
Gabrielle melangkah keluar dari dalam lift sambil menggandeng tangan Elea. Wajahnya tampak semringah.
'Kenapa rasanya bahagia sekali bisa memakai barang yang sama dengan Elea? Ah sayangku, kau membuatku jatuh cinta lagi untuk yang kesekian kali!'.
Ares,Nun dan para pelayan tercengang melihat penampilan Tuan Muda mereka. Bagaimana tidak, saat ini Tuan Muda mereka mengenakan baju couple berwarna merah muda. Sesuatu yang tak pernah mereka lihat selama ini.
"Apa yang kalian lihat?".
Semua orang segera menundukkan kepala begitu mendapat teguran dari pria pencemburu ini.
"Pak Nun, coba lihat gelang ini. Mereka akan menyala jika berdekatan!" ucap Elea penuh semangat menunjukkan gelang yang di pakainya sambil berpindah di dekat Nun.
Ares dan para pelayan menahan nafas melihat reaksi Tuan Muda mereka.
'Matilah. Tuan Muda murka!'.
"Elea!" panggil Gabrielle penuh penekanan.
"Ya Kak!".
Elea mengedipkan mata saat melihat kearah suaminya. Keningnya mengerut heran, wajah suaminya terlihat aneh.
"Kemari. Jangan pernah berdekatan dengan pria lain selain aku. Aku tidak suka!" ucap Gabrielle terang-terangan.
"Oh, baiklah" sahut Elea kemudian kembali berdiri di sebelah suaminya.
Ares dan yang lainnya menarik nafas lega. Berbeda dengan Nun yang terlihat tenang-tenang saja menghadapi kecemburuan Tuan Muda mereka.
"Tuan Muda, makan malam sudah siap!" ucap Nun memecah suasana.
"Aku tahu. Minggir kau!" sergah Gabrielle dongkol.
Elea diam menurut saat tangannya di tarik menuju ruang makan. Dia bingung sendiri saat tangannya di remas cukup kuat oleh suaminya.
'Kak Iel ini kenapa ya. Apa dia marah gara-gara aku bicara dengan Pak Nun? Tapi kenapa?'.
Gabrielle diam tak merespon apa yang di pikirkan oleh istrinya. Dia kesal sekali saat Elea dengan santainya berdekatan dengan Nun.
"Kak Iel, Kakak sedang cemburu ya?".
Langkah Gabrielle langsung terhenti begitu dia mendengar pertanyaan Elea. Tiba-tiba kemarahannya lenyap begitu saja.
"Sayang, jadi kau sudah menyadari perasaanku?" tanya Gabrielle senang.
"Perasaan yang mana Kak?".
Ares dan Nun menarik nafas dalam. Mereka pikir nyonya mereka sudah menyadari perasaan Tuan Muda Gabrielle. Tapi sepertinya pemikiran mereka salah.
"Tidak usah di bahas lagi!" sungut Gabrielle.
Elea hanya berdiri diam sambil memperhatikan suaminya yang berjalan sambil mengomel tidak jelas. Dia berusaha mencari tahu kesalahan apa yang sudah dia perbuat.
__ADS_1
"Masa iya Kak Iel cemburu pada Pak Nun? Dia kan sudah tua, dan aku juga tidak menyukai Pak Nun. Aneh sekali!".
Lusi yang mendengar gumaman nyonya kecilnya segera mendekat. Dia rasa perlu untuk memberi sedikit penjelasan kenapa Tuan Muda-nya bersikap seperti itu.
"Nyonya".
"Ya Kak Lusi. Ada apa?" sahut Elea.
"Maaf sebelumnya jika perkataan saya nanti menyinggung perasaan Nyonya. Nyonya tahu tidak kenapa Tuan Muda terlihat tidak suka saat Nyonya berdekatan dengan Nun?" tanya Lusi pelan.
Elea menggeleng. Dia lalu melihat kearah suaminya yang sudah duduk di ruang makan dengan wajah masam.
