponsel. Kalau ponsel Kak Levi jauh lebih baik dari milikku itu tandanya rezeki Kakak sangat bagus. Seandainya saja Kak Iel tidak memberiku ponsel ini, aku rasa seumur hidup aku tidak akan pernah mampu untuk membelinya. Itulah kenapa aku sangat bersyukur atas apa yang sudah Tuhan berikan padaku" jawab Elea polos.


Levi terdiam. Dia merasa tertampar dengan kata-kata sederhana yang di ucapkan oleh Elea. Apakah dia juga harus bersyukur dengan apa yang dia miliki sekarang? Tiba-tiba saja dia merasa malu.


"Kak Levi kenapa diam, aku salah bicara ya?".


"Ya, kau sangat salah bicara Elea. Hatiku hancur karena perkataanmu barusan" jawab Levi sambil menghela nafas.


"Maaf Kak, aku tidak sengaja".


"Dasar gadis bodoh" gumam Levi seraya tersenyum samar.


Jari-jari Elea saling bertaut. Dia merasa sangat bersalah karena sudah melukai perasaan temannya. Tak ingin hubungan mereka memburuk, Elea berniat meminta maaf dengan benar. Namun belum sempat dia menyampaikan permintaan maafnya, Levi sudah lebih dulu bertanya.


"Elea, apa kau sudah memberikan baju couple itu pada Gabrielle?" tanya Levi penasaran.


'Aku yakin sekali Gabrielle pasti berteriak frustasi saat mendapat hadiah dari Elea. Baju merah muda, hahahahha. Seandainya saja aku ada di sana, aku pasti akan sangat puas melihat wajah jeleknya. Rasakan itu Gabrielle, itu adalah sebagian balasan atas kejahatanmu yang sudah memblacklist namaku dari dunia permodelan. Tunggu saja, aku masih akan mengirimkan bom atom melalui istrimu. Aku juga akan mencuci otak istrimu agar dia patuh pada perkataanku. Hahahahhaha!'.


Elea diam memperhatikan Levi yang terus tersenyum sendiri setelah bertanya padanya. Khawatir Levi menjadi gila, Elea segera menyadarkan temannya itu.

__ADS_1


"Kak Levi, apa kau baik-baik saja? Kau tidak gila kan?".


"Yakkkkk, kau pikir aku sakit jiwa apa" sentak Levi jengkel.


Dengan polos Elea mengangguk. Hal itu membuat Levi berteriak frustasi.


"Astaga Elea, kau ini benar-benar...Aku masih waras Elea. Lagipula mana ada orang gila secantik aku, itu mustahil Elea, mustahil!".


"Kakak terus tersenyum sendiri tadi, jadi aku pikir Kakak itu gila. Maaf ya" ucap Elea dengan tampang polosnya.


Levi menghela nafas dalam. Dia tak berdaya jika Elea sudah memperlihatkan tampang memelas seperti ini. Levi kemudian melirik kearah tas Elea yang tergeletak di atas meja.


"Apa yang kau bawa di dalam tasmu itu, Elea? Kelihatannya barang itu cukup berat!".


"Oh, itu buku pelajaran Kak. Semalam aku sudah mulai belajar dengan Kak Safira, dan dia meninggalkan beberapa pekerjaan rumah untukku. Tapi karena tadi Kak Iel ada urusan, jadi aku membawanya kemari. Boleh tidak aku mengerjakan pr-ku di sini Kak?" ucap Elea balik bertanya.


Levi mengangguk. Sebelumnya dia sudah di beritahu oleh Gabrielle kalau Elea akan kembali melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda. Dia akan mulai mengejar ketertinggalannya dengan mengambil les privat dari guru terbaik yang sudah di pilihkan oleh suaminya. Levi sangat amat kagum akan kepedulian Gabrielle terhadap Elea. Pria tengik itu benar-benar memberikan semua kebahagiaan yang tak pernah di rasakan Elea sebelumnya.


"Boleh-boleh saja, tapi ada syaratnya" jawab Levi penuh maksud.


"Kenapa Kak Levi jadi sama seperti Kak Iel sih. Sedikit-sedikit menggunakan syarat, aneh" ucap Elea sambil menatap heran kearah Levi.


"Isshhhh, mana ada sama. Dia yang mencuri ide itu dariku" elak Levi.


"Oya Kak, Kakak sudah punya pacar ya?" tanya Elea saat teringat dengan tamu yang di temui oleh suaminya di kantor.


