Istri Kecil Sang Pewaris

Istri Kecil Sang Pewaris
Ketulusan Tak Berbalas


__ADS_3

Bryan yang mendapat kabar kalau ayahnya masuk rumah sakit bergegas pergi meninggalkan kantor. Ada sebersit penyesalan karena tadi pagi dia sempat membentak ayahnya saat di meja makan.


"Ke rumah sakit Group Ma. Sekarang!" ucap Bryan pada sopirnya.


"Baik Tuan."


Drrttttt... Drrttttt


Terdengar deringan ponsel milik Bryan saat mobil baru mulai bergerak. Tanpa melihat siapa yang menelfon, Bryan segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo."


"Bryan, Ayah masuk rumah sakit. Kau dimana?."


Ternyata Yura yang menelfon. Bryan bisa mendengar dengan jelas kalau istrinya itu sedang menangis. Dia tahu betapa Yura sangat menyayangi ayahnya. Sayangnya ketulusan Yura tak pernah bisa menyentuh hati Bryan.


"Aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Tenanglah, Ayah pasti baik-baik saja" hibur Bryan yang merasa tak tega mendengar isak tangis istrinya yang semakin menjadi.


"Ini salahku Bry. Seharusnya aku tidak membiarkan Ayah pergi seorang diri dan hanya di temani asistennya saja. Ini salahku, aku tidak becus menjaga orangtua kita."


Bryan menghela nafas panjang sambil menekan tulang hidungnya. Lama-lama dia kasihan juga pada Yura yang terus menyalahkan dirinya sendiri. Padahal tadi pagi ayahnya sendiri yang menolak untuk di temani. Tapi ya inilah Yura, hatinya terlalu baik. Dia yang akan merasa paling bersalah jika sampai terjadi sesuatu pada keluarganya.


"Sudahlah, itu semua sudah menjadi keinginan Ayah sendiri. Kau tidak perlu merasa bersalah. Lebih baik kau tenangkan diri dan segera pergi ke rumah sakit. Aku baru akan sampai sekitar tiga puluh lima menit lagi, itupun jika tidak macet."


"Hiksss, aku baru saja sampai di rumah sakit Bry. Kalau begitu sudah dulu ya, aku mau mencari ruangan Ayah dulu. Kau berhati-hatilah di jalan. Aku tutup telfonnya, sampai jumpa.'


Panggilan terputus. Bryan menatap layar ponselnya yang berwarna hitam. Dia lalu bergumam.


"Yura, kau begitu tulus menyayangiku dan juga Ayah. Kenapa kau tidak mencari pria lain saja yang bisa membalas kebaikan hatimu? Kau tahu benar kalau aku hanya mencintai Sandara, tapi kenapa kau memilih bertahan dan membiarkan hatimu tersakiti? Maafkan aku Yura, karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menerimamu. Hanya sebatas status saja yang bisa kuberikan untuk membalas semua kebaikanmu selama ini."


Mendengar gumaman majikannya, si sopir akhirnya memberanikan diri untuk melirik kearah belakang melalui kaca spion mobil. Dia sudah mengikuti majikannya ini semenjak menikahi Nyonya Sandara. Jadi dia tahu betul seperti apa perjalanan hidup majikannya dari setelah di tinggal pergi oleh istri pertamanya hingga kehadiran Nyonya Yura yang tak pernah di anggap keberadaannya.


'Nyonya Sandara, coba lihatlah dari surga seperti apa keadaan Tuan Bryan sekarang. Bantulah beliau membuka hatinya untuk Nyonya Yura. Saya tidak tega melihat keduanya yang sama-sama terluka karena pernikahan itu. Tolong bantu Tuan Bryan membuka lembaran baru Nyonya, saya mohon.'


Tak lama kemudian, mobil yang di naiki Bryan sampai di halaman rumah sakit. Si sopir memberhentikan mobil tepat di depan pintu masuk kemudian segera keluar untuk membukakan pintu bagi majikannya.


"Pak, tolong bantu saya menghubungi Patricia. Dia sedang berada di luar kantor, jadi saya belum sempat memberitahunya!" ucap Bryan sebelum masuk.


"Baik Tuan Bryan."


Setelahnya Bryan berjalan dengan sangat tergesa menuju ruangan ayahnya. Dia lalu mengirim pesan pada Yura untuk menanyakan di kamar nomor berapa ayahnya di rawat.

__ADS_1


"Ayah, aku mohon bertahanlah. Aku tidak mau terjadi apapun padamu" ucap Bryan sedih.


Tak berselang lama, Bryan akhirnya sampai. Dia melihat Yura yang sedang menangis sambil berbicara dengan seorang dokter.


"Yura, bagaimana keadaan Ayah?" tanya Bryan.


"Bry, Ayah...


"Ayah kenapa?."


Jack memperhatikan wajah pria yang baru saja datang. Dia merasa sedikit familiar.


"Dokter, apa yang terjadi pada Ayah saya? Bagaimana kondisinya sekarang?" cecar Bryan panik.


"Tuan Karim kolaps, Tuan. Beliau tadi saya temukan di taman dalam kondisi sedang kesakitan. Menurut pengawal yang tadi menolongnya, Tuan Karim tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Sejak tadi beliau sama sekali tidak mau bicara. Tatapan matanya sangat kosong dan raut wajahnya seperti orang yang sedang mengalami syok berat!" jawab Jack menjelaskan.


