
Tok,tok,tok
Gabrielle sedikit mengendurkan pelukannya saat ada yang mengetuk pintu. Rahangnya mengetat, jengkel karena ada yang mengganggu kebersamaannya dengan Elea.
"Ada apa?".
Ares segera menundukkan kepala begitu masuk ke dalam ruangan. Lagi-lagi dia datang di waktu yang salah.
"Maaf Tuan Muda, konfrensi pers Nona Muda Grizelle sebentar lagi akan di buka. Kita sebaiknya segera berangkat ke L&S Company sebelum acaranya di mulai".
"Tunggu sebentar lagi" ucap Gabrielle sambil melirik kearah istrinya.
"Baik Tuan Muda".
Setelah mendengar percakapan suaminya dengan Ares, Elea sebenarnya ingin sekali bertanya. Tapi dia takut di anggap sebagai orang yang suka ikut campur urusan orang lain.
"Kenapa sayang, hm? Apa ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Gabrielle menyadari rasa penasaran istrinya.
Elea mengangguk.
"L&S Company itu apa? Dan kenapa Izel ingin melakukan konferensi pers?".
"L&S Company adalah nama perusahaan milik ibu. Dan Grizelle membuka konferensi pers untuk mengumumkan pada semua orang kalau mulai hari ini dia yang akan memimpin perusahaan itu" jawab Gabrielle.
"Oh begitu" sahut Elea sembari mengangguk-angguk.
"Kenapa?" tanya Gabrielle.
"Tidak kenapa-napa Kak. Hanya sedikit penasaran saja, hehe".
Gabrielle sebenarnya enggan meninggalkan Elea di perusahaan. Tapi dia juga tidak mungkin membawanya pergi ke sana. Terlalu banyak mata yang akan tertuju pada istrinya, apalagi di sana akan banyak wartawan yang datang meliput. Gabrielle tak ingin mengambil resiko kecantikan istrinya terekspos di media. Di tambah dia juga belum mengenalkan Elea secara resmi pada keluarganya. Akan sangat tidak sopan jika kedua orangtuanya sampai melihat istrinya melalui berita yang beredar.
"Tidak apa-apa kan kalau aku meninggalkanmu di sini? Atau kau ingin pergi ke rumah Levi saja supaya tidak kesepian" ucap Gabrielle ragu.
"Aku di sini saja, Kak. Kak Iel pergilah dengan Ares" tolak Elea lembut.
Saat Gabrielle ingin bicara, pintu ruangan terbuka. Muncul dua orang manusia yang salah satunya langsung membuat Gabrielle terbakar cemburu.
"Kak Levi!" teriak Elea senang kemudian segera berlari menghampirinya.
Levi melipat tangan di dada, memperlihatkan wajah seolah dia tidak suka saat Elea datang mendekat.
"Dasar bayi besar, sesenang itu melihatku datang, iya?" ejek Levi.
Elea mengangguk jujur. Dia lalu bergelayut manja di lengan Levi, tak peduli meski wanita ini memperlihatkan wajah yang tidak ramah.
"Mau apa kau kemari?" tanya Gabrielle sinis.
Cemburu, tentu saja. Gabrielle sangat tidak rela melihat istrinya bermanja pada orang lain, meskipun itu pada sesama wanita. Dia mau Elea bersikap manis seperti itu hanya kepadanya saja. Tidak pada Levi, apalagi yang lainnya.
"Percaya diri sekali kau pria tengik. Aku datang bukan untuk menemuimu ya" sahut Levi tak kalah sinis.
Ares dan Reinhard yang berada di tengah-tengah antara Levi dan Gabrielle hanya bisa menarik nafas pelan. Kedua orang ini sudah seperti anjing dan kucing setiap kali bertemu, selalu menjadikan Elea sebagai bahan pertengkaran mereka. Sementara yang menjadi pemicu keributan hanya diam dengan wajah polosnya.
"Sayang, kemari".
__ADS_1
Elea mengangguk patuh kemudian segera berjalan mendekat kearah suaminya. Namun langkahnya tertahan saat lengannya di tarik oleh Levi.
"Kenapa menarikku Kak?" tanya Elea heran.
"Di sini saja, jangan dekati beruang jelek itu" hasut Levi sambil menggerakkan dagu kearah Gabrielle.
"Beruang jelek?".
Tangan Gabrielle terkepal. Dia bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Elea. Matanya melotot saat Levi tidak membiarkannya membawa Elea pergi.
"Lepas!".
"Kau yang lepas" sahut Levi kekeh.
"Levi, aku bilang lepas" sentak Gabrielle mulai emosi.
"Jangan harap!".
Elea bergantian menatap Levi dan suaminya. Dia bingung kenapa dua orang ini selalu memperebutkan dirinya. Saat tarikan di kedua lengannya semakin menguat, terlintas sebuah ide cemerlang di pikirannya. Elea yakin idenya ini pasti akan membuat mereka berhenti bertengkar.
"Kak Iel, Kak Levi, kalau kalian mau potong saja tanganku biar adil".
Perkataan polos Elea sontak membuat Gabrielle dan Levi menjadi kikuk. Perlahan-lahan melepaskan cengkeraman mereka di tangan Elea.
Reinhard yang tidak menyangka kalau Elea akan berkata seperti itu hanya tercengang kaget. Sedangkan Ares kembali menarik nafas mendengar perkataan savage yang keluar dari mulut nyonya kecilnya. Dia sedikit mulai terbiasa dengan kata-kata ajaib itu.
"Tuan Muda".
Gabrielle mengusap wajahnya kasar mendengar panggilan Ares. Sudah waktunya dia untuk pergi.
