
Setelah menghubungi Levi, Elea bergegas bertukar pakaian. Dia meringis ketika merasakan rasa perih di bagian intimnya.
"Ssshhh uhh, Kak Iel ini benar-benar. Aku heran kenapa tenaganya seperti tidak bisa habis" gumam Elea sambil menggigit bibir bawahnya.
Pagi tadi, saat ritual mandi suaminya kembali meminta jatah. Dan tentu saja sebagai istri yang baik Elea akan mengabulkannya. Hanya saja,, setiap kali mereka bercinta di dalam kamar mandi suaminya itu selalu saja menemukan gaya-gaya aneh yang membuat Elea kuwalahan. Tak jarang Elea sampai harus merengek agar suaminya itu mau menyudahi kegiatan panas mereka.
Sembari tersipu membayangkan kejadian panas tadi pagi Elea membongkar isi lemarinya. Sekarang dia tak lagi memakai jasa penata rias dan juga desaigner khusus yang akan mengatur gaya busananya. Elea merasa tak perlu lagi menutupi keahliannya dalam mengolah penampilan setelah dia bicara jujur tentang rahasia yang selama ini dia sembunyikan dari suaminya. Dia ingin menjadi dirinya sendiri.
"Humm, ini saja kali ya?" ucap Elea sambil mematut diri di depan cermin.
Sebuah baju atasan berbahan jeans di padupadankan dengan hotpants pendek berwarna hitam, membuat Elea terlihat seperti remaja pada umumnya. Jangan lupakan rambut panjangnya yang dia gerai, membuat pesona Elea semakin menguar jelas.
"Kalau seperti ini Kak Iel tak mungkin marah kan?."
"Ah tidak mungkin. Yang penting kan aku pakai baju, tidak t*lanjang" imbuh Elea kemudian mengambil tas dari dalam lemari.
Tak lupa Elea memasukkan dua blackcard pemberian Ayah dan Ibu mertuanya, juga ponsel miliknya dimana foto dia dan suaminya menjadi penghias layar. Sambil bersenandung Elea keluar dari dalam kamar, melangkah menuju lift kemudian memencet asal tombol yang ada disana.
Ting
"Cepat sekali" gumam Elea keheranan.
Mungkin Elea memang cerdas, tapi dia tetaplah gadis bodoh yang tidak tahu bagaimana caranya menggunakan lift. Bukannya turun ke lantai bawah Elea malah masih tetap berada di depan kamarnya. Dia kemudian mengerucutkan bibir sambil berjalan menuruni anak tangga.
Lusi terbengang kaget melihat bidadari cantik yang sedang berjalan menuruni anak tangga. Bahkan beberapa penjaga yang tidak sengaja melihat kedatangan Nyonya mereka ikut terbengang takjub. Kecantikan natural yang ada di diri Elea benar-benar membuat orang seperti lupa daratan. Nun yang saat itu menyadari kalau semua anak buahnya sedang terpesona akan kecantikan Nyonya kecilnya segera berdehem sembari menebar ancaman mematikan.
"Ekhmm, di luar sana ada banyak anak-anak yang membutuhkan donor mata. Apa kalian semua bersedia menjadi pendonornya?."
Para penjaga kelabakan. Mereka segera membubarkan diri, mengabaikan Nyonya mereka yang terlihat bingung di anak tangga.
"Pak Nun, anak siapa yang membutuhkan donor mata?" tanya Elea penasaran.
Nun terdiam.
"Kenapa kau jahat sekali, Pak Nun. Masa kau mau menjadikan semua Paman yang ada di rumah ini sebagai pendonornya?" omel Elea sembari berjalan hendak menghampiri Nun yang sudah menundukkan kepala.
Lusi yang menyadari lirikan dari ekor matanya Nun segera menahan lengan Nyonya-nya agar tidak mendekat. CCTV ada di mana-mana, bisa gawat kalau Tuan Muda mereka sampai tahu Nun berdekatan dengan Nyonya kecil ini. Satu rumah bisa kena masalah semua.
__ADS_1
"Kak Lusi, kenapa menahanku?."
"Em Nyonya, itu, Nyonya mau kemana? Iya, Nyonya mau kemana?" tanya Lusi tergagap.
"Memangnya Kak Iel tidak bilang kalau hari ini aku akan mengajak Kakak pergi berbelanja kebutuhan kita untuk kuliah?."
Karena pertanyaan Lusi, Elea sampai lupa dengan niatnya yang ingin mengomeli Nun. Dia sekarang malah menarik Lusi menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
"Kak Iel pasti buru-buru sekali sampai lupa untuk memberitahumu tadi" gumam Elea merasa bersalah karena setelah mandi dia malah terlelap. Bukan apa, tenaga Elea sudah habis di kuras suaminya sejak semalam sampai tadi pagi. Wajarlah kalau dia ketiduran setelah bercinta. Elea bahkan sampai lupa untuk melaksanakan tugasnya sebagai istri dalam melayani suami. Dia kemudian berniat untuk meminta maaf ketika sampai di perusahaan nanti.
"Nyonya, sebaiknya Nyonya jangan masuk ke kamar saya. Kamarnya sangat berantakan" ucap Lusi tak enak hati.
"Kamarku juga setiap malam berantakan kok, Kak. Jadi Kakak tidak perlu merasa malu" sahut Elea asal tanpa menyadari wajah Lusi yang sudah memerah seperti buah tomat.