"Jadi Kak Iel benar-benar marah padaku ya?".
"Tuan Muda bukan marah Nyonya, tapi beliau sedang cemburu. Nyonya, tolong pahamilah status Tuan Muda sekarang. Jaga perasaan dan hatinya karena sekarang Tuan Muda adalah suami Nyonya. Nyonya tahu bukan betapa Tuan Muda sangat menyayangi anda selama ini?" ucap Lusi.
"Tahu, Kak!" sahut Elea.
"Kalau begitu cobalah untuk membalas rasa sayang yang sudah Tuan Muda berikan. Cintai beliau, tunjukan padanya kalau Nyonya juga peduli akan perasaannya!".
Elea menggigit ujung kukunya sambil mendengarkan petuah dari Lusi. Entah kenapa tiba-tiba seperti ada kobaran api yang membara di dalam hatinya.
"Tapi bagaimana caranya Kak? Tadi aku sudah memberikan hadiah untuk Kak Iel. Dua malah!".
Lusi tersenyum. Nyonya kecilnya benar-benar sangat polos. Butuh kesabaran yang besar untuk bisa membuatnya mengerti.
"Ada banyak cara untuk membalas kebaikan Tuan Muda, Nyonya. Dan hadiah yang Nyonya berikan adalah salah satunya. Sekarang coba Nyonya lihat apa yang sedang di lakukan suami Nyonya disana!".
"Kak Iel sedang duduk, tapi wajahnya terlihat aneh. Masam seperti jeruk nipis!".
Para pelayan yang mendengar perkataan Elea berusaha untuk tidak tertawa. Di pikiran mereka, hanya nyonya kecil mereka sajalah yang berani mengatai tuan pemilik rumah dengan begitu tenang tanpa merasa takut.
"Nyonya, boleh saya memberi saran?" tanya Lusi hati-hati.
"Boleh boleh".
"Begini, sekarang Nyonya duduk dan temani Tuan Muda di sana. Tunjukkan kalau Nyonya peduli pada beliau".
"Caranya?" tanya Elea ingin tahu.
"Ekhmm, seorang istri hukumnya wajib untuk melayani suami. Salah satunya adalah menyiapkan makanan. Coba Nyonya berinisiatif mengambilkan makanan untuk Tuan Muda. Saya yakin Tuan Muda pasti akan langsung tersenyum senang. Beliau tidak akan bermuka masam lagi jika mendapat perhatian dari Nyonya!" jawab Lusi serius.
Elea mendengarkan petuah Lusi dengan seksama.
"Kalau begitu aku pergi kesana dulu ya Kak. Terima kasih untuk ilmunya dan maaf, aku ini sangat bodoh. Aku tidak paham dengan hal-hal seperti ini, dan mungkin selamanya tidak akan pernah menyadari kalau Kak Iel merasa cemburu jika Kak Lusi tidak mengingatkan aku!" ucap Elea sambil menatap haru kearah Lusi.
Lusi terhenyak kaget. Cepat-cepat dia memberikan penjelasan pada nyonya nya.
"Bukan seperti itu maksud saya, Nyonya. Saya..
"Kak Lusi, tidak apa-apa. Tidak perlu merasa takut, karena pada kenyataannya aku memang bodoh. Ya sudah ya, aku mau mengurus suamiku dulu. Nanti aku akan mencari Kak Lusi dan teman-teman untuk mengobrol lagi!".
__ADS_1
Setelah membuat para pelayan membatu Elea bergegas menghampiri suaminya. Dia berdiri di sebelahnya sambil menatap dalam.
"Sayang, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Gabrielle heran.
"Kak Iel maafkan aku ya. Tadi itu aku bukan mau menggoda Pak Nun, aku hanya ingin menunjukkan kalau kita memiliki gelang dan baju yang sama. Tapi karena hal itu membuat wajah Kakak berubah masam seperti jeruk nipis, lain kali aku akan meminta izin terlebih dahulu sebelum berbicara dengan Pak Nun. Aku janji!" jawab Elea sembari tersenyum manis.