"Gabrielle, apa ada tuduhan yang lebih buruk lagi?" protes Reinhard kesal.
"Ada" sahut Gabrielle. "Pencuri istri orang!".
"Yakkkk...!".
Elea berjengit kaget mendengar teriakan Reinhard. Membuatnya menatap seksama kearah pria yang kini sedang menatap suaminya dengan sangat marah.
"Kak Levi, apa sebelumnya aku pernah bertemu dengan kakak ini?" tanya Elea lupa-lupa ingat.
Levi gelagapan. Dia lalu melirik kearah Gabrielle yang di balas gelengan kepala olehnya.
"Sepertinya tidak, Elea. Iya kan Rein?".
Reinhard mengangguk. Dia mengulurkan tangan hendak memperkenalkan diri.
"Halo Elea, kau bisa memanggilku Rei...
Plaakk
Uluran tangan Reinhard di tepis oleh Gabrielle. Segera Gabrielle menarik paksa Elea dari dekat Levi kemudian memeluknya posesif. Membuat ke-tiga orang di sana memutar bola matanya jengah melihat kelakuannya.
"Apa kau berniat menggoda istriku, Rein?" tanya Gabrielle tak terima.
"Woaahhh..... Otakmu benar-benar sakit, Gab. Kau pikir aku ini sudah tidak waras ingin merebut istri dari sahabatku sendiri, iya!" omel Reinhard dongkol dengan tuduhan aneh Gabrielle.
__ADS_1
"Itu bisa saja terjadi. Buktinya kau ingin menyentuh Elea tadi!" sambung Gabrielle kekeh dengan tuduhannya.
"Astaga Gabrielle, memangnya matamu pergi kemana saat aku ingin memperkenalkan diri pada istrimu tadi hah! Wahhh, sikap cemburumu bisa menelan korban jiwa kalau tidak segera di obati. Dasar gila, bisa-bisanya kau menuduhku seperti itu!".
Gabrielle mengendikkan bahunya acuh. Bibirnya bergerak menciumi puncak kepala Elea, ingin menegaskan pada semua orang kalau hanya dialah yang boleh menyentuh Elea, istri kecil kesayangannya.
"Sudahlah Rein, bicara dengan pria tengik ini tidak akan ada gunanya. Otaknya tidak berada di tempat jika sudah berhubungan dengan Elea. Lihat saja kelakuannya sekarang, jika makhluk kecil itu makanan aku yakin dia akan langsung menelannya bulat-bulat khawatir orang lain akan memintanya!" sindir Levi jengah melihat keposesifan Gabrielle pada teman kecilnya.
Elea tersenyum mendengar perdebatan semua orang. Tangannya bergerak mengusap punggung suaminya penuh sayang.
'Seperti ini ya rasanya di sayang oleh banyak orang? Terima kasih Tuhan sudah menghadirkan aku di tengah-tengah mereka. Aku bahagia sekali!'.
"Tuan Muda, kapan anda siap untuk berangkat?" tanya Ares sambil melihat jam di tangannya.
Bibir Gabrielle mengerucut sebal. Sejak tadi Ares terus saja memaksanya untuk segera pergi. Menyebalkan!.
"Sayang, aku pergi dulu ya. Tenang saja, aku akan menyiapkan banyak penjaga untuk melindungimu dari buaya darat yang ada di sini. Ingat, jangan sampai terhasut oleh bujukan setan yang ingin mengajakmu pergi dari sini, di luar berbahaya. Mengerti!" pesan Gabrielle sembari menangkup wajah istrinya.
Levi dan Reinhard sama-sama melotot kesal mendengar perkataan Gabrielle. Namun mereka tak berniat untuk mendebat pria posesif ini, toh sebentar lagi dia akan segera pergi.
"Mengerti Kak".
"Nanti malam les aku liburkan. Sudah waktunya aku mengenalkanmu pada ayah dan ibu. Mau tidak?" bisik Gabrielle.
Elea mengangguk cepat. Akhirnya waktu mendebarkan ini tiba juga. Elea sangat antusias sekaligus takut untuk menemui orangtua dari suaminya.
"Ya sudah kalau begitu aku pergi ya. Hubungi aku jika terjadi sesuatu!" ucap Gabrielle kemudian mencium kening istrinya lama.
Levi tersenyum samar. Dia bahagia menyaksikan betapa Gabrielle sangat mencintai Elea. Jika tidak memikirkan harga dirinya yang setinggi langit, Levi pasti menangis haru melihat keromantisan mereka.
"Hati-hati Kak. Jangan lupa hubungi aku ya, kan aku sudah punya ponsel!" pesan Elea sambil melambaikan tangan.
Gabrielle tersenyum kemudian mengangguk. Dia lalu berdiri berhadapan dengan Reinhard.
"Jangan terlalu memaksanya, Rein. Aku tidak mau Elea merasa tertekan!".
Reinhard mengangguk. Dia lalu menepuk bahu sahabatnya.
"Tenang saja, aku tahu apa yang harus kulakukan!".
"Ingat jangan macam-macam saat aku tidak ada. Dan jangan biarkan Levi membawa Elea keluar. Ada musuh yang sedang mengincar keluargaku!" bisik Gabrielle sambil melirik kearah Levi.
"Astaga, masih saja. Sudah sana cepat pergi, kaki Ares sudah berakar karena menunggumu!" usir Reinhard bosan.
Setelah meninggalkan banyak pesan yang menyiratkan kecemburuannya, barulah Gabrielle pergi menuju perusahaan adiknya. Tak lupa dia mengatur penjagaan yang luar biasa ketat di depan ruangan tempat Elea berada.
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: nini_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1