Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Jebakan Dalam Jebakan


__ADS_3

"Tuan Muda, bangunan itu sudah di ledakkan dan orang-orangnya Patricia mati dalam ledakan tersebut!" lapor Ares menyampaikan berita yang baru saja dia terima dari anak buahnya.


Gabrielle mengangguk. Dia kemudian menatap kearah pria yang sedang duduk di hadapannya sembari tersenyum miring.


"Bagaimana caramu mengetahui semua rencana wanita itu, Gab? Secerdas apapun dirimu akan sangat mustahil kau bisa menciptakan jebakan di dalam jebakan yang sudah di persiapkan dengan begitu matang oleh Patricia. Beritahu aku bagaimana caramu mengetahui semua itu" tanya Junio penasaran.


Ares tersenyum samar. Siapa lagi kalau bukan dari nyonya-nya. Tengah malam tadi Ares mendapat pesan dari Tuan Muda-nya kalau pagi ini nyonya-nya akan di bawa pergi ke sebuah bangunan oleh seorang wanita. Awalnya Ares cukup bingung dengan petunjuk tersebut, dia bingung wanita mana yang ingin membawa nyonya-nya pergi. Namun pagi tadi Tuan Muda-nya kembali mengirim pesan kalau yang akan membawa nyonya-nya pergi adalah Nyonya Yura. Jadilah dia meminta Tuan Muda-nya untuk memasang alat penyadap di tubuh nyonya-nya agar dirinya bisa mendengar rencana dan juga tempat yang di tuju oleh mereka. Dan sesuai dengan petunjuk itu, nyonya-nya benar-benar di bawa ke sebuah bangunan lama yang ada di tengah hutan dimana pada bangunan tersebut telah di pasang bom rakitan oleh anak buah Patricia. Tapi yang tidak di sadari oleh wanita licik itu adalah rahasia di balik sikap polos nyonya-nya. Ya, Nyonya Elea mampu membalik keadaan untuk menyelamatkan diri dari rencana pembunuhan tersebut berkat kelebihan yang dia miliki.


"Haruskah aku memberitahumu?" tanya Gabrielle seraya memainkan dasi di lehernya.


Junio mengangguk cepat.


"Ayolah, aku hampir mati penasaran karena memikirkannya, Gab. Kau tenang saja, aku akan menutup mulutku rapat-rapat!.


Gabrielle tersenyum kecil.


"Sayangnya itu hanya akan menjadi rahasiaku, Junio. Sekalipun kau menangis darah aku tidak akan pernah mau memberitahukannya padamu. Terlalu bahaya jika ada orang lain yang mengetahui identitasnya!.


"Astaga, tidak kusangka kau akan sepelit ini, Gab" ucap Junio bersungut-sungut.


Gabrielle mengendikkan bahunya acuh. Dia kemudian terdiam, merasa ada yang kurang di dalam ruangan tersebut.


"Oh iya Junio, dimana Gleen? Bukankah biasanya kalian selalu bersama ya?.


"Dia sibuk mengejar cintanya. Tadinya dia itu berangkat bersamaku, tapi setelah sampai di halaman perusahaanmu dia meninggalkan aku begitu saja. Sungguh teman yang tidak berakhlak" jawab Junio merutuki kelakuannya Gleen.


Gabrielle terkekeh.


"Kau menertawaiku?.


"Menurutmu?.


"Sialan kau!.


Setelah mengumpat, ponsel Junio berdering. Dia menyeringai ketika melihat id si penelpon. Tanpa membuang waktu lagi Junio segera mengangkat panggilan tersebut kemudian meloudspeakernya.


"Bagaimana? Calon manekinku baik-baik saja kan?" tanya Junio tak sabar.


"Iya bos. Tapi kami terpaksa menyuntikkan obat bius karena wanita ini terus saja melawan. Dan saat ini kami sedang dalam perjalanan menuju kediaman bos yang lama!.

