Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Harimau Pencemburu


__ADS_3

Elea dengan fokus mengerjakan soal yang baru saja di berikan oleh guru lesnya. Rambutnya yang saat itu tidak terikat nampak bergerak-gerak tertiup angin. Para penjaga yang berdiri tak jauh dari sana tanpa sengaja menatapnya. Mereka terpaku melihat kecantikan Elea yang terlihat begitu sempurna di bawah terang bulan malam ini.


Tanpa mereka sadari, Tuan Muda mereka saat ini tengah menatap mereka dengan begitu emosi. Gabrielle yang terbakar amarah berniat menghampiri para penjaga yang sudah melanggar peraturan yang dia buat.


"Tahan dulu emosi anda, Tuan Muda. Nyonya sedang belajar!" cegah Ares berusaha menenangkan.


"Singkirkan tanganmu, Res. Beraninya mereka menatap Elea, cari mati!" sahut Gabrielle seraya menghempaskan tangan Ares dari bahunya.


"Masalah itu biar saya saja yang membereskannya. Tuan Muda tidak perlu turun tangan untuk membersihkan hama-hama seperti mereka. Lagipula jarak para penjaga sangat dekat dengan kolam renang, fokus Nyonya Elea bisa terganggu jika Tuan Muda menghajar mereka di sana!".


Gabrielle mengusap wajahnya kasar. Mau tidak mau dia harus mengikuti apa yang di katakan oleh Ares.


"Beri mereka pelajaran. Aku tidak rela mata mereka masih merekam kecantikan istriku!".


"Apa saya perlu menyumbangkan bola mereka, Tuan Muda?" tanya Nun dingin.


"Tidak usah, mereka masih punya anak istri di rumah. Hah, untuk kali ini aku maafkan karena mereka tidak sepenuhnya bersalah. Kecantikan Elea lah yang terlalu bersinar hingga membuat semua mata penasaran ingin melihat kearahnya!" jawab Gabrielle sembari mendengus kesal.


Nun dan Ares menarik nafas lega. Seandainya Tuan Muda mereka tidak menarik hukumannya, maka mereka akan kembali di buat repot untuk mencari penjaga yang memiliki kemampuan tinggi seperti para penjaga yang tadi terpesona oleh kecantikan nyonya mereka.


Gabrielle mengerutkan kening saat Elea mengusap lengannya beberapa kali. Khawatir istrinya kedinginan, Gabrielle segera bertindak.


"Nun, tolong ambilkan mantel untukku. Angin malam tidak bagus untuk kesehatan Elea".


"Baik Tuan Muda".


Nun segera berlari masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan mantel yang di inginkan oleh Tuan Muda-nya. Setelah mendapatkannya dia segera kembali.


"Ini mantelnya, Tuan Muda".


Gabrielle menerima mantel tersebut kemudian berjalan kearah kolam renang. Wajah para penjaga langsung memucat saat Gabrielle menatap mereka dengan sangat bengis.


Ares yang mencium aroma permusuhan itu hanya bisa menarik nafas dalam. Dia lalu melihat kearah Nun.


"Harus kita apakan mereka supaya harimau pencemburu itu merasa puas?".


"Yang jelas mereka harus tetap hidup. Entah itu membuat mereka babak belur atau memberi cambukan terserah kau saja. Itu tugasmu!" jawab Nun santai.


"Kenapa aku merasa kalau kau tidak mau bekerjasama denganku, Nun?" tuduh Ares sambil memicingkan mata.


"Bukan tidak mau, tapi tadi bukannya kau sendiri yang menghentikan kemarahan harimau pencemburu itu saat ingin menghajar mereka? Ya sudah, kalau begitu kau uruslah sendiri. Jangan tanya aku" sahut Nun datar.


"Cih, selalu saja seperti ini. Bisa tidak kau jangan terlalu memihak pada Tuan Muda?" tanya Ares sambil melipat tangan di dada.


Nun mengabaikan pertanyaan Ares. Dia lebih tertarik memperhatikan Tuan dan Nyonya-nya yang sedang mengobrol.

__ADS_1


"Sayang, kenapa tidak belajar di dalam rumah saja? Lihat, tubuhmu kedinginan, kau bisa sakit nanti!" ucap Gabrielle khawatir sambil memakaikan mantel ke tubuh istrinya.


Elea mendongak kemudian tersenyum. Dia lalu membetulkan mantel yang melekat di tubuhnya.


"Angin malam tidak akan membunuhku, Kak. Mereka kan bukan malaikat maut".


Rasanya Safira ingin tertawa dengan sangat keras mendengar perkataan lucu yang keluar dari mulut muridnya. Namun dia tak berani melakukannya. Dia hanya menunduk sambil menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara.


"Aku tahu, tapi tetap saja angin malam itu tidak sehat. Pindah ke dalam saja ya?" bujuk Gabrielle sambil memasukkan rambut istrinya ke dalam mantel.


"Di sini saja ya Kak, otakku tidak macet kalau belajar di ruangan terbuka. Kalau di dalam, pikiranku pasti tidak bisa fokus. Aku harus belajar sungguh-sungguh supaya cepat pintar. Memangnya Kakak tidak malu punya istri yang bodoh sepertiku?" tanya Elea sambil menunjuk wajahnya sendiri.


Mulut Gabrielle terkatup rapat mendengar pertanyaan Elea. Dia seolah di bungkam dengan kata-kata ajaibnya.


"Boleh ya Kak, ya?" rayu Elea sambil memegangi ujung baju suaminya.


"Kau yakin mau tetap di sini?" tanya Gabrielle masih khawatir.


Elea mengangguk.


"Yakin".