Mulut Gabrielle ternganga. Dia syok mendengar istrinya yang tiba-tiba bicara sedewasa ini.
'Apa yang terjadi padamu Nyonya Elea? Setan mana yang telah merasuki pikiranmu sampai kau bisa bicara sebijak ini? Kenapa aku merasa tidak enak ya. Ya Tuhan, tolong lindungi aku!'.
Nun dan Ares sama kagetnya seperti Tuan Muda mereka. Mereka kemudian saling melirik penuh arti.
"Sayang, kau baik-baik saja kan?" tanya Gabrielle setelah tersadar dari kekagetannya.
Elea mengangguk. Tangannya dengan cepat mengambil piring kosong yang berada di depan suaminya kemudian mulai mengisinya dengan makanan. Tindakannya yang tidak biasa itu membuat semua orang terkaget-kaget.
"Elea sayang, kau tidak perlu repot-repot melayaniku. Ini semua sudah menjadi tugasnya Nun. Kau cukup duduk manis dan makan bersamaku saja di sini!" ucap Gabrielle sambil menahan tangan Elea yang ingin meletakkan sayur ke piringnya.
"Kak Iel, ku beritahu satu hal padamu ya. Seorang istri wajib hukumnya untuk melayani suami, termasuk menyiapkan makanan. Begitu kata Kak Lusi!" sahut Elea sok bijak.
Wajah Lusi pucat pasi begitu dia mendengar kalau nyonya nya mengikuti kata-kata yang dia sampaikan tadi. Tulang di kakinya seperti lolos saat Tuan Muda-nya melihat kearahnya.
'Tuhan tolong aku.Aku masih ingin hidup lama. Nyonya.......!'.
"Jadi kau melakukan ini karena perintah temanmu itu?" tanya Gabrielle dengan bibir berkedut menahan tawa.
"Emmm, bagaimana ya. Sebenarnya itu bukan perintah Kak. Tapi itu adalah sebuah nasehat karena aku terlalu bodoh sampai tidak menyadari tugasku sebagai seorang istri!" jawab Elea dengan yakin.
Gabrielle menoleh kearah lain sambil menutupi mulutnya. Sungguh dia sangat ingin tertawa melihat mimik wajah Elea yang begitu serius saat menyampaikan jawaban.
Ares dan Nun menunduk cepat setelah mendapat lirikan tajam dari Tuan Muda mereka karena ketahuan sedang menatap kearah wanita yang baru saja membuat badai yang memporak-porandakan hati semua orang.
"Hahhh baiklah sayang. Terima kasih untuk pelayanannya dan sekarang kau duduklah dengan manis. Biarkan aku membalas pelayananmu yang sangat luar biasa ini, istriku!" ucap Gabrielle sambil membantu menarik kursi untuk di duduki oleh istrinya.
"Tapi Kak Lusi tidak bilang akan ada balasan untukku, Kak. Apa aku lupa ya? Tunggu sebentar, aku akan bertanya dulu pada Kak Lusi!" ucap Elea kemudian berjalan menghampiri Lusi yang sedang berdiri gemetaran.
'Nyonya........ Tolong jangan lakukan hal ini, saya sudah hampir mati ketakutan sekarang!'.
Gabrielle,Ares dan Nun sama-sama menunduk menahan tawa melihat betapa takutnya Lusi saat ini.
'Lusi, akhirnya kena juga kau. Rasanya enak sekali bukan menjadi korban dari kepolosan Nyonya Elea kita? Kau sih baru sekali, bayangkan berapa kali aku harus mati kemudian hidup kembali saat Nyonya Elea menyebut namaku di hadapan Tuan Muda. Haha.. Selamat Lusi, kau masuk dalam jebakan yang sangat mematikan ini. Nikmatilah ketakutanmu' gumam Ares.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS......
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1
...🌻 WA: 0857-5844-6308...