__ADS_1


Gabrielle menoleh kearah Ares begitu mengetahui kalau nasib Patricia akan segera berakhir di tangan pria penyandang obsesi aneh yang sedang tersenyum-senyum di depannya. Lagi-lagi apa yang di lihat oleh istrinya menjadi kenyataan dimana istrinya melihat Patricia yang berada di antara tubuh-tubuh kaku para wanita cantik yang sudah di ubah menjadi manekin oleh Gleen dan Junio. Satu lagi musuhnya berhasil tumbang tanpa harus Gabrielle yang turun tangan.


"Minta Arion untuk mengirimkan satu mutan yang sama persis seperti Patricia ke rumah Ayah nanti malam. Kita tidak mungkin membiarkan mereka curiga kalau Patricia yang asli akan segera menjadi patung penghias di rumah Junio. Akan sangat panjang urusannya kalau kita tidak segera membuat peredam untuk menutupi kematian Patricia!" perintah Gabrielle penuh kepuasan.


"Baik Tuan Muda. Tapi bagaimana dengan Nyonya Elea? Beliau pasti akan langsung mengetahui kalau yang akan datang bukanlah Patricia yang asli mengingat apa yang sudah di lihatnya saat bertemu dengan Tuan Gleen waktu itu" bisik Ares penuh pertimbangan.


"Masalah itu kau tidak perlu khawatir. Elea-ku sangat pintar, dia tidak akan mungkin membongkar masalah ini di hadapan semua orang. Lagipula saat ini kondisi mentalnya sedang tidak baik-baik saja, dia pasti akan menyikapi kematian Patricia dengan sikap yang dingin. Jadi kau hanya perlu melakukan apa yang ku perintahkan padamu tadi!.


"Baiklah kalau begitu, Tuan Muda. Saya akan segera menghubungi Tuan Arion!.


Junio yang sedang menyimak pembicaraan Gabrielle dan Ares nampak terkesima. Pria di hadapannya ini benar-benar sangat luar biasa. Junio tidak menyangka kalau dia akan bisa menyaksikan kehebatan dari cicit pendiri Organisasi Grisi.


"Wow Gabrielle, amazing. Aku membunuh Patricia dan kau menghadirkan Patricia yang baru dalam bentuk yang serupa. Apakah aku sedang bermimpi?" puji Junio penuh kagum.


"Tidak. Bahkan kalau kau mau aku bisa menghadirkan seorang mutan yang sama untuk menggantikan hidupmu. Bagaimana? Apa kau tertarik?" tawar Gabrielle sembari mengulum senyum.


"Eeyy, kau sudah gila ya. Aku masih ingin menikmati hidup asal kau tahu. Enak saja, aku ini pria baik-baik, masa iya harus mati kemudian di gantikan dengan mutan. Ruhku pasti akan menangis darah jika mengetahuinya!" sahut Junio seraya bergidik ngeri.


"Ponselmu masih terhubung dengan anak buahmu tidak?" tanya Gabrielle yang tiba-tiba menginginkan sesuatu hal.


"Masih. Kau ingin bicara pada mereka?.


Gabrielle mengangguk. Ares segera mengambil ponsel dari tangan Junio lalu menyerahkan pada Tuan Muda-nya.


"Baik, Tuan. Ada lagi?.


"Tidak!.


Setelah pembicaraan Gabrielle terputus, giliran ponsel milik Ares yang berdering. Ares yang melihat kalau panggilan itu berasal dari anak buahnya pun segera menjawabnya. Namun kali ini dia tidak menyalakan tombol loudspeaker.


"Ada apa?.


"Tuan Ares ini celaka.!


Raut wajah Ares langsung berubah. Wajahnya terlihat tegang begitu mendengar ucapan anak buahnya. Gabrielle yang melihat reaksi tak biasa di wajah Ares segera merebut ponsel itu dari tangannya. Dadanya tiba-tiba berdebar dengan sangat kencang.


"Jangan bilang istriku terluka. Kalian akan kujadikan umpan para buaya di rumah Ibuku jika hal itu sampai terjadi. Dimana istriku!" teriak Gabrielle sembari meremas ponsel dengan sangat kuat.


