
"Bagaimana, apa kalian sudah menemukan Eleanor?."
Patricia saat ini tengah menelfon orang suruhannya. Dia begitu risau karena anak kandung ayahnya belum juga di temukan. Di tambah lagi sekarang dia memiliki rival yang juga sedang mengincar Gabrielle. Semakin membuat perasaan Patricia menjadi tak menentu.
"Tadinya kami berhasil menyuap salah satu karyawan yang bekerja di restoran itu Nona. Dia juga telah menunjukkan alamat tempat tinggal Nona Eleanor. Tapi saat kami mendatanginya, ternyata dia sudah lama pindah dari rusun itu. Dia di bawa pergi oleh seorang pria menurut laporan si pemilik rusun."
Sebelah alis Patricia terangkat. "Pria? Apa kau sudah menyelidiki siapa pria itu?."
"Sekali lagi tidak ada jejak yang tertinggal Nona. Kami tidak bisa menyelidiki siapa pria yang membawa Nona Eleanor pergi."
"Shittt, begini saja kalian tidak bisa? Iya? Bukankah aku sudah membayar kalian dengan harga yang cukup mahal? Seharusnya kalian tidak membuatku kecewa!" amuk Patricia.
Kesal karena lagi-lagi gagal mengetahui keberadaan Eleanor, Patricia akhirnya memutuskan panggilan itu. Dia benar-benar di buat muak oleh kinerja orang suruhannya.
"Sial, dasar manusia tidak berguna. Mencari seorang gadis kecil saja tidak becus. Brengsek!" kesal Patricia sambil mengemasi barang-barangnya. "Eh, atau jangan-jangan pria yang membawa Eleanor pergi adalah orang suruhannya Kakek? Tapi....
Perkataan Patricia terhenti. Dia diam memikirkan kemungkinan kalau kakeknya sudah lebih dulu menemukan keberadaan Eleanor, parasit yang bisa mengancam keberadaannya di rumah Keluarga Young.
"Tidak tidak tidak. Kalau memang Kakek Karim sudah menemukan Eleanor, dia pasti sudah membawanya pulang ke rumah. Tidak mungkin dia menyembunyikan Eleanor dari Ayah Bryan. Jadi sebenarnya siapa pria yang membawanya pergi? Kenapa dia bisa sampai memiliki urusan dengan Eleanor? Mungkinkah itu kekasihnya? Atau..... Ah, masa bodo. Selama itu bukan orang suruhan Kakek Karim, maka aku tidak perlu khawatir dulu. Semoga saja pria itu melenyapkan Eleanor dari muka bumi ini karena dengan begitu aku tidak perlu bersusah payah lagi menyingkirkannya!" ucap Patricia sembari tersenyum licik.
Karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Patricia akhirnya memutuskan untuk pulang. Namun sebelum ke rumah, dia berkeinginan untuk santai sejenak di sebuah club. Hati dan fikirannya perlu di manjakan dengan beberapa gelas alkohol yang hanya bisa dia nikmati saat di luar rumah saja.
"Tunggu sebentar lagi Patricia. Begitu semua saham milik Keluarga Young berada di tanganmu, kau tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi seperti ini dalam mencari kebahagiaan. Bryan tidak akan bisa lagi membuat aturan menjengkelkan yang selalu membuat kebebasanmu terbatas. Kau bisa menikmati dunia sepuasmu, hahahahhahaha!."
Menjadi putri dari Keluarga Young tidak lah mudah. Patricia selalu di tuntut untuk menjaga imagenya di depan publik. Tidak boleh keluar malam apalagi bermabuk-mabukan. Kalau bukan demi mengambil harta keluarga itu, Patricia tidak akan sudi menjadi seorang gadis penurut yang selalu patuh pada keinginan orangtuanya. Tapi sebentar lagi belenggu itu akan segera terlepas karena Bryan perlahan-lahan mulai mempercayakan proyek besar untuk Patricia tangani. Hal itu semakin memudahkannya untuk menarik kepercayaan dari para pemegang saham di perusahaan. Di tambah lagi selama ini Patricia selalu menjaga nama baiknya dengan sangat sempurna. Akan sangat sulit bagi mereka semua untuk menolak Patricia jika dia mengambil alih Group Young nantinya.
"Maafkan aku Ayah, Kakek. Seandainya kalian tidak bersikap dingin padaku, aku tidak akan mungkin berbuat seperti ini. Yang aku lakukan hanyalah untuk mengamankan masa depanku bersama Ibu. Jadi aku tidak sepenuhnya salah. Siapa suruh kalian malah asik memikirkan parasit itu ketimbang mempublikasikan kalau Patricia Young adalah ahli waris dari semua aset kekayaan kalian. Dan sebentar lagi waktu kebebasan itu akan segera tiba. Aku akan menjadi ratu dari semua ratu yang ada di negara ini!."
Puas membanggakan diri sendiri, mobil Patricia akhirnya sampai di salah satu club ternama di negara ini. Club Ivory, tempat paling bergengsi kedua setelah Club milik Group Ma. Dan tempat ini adalah milik Gabrielle, calon suaminya.
"Tolong parkirkan mobilku" ucap Patricia sambil memberikan kunci mobilnya pada penjaga yang ada di sana.
