
"Yooo bro, sepertinya musim telah berganti ke musim semi" ledek Junio sambil tersenyum usil kearah Glenn, sahabatnya yang sedang tersenyum-senyum sendiri.
Glenn menyeringai.
"Aku selangkah lebih maju di bandingkan dirimu, kawan!."
"Owh shitt! Apa kau baru saja mengejekku?" tanya Junio terkekeh. "Ck, gadismu cukup manis. Apa kau berniat menjadikannya...
"Dia akan menjadi wanita yang menghangatkan malam-malamku. Bukan menjadi wanita manekin seperti yang biasa kita ciptakan" sela Glenn cepat.
"Why?."
Junio berjalan menuju ruang penyimpanan wine di dalam ruangan pribadinya. Sambil tersenyum, dia menuangkan minuman pekat tersebut ke dalam gelas kemudian menyerahkannya pada Glenn.
"Katakan alasan kenapa kau tidak mau menjadikannya sebuah manekin."
"Ada banyak alasan sebenarnya" jawab Glenn sambil menerima minuman yang di sodorkan padanya. "Pertama karena aku benar menyukainya. Kedua, karena aku tidak mau mati di tangan Grizelle maupun ibunya. Dan ketiga, dia adalah anak buahnya Gabrielle. Itu artinya aku akan tetap berurusan dengan poin kedua jika sampai mencelakainya. Belum lagi Lusi adalah pelayan pribadi istrinya Gabrielle. Bukankah akan sangat konyol jika aku merubahnya menjadi manekin? Sebenarnya bisa saja aku memanipulasi keadaan, tapi setelah itu aku yakin sekali kau akan segera kehilangan sahabatmu ini. Kau tahulah seberapa hebatnya Keluarga Ma itu, belum lagi si Drax. Aku ragu bisa lari dari kejaran mereka sekalipun aku bersembunyi di neraka ke tujuh!."
"Hahahahahaa, kata-katamu kenapa terdengar sedikit aneh ya Glenn?" ejek Junio. "Atau jangan-jangan kau sebenarnya takut jika sampai berurusan dengan mereka?."
"Lalu, apa kau berani menghadapi mereka?" tanya Glenn kemudian menyesap minumannya.
"Tidak lah. Memangnya aku sudah gila apa" jawab Junio.
Setelah itu mereka berdua saling menertawakan diri. Benarlah, baik Glenn maupun Junio mereka sama-sama segan dengan keluarganya Grizelle. Cukup sekali mereka menghadapi kemarahan wanita cantik itu, tidak dengan ibunya. Karena menurut sumber informasi, Nyonya Liona bukanlah orang yang bisa di singgung begitu saja, terlebih lagi jika itu menyangkut keluarganya. Wanita yang di juluki singa pencabut nyawa itu tidak akan segan-segan membantai musuhnya dengan cara yang sangat sadis. Bahkan kesadisan Grizelle masih belum ada apa-apanya jika di bandingkan dengan kemarahan ibunya. Membuat siapapun akan berfikir ratusan kali jika ingin mencari masalah dengan keluarga tersebut.
"Oh ya Junio, aku lihat wanitamu telah merubah gaya penampilannya. Dia jadi terlihat seperti wanita sundal dengan warna rambutnya yang blonde terang. Sungguh type wanita cantik yang sesuai dengan seleramu" ucap Glenn dengan seringai jahatnya.
"Biar saja dia mau melakukan apa, Glenn. Asal bukan untuk menggoda pria lain, maka aku akan diam mengawasinya dari jauh" sahut Junio santai.
"Tapi,, dari gelagat dan pergerakannya sepertinya Patricia sedang mengincar Gabrielle. Ya benar, wanita itu tertarik dengan saudara kembarnya Grizelle. Aku sempat mendengar kabar dari salah satu karyawan Gabrielle kalau Patricia pernah mengaku sebagai kekasihnya di hadapan banyak orang. Tidakkah menurutmu ini akan sedikit menarik, Morigan Junio?."
Tak langsung menjawab, Junio lebih tertarik memainkan wine yang ada di dalam gelasnya. Tapi di balik diamnya itu ada sebuah gejolak yang siap untuk meledak. Dia benci ketika wanita yang dia incar lebih tertarik pada pria lain selain dirinya.
"Apa yang akan kau lakukan, hm? Butuh bantuan tidak?" ejek Glenn melihat kebungkaman sahabatnya.
"Tentu saja membuatnya tidak bisa berpaling lagi dariku. Ayo!."
__ADS_1
Sambil terkekeh Glenn mengikuti langkah Junio. Dia suka jika sahabatnya sudah emosi seperti ini. Itu tandanya akan segera terjadi kesenangan di antara mereka.
"Dimana dia?" tanya Junio pada seseorang di dalam telefon. Dengan marah dia membuka pintu mobil kemudian masuk ke dalam.
"Di Club XXX bos. Dia sendirian saja menikmati minumannya."
"Awasi terus. Sebentar lagi aku akan sampai disana!."
"Baik bos!."
Setelah tahu dimana keberadaan Patricia, Junio segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rahangnya terus mengetat, dia sangat kesal karena ternyata Patricia menyukai Gabrielle, bukan malah menyukainya.
Tak lama kemudian Glenn dan Junio sampai di halaman parkir Club XXX. Glenn tertawa melihat sahabatnya yang begitu tergesa-gesa saat memasuki club tersebut.
"Dasar. Bilangnya hanya ingin menjadikan Patricia sebagai koleksi manekinnya, tapi langsung kebakaran jenggot setelah tahu kalau wanita itu menyukai pria lain. Munafik kau, brother."
