Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Sepotong Kaki


__ADS_3

Ares berlari membukakan pintu mobil saat Tuan Muda-nya terlihat sudah tidak sabar ingin segera masuk ke dalam rumah.


"Kau bersiaplah. Setelah ini kita akan pergi ke rumah keluarga istriku" ucap Gabrielle sembari mengendurkan dasinya.


"Baik Tuan Muda."


Senyum Gabrielle mengembang saat membayangkan istrinya yang akan bersikap malu-malu setelah apa yang terjadi pada mereka semalam. Dengan langkah lebar dia masuk ke dalam rumah kemudian berhenti sebentar saat para pelayan menyapa.


"Selamat datang kembali, Tuan Muda."


"Dimana istriku?" tanya Gabrielle langsung.


"Nyonya sedang beristirahat di dalam kamarnya, Tuan Muda. Tadi sempat ada tragedi di dapur saat Nyonya bersikeras ingin memasak" jawab pelayan melapor.


Mata Gabrielle melotot. "Apa yang terjadi padanya hah? Bukankah ada kalian di rumah, bagaimana bisa dia sampai terluka?."


"Ma,maafkan kami Tuan Muda. Kami lalai."


Gabrielle mendengus. Dia segera berlari masuk ke dalam lift kemudian menekan tombol agar bisa segera sampai di kamarnya. Gabrielle sangat khawatir, dia takut Elea terluka parah.


"Apa perlu aku mengorek otak kalian kemudian menulis pesan di sana supaya kalian tidak lagi bertindak ceroboh? Jika iya, ayo ikut denganku sekarang!?" ucap Ares dingin sembari menatap tajam kearah para pelayan.


"Tuan Ares, kami tidak tahu harus bagaimana saat Nyonya Elea bilang ingin memasak untuk menjalankan tugasnya melayani suami. Dan saya terpaksa mengiyakan supaya Nyonya Elea berhenti mengatakan tentang malam pertamanya dengan Tuan Muda Gabrielle. Saya sudah tua, tapi ada beberapa pelayan di sini yang belum menikah. Apa jadinya nanti jika mereka sampai mendengar Nyonya bicara dengan begitu gamblang tentang hal pribadinya dengan Tuan Muda?."


Ares berdehem seraya memalingkan muka kearah samping saat dia mendengar penjelasan pelayan. Dia juga tahu kalau kepolosan nyonya mereka memang cukup sulit di atasi jika tidak segera di alihkan pada hal lainnya.


"Tetap saja kelalaian kalian tidak bisa di benarkan. Hah, karena ini yang pertama maka jangan sampai ada yang kedua apalagi ketiga. Meskipun kalian tinggal di rumah Nyonya Liona, aku tidak akan segan-segan memberi hukuman jika hal seperti ini sampai terulang. Karena semua yang berhubungan dengan Tuan Muda sudah menjadi tanggung jawabku. Apa kalian mengerti?" tanya Ares.


"Kami mengerti, Tuan Ares."


Baru saja mulut Ares tertutup, semua orang di kejutkan oleh teriakan dari arah lift.


"Ares, cepat cari istriku. Elea tidak ada di dalam kamarnya!" teriak Gabrielle dengan suara yang sangat kuat.


"Bagaimana bisa? Bukankah pelayan bilang kalau Nyonya sedang istirahat?" tanya Ares ikut panik.


"Benar, Tuan Muda. Saya sendiri yang mengantarkan Nyonya Elea masuk ke dalam kamar" timpal pelayan kebingungan.


"Tapi istriku tidak ada di kamar!" sentak Gabrielle sambil mengusap wajahnya. "Cari sampai dapat. Sekarang!."


"Baik Tuan Muda" sahut semua orang.


Dalam sekejab rumah besar itu menjadi riuh setelah Gabrielle mengumumkan kalau Elea hilang. Saat sedang kebingungan, salah seorang pelayan secara tidak sengaja melihat potongan kaki yang tak jauh dari mulut Lan. Seketika dia menjerit kemudian jatuh pingsan.