__ADS_1
Patricia kemudian melenggang masuk ke dalam club sambil memasang senyum manis sejuta watt di bibirnya. Dia berjalan menuju meja bar kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Beri aku Cognag terenak yang kalian punya" ucap Patricia pada bartender.
"Dengan senang hati, Nona cantik."
Patricia terkekeh. Dia mulai meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti alunan musik yang menggema di bar tersebut. Jika tidak sedang menjaga image-nya agar tetap sempurna, ingin sekali Patricia terjun ke lantai dansa kemudian menari bersama yang lainnya di sana.
"Boleh bergabung Nona?."
Liukan di tubuh Patricia terhenti saat seorang pria tiba-tiba duduk di sebelahnya. Mata tajam Patricia segera menatap penuh selidik pada pria yang kini tengah tersenyum kearahnya.
"Kita tidak sedekat itu untuk kau terus menatapku Tuan" ucap Patricia ketus.
Pria itu terkekeh. Dia memesan segelas minuman lalu kembali menatap kearah Patricia. "Morigan Junio. Kau bisa memanggilku Junio."
"Aku tidak tertarik untuk mengetahui siapa nama anda, Tuan. Jadi tolong menyingkirlah, jangan rusak moodku dengan sikap tidak tahu malumu itu" sergah Patricia malas.
Junio mengulum senyum. Satu lagi wanita yang tak menanggapinya selain Grizelle, anak pemilik club yang sedang dia datangi.
"Brengsek! Sudah aku katakan jangan merusak moodku. Tolong pergilah sebelum aku semakin bersikap kasar padamu Tuan Morigan Junio yang terhormat!" hardik Patricia emosi.
Entahlah, tujuannya datang ke club ini adalah untuk menikmati malamnya seorang diri. Kalau saja dia tahu di sini akan bertemu dengan seorang pria yang sangat menjijikkan, tentu dia akan lebih memilih untuk langsung pulang ke rumah saja.
"Yoo Nona. Kau semakin cantik saja jika marah-marah begini. Aku suka, aku suka!" ledek Junio.
"Nona cantik, ini pesananmu" ucap si bartender sambil mendorong gelas kecil berisi minuman yang tadi di pesan oleh tamunya.
Dengan cepat Junio merebut minuman itu kemudian meneguknya hingga habis. Dia menyeka ujung bibirnya kemudian mengangkat gelas kecil tersebut kearah wanita yang kini sedang menatapnya dengan penuh permusuhan.
"Wow Nona, kau sangat pandai memilih minuman!" puji Junio dengan sengaja.
__ADS_1
"Kau benar-benar tidak tahu malu!."
"Terima kasih atas pujiannya Nona. Aku merasa sangat tersanjung karena di puji oleh wanita cantik sepertimu" sahut Junio.
Patricia menggeretakkan giginya menahan kesal. Sadar kalau malamnya telah di rusak oleh pria menjijikkan ini, Patricia kemudian beranjak pergi dari sana. Dia keluar dari dalam club sambil terus menggerutu.
"Dasar brengsek, kenapa malam ini aku sial sekali. Sudah tidak mendapat kabar baik tentang Eleanor, sekarang malah bertemu dengan pria sinting di sini. Ya Tuhan, tolong ampuni aku!."
Sementara itu di dalam club, Junio tidak henti-hentinya tersenyum. Jujur saja dia merasa sedikit aneh karena wanita yang bersamanya tadi terlihat begitu membencinya. Dia jadi semakin penasaran dengan identitas wanita tersebut.
"Namanya Nona Patricia kalau Tuan mau tahu. Dia putri dari Keluarga Young."
Junio menoleh kearah bartender yang sedang bicara padanya. Dia mengeluarkan setumpuk uang dari dompetnya kemudian tersenyum pada bartender tersebut. "Katakan semua yang kau ketahui tentang wanita itu!."
Dengan penuh semangat bartender itu mengambil uang pemberian Junio. Dia bagaikan kejatuhan durian runtuh karena telah memberanikan diri untuk bicara dengan pria di depannya ini.
"Aku tidak tahu terlalu banyak mengenai Nona Patricia, Tuan. Dia hanya sering datang seorang diri untuk sekedar minum dan bergoyang di kursi yang di dudukinya barusan. Dia seorang putri pengusaha, dia juga seorang pembisnis yang sangat sukses. Dan yang paling hebat, dia masih sendiri Tuan. Sepertinya di negara ini tidak ada pria yang berani mendekatinya karena Nona Patricia terlalu sempurna bak seorang dewi."
"Sesempurna itu?" tanya Junio takjub.
"Iya Tuan, dia benar-benar sangat sempurna. Ibarat kata Nona Patricia adalah paket yang sangat lengkap untuk ukuran seorang istri. Cantik, baik, ramah, pintar dan kariernya juga sangat bagus. Saya sarankan Tuan secepatnya mendapatkan Nona Patricia sebelum ada pria lain yang mendekatinya."
Junio menyeringai. Dia kemudian beranjak dari tempatnya duduk lalu menatap datar kearah si bartender. "Aku memang akan mendapatkannya karena aku sangat menyukai wanita cantik. Aku sangat suka wanita cantik!."
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
__ADS_1
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
...🌻 WA: 0857-5844-6308...