Mata tajam Junio segera menatap nyalang kearah seorang wanita yang sedang duduk seorang diri di meja bar. Dengan langkah lebar dia segera menghampiri wanita tersebut kemudian menarik tangannya.
"Awwhhh brengsek! Lepaskan tanganku Junio!" teriak Patricia yang kaget karena dirinya tiba-tiba di tarik dengan sangat kasar.
"DIAM KAU!!! sentak Junio murka.
" Pergi dan jangan banyak bicara atau aku akan merobek mulutmu sekarang juga. Pergi!."
"I,iya aku pergi!."
Patricia menelan ludah saat dirinya di tarik masuk ke dalam toilet. Melihat betapa marahnya Junio, Patricia jadi mencemaskan keselamatannya sendiri. Dia segera memikirkan cara agar bisa terlepas dari cengkeraman pria gila ini.
"Jangan pernah berfikir untuk bisa melarikan diri dariku, Patricia!."
Bruuug
"Akkhhhhhhh" pekik Patricia saat tubuhnya di dorong hingga menabrak pintu toilet.
Patricia menelan ludah, dia menggigil takut melihat Junio yang sedang mengunci pintu kamar mandi. Sambil memegangi kepalanya yang berdenyut, Patricia berniat mengambil sebuah sapu yang tertinggal di dalam sana. Tapi belum sampai tangannya menjangkau sapu tersebut, Junio sudah lebih dulu menarik rambutnya. Patricia memekik kesakitan saat pria itu dengan kasar meremas dadanya.
"Ini milikku. Ini, ini, ini, dan ini juga. Semua yang ada di tubuhmu adalah milikku, Patricia. Harus berapa kali aku bilang kalau kau hanya boleh jadi milikku saja. Hanya milikku Patricia, bukan milik orang lain!" amuk Junio sembari menunjuk semua titik sensitif di tubuh Patricia.
__ADS_1
"Ka,kau gila Junio. Aku bukan milikmu atau milik siapapun. Aku adalah milikku sendiri!" jerit Patricia mulai terisak sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sakit. "Apa salahku padamu, Junio. Kenapa kau selalu menyakitiku, kenapa kau selalu bersikap kasar padaku!."
Amarah di mata Junio langsung meredup ketika dia melihat airmata yang mengalir di pipi Patricia. Sebersit rasa penasaran mulai muncul di sana tatkala dia melihat tangan Patricia yang sedang memegangi dadanya.
'Apa aku sudah keterlaluan padanya ya? Sepertinya dia benar-benar kesakitan setelah dadanya kuremas.'
"Hiksss, kalau aku pernah melakukan sesuatu yang salah di matamu aku minta maaf. Tapi tolong jangan seperti ini, kau membuatku takut, Junio. Aku takut" ucap Patricia lirih.
Junio segera merengkuh Patricia ke pelukannya. Dia sedikit merasa bersalah karena sudah bersikap kasar pada wanita ini. "Maaf, aku seperti ini karena aku merasa cemburu."
Sebuah seringai licik muncul di bibir Patricia ketika dia berhasil membuat Junio merasa simpatik padanya. Dengan sengaja Patricia melingkarkan tangannya memeluk pria ini, tapi sedetik kemudian dia terkejut ketika mendengar ucapannya.
"Aku cemburu karena kau mengejar Gabrielle, bukan mengejarku!."
"Kau,kau tahu darimana? A,aku tidak pernah melakukan hal serendah itu, Jun. Sungguh" tanya Patricia tergagap. 'Kurang ajar, bisa gawat kalau si gila ini tahu rencanaku. Bisa-bisa aku gagal mendapatkan posisi sebagai Nyonya Ma untuk menggantikan Elea. Tidak tidak, Junio tidak boleh tahu mengenai hal ini. Aku harus bisa meyakinkannya kalau aku tidak punya rasa apapun pada Gabrielle. Ya, seperti ini baru benar.'
"Seseorang memberitahu. Katakan padaku kalau itu tidak benar, sayang. Aku akan membunuhmu kalau kau berani menyukai pria lain" jawab Junio.
"Kau salah paham, Jun. Aku tidak pernah menyukai Gabrielle, dia itu hanya rekan bisnisku saja. Tidak lebih" kilah Patricia.
"Benarkah?."
Patricia langsung mengangguk.
"Baguslah" ucap Junio dengan sorot mata yang terlihat sangat mengerikan.
Bukan Junio namanya kalau dia bisa di bohongi dengan mudah oleh wanita yang sedang di peluknya. Jika dia sebodoh yang di bayangkan oleh Patricia, dia tidak akan mampu menyembunyikan puluhan model ternama yang sudah dia sulap menjadi manekin di rumahnya. Ingin bermain-main dengan seorang Morigan Junio, jangan harap. Tapi kali ini dia akan mengikuti arus yang akan di mainkan oleh Patricia. Junio ingin melihat selicik apa wanita yang akan dia jadikan manekin selanjutnya.
'Bermainlah sepuasmu sayang. Sampai tiba waktunya kau menjadi pajangan di rumahku, maka aku akan membiarkanmu menikmati kebahagiaan ini. Sayang sekali kau bukan wanita cantik nan polos seperti Lusi. Aku pasti akan sangat menyayangimu seperti apa yang di lakukan oleh Glenn. Kau, adalah calon wanita busuk yang sanggup menghancurkan kebahagiaan rumah tangga orang lain hanya demi memenuhi fantasimu yang serakah akan sebuah tahta. Kau sangat menjijikkan sayang!.'
🔨🔨🔨🔨🔨
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...