"Apa yang terjadi!" tanya Gabrielle terkejut.


"Ti,tidak tahu Tuan Muda. Tiba-tiba saja dia menjerit kemudian tidak sadarkan diri" jawab pelayan yang sedang mencoba menyadarkan temannya.


Gabrielle mengumpat. Dia lalu melihat kearah Ares yang sedang berlari kearahnya.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kalian menemukan keberadaan Elea?" tanya Gabrielle tak sabar.


"Nyonya dan Lan sedang berada di halaman belakang, Tuan Muda" jawab Ares sembari celingukan mencari keberadaan binatang itu. "Nah, itu Lan."


Semua mata menoleh kearah yang di tunjuk oleh Ares. Kini mereka paham apa yang membuat pelayan ini jatuh pingsan. Ada sepasang kaki putih yang tergeletak tak jauh dari mulutnya Lan. Dan mereka yakin kalau pelayan ini pasti mengira kalau Elea telah di makan oleh binatang kesayangan Keluarga Ma.


"Astaga Elea, apa yang kau lakukan di sana? Kau membuatku panik saja" gumam Gabrielle kemudian tertawa lucu.


Gabrielle dan Ares segera menghampiri Lan dan Elea yang ternyata sedang sama-sama terlelap. Wajah Elea nampak sangat polos tertidur dalam posisi meringkuk di samping perutnya Lan.


"Kau lihat Ares betapa istriku sangat menggemaskan" ucap Gabrielle memuji kecantikan istrinya.


Sedetik kemudian dia menatap tajam kearah pria yang ternyata sudah berbalik badan. Gabrielle mendesah lega.


"Saya tidak melihat apapun, Tuan Muda. Anda jangan khawatir" ucap Ares menyadari tarikan nafas Tuan Muda-nya.


'Untung saja aku cepat berbalik. Bisa bahaya jika tadi aku sampai ketahuan melihat kearah Nyonya Elea.'


Bibir Gabrielle berkedut. Dia lalu berjongkok di sebelah Elea, hanya diam sambil menikmati maha karya Tuhan yang begitu sempurna.


"Sayang... "


Elea menggeliat pelan. Sekarang dia malah menjadikan perut Lan sebagai gulingnya. Yang mana membuat Gabrielle merasa sangat cemburu, karena bagaimana pun Lan adalah harimau jantan. Dia mana rela membiarkan istri kesayangannya bersentuhan dengan pria lain meski binatang sekalipun.


"Elea, sayang, bangun. Ayo kita pindah ke kamar, di sana nanti kau bisa memelukku sepuasnya. Aku tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan Lan" rayu Gabrielle sambil mengusap-usap pipi istrinya.


'Astaga Tuan Muda, Lan itu kan binatang? Bagaimana bisa anda cemburu padanya?.'


Mata Elea mengerjap. Bibirnya mengerucut saat dia merasa tidurnya terganggu.


"Kak Iel" gumam Elea lirih.


"Iya sayang, ini aku. Ayo bangun, kenapa kau bisa tertidur di sini, hem? Nanti tubuhmu gatal-gatal" sahut Gabrielle.


Dengan malas Elea bangun dari tidurnya. Dia lalu tersenyum melihat Lan yang juga ikut terbangun. "Lan sangat pintar, dia menjagaku dengan baik, Kak."


Wajah Gabrielle langsung berubah masam saat Elea lebih memuji Lan ketimbang dirinya. Tanpa di ketahui oleh siapapun, Gabrielle mengirimkan bendera perang lengkap dengan ancamannya kepada Lan melalui pikiran mereka.


Sadar kalau nyawanya sedang terancam, Lan tanpa ba bi bu langsung pergi melarikan diri. Sebelum masuk ke dalam rumah, dia mengaum dengan sangat kuat, seolah memberi tanda kalau Tuan Muda-nya memiliki hati yang sangat serakah karena ingin menguasai majikan kecilnya seorang diri.


"Kak, kenapa Lan meninggalkan aku?" tanya Elea yang heran melihat sikap binatang yang tadi menemaninya tidur.