Mata Bryan terbelalak setelah mendengar penjelasan dokter. Dia lalu menoleh kearah Yura yang tangisnya semakin besar.


"Aku yang salah Bryan, aku yang salah" ucap Yura di sela-sela tangisnya.


"Sudahlah Yura, berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Ayah mungkin hanya terkejut saja makanya dia seperti ini" sahut Bryan mencoba untuk memenangkan istrinya. "Oh ya dokter, apa boleh saya tahu siapa orang yang telah menabrak Ayah saya?."


Bryan menerima kartu nama tersebut kemudian membacanya. Keningnya mengerut. "Nama agensi ini sedikit asing. Apa dokter tahu siapa yang memakai jasa pengawal dari agensi ini?."


Jack menggeleng. Dia lalu melihat kearah jam yang melingkar di tangannya.


"Maaf Tuan, Nyonya Yura, sepertinya saya harus kembali ke ruangan saya karena ada jadwal operasi yang harus segera saya lakukan. Dan untuk Tuan Karim, kalian boleh menjenguknya. Tapi usahakan untuk tetap menjaga ketenangan di dalam sana karena kondisi beliau masih belum stabil."


Bryan dan Yura sama-sama mengangguk.


"Terima kasih banyak dokter atas bantuannya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Ayah saya jika dokter terlambat menolongnya tadi" ucap Bryan tulus.


"Sudah menjadi tugas saya menolong orang yang sedang membutuhkan bantuan, Tuan" sahut Jack sembari tersenyum ramah. "Kalau begitu saya permisi dulu. Mari Tuan, Nyonya Yura!."


"Silahkan dokter!."


Setelah dokter pergi, Bryan mengajak Yura untuk masuk ke dalam ruangan ayahnya. Mereka menatap sedih kearah ranjang dimana ayah mereka sedang duduk diam seperti orang linglung.


"Ayah" panggil Bryan.


Karim diam tak menyahut. Pikirannya sedang melayang kemana-mana memikirkan dosa dan juga pertemuan dengan cucunya tadi.

__ADS_1


"Ayah, bagaimana kondisi Ayah sekarang? Apa ada yang tidak nyaman?" tanya Bryan sambil menggenggam tangan keriput milik ayahnya.


Yura tak berhenti menyeka airmata melihat kondisi ayah mertuanya. Sambil menangis sesenggukan dia duduk di samping ranjang kemudian memegang sebelah tangan ayahnya.


"Ayah, apa yang sedang Ayah lamunkan? Lihat, aku dan Bryan sudah datang. Apa Ayah ingin menceritakan sesuatu pada kami?" tanya Yura pelan.


Karim masih enggan untuk menjawab. Dia sebenarnya mendengar dengan baik semua perkataan anak dan menantunya, tapi dia terlalu takut untuk membuka mulut. Karim takut kalau dirinya tidak mampu menahan diri untuk tidak menceritakan pertemuannya dengan Eleanor saat di taman tadi. Dia belum siap di benci oleh Bryan jika tahu dosa apa yang pernah dia lakukan dulu.


"Ayah tolong jangan diam saja. Beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi saat Ayah berolahraga tadi?" desak Bryan semakin cemas.


"Bryan benar, Ayah. Tolong beritahu kami apa yang terjadi. Kami sangat mengkhawatirkan keadaan Ayah!" timpal Yura sembari mengelus bahu kurus ayah mertuanya.


"Bryan, Yura, seandainya kalian tahu dosa besar yang pernah Ayah lakukan, apa kalian akan membuang dan membenci Ayah?" tanya Karim masih dengan tatapan kosongnya.


Bryan dan Yura saling berpandangan saat mereka mendengar pertanyaan itu. Mereka lalu memperhatikan wajah otangtua mereka yang terlihat begitu datar seakan tidak ada kehidupan di sana.


"Kenapa Ayah bicara seperti itu? Dosa besar apa yang sudah Ayah lakukan?" tanya Bryan heran.


Bukannya menjawab, Karim malah kembali larut dalam lamunannya. Dia mengabaikan tatapan penasaran di mata anak dan menantunya.


Saat Bryan ingin kembali bertanya, Yura menahannya. Dia menggelengkan kepala saat Bryan ingin protes. "Jangan terlalu memaksa Ayah untuk bicara, Bryan. Ingat apa kata dokter tadi, kondisi Ayah masih belum stabil. Kita harus bersabar dulu sampai Ayah mau bicara sendiri. Jangan membuatnya merasa tertekan!" bisik Yura.


"Tapi pertanyaan Ayah sangat menganggu pikiranku, Yura. Aku ingin tahu dosa besar apa yang dia maksud" sahut Bryan kekeh ingin bertanya.


"Aku tahu Bryan. Tapi coba lihatlah bagaimana kondisi Ayah sekarang. Apa kau tidak takut kalau Ayah akan kembali kolaps jika kita terlalu menekannya untuk bicara?."


Bryan langsung terdiam begitu mendengar peringatan dari Yura. Dia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan. "Ya sudahlah, aku akan menunggu Ayah yang mengatakan sendiri pada kita nanti."


Yura mengangguk. Dia merasa lega karena Bryan mau mendengarkan saran darinya.


🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄


...🌻 VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GENGSSS......


...LIKE, COMMENT, DAN RATE BINTANG LIMA...


...🌻 IG: emak_rifani...


...🌻 FB: Nini Lup'ss...


...🌻 WA: 0857-5844-6308...

__ADS_1


__ADS_2