
Tubuh Karim membeku saat dia melihat seorang wanita cantik yang tengah berdiri di hadapannya. Tatapan wanita itu begitu dingin, membuat dada Karim seperti tertusuk belati. Ini nyata atau hanya halusinasinya saja? Tapi kenapa rasanya bisa sesakit ini?.
"Kakek, Kakek tidak stroke kan?" tanya Elea mencoba untuk mencairkan suasana canggung yang sedang terjadi.
Tak ada sahutan. Sepertinya Karim sedang terjebak dalam kekagetannya setelah melihat kemunculan Clarissa.
"Grandma, ayo sapa Kakek Karim. Kalian jangan saling diam begini, ayo bicara!" desak Elea setengah memaksa.
Meski enggan, Clarissa akhirnya mengalah untuk menyapa mantan kekasihnya terlebih dahulu. Demi cucunya, itu yang dia pikirkan.
"Long time no see, Karim. Apa kabar?.
Bryan dan Yura hanya bisa terdiam melihat kemunculan ibunya Sandara di kamar rawat. Tadinya Bryan tengah mengemasi barang milik istrinya karena hari ini Yura sudah di perbolehkan untuk pulang, tapi kegiatan itu terhenti saat putri mereka datang bersama seseorang yang berasal dari masalalu ayah mereka. Clarissa Wu, ibu kandung Sandara, yang tak lain adalah ibu mertua Bryan. Di sini semua orang merasa tegang, kecuali Elea tentunya.
"C-Clarissa, apa benar ini kau?.
"Ya, ini aku" jawab Clarissa acuh.
"K-kau m-masih hidup?" tanya Karim dengan suara bergetar.
Clarissa menarik nafas dalam. Dia menoleh ketika merasakan sebuah elusan lembut di lengannya.
"Jangan marah-marah, Grandma. Ayo perbaiki semuanya" bisik Elea penuh harap.
"It's all for your sake, dear."
"Grandma, aku tidak tahu bahasa Inggris."
Hancur sudah suasana menegangkan yang sedang terjadi di sana begitu mereka mendengar kejujuran Elea yang tidak memahami perkataan Clarissa. Bahkan Bryan yang begitu tegang tidak tahan untuk tidak tersenyum melihat keluguan putrinya.
"Ekhmm sayang, itu artinya Grandma melakukan semua ini hanya demi dirimu. Begitu" jelas Clarissa dengan sabar.
Elea mengangguk paham. Padahal tanpa di beritahu pun dia sangat mengerti arti dari perkataan neneknya. Dia sengaja membuat ulah supaya semua orang merasa relaks, Elea ingin semua masalah ini bisa segera terselesaikan.
"Iya Karim, aku masih hidup. Yang mati itu Sandara, anak hasil dari hubunganku dengan seorang pria yang tidak bertanggung jawab" ucap Clarissa menjawab pertanyaan Karim dengan nada yang sangat cetus. "Bagaimana? Apa yang kau rasakan setelah pergi meninggalkan aku begitu saja lalu berhasil membunuh putri kandungmu sendiri? Apa kau bahagia? Sudah puas? Atau jangan-jangan kau masih berniat untuk menyingkirkan cucumu juga?.
Di cecar dengan pertanyaan menohok seperti itu membuat Karim gusar. Dia tahu besarnya kesalahan yang sudah dia lakukan terhadap putri mereka. Namun, bukan berarti Karim tidak menyesalinya. Siapalah yang tahu isi hatinya sekarang, hatinya sudah hancur menjadi kepingan-kepingan kecil yang tak bersisa. Tapi ya sudahlah, mau tidak mau Karim harus mau menghadapi kemarahan Clarissa. Karena bagaimanapun Clarissa adalah wanita yang telah melahirkan dan membesarkan Sandara.
"Karim, jangan diam saja. Ayo jawab pertanyaanku. Setelah ini siapa lagi yang ingin kau sakiti? Eleakah? Atau aku mungkin!" desak Clarissa sambil menahan tangis. "Aku memperjuangkan hidup Sandara dengan sangat sulit, Karim. Aku bahkan tidak memperbolehkannya menikmati masa kecil seperti kebanyakan anak-anak seusianya. Apa kau tahu apa alasannya?.
Airmata Clarissa tumpah. Dadanya sangat sesak.
"Karena Sandara di lahirkan tanpa seorang Ayah. Dia, dia bahkan harus tinggal sendirian di negara ini karena kehadirannya tidak di terima oleh orangtuaku. Tapi apa, apa yang kau lakukan pada putri kita, Karim? Kau menyiksanya, kau bahkan mengirimnya ke pemakaman dengan tanganmu sendiri. Dimana hati nuranimu hah, dimana? Apa tidak cukup aku berkorban dengan tidak menuntut apapun darimu yang diam-diam pergi demi untuk menikahi wanita lain? Apa semua itu belum cukup? Hah?.
Brruukkk
__ADS_1
Karim jatuh berlutut di lantai dengan air mata berurai. Sakit, itu yang dia rasakan. Alasan kenapa dulu dia pergi meninggalkan Clarissa adalah karena dia di ancam. Ya, orangtuanya mengancam akan menghabisi Clarissa jika dia tetap tidak bersedia menikahi ibunya Bryan. Waktu itu Karim tidak ada pilihan lain selain meninggalkan Clarissa, dia juga tidak tahu kalau waktu itu Clarissa tengah mengandung buah hati mereka. Seandainya saja dia di beritahu lebih awal, Karim pasti akan mengusahakan segala macam cara untuk melindungi mereka berdua.