Ares berusaha untuk tidak tertawa. Dia bisa menebak kalau saat ini wajah Tuan Muda-nya pasti terlihat sangat jelek karena menahan cemburu.


"Jangan bahas binatang sialan itu lagi, sayang. Aku tidak suka. Mengerti?" ucap Gabrielle tanpa ekpresi apapun di wajahnya.


'Cih, awas saja kau Lan jika masih berani mendekati istriku. Akan aku buat kulitmu menjadi tas lalu kujual dengan harga yang paling murah.''


"Mengerti, Kak" sahut Elea patuh.

__ADS_1


"Gadis pintar. Ayo masuk ke kamar, kau pasti belum mandi kan?" tanya Gabrielle kemudian menggendong Elea ala brydal style.


"Belum, Kak. Tanganku sakit, jadi aku tidak bisa membuka resleting baju yang ada di belakang" jawab Elea sambil melingkarkan tangan ke leher suaminya.


Ares mengikuti langkah Tuan Muda-nya dari belakang. Dengan sigap dia memencet tombol untuk membuka pintu lift.


"Kau tidak usah ikut ke atas. Bersiaplah, aku akan segera turun."


"Baik Tuan Muda" sahut Ares.


Pintu lift tertutup. Gabrielle kemudian menatap dua jari tangan istrinya yang terbungkus perban.


"Lain kali jangan lakukan apapun yang bisa membuatmu terluka, Elea. Kau tahu bukan kalau aku tidak menyukainya?."


Elea menatap wajah suaminya kemudian mengangguk. Namun anggukan itu terlihat sedikit berat, ada sesuatu hal yang membuatnya merasa sedikit tidak rela.


"Kenapa, hm? Kau sepertinya tidak suka dengan jawabanmu" tanya Gabrielle yang menyadari ada sorot ketidakrelaan di mata istrinya.


"Kak Iel, Kak Lusi bilang kan seorang istri harus bisa melayani semua kebutuhan suaminya, termasuk menyiapkan makanan. Tadi itu aku ingin memasak untukmu, tapi aku tidak sengaja malah memegang kualinya. Dan tanganku melepuh" jawab Elea.


Gabrielle melangkah keluar dari dalam lift kemudian berjalan menuju kamarnya. Dengan satu kakinya dia menendang pintu hingga terbuka.


"Lalu?."


"Tapi barusan Kakak melarangku, itu berarti aku sudah tidak bisa lagi melayani keperluan Kakak. Kalau Tuhan marah bagaimana? Ibu Liona juga bilang sangat berdosa besar jika seorang istri tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik. Aku tidak mau di siksa Tuhan, Kak Iel" ucap Elea dengan tampang menyedihkan.


Gabrielle tertegun. Dia tidak menyangka kalau istrinya akan berpikiran sejauh ini.


"Boleh ya aku belajar memasak? Aku janji akan lebih hati-hati supaya tidak terluka. Boleh ya Kak Iel?" rayu Elea sambil mengerjap-ngerjapkan mata kearah suaminya.


Jakun Gabrielle bergerak naik turun. Bukannya menjawab, dia malah meraup bibir mungil itu kemudian menyesapnya perlahan. Tak lupa juga dia memberi kesempatan untuk istrinya bernafas.


Saat tangannya ingin menyentuh milik Elea, tiba-tiba saja gerakannya itu tertahan.


"Kenapa?" tanya Gabrielle dengan suara serak.


"Jangan Kak Iel. Sepertinya milik Kakak masih tertinggal di dalam, karena rasanya sangat mengganjal. Tadi saat bangun tidur aku terjatuh kemudian merangkak seperti anjing karena tidak bisa berjalan. Nanti saja tunggu milik Kak Iel keluar dari dalam sini ya?" jawab Elea sambil menunjuk ke bagian intimnya.


Kriikkk... Kriikkkk... Kriiikkkk


Tiba-tiba saja hujan turun dengan sangat deras....


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


... 🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


... LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...

__ADS_1


... 🌻 FB: Nini Lup'ss...


... 🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2