Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Karena Lingerie


__ADS_3

Gabrielle senyum-senyum seperti orang gila di dalam toko pakaian dalam wanita. Dia dengan tidak tahu malunya mengambil hampir seluruh model lingerie sexy yang di jual toko tersebut. Sementara Elea, gadis kecil itu hanya patuh sembari menerima semua pakaian dalam yang di pilihkan oleh suaminya. Terkadang wajahnya memerah ketika melihat model lingerie yang begitu terbuka dan uuhhh,,, sialnya terlihat sangat menggoda.


"Sayang, nanti malam aku ingin kau memakai model lingerie yang ini" ucap Gabrielle sambil mengangkat satu model lingerie berwarna merah darah ke hadapan Elea.


Glukkkkkk


Wajah Elea kian memerah ketika mendengar suara tawa para karyawan toko. Dia kemudian segera merebut lingerie sexy tersebut dari tangan suaminya lalu menyembunyikannya di balik tas.


"Kak Iel kenapa frontal sekali sih. Aku kan jadi malu di tertawakan oleh kakak-kakak itu" protes Elea setengah berbisik.


"Malu kenapa. Kita kan suami istri, tidak ada salahnya juga berbicara seperti tadi" sahut Gabrielle sambil terus memilih model-model pakaian dalam yang lain. "Ah, yang ini lebih sexy, sayang. Astaga, aku jadi bingung ingin memintamu memakai yang mana dulu."


Melihat suaminya yang begitu antusias memilihkan pakaian dalam untuknya lama-lama Elea jadi ikut terhanyut juga. Dia sudah tak mempedulikan lagi suara tawa para karyawan toko. Elea bahkan mau-mau saja ketika di minta suaminya untuk berpose ala model yang biasa muncul di dalam majalah dewasa.


"Apakah begini sudah terlihat sexy, kak?" tanya Elea sambil mengedipkan mata.


Gabrielle menggaruk-garuk dagunya sambil berfikir. Bergaya ala desainer kondang, dengan sok pintarnya dia mengatur pose istrinya agar terlihat lebih menggoda.


"Nah, begini baru sexy dan menggoda."


Setelah itu keduanya tertawa bersama-sama. Levi dan Lusi yang kebetulan sudah selesai berbelanja datang menyusul. Mereka tercengang kaget melihat kelakuan aneh Gabrielle dan Elea.


Tak tahan melihat pose-pose Elea yang terlihat seperti wanita murahan, Levi dengan geramnya berniat datang menghampiri. Dia merasa perlu menyadarkan Gabrielle kalau di luar toko banyak mata lelaki yang sedang menatap haus akan pose panas Elea.


"Nona Levi" panggil Lusi sambil menahan tangan Levi yang ingin menghampiri majikannya.


"Apa?.


"Itu, apa sebaiknya kita jangan mengganggu kebersamaan Tuan Muda dan Nyonya Elea dulu? Aku takut Tuan Muda murka" jawab Lusi takut-takut.


"Murka yang murka saja, apa urusannya dengan kita" sahut Levi asal.


"Tapi...


"Lusi, coba kau perhatikan sekeliling toko ini. Lihat! Ada berapa ratus mata buaya yang diam-diam sedang mencuri pandang pada tubuh majikanmu? Masa iya aku harus diam saja dan membiarkan Elea terus berpose seperti itu. Tidak mungkin kan?" omel Levi kemudian menepis tangan Lusi yang masih menahan lengannya.


"Sweety, apa kau juga ingin membeli lingerie seperti Elea?.


Lusi menelan ludah. Dia lupa kalau pria permen karet ini masih berdiri di sebelahnya. Sambil menahan malu, Lusi mencoba untuk abai akan pertanyaan Gleen. Dia takut pria ini akan kembali melakukan pelecehan seperti saat di mobil tadi.


"Sweety, kenapa diam saja? Kalau memang kau mau beli ya sudah ayo masuk. Atau kau ingin aku membooking toko ini dulu supaya bisa leluasa memilih lingerie yang kau suka? Tunggu sebentar, aku akan menghubungi seseorang dulu."


Plaaakkk


"Gleen, tolong jangan gila. Aku-aku, untuk apa aku membeli benda-benda mengerikan itu? Aku belum menikah, lagipula aku juga bukan wanita panggilan. Jadi tolong jangan bicara sembarangan!" ucap Lusi terbata-bata sambil meremas tangan yang baru saja dia gunakan untuk memukul kepalanya Gleen.

__ADS_1


Bukannya marah karena kepalanya di pukul, Gleen malah menyeringai senang. Pukulan itu dia anggap sebagai bentuk perhatian pertama yang di berikan Lusi padanya.


"Hehehe, membeli lingerie tidak harus menjadi wanita panggilan juga, Sweety. Tanpa menikah pun juga tidak akan ada yang melarang kalau kau memang menginginkannya. Atau jangan-jangan kau ingin aku yang memilihkannya untukmu, iya?.


"Gleeeennn!."


Levi berdecak kesal melihat ulah pasangan baru yang ada di depannya. Sambil menggerutu dia akhirnya mendatangi Gabrielle dan Elea.


"Tidak kalian tidak mereka. Sama-sama bertingkah tidak waras hanya karena lingerie!."


Tangan Elea yang hendak mengambil sepasang lingerie berwarna hitam terhenti di udara ketika mendengar celetukan Levi. Segera dia menoleh kearahnya.


"Kak Levi ini kenapa sih, datang-datang langsung mengomel" ucap Elea heran.


"Bagaimana tidak mengomel. Lihat saja bagaimana kelakuan kalian berempat, memalukan sekali" sahut Levi bersungut-sungut.