"M-maaf Tuan Muda, Nyonya Elea baik-baik saja. Tapi ada masalah lain yang terjadi. Tanpa sepengetahuan kami ternyata Lusi dan seorang penjaga diam-diam membuntuti Nyonya Elea saat masuk ke dalam hutan. Penjaga itu selamat, tapi Lusi terjebak di dalam bangunan. Ada kemungkinan besar Lusi mati di dalam sana karena sekarang bangunan itu sudah runtuh. Dan satu lagi Tuan Muda, Nyonya Yura hilang. Saat kami datang bersama Nyonya Elea, Nyonya Yura sudah tidak ada disini Hanya tinggal penjaga saja yang kini sudah di larikan ke rumah sakit. Apakah mungkin ini perbuatan Nona Patricia yang tahu kalau Nyonya Yura telah berkhianat padanya?.

__ADS_1


Gabrielle langsung menghembuskan nafas lega begitu tahu kalau istrinya tidak kenapa-napa. Masih dengan nafas yang memburu dia memberi arahan pada anak buahnya.


"Kalian ada dimana sekarang?.


"Kami masih ada di dekat hutan, Tuan Muda. Nyonya Elea terus mengamuk ingin masuk ke dalam bangunan, beliau ingin menyelamatkan Lusi."


"Cegah! Apapun yang terjadi jangan biarkan istriku masuk dan membahayakan keselamatannya sendiri. Dan ingat, jaga jarak. Gunakan sarung tangan saat kalian ingin menyentuh kulit istriku. Kalau sampai ada bekas di kulitnya, maka tangan kalian akan kupotong. Mengerti!.


"Mengerti, Tuan Muda!.


"Ada apa Gab? Istrimu selamatkan?" tanya Junio ikut merasa khawatir.


"Istriku selamat, tapi Lusi terjebak di dalam bangunan yang sudah hancur itu. Bahkan saat ini Ibu mertuaku pun hilang. Mustahil kalau ini perbuatannya Patricia, dia kan sudah berada di bawah pengawasan anak buahmu. Tapi siapa yang menculiknya?" jawab Gabrielle bingung.


"Aku tahu siapa yang membawa Ibu mertuamu pergi, Gab."


Gabrielle dan Ares langsung menatap serius kearah Junio.


"Siapa?.


"Gleen" jawab Junio.


"Haa? Gleen? Tapi kenapa dia?" tanya Gabrielle semakin tak mengerti.


"Nanti saja membahas masalah ini. Ibu mertuamu bisa mati kalau kita terlambat menyelamatkannya!" jawab Junio kemudian menarik Gabrielle untuk keluar dari sana.


Dalam kebingungannya Gabrielle sampai tak menyadari kalau saat ini Junio sudah menyentuh tangannya. Ares yang menyadari hal itu segera menarik lepas tangan Junio dari tangan Tuan Muda-nya. Secepat kilat Ares langsung mengambil tisu basah yang selalu dia selipkan di balik jas kemudian membersihkan bekas pegangan tangan Junio.


"Tolong jangan sembarangan menyentuh tubuh Tuan Muda kami, Tuan Junio. Meski anda berteman baik dengan beliau, saya tidak akan segan untuk memberikan anda pelajaran!" ucap Ares sembari melirik sinis kearah Junio yang sedang tercengang setelah mendengar ucapannya.


Gabrielle tak menghiraukan hal itu lagi. Pikirannya sibuk memikirkan Elea yang pasti sedang sangat sedih karena pelayan kesayangannya sedang berada dalam bahaya. Khawatir istrinya semakin histeris, Gabrielle segera mempercepat langkahnya. Dia tak peduli ketika Ares dan Junio tertinggal cukup jauh di belakang.


"Sayang, tolong tunggu aku sebentar. Jangan khawatir, Lusi pasti baik-baik saja. Aku yakin itu!.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


__ADS_2