"Tidak mau pindah ke dalam?".


"Tidak mau Kak".


"Sayang, beri aku alasan kenapa kau ingin tetap belajar di pinggir kolam renang ini?".


Elea tak langsung memberitahu alasan kenapa dia memilih tepian kolam renang untuk menjadi tempat belajarnya. Dia sedikit takut.


"Sayang?" panggil Gabrielle pelan.


"Emm, tapi Kak Iel jangan menertawaiku ya" ucap Elea lirih.


Gabrielle mengangguk. Dia tak sabar ingin segera tahu apa alasannya.


"Karena tempat ini banyak kenangannya, Kak. Saat pertama kali aku datang di sini, aku dan Kak Iel duduk berdua sambil bermain sulap. Kak Iel tahu tidak, itu adalah kali pertama aku merasakan kehangatan. Aku tidak merasa sendirian lagi, masih ada orang yang mau peduli padaku. Maaf ya Kak, aku terlalu kampungan. Aku juga tidak tahu malu!" ucap Elea kemudian menunduk sambil memainkan pulpen di tangannya.


Gabrielle dan Safira tertegun mendengar alasan yang di sampaikan oleh Elea. Mereka tidak menyangka kalau tempat yang hanya pinggiran kolam renang memiliki arti yang begitu dalam di benak gadis kecil ini. Safira yang tidak tahu apa-apa hampir saja meneteskan airmata. Dia bisa merasakan ada beban kesedihan dan juga kebahagiaan pada kata yang terlontar dari mulut muridnya.


Grrreeepppppp


Elea sangat kaget saat tubuhnya di tarik masuk ke dalam pelukan suaminya. Sedetik kemudian dia tersenyum, dia lega karena ternyata suaminya tidak menjauh seperti yang dia bayangkan tadi.


"Sayang, jangan bersedih lagi ya? Oke.." ucap Gabrielle memastikan.

__ADS_1


"Tidak Kak, malah sekarang aku merasa sangat bahagia. Ada Kak Iel dan juga Kak Levi bersamaku, ada juga Kak Safira yang sedang membantuku menjadi pintar. Jadi tidak ada alasan lagi untukku merasa sedih" jawab Elea jujur.


Gabrielle terus menciumi puncak kepala istrinya. Entahlah, perasaannya campur aduk antara bahagia dan juga terharu. Dia tidak menyangka kalau Elea akan menganggap tempat ini sebagai tempat paling berharga yang memiliki banyak kenangan. Meskipun di mata Gabrielle kenangan itu hanyalah sebuah kekonyolan yang tidak sengaja dia lakukan. Sulap, Gabrielle ingat bagaimana dia mengelabui Elea dengan trik memunculkan air mancur dari dalam kolam renang malam itu. Yang mana membuat istrinya berteriak heboh dengan tatapan mata yang berbinar bahagia.


"Ekhhmmm maaf Tuan Muda, bisakah anda membiarkan Nyonya Elea menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu? Cuaca sudah semakin dingin!" ucap Safira mengingatkan dengan sangat hati-hati.


Gabrielle mengangguk. Dia melepaskan pelukan itu kemudian mencium kening istrinya lama.


"Kalau lelah jangan di paksakan ya? Kerjakan semampumu saja karena kesehatanmu jauh lebih penting. Paham?".


"Paham Kak" sahut Elea patuh.


"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu. Ingat, jangan memaksakan diri, oke!" pesan Gabrielle sebelum beranjak pergi dari sana.


Setelah suaminya pergi Elea kembali fokus pada tugasnya. Sedangkan Safira duduk sambil terus mengamati gerakan-gerakan tangan muridnya yang sedang sibuk menghitung angka.


'Sebenarnya gadis ini siapa? Bagaimana mungkin orang yang telah lama putus sekolah bisa dengan mudah mengerjakan semua soal-soal yang kuberikan? Sejak kemarin malam bahkan tidak ada satupun soal yang membuatnya bertanya padaku. Tuan Muda dan Tuan Ares tidak sedang mempermainkan aku kan?'.


"Em maaf Nyonya Elea, bolehkah saya bertanya?".


Elea menatap guru lesnya sejenak kemudian mengangguk.


"Boleh Kak".


"Apa sebelumnya Nyonya pernah mengikuti les di tempat lain? Begini Nyonya, saya perhatikan anda sama sekali tidak mengalami kesulitan saat mengerjakan tugas-tugas itu, saya jadi sedikit penasaran!" tanya Safira.


"Oohh... Aku tidak pernah ikut les dimanapun karena aku tidak punya uang, Kak" jawab Elea.


"Lalu darimana Nyonya bisa mengetahui semua jawaban dari soal-soal ini? Materi yang saya siapkan merupakan soal untuk ujian masuk universitas, dan Nyonya menyelesaikan semua itu tanpa ada satupun jawaban yang salah!".


Elea terdiam sebentar.


"Kak Safira, sejak dulu aku selalu bermimpi bisa masuk ke universitas. Tapi aku sadar, aku hanyalah gadis miskin yang tidak punya apa-apa. Jadi aku menutupi ketidakmampuanku itu dengan membaca buku-buku yang di buang orang ke tempat sampah. Dari sanalah aku bisa memahami semua soal yang Kakak berikan!".


Takjub, itulah yang muncul di pikiran Safira begitu rasa penasarannya terjawab. Ini cukup sulit untuk di percaya. Bagaimana bisa nyonya kecil ini menjadi sangat pintar hanya dengan mengandalkan buku yang dia pungut dari tempat sampah? Tidakkah hal ini terlalu sederhana?? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: nini_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...

__ADS_1


...🌻 WA: 0857-5844-6308...


__ADS_2