Berantakan yang di maksud Lusi adalah karena dia belum sempat merapihkan semua hadiah yang di berikan Nyonya-nya semalam. Tapi berantakan yang di maksud oleh Nyonya-nya lain lagi. Lusi sudah tentu paham kalau hal itu terjadi akibat adegan hangat kedua majikannya. Setengah mati dia menahan diri agar tidak membenamkan wajahnya diatas bantal. Lusi sangat malu, sementara pelakunya santai-santai saja tanpa merasa terbebani. Nyonya-nya malah terkesan acuh dengan ucapannya sendiri, membuat Lusi semakin merasa canggung.
"Nah, sudah sampai. Ayo masuk!" ucap Elea.
"Benar tidak apa-apa Nyonya masuk ke kamar saya?" tanya Lusi meragu.
"Kakak tidak akan membunuhku kan?."
"Lusi, kau jangan coba-coba menyentuh Nyonya Elea kalau masih ingin hidup!" tegur salah satu dari mereka.
Lusi dan Elea cengo. Mereka hanya diam sambil menatap satu-persatu wajah penjaga, kemudian beralih ke senjata yang mereka acungkan ke wajah Lusi.
"Ka,kalian kenapa?" tanya Lusi pelan antara takut dan juga bingung.
"Tentu saja kami sedang menjalankan tugas untuk melindungi Nyonya. Beraninya kau mengajak Nyonya masuk ke kamarmu dan ingin membunuhnya. Nyalimu sebagai seorang pelayan besar juga ya!."
Lusi terbelalak. Kini dia tahu kenapa pria-pria ini terlihat begitu marah padanya. Rupanya perkataan Nyonya-nya lah yang menjadi penyebabnya. Elea yang juga sudah menyadari kesalahpahaman para penjaga ini segera memberi penjelasan. Yang benar saja Lusi mau membunuhnya. Tadikan dia hanya bercanda saja.
"Paman-Paman, kalian itu sudah salah paham. Kak Lusi mana mungkin tega mencelakai aku. Tadi itu aku hanya sedang bergurau saja dengannya. Kalaupun benar Kak Lusi mau membunuhku, dia mana mungkin berani melakukannya di rumah ini. Jadi sekarang tolong simpan kembali senjata kalian ya?" jelas Elea.
Para penjaga itu saling berpandangan. Mereka segera menyimpan senjata masing-masing kemudian menunduk hormat untuk meminta maaf.
"Maafkan kami Nyonya. Kami hanya menjalankan tugas saja."
"Kalian itu seharusnya meminta maaf pada Kak Lusi, bukan padaku Paman. Lihat, Kak Lusi sampai pucat pasi gara-gara senjata kalian" sahut Elea sembari menunjuk kearah Lusi.
__ADS_1
"Baik Nyonya!."
Lusi menunduk. Bukan takut pada para penjaga ini, melainkan dia yang menyadari keberadaan Nun di dekat jendela. Pria kaku itu tengah mengawasi mereka diam-diam.
"Lusi, kami minta maaf karena sudah salah menduga tentangmu."
"I,iya tidak apa-apa. Aku bisa mengerti!."
"Nah karena sekarang sudah tidak salah paham lagi sebaiknya kita segera bersiap yuk, Kak. Sebentar lagi Kak Levi pasti sampai untuk menjemput kita. Dia bisa mengomel kalau kita membuatnya menunggu lama. Ayo Kak!" ajak Elea kemudian membuka pintu kamar milik Lusi dan menyeretnya masuk.
Para penjaga itu segera bubar dari sana. Mereka kaget setengah mati ketika Nun muncul tiba-tiba di hadapan mereka semua.
"Ada apa?" tanya Nun dengan suara dingin yang sangat mengintimidasi.
"Terjadi salah paham sedikit, Nun!."
Alis Nun terangkat sebelah. Dia menunggu penjelasan dari bawahannya.
"Saat Lusi dan Nyonya Elea hendak masuk ke dalam kamar, kami tidak sengaja mendengar ucapan Nyonya Elea yang mempertanyakan apakah Lusi ingin membunuhnya atau tidak. Tentu saja kami langsung pasang badan dengan menodongkan senjata kearah Lusi. Tapi ternyata kami salah menduga, Nyonya Elea hanya sedang bergurau dengannya. Dan kami semua sudah di minta untuk meminta maaf pada Lusi oleh Nyonya!."
Seulas senyum samar muncul di bibir Nun. Terkadang celetukan nyeleneh Nyonya rumah ini memang bisa membuat orang lain menjadi salah paham. Tapi dia bangga dengan kegesitan anak buahnya dalam mengambil sikap. Dengan raut wajah yang sangat puas dia menepuk bahu mereka satu-persatu.
"Kerja bagus. Saat Tuan Muda mendengar hal ini, bersiaplah untuk menerima bonus besar dari beliau. Untuk ke depannya nanti, teruslah siaga seperti tadi. Tidak peduli dengan siapapun Nyonya berbicara kalian harus tetap menajamkan telinga. Nyonya adalah kesayangan Tuan Muda kita. Jangan sampai kita membuat Tuan Muda murka karena akhir dari semua itu adalah kematian!."
"Baik Nun. Kami akan sangat berhati-hati dalam melindungi keselamatan Nyonya Elea!."
"Aku harap ini bukan omong kosong belaka" sahut Nun. "Ya sudah, lebih baik sekarang kalian menunggu di luar saja karena sebentar lagi kalian harus mengawal Nyonya dan Lusi. Mereka akan pergi bersenang-senang hari ini."
"Baik Nun!."
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Nini Lup'ss...
__ADS_1