Kening Levi mengernyit.


"Pacar?".


Elea mengangguk.


"Iya pacar, namanya Samuel. Tadi pagi pacar Kakak datang ke perusahaannya Kak Iel. Mereka sepertinya membahas sesuatu yang sangat penting!".


Tangan Levi terkepal kuat begitu mendengar nama orang yang di anggap sebagai pacarnya oleh Elea. Dia mendengus marah.


'Ada urusan apa ayah pergi ke kantornya Gabrielle? Astaga, apa jangan-jangan ayah menganggap kalau aku dan Gabrielle memiliki sebuah hubungan? Ya ampun, ini petaka. Tuhan tolong kunci rapat-rapat mulut ayahku di sana. Aku tidak mau Gabrielle mendengar kegilaannya itu!'.


"Kak Levi ayo jawab. Samuel itu pacarnya Kakak bukan?" desak Elea tak sabar.

__ADS_1


"Bukan, dia hanya kerbau tua yang gila harta. Sudahlah jangan bahas makhluk astral itu, aku tidak suka!" tandas Levi kasar. "Hei makhluk kecil, kau belum menjawab pertanyaanku tadi!".


"Pertanyaan yang mana ya Kak? Aku lupa" beo Elea bingung.


"Ck, kau ini masih muda kenapa sudah pikun sih. Aku tadi bertanya kau sudah memberikan baju couple yang aku pilihkan pada suamimu belum?" ucap Levi mengulang pertanyaannya.


"Oh baju kembar itu ya. Sudah Kak" jawab Elea cepat.


Levi menggosok-gosokkan telapak tangannya bersiap mendengar kabar baik tentang Gabrielle. Dia sudah bisa menebak seberapa depresinya Gabrielle menerima pakaian couple dengan warna yang feminim, warna merah jambu khas seorang wanita.


"Bagaimana reaksinya saat menerima baju itu? Dia pasti sangat syok kemudian berteriak histeris kan?".


"Tidak, semalam Kak Iel terlihat sangat bahagia. Kami bahkan langsung memakainya saat makan malam. Dia juga kalau bilang bajunya bagus, dia sangat suka" jawab Elea jujur.


Seperti danau es yang mulai retak, seperti itulah perasaan Levi sekarang. Hatinya hancur mengetahui kalau Gabrielle baik-baik saja setelah mendapat kiriman ranjau darat darinya. Musnah sudah harapan Levi yang ingin mendengar penderitaan Gabrielle begitu melihat pakaian couple itu. Hasil ini tidak seperti apa yang dia harapkan. Kali ini serangan ranjaunya gagal total.


"Aku yang ingin membuat Gabrielle kesal, tapi kenapa malah emosiku yang meledak? Apa ini yang di namakan senjata makan tuan? Hiksss, menyedihkan sekali" gumam Levi lirih.


"Apanya yang meledak Kak? Memangnya di rumah ini ada bom ya?" tanya Elea sambil celingukan menatap sekeliling ruangan.


Kekesalan Levi semakin bertambah mendengar pertanyaan konyol Elea. Dengan kesal dia menggigit bantal untuk melampiaskan emosinya.


"Hahh, hahh, hahhh....... Aku bisa mati gara-gara kalian berdua.. Arrgghhhggg!" teriak Levi dengan nafas terengah-engah.


Elea hanya diam menyaksikan kelakuan Levi yang terus menggigit bantal sambil menggumamkan kata yang tidak jelas.


"Kak Levi ini kenapa, dia yang seperti ini malah terlihat seperti anjing yang sedang menggigit tulang!" ucap Elea dengan santainya.


"Yakkkkkkk, apa kau bilang tadi! Beraninya kau mengataiku seperti anjing. Kemari kau Elea, aku akan membuatmu tidak bisa bicara!" ancam Levi kemudian menerkam Elea hingga jatuh tertindih di bawah tubuhnya.


Dalam sekejap ruang tamu itu di penuhi suara tawa dari Levi yang sedang menggelitik perut Elea. Dia tidak memberi sedikitpun kesempatan untuk Elea bisa membalas kejahilannya. Tanpa mereka sadari, sebuah tali persahabatan perlahan tumbuh di dalam hati dua orang wanita yang sama-sama merasa kesepian. Mereka saling mengisi kekosongan dengan canda dan tawa untuk menggantikan kebahagiaan mereka yang pernah hilang.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...

__ADS_1


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2