Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Pria Pendosa


__ADS_3

Bryan duduk diam sembari menatap wajah istrinya yang di penuhi luka lebam. Dia merasa begitu rendah sebagai seorang suami.


"Yura, kenapa kau begitu baik terhadap aku yang tidak pernah mau mempedulikan sedikitpun perasaanmu? Kenapa kau sanggup bertahan dengan pengabaian yang selama ini aku lakukan? Tidakkah kau ingin pergi ke pelukan pria lain untuk mencari kebahagiaan?.


Terbayang dengan jelas di pelupuk mata Bryan saat dimana dia meminta Yura untuk menceraikannya. Dia ingat betul bagaimana istrinya ini menangis histeris sambil bersujud di bawah kakinya memohon agar tidak di ceraikan. Bryan melakukan hal itu karena benar-benar merasa sangat kasihan pada istrinya. Bryan sadar kalau dirinya tidak akan pernah bisa memberikan kebahagiaan yang di inginkan oleh Yura. Perasaan Bryan sudah terkunci rapat sejak kematian Sandara. Hatinya membeku dan rasa cinta di hatinya melebur seiring berjalannya waktu. Bryan sebenarnya merasa sangat bersalah terhadap Yura, namun dia menutupi rasa bersalahnya tersebut dengan sengaja bersikap dingin dan acuh padanya. Dia benar-benar berharap kalau Yura akan segera pergi meninggalkannya setelah mendapat pengabaian yang begitu kejam. Tapi sayang, sepertinya perasaan Yura padanya benar-benar sangat dalam. Bahkan wanita ini dengan begitu sabar tetap memperlakukan Bryan dengan penuh cinta. Tak pernah sekalipun tersirat ada kebencian di matanya yang membuat Bryan semakin merasa bersalah.


Mungkin karena merasa ada yang mengusik tidurnya mata Yura akhirnya terbuka. Dia akhirnya membuka mata setelah hampir seharian tidak sadarkan diri.


"Haus.."


Bryan tersentak. Segera dia mendekat kearah istrinya.


"Yura, kau sudah sadar?.


"Bry, aku haus sekali" jawab Yura dengan suara yang sangat kecil.


"Oh, kau haus ya. Tunggu sebentar" ucap Bryan kemudian buru-buru mengambil air minum beserta sendok kecil di atas meja.


Dengan penuh perhatian Bryan membantu menambahkan bantal di belakang kepala istrinya. Setelah itu dia mulai memberinya minum sedikit-demi sedikit sambil terus menatap wajah istrinya yang bengkak sana sini akibat tindak kekerasan yang di lakukan oleh Gleen. Tak tega melihatnya, gerakan tangan Bryan terhenti. Dadanya sesak, rupanya dia bukanlah seorang suami yang baik. Istrinya di ancam oleh putri angkat mereka, bahkan hampir mati dalam sebuah ledakan yang juga di rencanakan untuk membunuh putri kandungnya. Seandainya saja Bryan bisa lebih peka, mungkin istrinya tidak akan jadi seperti ini. Sungguh, Bryan benar-benar sangat malu sekarang. Dia merasa sangat tidak berguna.


"Bryan, aku masih haus" ucap Yura sambil menelan ludah. "Kalau kau lelah biar aku minum sendiri saja. Istirahatlah."


"Maaf...."


Tubuh Yura menegang ketika mendengar kata maaf dari suaminya. Dia lalu menatapnya dengan seksama, bingung kenapa pria ini harus meminta maaf padanya.


"Maaf untuk apa, Bry?" tanya Yura lirih.

__ADS_1


"Maaf untuk semua kesalahan yang tidak terhitung" jawab Bryan sambil menahan sesak di dada. "Apa yang terjadi padamu sekarang adalah bentuk dari keteledoranku, Yura. Seandainya saja aku bisa lebih peka dan bisa lebih memahamimu, kau pasti tidak akan di ancam dan di celakai oleh Patricia. Kalian berdua terlukai karena sikapku, aku adalah seorang pria pendosa, Yura. Aku pendosa!.


Untuk beberapa saat Yura seperti sedang bermimpi saat mendengar luapan hati suaminya. Dia juga merasa bingung kenapa suaminya bisa mengetahui jika dirinya hendak di celakai oleh putri mereka. Yura kemudian ingat kalau sebelum pingsan anak angkatnya datang ke rumah. Mungkin Bryan mengetahui ini semua dari anak sambungnya tersebut.


"Yura, tolong ampuni aku. Beri aku satu kali lagi kesempatan agar bisa memperbaiki hubungan kita. Eleanor akan sangat membenciku jika aku tidak mau berubah" ucap Bryan penuh harap.


"Apa kau melakukan ini semua hanya demi Eleanor, Bry? Apakah aku masih belum memiliki tempat di hatimu?" tanya Yura sedih.


Bryan tersenyum kecut. Dia meletakkan gelas keatas meja kemudian menggenggam tangan istrinya yang tidak terpasang infus.


"Mungkin ini akan sedikit meyakiti perasaanmu, Yura. Tapi aku akan tetap mengatakannya karena aku tidak mau lagi berbohong padamu. Iya benar kalau aku melakukan ini semua demi putri kita, itu adalah suatu kebenaran yang tidak bisa di sembunyikan" jawab Bryan tulus. "Dan untukmu, aku akan belajar untuk membuka hati. Aku sadar waktu itu aku hanya terlalu bahagia karena Eleanor sudah kembali jadi sengaja berbicara padamu untuk membuka lembaran baru. Tapi kali ini, aku berjanji akan benar-benar membuka hati untukmu. Kita ini sudah tua, rasanya sedikit tidak pantas jika harus membicarakan tentang percintaan. Jadi aku harap kau mau membantuku untuk menerima perasaanmu. Kau mau kan memulai semuanya dari awal lagi?.