"Maaf Clar, maaf. Ak-aku tidak tahu kalau waktu itu kau hamil. Aku juga tidak tahu kalau kau dan Sandara pernah datang ke rumah untuk mencariku. Aku tidak tahu, aku tidak tahu" ucap Karim sambil menangis sesenggukan. "Ampuni aku Clar, aku berdosa. Aku salah."
Elea, Yura, dan Bryan ikut menitikkan airmata. Sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan di hati semua orang kembali terkuak. Karena harta, mereka semua mengalami luka yang sangat parah. Mulai dari Clarissa, Karim, Sandara, Bryan, Yura, dan yang terakhir adalah Elea. Semuanya saling berhubungan, dan penyebab dari semua itu adalah karena harta. Ya, harta yang tampak berkilau nyatanya bisa mendatangkan bencana sampai turun-temurun.
"Tolong maafkan aku Clar, aku benar-benar tidak tahu kalau Sandara adalah putri kita. Aku bodoh, aku termakan hasutan mendiang istriku. Aku salah Clar, aku salah" ratap Karim sambil memegangi dadanya. "Maaf, maaf."
Elea yang menyadari ada yang tidak beres dengan tubuh kakeknya segera datang berjongkok. Matanya membelalak lebar begitu melihat wajah kakeknya yang sudah sangat pucat.
"Ayah, Kakek sakit lagi. Cepat panggil dokter!" teriak Elea panik sambil memeluk kakeknya yang sudah melemah di pelukannya.
"I-iya" sahut Bryan kaget kemudian bergegas keluar mencari pertolongan.
"Uuhh, berat!" keluh Elea yang kesulitan membantu kakeknya berdiri.
Clarissa yang tidak menyangka kalau Karim akan menjadi selemah itu tanpa pikir panjang segera ikut membantu Karim berdiri. Dadanya berdebar, masih terbersit rasa cinta mendalam terhadap pria ini ketika memapah tubuh lemahnya kearah sofa.
"Baringkan Ayah di sini saja, sayang" tawar Yura sambil merapihkan sprei ranjang yang baru saja dia duduki.
"Baik Bu" sahut Elea. "Grandma, kau jangan pingsan dulu ya. Nanti saja, gantian dengan Kakek Karim."
Yura tergelak mendengar ucapan putrinya. Dia lalu menatap tak enak kearah Nyonya Clarissa, khawatir kalau-kalau wanita ini tersinggung dengan perkataan Eleanor.
"Tidak apa-apa. Sedikit banyak aku sudah terbiasa" ucap Clarissa yang memahami kekhawatiran di mata Yura, wanita yang telah menggantikan posisi Sandara sebagai ibu dari cucunya.
"Panggil aku Mama. Kau ibunya Elea kan?.
"M-Mama?.
Yura terkejut.
"Ya, Mama. Kau keberatan?" tanya Clarissa.
"T-tidak, bukan begitu. Maksudku, maksudku itu.. aduh, bagaimana cara menjelaskannya ya" jawab Yura kikuk sendiri.
Clarissa tersenyum. Dia lalu mengelus pundak wanita yang kini menjadi ibu sambung cucunya.
"Mari lakukan semua ini demi Elea."
Elea yang sedang menyelimuti tubuh kakeknya merasa sangat amat terharu. Dia menangis dalam diam, membiarkan nenek dan ibu sambungnya saling mengenal.
'Mama Sandara, aku mendapatkan semuanya. Sekarang aku bahagia, aku punya keluarga yang utuh.'
"Terima kasih nyo, em, Mama" ucap Yura masih canggung.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja, nanti kau juga akan terbiasa."
Tak lama kemudian Bryan masuk ke dalam ruangan bersama Reinhard. Segera semua orang menyingkir, memberi ruang agar Karim bisa segera di periksa.
"Maaf Paman Bryan, bisakah kau membawa semua orang keluar dari ruangan ini? Tuan Karim membutuhkan oksigen yang banyak, jantung dan paru-parunya bermasalah" ucap Reinhard sambil terus memeriksa tekanan darah di tubuh kakeknya Elea.
"A-ah, iya iya. Kami akan keluar" sahut Bryan cemas. "Rein, aku bergantung padamu."
"Iya Paman, aku akan mengusahakan yang terbaik untuk kesembuhan Kakek Karim."
Bryan mengangguk. Setelah itu dia menggiring semua orang untuk segera keluar dari sana.
"Apa kau tidak berniat menyapa Ibu mertuamu?" sindir Clarissa yang sejak tadi tidak mendapat sapaan dari menantunya.
Bryan tergagap. Dia bingung harus berbuat apa sekarang.
"Ayah, ayo sapa Grandma. Tadi Ibu juga sudah menyapanya, mereka berdua bahkan sudah bergosip. Iya kan Bu?" ucap Elea sambil menatap kearah ibunya.
"Iya" jawab Yura sambil tertawa. "Bry, jangan malu. Beliau adalah orangtua kita, kau jangan sampai tidak menghargainya."
Meski merasa canggung Bryan akhirnya menyapa mantan ibu mertuanya.
"Ha-halo nyonya."
"Mama" sahut Clarissa.
"M-Mama?" beo Bryan kaget.
"Iya, Mama. Kau dulu menikah dengan putriku kan?.
Bryan mengangguk.
"Berarti kau harus memanggilku Mama, sama seperti Sandara saat masih hidup."
Suasana menjadi hening untuk sesaat. Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama karena semua orang di buat tertawa oleh celetukan polos Elea.
"Ayah sudah tua begini masih saja malu-malu. Memangnya Ayah masih ABG apa? Menggelikan sekali."
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄
...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSS.....
...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...
__ADS_1
...🌻 IG: emak_rifani...
...🌻 FB: Rifani...