Elea meringis.


"Jangan dengarkan dia. Dia itu hanya iri saja karena kekasihnya tidak ada disini" ucap Gabrielle yang tidak suka kebersamaannya dengan Elea di ganggu.


"Iri kepalamu. Yak Gabrielle, percaya tidak setelah ini kau pasti akan bersujud dan berterima kasih padaku" sahut Levi dengan seringai jahat di bibirnya.


Sebelah alis Gabrielle terangkat. Ada firasat buruk yang dia rasakan ketika melihat seringai di bibir Levi.


"Apa kau bilang Elea? Tidak etis? Yaakkkkk,,,,,,


"Hehhehee, maaf-maaf" sahut Elea sambil menggaruk kepala.


Gabrielle yang masih penasaran dengan ucapan Levi segera mendesaknya untuk bicara. Dia di buat tidak nyaman dengan ucapannya yang masih menggantung.


"Levi, beritahu aku apa maksud dari ucapanmu tadi?.


"Ucapan yang mana sih?" ledek Levi.


"Jangan bertele-tele atau aku tidak akan membiarkanmu menikmati uangku lagi. Cepat katakan sekarang" desak Gabrielle tak sabar.


"Haissshhh, beraninya kau mengancamku."


"Makanya cepat katakan sekarang sebelum aku berubah pikiran."


"Iya-iya."


Sebelum bicara, Levi memastikan terlebih dahulu kalau di luar toko para buaya itu masih ada. Dia harus mempunyai bukti yang kuat jika tidak ingin di sembur oleh pria tengik ini.


"Begini Gabrielle, sebenarnya aku tidak keberatan kalau Elea berpose ala-ala model majalah dewasa di toko ini. Tapi masalahnya kaca di toko ini tembus pandang, jadi apa yang kalian lakukan disini bisa di saksikan oleh banyak mata di luar toko. Sekarang coba kalian lihat dan hitung ada berapa banyak buaya buntung yang sedang melirik kearah sini. Tidakkah kalian merasa kalau mereka adalah sesuatu yang harus sesegera mungkin di singkirkan? Hem?.

__ADS_1


Gabrielle langsung menebar tatapan tajam kearah sekeliling toko. Benar saja, meski pengawal yang dia bawa sudah berjaga di bagian depan toko, masih ada banyak mata nakal yang terus melirik ke dalam sini. Gabrielle yang sadar kalau istrinya masih memegang lingerie segera merebutnya kemudian berteriak memanggil Ares hingga membuat semua orang yang ada disana terperanjat kaget.


"ARREEEEESSSSSS!!!."


Dari luar toko, Ares nampak berjalan cepat ketika namanya di panggil. Dia yakin sekali pasti ada masalah besar yang akan segera terjadi.


"Iya, Tuan Muda!.


"Hajar semua laki-laki yang sudah lancang memperhatikan istriku. Beraninya mereka mengambil keuntungan dariku!" kesal Gabrielle sembari menggeram marah.


Ares mengangguk. Dia segera mendatangi anak buahnya kemudian meminta mereka untuk menghajar semua orang berjenis kelamin laki-laki yang sudah berani mengganggu waktu majikannya. Dalam sekejab, suara teriak kesakitan langsung menghiasi bagian depan toko. Elea yang melihat hal itu bergidik takut. Sungguh, suaminya sangat mengerikan ketika ada orang yang berani mengusiknya. Dia kemudian menoleh kearah samping ketika merasakan sebuah lengan kekar melingkari pinggangnya.


"Aku disini, kenapa malah menatap pria lain, hem?" tanya Gabrielle.


"Aku bukan menatap mereka, Kak. Tapi aku itu sedang iba akan nasib mereka" jawab Elea.


"Iba? Jadi kau merasa kasihan pada pria-pria cabul itu?.


Kurangajar. Sudah di pukuli pun para hidung belang itu masih saja mencuri perhatian istrinya. Dengan kadar emos yang semakin naik, Gabrielle berniat meminta Ares untuk menghabisi semua orang itu. Dia tidak tahan istrinya mengasihani pria lain selain dirinya.


"Ares, bun...


Cup


"Mau lanjut berbelanja atau malah mau mengurusi mereka, hem?" tanya Elea.


Seperti biasa, amarah Gabrielle akan langsung hilang jika istrinya sudah membujuk dengan cara yang sangat amat manis. Levi yang melihat hal itu langsung menyindir penuh rasa jijik.


"Iyuhhh, dasar tidak punya harga diri. Baru di cium saja sudah luluh. Murahan!.


"Tidak ada yang murahan jika istriku yang melakukan. Bilang saja kau iri melihat keromantisan kami. Iya kan?" ejek Gabrielle sambil tertawa lebar.


Seandainya ada anak dakjal yang muncul sambil membawa palu besar disana, Levi pasti akan langsung menyewanya kemudian memukulkannya ke kepala Gabrielle. Tapi karena suhu tubuhnya yang semakin panas, Levi memutuskan untuk sedikit irit bicara. Dia pun akhirnya ikut memilih pakaian dalam sembari mengganggu kebersamaan pasangan suami istri tersebut.


Jika kalian penasaran dimana Gleen dan Lusi, mereka sebenarnya juga ada disana. Atau lebih tepatnya Gleen yang memaksa Lusi untuk masuk. Saat Gleen sibuk menunjuk ini dan itu, gadis di sebelahnya hanya bisa tertunduk dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. Ayolah, siapa yang tidak malu ketika harus memilih pakaian dalam di hadapan seorang pria? Hanya Tuhan yang tahu betapa malunya Lusi saat itu 🤣🤣🤣🤣🤣🤣


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


__ADS_2