'Ya Tuhan, ini aku tidak sedang bermimpi kan? Bryan benar-benar mau membuka hatinya untukku, dia bersedia menerima perasaanku. Tuhan, jika ini mimpi tolong jangan bangunkan aku. Mimpi ini terlalu manis, aku tidak mau kehilangan moment indah ini.'


"Yura, tidak apa-apa kalau kau tidak bersedia. Aku paham, kau pasti merasa sangat kecewa padaku kan?" tanya Bryan mencoba mengerti arti kebungkaman istrinya.


"Aku bersedia Bryan, aku bersedia" sahut Yura dengan cepat. "Aku akan sabar menunggumu membuka hati. Tidak perlu harus kau sepenuhnya menerimaku karena seperti ini sudah lebih dari cukup!.


"Oh iya Yura, apa selama ini kau tahu kalau Patricia diam-diam ingin membelot dan merebut Group Young dari tanganku?" tanya Bryan. "Gabrielle yang memberitahuku."


"Iya, aku tahu semua yang di lakukan putri kita selama ini, Bryan. Maaf ya, aku seharusnya tidak menyembunyikan hal ini dirimu. Aku hanya takut kau akan mengusir Patricia jika mengetahui kejahatan yang sudah dia lakukan. Jadi aku terpaksa menutup mulut dan berpura-pura tidak mengetahui apapun" jawab Yura dengan raut penuh sesal.


"Dan kau lebih memilih menyaksikan suamimu jatuh miskin daripada harus memberitahunya jika Patricia benar-benar berhasil merebut Group Young, begitu?" cecar Bryan lagi.


Yura panik. Bola matanya bergerak gelisah, telapak tangannya juga mengeluarkan keringat dingin. Bryan yang menyadari kegugupan istrinya hanya tersenyum kecil. Mata istrinya terlalu jujur, hanya dengan melihatnya sekilas saja Bryan bisa langsung tahu kalau istrinya sedang menutupi sesuatu yang sangat luar biasa.


"Apa kau akan meninggalkan aku jika aku tak lagi mempunyai banyak harta?.

__ADS_1


"Tidak Bryan, tidak seperti itu. Aku-aku, kau dan Patricia sama pentingnya untukku, jadi aku tidak bisa memilih satu di antara kalian. Aku memang sengaja menutupi perbuatan Patricia, tapi sebagai gantinya aku akan tetap menemanimu apapun kondisinya. Entah kau sakit, cacat, atau menjadi gelandangan sekalipun, aku tidak peduli. Aku mencintai Patricia, tapi aku lebih mencintaimu dan juga Ayah. Aku tidak akan sanggup jika harus terpisah darimu, Bry. Sungguh!" jawab Yura panik.


Bryan segera mengusap lembut pipi istrinya ketika melihatnya meringis kesakitan karena terlalu banyak bicara. Hatinya lega, dia merasa sangat beruntung karena di cintai dengan begitu dalam oleh wanita yang selama ini sudah dia sia-siakan. Dengan telaten Bryan membantu Yura untuk kembali berbaring, setelah itu dia duduk di tepi ranjang sembari menggenggam tangannya yang begitu dingin.


"Terima kasih sudah mau mencintai pria pendosa ini. Jangan khawatir, aku percaya padamu."


"Kau tidak akan menceraikan aku bukan?" tanya Yura cemas.


"Eleanor akan membunuhku jika aku berani melakukannya. Dia sangat menyayangimu, bahkan dia lebih memilihmu daripada aku yang Ayah kandungnya sendiri. Tidakkah menurutmu ini sangat tidak adil?.


Yura menatap lekat ke manik mata suaminya sebelum akhirnya tersenyum lega.


"Bryan, Patricia...


"Aku tidak marah ataupun benci padanya. Setelah kau sembuh, kita akan membicarakan hal ini dengannya. Aku akan meminta maaf padanya, dia jadi jahat seperti ini juga karena sikapku. Jadi biar aku yang akan menebus semuanya, dia tidak salah apa-apa."


"Terima kasih Bryan, terima kasih banyak sudah mau memaafkan kesalahan Patricia" ucap Yura terharu.


"Patricia dan Eleanor adalah anak-anak kita. Sudah sewajarnya aku sebagai orangtua mengalah demi keutuhan keluarga kita. Sudah cukup apa yang terjadi selama ini, tanpa sadar kita saling menyakiti dan juga tersakiti. Sekarang tiba saatnya untuk kita memupuk kebahagiaan bersama kedua putri kita yang cantik dan manis itu!.


Satu belenggu kembali terlepas. Wajar jika manusia melakukan kesalahan dengan bersikap egois terhadap dirinya sendiri. Yang tidak wajar adalah manusia yang tetap tidak mau menyadari kesalahannya sendiri meskipun sudah banyak orang terluka karena perbuatannya. Bryan adalah pria yang baik, dia tidak ragu untuk datang meminta maaf pada istri dan juga anak angkatnya demi menyelamatkan keutuhan keluarganya. Sosok Bryan disini sangat patut untuk di contoh, terutama bagi para pria yang akan menanggung tugas sebagai seorang suami dan juga ayah yang baik untuk anak-anaknya kelak. 😊


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...

__ADS_1


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Rifani...


__ADS_2